Monday, October 19, 2020

Teknik Pendakian Turun: Meghindari Lutut Sakit dan Telapak Kaki Melepuh (blister)

Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan teknik pendakian naik (ascending/uphill). Tulisan ini membahas teknik pendakian turun (descending/downhill). Pada saat turun, potensi sakit dan letih lebih besar karena kita tidak menyadarinya. Umumnya kita mengira turun lebih mudah dan sedikit membutuhkan tenaga (memang begitu nyatanya!). Namun banyak potensi sakit dan cedera di saat turun. Dua hal yang umum adalah lutut sakit dan jempol kaki melepuh (kadang diikuti oleh bagian kaki lainnya).
Dua pendaki berjalan pelan dengan langkah pendek menuruni gunung



Lutut Bebas Sakit (Ankle pain-free downhill)

Selain berolahraga (latihan seperti video di bawah), teknik dibawah ini dapat mencegah lutut sakit saat turun gunung. 
  1. Menggunakan tongkat, gunakan tongkat sebagai tumpuan dan alat bantu (mengontrol) turun. 
  2. Bertumpu pada tumit, bukan pada bagian telapak kaki bagian depan. 
  3. Menyeimbangkan pinggul: saat turun gerakkan pinggul ke bawah untuk mengimbangi pergerakan (bukan malah tegak lurus seperti rest step).
  4. Muscle up: memperkuat otot lutut ketika menjejak. Berdasarkan hasil sebuah studi, otot lutut menerima beban 7-8 kali lebih banyak ketika turun daripada ketika naik. Jika tidak dikontrol (ditahan) dengan baik maka akan menyebabkan lutut sakit karena menerima beban/tekanan berlebih. Cara mengontrolnya adalah dengan menguatkan/mengeraskan otot lutut ketika menjejak.
  5. Jangan turun terlalu cepat (jangan lari). Awalnya saya beranggapan kalau turun dengan cepat itu akan mengurangi kelelahat/sakit di kaki (khususnya lutut). Ternyata anggapan ini salah total. Secara fisika jelas, F=ma dan P=F/A. Jadi, naiknya kecepatan akan menaikkan gaya (force, F) dan tekanan (pressure, P). Aturan sederhana bagi saya, maksimal waktu untuk turun adalah setengah waktu naik. Jika naik saya butuh satu jam, maka paling cepat saya turun dalam setengah jam, tidak boleh lebih dari itu. Idealnya, munkgin, adalah 3/4 waktu naik.

Menghindari Jempol Melepuh (Anti-blister downhill)

Penyebab blister (melepuh) adalah adanya tekanan yang berlebihan pada bagian tsb, khususnya jempol kaki. Jadi, langkah paling mudah adalah mengurangi tumpuan pada bagian tersebut. Sebaliknya, pada saat turun tumpuan kaki ada pada tumit, bukan pada ujung depan kaki (jari). Perhatikan video di bawah ini.

Teknik kedua agar kaki tidak melepuh saat turun gunung adalah dengan menggunakan sepatu yang pas (benar-benar pas, tidak kekecilan atau kebesaran). Jika anda hendak membeli sepatu (sebaiknya tidak online agar bisa dicoba), cek ukurannya dengan baik. Tanpa kaos kaki harusnya sepatau sudah (sedikit) nyaman; tidak jatuh saat digunakan melangkah. Ukur ukuran telapak kaki anda dengan teliti, caranya: letakkan telapak kaki di atas kertas, dan buat garis mengelilingi telapak kaki anda. Contohnya adalah ukuran kaki saya seperti di bawah ini.

Teknik ketiga untuk menghindari blister adalah dengan menggunakan kaos kaki khusus untuk mendaki. Kaos kaki ini biasanya berasal dari bahan wool. Pada kaos jenis tertentu (anti-blister shoes), ada juga yang menyebutkan pada tekanan berapa kaos kaki tersebut mampu menahan tekanan dari telapak kai.

Keempat, kencangkan tali sepatu dan tas anda. Ini biasanya saya lupa. Tahu-tahu, ketika sudah di bawah tali sepatu saya sudah lepas (karena tertutup gaiters maka tidak terlihat). Kalau perlu cek di tengah perjalanan turun.


Perawatan
Jika sudah terlanjur turun gunung dan kaki sakit, baik lutut atau telapak kaki. Satu-satunya perawatan yang ampuh adalah banyak istirahat, banyak minum dan makan. Istirahat bukan berarti bolos kerja/kuliah/sekolah, tapi memperpanjang waktunya, misal menyegerakan tidur. Jika lutut masih sakit, mengompressnya dengan es batu mungkin membantu. Banyak minum juga bisa membantu mengembalikan kondisi tubuh (selain banyak minum). Banyak minum ini harusnya juga dilakukan ketika naik dan turun gunung. Berdasarkan pengalaman pribadi, memakai supporter lutut (knee calf) sangat saya sarankan baik saat naik gunung atau perawatan ketika lutut sakit. Setelah dari Gn. Okushishiku, lutut saya sakit. Sehari memakai knee calf support, besoknya langsung sembuh, alhamdulillah. Knee calf support-nya sendiri saya beli di Watts seharga 100 yen. Berikut penampakannya.


Referensi:
[1] https://www.theoutbound.com/jen-weir/do-your-knees-hurt-when-hiking-downhill-here-s-why

Monday, October 12, 2020

Teknik Pendakian Naik: Langkah Pendek dan (Sedikit) Istirahat

Pada pendakian gunung Merapi pada tahun 2009, saya berkesempatan mendaki dengan seorang bule asal Spanyol. Ketika itu saya berkenalan dengannya di tengah perjalanan, dan saya lihat dia mendaki sangat cepat. Saya tanya, berapa waktu yang dia butuhkan untuk mendaki Semeru? "Lima jam pulang pergi!", katanya. Saya takjub. Dalam lima jam, saya berangkat dari pos Selo belum mencapai puncak. Dia sudah sampai puncak dalam waktu setengahnya saja. Saya amati langkahnya. Karena kakinya panjang, langkahnya juga panjang. Ditambah dengan stamina dan kecepatannya, tak heran kalau bule bisa mendaki gunung dengan waktu lebih singkat dari kita, umumnya sepertiga sampai setengah dari waktu yang kita butuhkan (dan bisa lebih singkat lagi). Sejak saat itu, saya perpanjang jangkauan langkah saya dengan harapan bisa memperpendek waktu pendakian.
Mendaki naik dengan rest step, langkah pendek, dan sedikit istirahat akan mengurangi tingkat kelelahan (Gambar: puncak oyama [Tateyama])

Pada pendakian Gunung Bessan (yang merupakan bagian dari pegunungan Tateyama), saya berjalan di belakang seorang Ibu. Kebetulan saat itu saya solo avonturir, teman-teman tinggal di tenda, mau onsen katanya. Saya perhatikan langkah ibu tersebut, lambat. Hampir-hampir saja saya menyalipnya. Dan ketika hampir menyalip, napas saya terengah-engah. Akhirnya, dengan sabar saya berjalan di belakang ibu tersebut. Di sinilah cobaannya. Saya menahan diri untuk tidak istirahat selama ibu di depan saya tidak istirahat. Ibu di depan saya tersebut membawa peralatan lengkap, tas carrier 60L (liter). Sedang saya hanya membawa tas selempang berisi air minum. Dengan penuh perjuangan akhirnya saya bisa tetap di belakang Ibu tersebut sampai Tsurugigozenkoya, tempat yang memisahkah jalur pendakian ke Gunung Bessan dan Gunung Tsurugi.

