Tuesday, January 06, 2026

Permasalahan smartwach (The problem with smartwatch)

Saya menyukai memakai jam, dengannya saya bisa tahu waktu. Utamanya waktu untuk sholat dan melakukan aktivitas lainnya. Dengan adanya smartwatch, tidak hanya waktu saja informasi yang saya dapatkan, melainkan lama tidur, detak jantung, dan jumlah langkah (step tracker). Informasi itu sangat bermanfaat. Misalnya, dalam sehari saya menargetkan tidur tujuh jam, jika kurang dari itu (informasi dari smartwatch), saya bisa menambah jam tidur saya. Sebaliknya, jika siang/sore saya sudah tidur 1-2 jam, maka malamnya saya bisa tidur lebih singkat. 

Begitu juga untuk langkah kaki, kalau saya menargetkan tiap harinya harus berjalan 7000 langkah, jika kurang saya bisa menambahnya. Bahkan, saya bisa merangkum data-data itu, seperti yang saya jelaskan di sini: 

https://bagustris.blogspot.com/2021/05/data-jalan-kaki-tidur-dan-detak-jantung.html

Tapi ada satu permasalahan besar pada smartwatch. Apa itu? Sangat tidak masuk akal bagi saya jika saya harus mengisi daya (charge) smartwatch tersebut tiap minggu. Karenanya, dua smartwatch yang saya pakai sebelumnya berdaya tahan lama, Xiaomi Band 4 dan Amazfit Band 7. Keduanya memiliki rentang hidup (lifetime) selama kurang lebih tiga-empat minggu (21-28 hari) untuk sekali isi daya dengan mode power saver. 

Saat ini saya tidak memakai smartwatch lagi, hanya Casio yang memiliki fitur step tracker yang bisa bertahan 10 tahun tanpa diisi daya, cukup mengganti baterainya. Saat itu saya sedang dalam perjalanan selama tiga minggu, dan saya mengandalkan smartwatch untuk bisa bertahan sepanjang waktu itu. Ternyata kapasitasnya menurun, baru dua minggu sudah mati, dan saya tidak membawa kabel pengisian dayanya. Saat itu juga saya beralih ke jam tangan yang tidak perlu diisi daya, tahan lama, memiliki fitur step tracker, dual time, dan fitur-fitur lainnya.  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...