Setelah pos Tsurugigozenkoya tersebut, saya menerapkan dua pelajaran yang saya dapatkan dari Ibu di didepan saya tadi: langkah pendek dan sedikit istirahat. Walhasil, perjalanan dari Raichosawa-Bessan-Masagodake-Raichosawa dapat saya tempuh dalam 4 jam (sesuai estimasi aplikasi Yamap). Langkah pendek dan sedikit istirahat, itulah kuncinya. Dengan langkah pendek, pelan, dan menghirup udara panjang, kita sudah sekaligus beristirahat dalam tiap langkah. Sehingga, istirahat yang lebih panjang tidak diperlukan lagi. Saya juga tidak mengalami kecapekan yang luar biasa setelah pendakian Gunung Tateyama, kaki normal tanpa penumpukan asam laktat di paha atau betis. Berbeda sekali dengan pendakian-pendakian sebelumnya (bisa juga karea bantuan "supporter betis/calf supporter" yang saya pakai). Dua teknik ini, langkah pendek dan sedikit istirahat, merupakan kunci untuk melakukan pendakian tepat waktu.

The Rest Step
Teknik yang saya ikut dari seorang Ibu di Tateyama di atas ternyata dinamakan "the rest step". Pada jalan biasa naik kita tidak berhenti; kita jalan terus-menerus tanpa memberi kesempatan kaki untuk beristirahat, kecuali di saat istirahat. Apa dasarnya, karena betis dan paha selalu dalam posisi bengkok; tidak pernah dalam posisi lurus (180 derajat). Rest step adalah kebalikannya, dalam sekali jalan posisi paha dan betis kembali 180 derajat setelah melangkah. Energi ketika paha dan betis pada kondisi lurus digunakan untuk menekan/menapak langkah selanjutnya. Perhatikan video berikut, dan ambil pelaran darinya!

Monday, October 05, 2020

Kemampuan Menjawab Pertanyaan

Salah satu kemampuan penting yang, menurut saya, belum ada metrik/ukurannya (seperti IQ dan EQ) adalah kemampuan menjawab pertanyaan. Kemampuan ini merupakan salah satu dari tiga dimensi berpikir kritis. Sering kita lihat pertanyaan "ya" dan "tidak" yang cukup hanya dijawab dalam hitungan detik dijawab secara bertele-tele bermenit-menit. Tulisan ini membahas apa saja aspek penting untuk meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan.

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh pengalaman saya pribadi. Suatu saat co-supervisor saya menimpali jawaban saya, "Bagus-san, kamu cuma ditanya pertanyaan singkat dan sederhana, tapi kenapa jawabannya panjang dan bertele-tele. Saya melongo. Hah, benar. Ternyata selama ini saya tidak mempunyai kemampuan menjawab pertanyaan dengan baik. Beruntung saya mengambil kuliah "Scientific Discussion" di JAIST. Kuliah tersebut berisi prinsip-prinsip berlogika dalam berdiskusi, mencakup kemampuan menjawab pertanyaan.

Sering kita lihat di televisi, misalnya dalam acara dialog/debat, si penanya menanyakan A dan si penjawab menjawab B. Sering pula pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak" dijawab dengan bertele-tele.

Prinsip-prinsip dalam menjawab pertanyaan yang saya kemukakan di bawa ini sudah umum: singkat, pada, dan berisi. Urutannya saja yang saya rubah berdasarkan esensinya. Saya tambahkan prinsip keempat yang opsional, yakni memberikan referensi.
  1. Berisi (jawaban)
  2. Jawaban harus memuat dari apa yang ditanyakan. Jika pertanyaannya adalah pertanyaannya ya/tidak, maka harus ada salah satunya. Jika tidak ada, maka harus ada penjelasannya.
  3. Singkat (short)
  4. Pertanyaan tidak hanya memuat jawaban, tetapi juga harus memuat alasan kenapa dijawab seperti itu. Justifikasi adalah argumen dan bukti/alasan (evidence). Jawaban adalah argumen, sedangkan bukti/alasannya harus singkat.
  5. Padat (dense)
  6. Jawaban atas pertanyaan harus padat, terutama pada alasannya. Misalnya, saya menjawab A karena B. B harus singkat dan padat. Singkat, seperti pada poin sebelumnya, hanya berisi alasan yang dibutuhkan, bukan alasan-alasan yang tidak dibutuhkan. Alasan-alasan yang tidak dibutuhkan tsb (data pendukung, bukan data utama) akan menyebabkan jawaban tidak padat.
  7. (Opsional) Berdasarkan Referensi
  8. Prinsip terakhir adalah jawaban harus berdasarkan referensi, jika ada. Misalnya, saya menjawab A berdasarkan referensi C. Prinsip ini bisa jadi tidak dibutuhkan, misalnya dalam pertanyaan opini atau pendapat. Contohnya, apa warna kesukaan anda? Dalam hal seperti itu, argumen harus kuat, karena bisa jadi ada pertanyaan susulan. Banyak pertanyaan yang sudah ada jawabannya, dan kita tinggal menyitir/mensitasi saja. Jawaban yang berdasarkan referensi akan membuat posisi (jawaban) kita kuat, khususnya jika referensi tersebut bereputasi (misalnya dari jurnal SpringerNature dan Elsevier).
Itulah kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan untuk bisa menjawab pertanyaan secara tepat. Kita bisa menilai jawaban seseorang dari tiga prinsip di atas. Kita pun juga harus belajar kemampuan-kemampuan di atas agar bisa menjawab pertanyaan secara tepat, sebuah dimensi berpikir kritis.

Friday, September 25, 2020

Pendakian Pegunungan Tateyama: 6 Puncak dalam 2 Hari

Pegunungan Tateyama mungkin adalah pegunungan di Jepang yang paling banyak didaki dan paling banyak penginapannya (mountain hut) setelah Gunung Fuji. Gunung Tateyama merupakan satu diantara tiga gunung sakral di Jepang (Japan's three holy mountains, 三霊山). Tapi bukan karena kesakralannya saya mendaki gunung tersebut. Kebetulan, letak gunung tersebut tidak jauh dari tempat tinggal saya saat ini. Tateyama merupukan sekumpulan gunung (pegunungan) dengan beberapa puncak. Artikel ini bercerita tentang perjalanan pendakian Pegunungan Tateyama, 6 puncak dalam dua hari. Berikut kisahnya.

Di Puncak Tateyama (Onanjiyama)

Persiapan

Tidak ada persiapan khusus untuk pendakian Gunung Tateyama. Diantara tiga gunung suci di Jepang, mungkin Tateyama adalah yang termudah (dengan puncaknya Gn. Onanjiyama). Saya hanya jalan minimal 5000 langkah per hari, yang sudah menjadi rutinitas saya, naik turun tangga lantai 5 sehari tiga kali, dan naik Gn. Kuragatake seminggu sebelum mendaki Tateyama. Diari pendakian Gn. Kuragatake bisa dilihat disini: https://yamap.com/activities/7629620.

Perlengkapan

Kesalahan saya tidak membawa perlengkapan yang memadai. Saya menyangka, karena masih musim panas, udara tidak akan begitu dingin. Nyatanya sangat dingin. Di tempat saya, Nomi city, suhu saat berangkat berkisar 28 derajat celcius. Begitu nympai Murodo, sudah sekitar 15 derajat celcius. Saat malam tiba, suhu mencapai lima derajat celcius. Saya terpaksa membeli jaket baru disitu. Ngomong-ngomong, alat-alat berikut saya urutkan dari yang terpenting:
  1. Jaket windbreaker
  2. Sarung tangan hiking (better thinsulate)
  3. Sepatu hiking low-cut
  4. Kaos kaki neoprene 3mm (saya dobel dengan kaos kaki 1mm)
  5. Hiking pole
  6. Calf supporter
  7. Sleeping bag (jika ngecamp)
  8. Tenda yang mumpuni, minimal tahan hujan 5mm
  9. Dll (kompor jika perlu, topi, flashlight, water bottle)

Rencana Perjalanan

Sebelum berangkat, kurang lebih seminggu, saya sudah merencanakan perjalanan saya seperi di bawah ini. Rencana tersebut saya buat berdasarkan sumber-sumber di referensi.
Rencana perjalanan selama 2 hari (3 hari 2 malam)
Jadwal bis Tateyama - Bijoadaira - Murodo


Hari-0

Bus option (departure)
10:30 - 11:28: JAIST - Kanazawa
11:50 - 12:50: Kanazawa - Toyama
13:32 - 13:35: Dentetsu Toyama - Tateyama
13:50 - 13:57: Tateyama - Bijodaira (this schedule not shown in [5] but exist)
14:50 - 15:50: Bijodaira - Murodo 

16:20 - 17:30: Murodo - raichosawa camping ground
17:30 - 18:00: Dhuhur + Ashr prayer + building camp
18:30 - 19:00: Dinner + Free
19:00 - 19:30: Maghrib prayer + snack
20:00 - : Sleep
Memulai perjalanan dari Raichosawa
Raichosawa campsite di belakang


Hari 1

Hari pertama kami berjalan lambat. Dari perkiraan 7-8 jam perjalanan, kami menempuhnya dalam 12 jam. Kebanyak untuk untuk istirahat dan mengambil foto. Berangkat dari Raichosawa camping ground jam 6:25, dan kembali ke Raichosawa jam 17:20. Sholat dhuhur dan ashar kami lakukan di Murodo, di belakang bangunan utama. Wudho bisa di water pond atau di Toilet. Dari keseluruhan rute -- Funinoritate - Onanjiyama - Oyama - Jodo -- rute naik ke Fujinoritate adalah yang paling sulit, butuh 3 jam dari campingground ke puncak pertama tersebut. Untung kami mengambil rute ini. Jika dari arah sebaliknya, mulai dari Jodo, medannya akan lebih terjal lagi. Dan itu kami alami saat turun dari Jodo menuju Murodo. Berikut timeline perjalanan kami bertiga di hari pertama.

05:00: Wake up
05:30: Fajr prayer
05:45: Preparation
06:21 - 09:39: Raichosawa - Mt. Fujinoritate
09:30 - 10:06: Mt.Fujinoritate - Mt. Onanjiyama
10:30 - 11:10: Mt. Onanji-yama, stay at top  for 20 min
11:30 - 14:15: Mt. Tateyama (Onanjiyama) - Mt. Oyama, stay at the top for 15 min
14:31 - 12:00: Mt. Oyama - Mt. Jodo, stay at the top for 30 minutes lunch. 
12:30 - 16:24: Mt. Jodo to Murodo, pray Dhuhr+Ashr at Murodo
17:00 - 18:00: Murodo to Raichosawa camping ground
19:00: dinner, pray Maghrib+Isya, sleep
Peta perjalanan dan gain elevasi hari 1, detail: https://yamap.com/activities/7766032
Menuju Fujinoritate
View dekat puncak Onanjiyama
Danau Mikuriga
Selepas Murodo


Hari 2

Di hari kedua saya pergi sendiri. Dua teman saya memilih onsen di hari itu karena kecapekan di hari pertama. Berbeda dengan hari pertama, pendakian di hari ke dua ini saya lalui dengan cepat. Hanya perlu waktu 4 jam dari Raichosawa - Tusurugigozenkoya - Bessan - Masagodake - Raichosawa. Saya berangkat jam 6 dan kembali jam 10. Berikut timeline perjalanan saya di hari ke dua.

05:00 - 06:00: Fajr prayer + breakfast + preparation
06:05 - 07:30: Raichosawa - Tsurugigozenkoya
07:40 - 08:10: Tsurugigozenkoya - Mt. Bessan
08:15 - 08:45: Mt. Bessan - Mt. Masagodake
09:00 - 10:05: Mt. Masagodake - Raichosawa
11:40 - 12:40: Raichosawa - Murodo
13:20 - 14:10: Murodo - Bijodaira
14:40 - 14:47: Bijodaira - Tateyama
15:05 - 15:48: Tateyama - Dentetsu Toyama (4 minutes late)
16:00 - 17:00: Toyama (bus platform 2) - Kanazawa station (10 minutes late)
17:17 - 18:38: Kanazawa - JAIST
Peta perjalanan dan gain elevasi hari 2, detail: https://yamap.com/activities/7766043/article
Menuju puncak Gn. Bessan
Paling kiri; North Bessan, tengah: Bessan
Dari Gn. Bessan menuju puncak Gn. Masagodake
Sebelum mencapai puncak Gn. Bessan
Di puncak Gn. Masagodake

Pulang

Pulang selalu menjadi menyenangkan. Apalagi setelah capek. Bertemu anak dan istri adalah penghilang lelah. Dua hari perjalanan terbayar sudah. Bertemu si kecil ternyata lebih indah daripada memandang puncak gunung. Alhamdulillah.


Pengeluaran (berangkat dari Kanazawa, dalam Yen):

- Kanazawa - Toyama: 980 * 2 = 1860
- Toyama - Tateyama = 1230 + 1230 + 210  = 2570 (pulang dengan limited express, + fare ticket)
- Tateyama - Murodo = 4940 (pp)
- Total transportasi = 9370
- Snack/makan 2 hari = ~3000
- Total semua = ~12500

Tips:

 - Siapkan pakaian hangat (winter)
 - Bawa peralatan anti air

Referensi

[1] https://hikesinjapan.yamakei-online.com/course/41.php
[2] https://yamap.com/activities/7599164
[3] https://www.youtube.com/watch?v=5VaTlmAGSHc&lc=z22zdxixnqa2enncracdp432cz1yxw2zq3zgkz4p2gxw03c010c
[4] https://yamap.com/activities/7344348
[5] https://www.alpen-route.com/media/access/timetable/timetable-202007_en.pdf

Thursday, September 10, 2020

Hiking Mt. Haku: A Beginner Guide

Disclaimer:
Although I called myself as beginner/amateur mountain climber, I have several experiences in climbing/hiking some mountains in Indonesia (e.g. [1]),  including the highest peak of Java [2]. In Japan, I ever climbed to the top of Mt. Fuji via the Fujinomiya trail (the hardest and shortest trail) [3]. One of our team in this Hakusan trekking is the first timer mountain climber; hence, this story can be used for a total beginner.

Intro

Mt. Hakusan is one of the sacred mountains in Japan (three holy mountains). The others are Mt. Fuji and Mt. Tateyama. But, the reason for this climbing is not because of its holiness; instead, it is very close to my current place of life. I live in Nomi city, Ishikawa prefecture. Hakusan is located in Hakusan city, the neighbor of Nomi city. If you love nature, you will love to live in Ishikawa prefecture. And Hakusan is one of the best natural landscapes in Ishikawa prefecture.



Preparation

I prepared this trekking in several ways. Three weeks before the trekking day, I hiked Sky Shishiku highland (82 m to 642 m) in Tsurugi with a total of 16 km of journey. Two weeks before the trekking day, I repeat to high Shishiku highland, but not to the peak (about 4 km). One week before the trekking day, I intensively walked about 3000 to 8000 steps every day (measured by a wristband), including my daily routine going up and down from 1 floor to 5th floor. This exercise is enough, I think.


Gears

The following gears are ordered from the most important to the less important.
  • Trekking shoes: use hiking shoes with a vibrant and waterproof feature if possible. Vibrant shoes can reduce stiffness on the foot while waterproof shoes keep your foot dry when it rains.
  • lightweight backpack: since there is a cafeteria in Murodo (highest station) and water are available in all stations, bring a lightweight backpack. Fill it with a snack, water, and other important things (raingear, wallet, ticket, etc).
  • Clothing: use a layer hiking t-shirt with long pants in summer. Keep other layers (lightweight jacket/hoodie) in the backpack.
  • Hiking pole: use a single pole for climbing up and down. This pole is important to control and hold you when going down. It prevents your knee for stiffness.
  • Hats: use hats (or cap) to protect you for sunlight and tree branches.
  • To keep in a backpack: rain gear, flashlight, glove, plastic bags, towels, power bank.

The day

We started our journey from JAIST. The time used in this hiking is the most ideal one-day trip. Although the weather prediction changed, from cloudy to rain, in the day, we can keep our schedule on time. Follow our schedule if you stay nearby Mt. Hakusan (about 1-hour drive to ichinose).

We gather in JAIST rotary at 3:20 a.m. At 3:30, we left JAIST by car to Ichinose. From the google map, the trip takes about 70 minutes, and we did it as the map said. We arrived at Ichinose camping ground (and parking area) at 4:30. We pray subuh there once arrived, and buy the bus ticket to the bettou deai center. 

The ticket for a round trip is 1000 yen. The trip is about 15 minutes. We catch the first shuttle bus at 5 a.m. Thus, we arrived at Bettou deai at 5:15. There are a toilet and a water station at Bettou deai. It is better to go to the toilet and fill for the water before starting to climb Mt. Hakusan.

We start to climb Mt. Hakusan at 5:30 when we enter the gate. A beautiful wooded bridge welcomed us before entering the forest. Although it is still dark at that time, the fresh air of nature invites us to enjoy this adventure. Welcome to the jungle!

About one-hour walking (6 a.m.), we arrived at the first station. There are a toilet and water station there. You can take breakfast here, at Nakahanba. Here are my pictures there.



If you plan to take a rest there, don't waste a lot of time. Ten to fifteen minutes is enough to take a rest. If you plan a brief rest, I suggest you do not take a sitting position, but a humped shape position.

Continue walking about 1.5 hours (7.30 a.m.) we arrive at Jinnosuke shelter hut. As the previous station, there are toilets and water stations in addition to a shelter hut. The toilet is clean; hence, I recommend you to make pee here before continuing to Murodo. The first figure in this post, a panorama view, was taken at Jinnosuke shelter hut.

The next walking is the rest journey to the only station before the top, the Murodo station. We need to be checked (due to coronavirus), wear a mask, and show a sticker as a sign that we already take temperature check. The scenery from Jinnosuke to Murodo is the best view during this Hakusan trail. Don't forget to take lot of pictures. Here is one of mine.
Before Murodo, the view is great!
It takes about 1.5 hours from Jinnosuke to Murodo (with two-three breaks). I forget to take a picture when in Murodo, but the following video was taken just before entering Murodo.


In Murodo, we take about 20 minutes of breaks. We did brunch (breakfast + lunch). At about 9:40 a.m, we continue our journey to the top of Mt. Haku. From Murodo to the top of Mt. Haku needs about 40 minutes slow walking (because the trek is a little bit steep). Nevertheless, the view at the top of Mt. Haku is awesome. At 10:20 we reached the top of Mt. Haku!

At the top of Mt. Haku

Murodo from the top of Mt. Haku
That's all the journey of ascending Mt. Haku. Going down from Mt. Haku at that time is longer than expected, a little bit messy. It was rain! So, even the weather forecast says it will sunny or cloudy, prepare your rain gear in advance. Nevertheless, here is our track to hike Mt. Hakusan.



After staying about 20 minutes at the top we back to Murodo, having lunch there and go back down. It takes 5 hours from Murodo to Betto deai in rainy conditions. On the descending way, we take a break in Nakahanba station just to wait for the rain stopped (not really stopped, but better). At 4 p.m, we arrived at Bettou deai center and directly riding the bus to Ichinose. We arrived at Ichinose at 4:15 p.m. Mission accomplished!





Time frame:

Active time: 4h44m
Break time:  4h53m
Total time: 10h37m


Closing: Tips and Tricks

  • There is a cafeteria at Murodo, soba or udon cost about 500 yen, not so expensive.
  • In every station water faucet is available, no need to worry about water. At least three water stations are available before achieving Murodo.
  • No bus from Kanazawa to Ichinose during the pandemic (2020), the only way to achieve Ichinose is by car.
  • Bring lightweight equipment, it only takes 10 hours roundtrip for the beginner in rainy conditions descending.
For more detail trekking data, see my yamap activity page: https://yamap.com/activities/7569742

Reference
  1. https://bagustris.blogspot.com/2008/09/reach-top-of-arjuno.html
  2. https://bagustris.blogspot.com/2014/09/pendakian-semeru-rute-tips-catatan.html 
  3. https://bagustris.blogspot.com/2018/09/pendakian-gn-fuji-via-fujinomiya-trail.html
  4. http://www.kagahakusan.jp/en/pdf/en.pdf

Wednesday, September 09, 2020

Naik-turun Tangga: Olahraga Murah Meriah nan Bermanfaat

Artikel singkat ini menerangkan manfaat naik-turun tangga. Sebagai tambahan informasi, kamar (apato) saya ada di lantai 5 sedangkan tempat kerja saya ada di lantai 9. Menghindari penggunaan lift, selain menghemat energi, akan memudahkan saya untuk mencapai target harian 8000 langkah per hari. Setidaknya saya harus pulang ke rumah dua kali, makan siang dan makan malam, sehingga saya harus bolak-balik turun dari lantai 5 ke lantai satu, jalan 500 m, dan naik dari lantai 1 ke lantai 9, setiap harinya.

Ilustrasi naik-turun tangga; sebagaimana uang, naik-turun juga juga bermanfaat [2]
Ilustrasi naik-turun tangga; sebagaimana uang, naik-turun juga juga bermanfaat [2]


Di sebuah artikel berjudul "Heart rate, oxygen uptake, and energy cost of ascending and descending the stairs" dilaporkan bahwa olahraga ringan naik-turun tangga itu bermanfaat dan disarankan. Berdasarkan hasil studi [1], tingkat detak jantung (heart rate), pengambilan oksigen (oxygen uptake), dan energi yang tebakar saat naik dan turun tangga baik untuk aktivitas fisik. Lebih detail hasil penelitian tersebut secara numerik untuk data 30 detik setelah naik 180 anak tangga dari lantai 1 sampai lantai 11 adalah sebagai berikut:
  • oxygen uptake: 33.5 $\pm$ 4.8 mL/kg/min
  • bpm (beat per minute): 159 $\pm$ 15 bpm
  • kalori terbakar: 19.7 kcal
Data untuk turun tangga (11 lantai, 180 anak tangga):
  • oxygen uptake: 17 $\pm$3.8 mL/kg/m
  • bpm: 107 $\pm$ 18 bpm
  • kalori terbakar: 9.0 kcal
Yang menarik bagi saya, ternyata turun tangga pun juga bermanfaat, meski tidak sebermanfaat naik tangga. Dari data tersebut, kata penulisnya, olahraga naik-turun tangga bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh sesuai yang disyaratkan oleh ASCM ( American College of Sports Medicine). Semangat berolahraga!


Referensi
  1. K. C. Teh and A. R. Aziz, “Heart rate, oxygen uptake, and energy cost of ascending and descending the stairs:,” Medicine & Science in Sports & Exercise, vol. 34, no. 4, pp. 695–699, Apr. 2002, doi: 10.1097/00005768-200204000-00021.
  2. https://www.wannapik.com/vectors/58425

Monday, September 07, 2020

Python check if file/directory exist

This is a documentation for myself. To check if a file or directory already exists, use the following ways.
 
Check file or directory
import os
os.path.exists('filename')
Check file only
import os
os.path.exists('filename')
Create the file if not exist
if not os.path.exists('file)'): 
 os.mknod('file') 
Create a directory if not exist
if not os.path.exists('file)'): 
 os.mkdir('file') 
Please note that the last commands will complain (shows error) if the file or directory 'file' exists.

Friday, August 28, 2020

Menulis disertasi: bacaan sebelum tidur bagi mereka yang tidak bisa tidur

Artikel ini merupakan terjemahan bebas saya atas tulisan Douglas E. Comer di website pribadinya [1], sebuah pengantar tidur untuk menulis disertasi. Beberapa batasan tulisan ini yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut.
  • Meski ditujukan untuk disertasi berbahasa Inggris, tips/prinsip di bawah ini bisa saja diaplikasikan pada tulisan ilmiah berbahasa Indonesia (khususnya tugas akhir/tesis/disertasi). 
  • Meski ditujukan untuk disertasi, prinsip-prinsip di bawah ini bisa juga diaplikasikan pada karya tulis jenis lain.
  • Meski ditujukan untuk mahasiswa sains komputer (computer science), prinsip berikut juga bisa diaplikasikan untuk disertasi bidang lain.

Untuk para kandidat:

Jadi anda sedang menyiapkan untuk menulis disertasi doktoral anda di bidang sains komputer (seperti saya saat ini). Kecuali anda telah memiliki pengalaman menulis berbagai dokumen formal sebelumnya, anda akan terkejut: menulis disertasi itu sulit!

Ada dua jalur untuk mencapai kesuksesan menulis disertasi:
  • Perencanaan yang matang
  • Hanya sedikit yang menempuh jalur ini. Sedikit orang tersebut meninggalkan universitasnya dengan sangat cepat sehingga mereka tidak diperhatikan. Jika anda menginginkan impresi lama dan karir panjang sebagai mahasiswa pasca sarjana, jangan memilih jalur ini.
  • Ketekunan
  • Yang perlu anda lakukan adalah bertahan dari komite doktoral anda. Berita baiknya, mereka umumnya lebih tua dari anda, jadi anda bisa menebak siapa yang akan "berakhir" duluan. Berita buruknya, mereka lebih berpengalaman dari anda dalam permainan ini.
Beberapa arahan berikut ini mungkin membantu anda ketika anda telah serius menulis disertasi anda. Daftar tersebut berlaku selamanya, tanpa pengecualian, dan anda mungkin tidak ingin membacanya dalam sekali waktu. Namun, bacalah arahan ini sebelum anda memulai menulis disertasi anda.

Ide dasar:

  1. Sebuah tesis adalah hipotesis atau penerkaan
  2. Sebuah disertasi doktoral adalah dokumen formal, panjang, yang berargumen dalam mempertahankan tesis, pernyataan yang didukung oleh argumen. (Terminologi tesis sendiri digunakan untuk merujuk dokumen, arti ketiga dalam bahasa Inggris).
  3. Dua kata sifat yang penting untuk menggambarkan disertasi adalah: orisinil dan substansial (KBBI: bersifat inti). Penelitian yang dilakukan harus mendukung keduanya dan disertasi yang ditulis juga harus menunjukkan hal tersebut. Secara spesifik, sebuah disertasi menunjukkan kontribusi orisinil.
  4. Metode saintifik berarti memulai dengan hipotesis dan kemudian mengumpulkan untuk mendukung atau menyanggah hipotesis tsb. Sebelum seseorang dapat menulis disertasi untuk mempertahankan sebuah tesis tertentu, dia harus mengumpulkan bukti untuk mendukung hipotesis tersebut. Oleh karenanya, aspek tersulit dari menulis disertasi adalah mengorganisir bukti-bukti (hasil) dan mengasosiasikan diskusi dalam bentuk yang koheren.
  5. Esensi dari disertasi adalah pemikiran kritis, bukan data eksperimen. Analisis dan konsep membentuk inti pekerjaan penelitian.
  6. Sebuah disertasi berkonsentrasi pada prinsip: dia menyatakan apa yang telah dipelajari, bukan hanya fakta dibaliknya.
  7. Secara umum, setiap statemen dalam disertasi harus didukung oleh referensi atau pekerjaan yang dilakukan. Sebuah disertasi tidak mengulang detail dari pemikiran kritis dan analis yang telah dipublikasikan; disertasi menggunakan hasil penelitian sebelumnya sebagai sebuah fakta dan menyarankan pembaca untuk merujuk pada sumber asli untuk detail lebih lanjut.
  8. Setiap kalimat dalam disertasi harus komplet dan benar secara tata bahasa. Sebuah disertasi harus memenuhi persyaratan ketat tata bahasa formal (singkatan, tidak ada bahasa cakapan, tidak jargon yang tidak didefinisikan, tidak ada bahasa slang, tidak ada bahasa alay, dst). Sebaliknya, penulisan dalam disertasi harus sejelas-jelasnya. Ketidakjelasan menyebabkan masalah; terminologi dan prosa harus dapat dibedakan. Setiap kata harus menyampaikan maksudnya secara jelas sesuai yang diniatkan/dimaksudkan, tidak kurang dan tidak lebih.
  9. Setiap pernyataan/statemen dalam disertasi harus benar dan dapat dipertahankan secara logis dan saintifik. Diskusi dalam disertasi harus memenuhi aturan logika yang berlaku dalam sains dan matematika.

Apa yang harus dipelajari dari latihan:

  1. Semua ilmuwan perlu mengkomunikasikan penemuannya; disertasi doktoral adalah latihan untuk berkomunikasi dengan ilmuwan lainnya.
  2. Penulisan disertasi mensyaratkan seorang mahasiswa untuk berpikir secara mendalam, mengumpulkan argumen-argumen untuk meyakinkan ilmuwan lainnya dan mengikuti aturan yang ketat, presentasi formal dari argumen dan diskusi.

Aturan praktis:

Tulisan yang baik penting dalam penulisan disertasi. Bagaimanapun, tulisan yang baik tidak dapat mengkompensasi lemahnya ide atau konsep. Justru sebaliknya, presentasi yang jelas selalu menujukkan kelemahan ide.

Definisi dan terminologi:

  1. Setiap term/istilah yang digunakan dalam disertasi harus didefinisikan dengan mengacu publikasi ilmiah sebelumnya (untuk standardisasi term dengan arti umum) atau didefinisikan dengan presisi, tidak ambigu sebelum istilah tersebut digunakan (untuk istilah baru atau istilah standar yang digunakan tidak pada umumnya) (Lihat teknik ke-6 pada artikel prinsip dasar logika).
  2. Setiap istilah harus digunakan hanya untuk satu makna/arti sepanjang disertasi.
  3. Cara termudah untuk menghindari pendefinisian istilah secara panjang lebar adalah dengan memasukkan pernyataan: "the terminology used throughout this document follows that given in [CITATION].''Kemudian, berikan perbedaannya jika ada.
  4. Bab "introduction" dapat memberikan intuisi dari istilah yang digunakan dan akan didefinisikan lebih presisi kemudian.

Istilah dan frasa yang sebaiknya dihindari (Bahasa Inggris):

  • adverb: kata keterangan, kata jenis ini banyak digunakan secara berlebihan dalam disertasi.
  • jokes or puns: guyon atau humor, tidak seharusnya ada dalam disertasi.
  • ``bad'', ``good'', ``nice'', ``terrible'', ``stupid'': Gunakan kata-kata kuantitatif/kategorikal daripada kualitatif seperti ini, misal: 80%, "benar", "salah".
  • ``true'', ``pure': penghakiman (dalam arti "baik")
  • ``perfect'': tidak ada yang sempurna.
  • ``an ideal solution'': menghakimi lagi.
  • ``today'', ``modern times': Hari ini adalah besoknya kemarin.
  • ``soon': seberapa soon? nanti malam? dekade selanjutnya?
  • ``we were surprised to learn...'': meski memang demikian, mau apa?
  • ``seems'', ``seemingly'',: tidak masalah bagaimana sesuatu muncul.
  • ``would seem to show'': semua permasalahan adalah fakta.
  • ``in terms of'': biasanya tidak jelas.
  • ``based on'', ``X-based'', ``as the basis of'': hati-hati, bisa menyamarkan arti.
  • ``different'': apakah yang dimaksud "various"; berbeda dari apa?
  • ``in light of'': ragam cakapan.
  • ``lots of'': samar dan cakapan.
  • ``kind of'': samar dan cakapan.
  • ``type of'': samar dan cakapan.
  • ``something like'': cakapan.
  • ``just about'': cakapan.
  • ``number of'': samar, pernyataan kuantitatif lebih disukai.
  • ``due to'': cakapan.
  • ``probably'': hanya jika disertai probabilitas statistik.
  • ``obviously, clearly'': hati-hati, apakah jelas kepada pembaca?
  • ``simple'': dapat memiliki konotasi lain, misal "simpleton"
  • ``along with'': gunakan "with" saja.
  • ``actually, really'': definisikan secara presisi untuk mengeliminasi perlunya klarifikasi.
  • ``the fact that'': membuat kalimat meta, gunakan frasa lain.
  • ``this'', ``that'': Seperti pada kalimat "This causes concern." Alasan: "This" dapat merujuk pada subyek dari kalimat sebelumnya, seluruh kalimat, atau seluruh paragraf, seluruh seksi sebelumnya, dll. Lebih penting lagi, "this" juga dapat diinterpretasikan dalam arti konkrit atau meta-konkret. Sebagai contoh: "X does Y. This means ... ." Pembaca dapat mengasumsikan "this" merujuk pada Y atau berdasarkan fakta bahwa X melakukan Y. Meski dalam bentuk restriktif (lebih baik), misal "this computation", frasa tsb sering terlihat lemah dan ambigu.
  • ``You will read about...'': Sudut pandang kedua ("you") tidak memiliki tempat dalam disertasi.
  • ``I will describe...'': Sudut pandang pertama tidak memiliki tempat dalam disertasi. Gunakan self-reference, misal: "Chapter 10 describes... ."
  • ``we'' seperti pada ``we see that'': Jebakan yang sebaiknya dihindari. Alasan: kebanyakan kalimat dapat dimulai dengan "we" karena "we" dapat merujuk pada: pembaca dan penulis, penulis (termasuk pembimbingnya), penulis dan tim riset, ilmuwan eksperimental komputer, seluruh grup komunitas sains, komunitas sain, atau grup lainnya.
  • ``Hopefully, the program...'': program komputer tidak berharap, kecuali diimplementasikan sistem AI. Jika anda menulis disertasi di bidang AI, berkonsultasilah ke ahli lainnya, setiap bidang punya gayanya masing-masing.
  • ``...a famous researcher...'': tidak masalah terkenal atau tidak. Faktanya, pernyataan ini adalah prasangka.
  • ``few, most, all, any, every'' : Hati-hati menggunakan istilah ini. Sebuah disertasi haru presisi. Jika ada kalimat " Most computer systems contain X", anda harus bisa mempertahankan argumen ini. Apakah anda tahu faktnya? Berapa komputer yang terjual kemarin?
  • ``must'', ``always'': Yakin?
  • ``should'': Siapa yang mengatakan demikian?
  • ``proof'', ``prove'': Kecuali dapat dibuktikan secara matematik.
  • ``show'': Jika digunakan dalam arti yang sama dengan "prove", maka "show" harus didukung oleh bukti formal/matematika.
  • ``can/may'': ibu anda mungkin bisa menjelaskan perbedaanya (may: formal, can: ability; You may use can if you wish, and you can use may if it makes you feel better.)

Kalimat aktif vs. pasif:

Gunakan konstruksi kalimat aktif. Sebagai contoh, tulis "the operating system starts the device" daripada "the device is started by the operating system."

Tense:

Tulis dalam bentuk present tense (bentuk sekarang). Sebagai contoh, tulis " The system writes a page to the disk and then uses the frame..." daripada "The system will use the frame after it wrote the page to disk..."

Definisikan negasi di awal:

Contoh: tulis "no data block waits on the output queue" daripada "a data block awaiting output is not on the queue." 

Tata bahasa dan logika:

Berhati-hatilah bahwa subyek setiap kalimat sesuai dengan kata kerja yang dilakukanya. Kalimat "Programs must make procedure calls using the X instruction" tidak sama dengan kalimat "Programs must use the X instructuion when they call a procudere." Kalimat pertama salah. Contoh lainnya, "RPC requires programs to transmit large packets" tidak sama dengan "RPC requires a mechanism that allows programs to transmit large packets."
Semua ilmuwan komputer seharusnya tahu aturan logika. Sayangnya, aturan tersebut lebih sulit diikuti ketika bahasa tulisan adalah Bahasa Inggris, bukan persamaan-persamaan matematika. Sebagai contoh, kalimat "There is a compiler that translatesthe N languages by..." berarti ada satu compiler eksis yang menangani semua bahasa, sedangkan kalimat "For each the N languages, there is a compiler that translates..." berarti ada 1 compiler, 2 compiler, atau N compiler. Ketika menggunakan simbol matematika, perbedaannya sangat jelas karena frase "for all" dan "there exist" adalah berlawanan.

Fokus pada (cara mendapatkan) hasil, bukan orang atau kejadiannya:

"After working eight hours in the lab that night, we realized ..." tidak memiliki tempat dalam disertasi. Tidak masalah bagaimana sulit atau berapa lama anda bekerja untuk mendapatkan hasilnya. Contoh lainnya: "Jim and I arrived at the numbers shown in Table 3 by measuring..". Letakkan ucapan terima kasih pada Jim di bab "Acknowledgement", tetapi jangan memasukkan nama (termasuk nama anda sendiri) pada bagian isi disertasi. Anda mungkin akan berusaha untuk menjelaskan secara detail tahapan mendapatkan hasil penelitian. Hindari hal tersebut secara total. Sebagi tambahan, jangan mendokumentasikan pengaruh mistis, misal: "if that cat had not crawled through the hole in the floor, we might not have discovered the power supply error indicator on the network bridge''. Jangan pernah memberi atribusi pada hal mistis atau keanehan yang mempengaruhi hasil penelitian anda. Secara ringkas: gunakan fakta. Deskripsikan hasil tanpa memasukkan reaksi anda terhadap kejadian, yang mungkin saja membantu, ketika mendapatkan hasil tersebut.

Hindari penilaian/penghakiman pribadi:

Kedua contoh berikut tidaklah tepat: ``The method outlined in Section 2 represents a major breakthrough in the design of distributed systems because...'' ``Although the technique in the next section is not earthshaking,...''

Merujuk pada karya tulis, bukan penulisnya:

Penulis disertasi harus menyitasi karya tulis, bukan penulisnya. Oleh karenanya, gunakan kata kerja bentuk tunggal (singular) untuk merujuk larya tulis meski ditulis oleh banyak penulis. Sebagai contoh "Johnson and Smith [J&S90] reports that...''.
Hindari frasa "the authors claim that X." Penggunaan kata "claim" meragukan "X" karena merujuk pada pemikiran penulis, bukan fakta penulisan. Jika anda setuju bahwa "X" adalah benar, maka nyatakan dengan "X" diikuti dengan referensinya. Jika harus merujuk ke karya tulis daripada hasislnya, katakan "the paper states that ..." atau "Johnson and Smith [J&S 90] presents an evidence that ... ".  

Konsep vs. contoh:

Pembaca bisa menjadi bingung ketika batas antara konsep dan contoh tidak jelas. Contoh yang umum termasuk: sebuah algoritma dan program tertentu sebagai implementasinya, bahasa pemrograman dan compiler, abstraksi umum dan implementasi tertentu dari sistem komputer, struktur data dan contoh penggunaan memorinya.

Terminologi untuk konsep dan abstraksi:

Ketika mendefinisikan istilah untuk sebuah konsep, berhati-hatilah untuk memutuskan bagaimana suatu ide diterjemahkan kedalam suatu implementasi. Pertimbangkan contoh berikut ini:
VM systems include a concept known as an address space. The system dynamically creates an address space when a program needs one, and destroys an address space when the program that created the space has finished using it. A VM system uses a small, finite number to identify each address space. Conceptually, one understands that each new address space should have a new identifier. However, if a VM system executes so long that it exhausts all possible address space identifiers, it must reuse a number.
Poin penting contoh di atas adalah diskusi dalam tulisan tersebut hanya masuk akal karena "address space" didefinisikan secara independen dari "address space identifier". Jika penulis mengharapkan diskusi perbedaan antara  konsep dan implementasinya, maka perbedaan antar keduanya harus terlihat jelas. 

Pengetahuan vs. data:

Adalah fakta bahwa hasil eksperimen disebut data. Istilah pengetahuan (knowledge) mengimplikasikan data yang telah dianalisa, dikondensasi, atau dikombinasikan dengan data dari eksperimen lain untuk menghasilkan informasi yang berguna.

Sebab dan akibat:

Sebuah disertasi harus secara hati-hati memisahkan hubungan sebab-akibat dari korelasi statistik sederhana. Sebagai contoh, jika semua program komputer yang ditulis di lab Profressor x membutuhkan memori lebih banyak daripada program komputer yang ditulis di lab Professor Y, bisa jadi tidak ada hubungannnya sama sekali dengan kedua professor ataupun programmernya (misal, mungkin orang-orang di lab Professor X sedang bekerja pada aplikasi yang membutuhkan memori lebih banyak daripada aplikasi yang dikembangkan di lab Professor Y).

Hanya mengambil kesimpulan yang kuat:

Penulis harus berhati-hati untuk hanya mengambil kesimpulan yang didukung bukti-bukti. Sebagai contoh, jika program komputer berjalan lebih lambat di komputer A daripada kompter B, maka tidak dapat disimpulkan bahwa komputer A lebih lambat dari komputer B kecuali penulis membahas perbedaan sistem operasi, divais input-output, ukuran memori, memori cache, atau lebar pita bus internal. Faktanya, penulis juga harus menghindari penilaian antar kedua komputer kecuali telah mendapatkan hasil dari eksperimen kontrol (misal, menjalankan satu set program beberapa kali, setiap kalinya ketika komputer dalam keadaan diam/idle). Bahkan jika penyebabnya sangat jelas, penulis tidak dapat menyimpulkan kecuali dengan bukti yang kuat.

Komersial dan sains:

Dalam disertasi saintifik, penulis tidak boleh mengambil kesimpulan berdasarkan kesuksesan ekonomi atau komersialisasi dari suatu idea/metode, tidak juga berspekulasi pada sejarah pengembangan ide. Seorang ilmuwan harus tetap obyektif tentang keunikan ide secara independen dari kepopuleran komersial. Sebagai tambahan, seorang ilmuan tidak seharusnya mengasumsikan bahwa sukses komersial menjadi ukuran dari bekerjanya suatu ide (banyak produk populer justru tidak didesain dan direkayasa dengan baik). Oleh karenanya, statemen seperti  ``over four hundred vendors make products using technique Y'' tidak relevan dalam disertasi.

Politik dan sains:

Seorang ilmuwan menghindari semua pengaruh politik ketika mengkaji suatu ide. Jelas tidak menjadi masalah ketika organisasi pemerintahan, partai politik, grup keagamaan, atau organisasi lainnya mendukung suatu ide. Lebih penting dan sering terlewatkan, tidak menjadi masalah ketika sebuah ide berasal dari ilmuwan yang telah memenangkan hadiah Nobel ataupun mahasiswa tingkat satu. Penulis harus mengkaji sebuah ide secara independen dari sumbernya.

Struktur disertasi:

Secara umum, setiap disertasi harus mendefinisikan masalah yang memotivasi penelitian, menjelaskan mengapa masalah tersebut penting. memaparkan apa yang telah dilakukan (oleh peneliti lain), dan apa kontribusinya yang baru, mendokumentasikan eksperimen yang memvalidasi kontribusi, dan mengambil kesimpulan. Tidak ada struktur baku untuk sebuah disertasi: setiap struktur adalah unik. Bagaimanapun, penulis baru untuk disertasi dibidang sains komputasi eksperimental akan menemukan contoh berikut sebagai awalan yang baik untuk menulis disertasi.
  • Chapter 1: Introduction
  • Berisi deskripsi umum dari permasalahan; mengapa hal tsb penting; ringkasan dari pencapaian dan pernyataan hipotesis dari pertanyaan spesifik yang akan dieksplorasi. Buat bab ini dapat dipahami oleh semua orang.
  • Chapter 2: Definitions
  • Berisi istilah-istilah baru. Definisikan secara presisi, singkat, dan tidak ambigu.
  • Chapter 3: Conceptual Method
  • Deskripsikan konsep utama yang melatarbelakangi pekerjaan anda. Buat bab ini sebagai theme yang menghubungkan semua argumen anda. Bab ini harus menjawab pertanyan yang diekspose di bab pertama pada level konsep. Jika diperlukan, tambahkan bab tambahan untuk memberikan alasan tambahan tentang permasalahan atau solusinya.
  • Chapter 4: Experimental Measurements
  • Deskripsikan hasil eksperimen yang memberikan bukti untuk mendukung kesimpulan anda. Biasanya eksperimen tersebut menitik beratkan pada proof-of-concept (mendemonstrasikan bekerjanya suatu teknik/metode efisiensi (mendemonstrasikan suatu teknik/metode memberikan hasil yang lebih baik dari metode yang telah ada).
  • Chapter 5: Corollaries and Consequences
  • Deskripsikan variasi, ekstensi, dan aplikasi lain dari ide utama.
  • Chapter 6: Conclusions 
  • Buat ringkasan dari apa yang telah dipelajari dan bagimana hal tsb dapat diimplemtasikan. Sebutkan kemungkinan untuk penelitian selanjutnya.
  • Abstract
  • Sebuah (atau beberapa) paragraf pendek yang berisi ringkasan disertasi. Deskripsikan permasalahan dan pendekatan penelitian. Sebutkan kontribusi utamanya.

Urutan yang direkomendasikan saat menulis:

Cara termudah untuk membangun sebuah disertasi adalah dari luar ke dalam. Mulai menulis dari bab yang menggambarkan penelitian anda (Bab 3, 4, 5 dalam outline di atas). Kumpulkan semua term/istilah ketika muncul dan definisikan tiap istilah tersebut. Definisikan setiap term teknik, meski istilah digunakan dengan cara konvensional.
Organisasikan setiap definisi adalam sebuah bab. Buat definisi secara presisi dan formal. Review bab tersebut untuk memverifikasi penggunaan term teknis melekat pada definisinya. Setelah membaca bab selanjutnya untuk memverifikasi terminologi, tulis kesimpulannya (Bab 6). Tulis pengantarnya (Bab 1) kemudian. Terakhir, lengkapi dengan abstrak. 

Kunci sukses:

Tidak ada kunci sukses selain latihan. Tidak ada yang pernah belajar untuk menulis dengan membaca esai seperti ini. Sebaliknya, anda butuh latihan, latihan, dan latihan. Setiap hari.

Pemikiran terakhir:

Kami meninggalkan anda dengan beberapa ide berikut untuk dipikirkan. Jika ide-ide tersebut tidak berarti untuk anda sekarang, revisi ide-ide ini ketika anda menyelesaikan disertasi anda.
After great pain, a formal feeling comes.
-- Emily Dickinson
A man may write at any time, if he will set himself doggedly to it.
-- Samuel Johnson
Keep right on to the end of the road.
-- Harry Lauder
The average Ph.D. thesis is nothing but the transference of bones from one graveyard to another.
-- Frank J. Dobie


Referensi
[1] https://www.cs.purdue.edu/homes/dec/essay.dissertation.html
[2] https://www.cs.purdue.edu/homes/dec/essay.escape.html

Monday, August 24, 2020

Menulis Artikel (Ilmiah Populer) Agar Mudah Dipahami: Beberapa Prinsip

Tulisan ini bertujuan untuk mengenalkan beberapa prinsip yang dapat dipakai untuk memudahkan pembaca memahami tulisan anda. Lebih jelasnya, silahkan baca sebuah paragraf berikut.


Beberapa prinsip tersebut adalah sebagai berikut. Tulisan dalam bentuk miring, seperti ini, adalah perbaikan dari contoh dengan menerapkan prinsip yang disebutkan.

1. Semakin pendek kalimat, semakin mudah dipahami.
Tulisan yang pendek lebih mudah dipahami daripada tulisan yang panjang; kalimat yang pendek lebih mudah dipahami daripada kalimat yang panjang. Singkatnya, otak kita akan lebih cepat memproses kata antar kata dalam satu kalimat, kalimat antar kalimat dalam satu paragraf. Bandingkan dua paragraf berikut.

Terminologi "kontinyu" pada tulisan ini mengacu pada kontinuitas waktu, bukan pada kontinuitas dimensi, seperti halnya sinyal analog yang memiliki semua nilai pada rentang waktu tertentu. Terminologi kontinyu juga ada pada pembagian emosi, yakni emosi berdasarkan kategori dan emosi berdasarkan dimensi yang sering disebut juga emosi kontinyu. Meski definisi emosi kontinyu juga dipakai pada tulisan ini, terminologi 'kontinyu" pada judul tulisan ini merepresentasikan emosi dalam domain waktu singkat, bukan mereprentasikan kontinuitas nilai emosi pada ruang dua atau tiga dimensi.
Terminologi "kontinyu" pada judul tulisan ini mengacu pada domain waktu. Selain domain waktu, terminologi kontinyu juga diaplikasikan pada ruang tiga dimensi emosi. Pada ruang tersebut, emosi memiliki nilai pada ruang tertentu. Kontinuitas emosi pada domain waktu menjadi bahasan utama selain kontinuitas nilai emosi pada dimensi ruang.

Bandingkan paragraf pertama dengan kedua. Paragraf pertama berisi tiga kalimat dengan 78 kata sedang paragraf kedua berisi empat kalimat dengan 46 kata. Selain lebih singkat, paragraf kedua lebih mudah dipahami, bukan?

2. Semakin tidak kompleks tulisan, semakin mudah dipahami. Kompleksitas sebuat tulisan (kalimat) dapat diukur dari banyaknya tanda baca koma dan titik koma. Contohnya adalah sebagai berikut.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja AC, namun pada artikel ini hanya difokuskan pada penggunaan energi panas bumi.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja AC. Tulisan ini hanya difokuskan pada penggunaan energi panas bumi.


3. Eksplisit lebih baik daripada implisit.
Perhatikan contoh berikut.
Banyak sumber energi lain yang dapat dipakai untuk meningkatkan kinerja AC.
Energi angin, panas bumi, dan cahaya matahari dapat dipakai untuk meningkatkan kinerja AC.
Bab ini berisi penjelasan tentang X dan Y serta hubungannya satu sama lain.
Bab ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan X dan Y.

Contoh kedua di atas yang ditulis tebal disebut juga sebagai signpost dalam tata tulis bahasa Inggris. Signpost ini sangat berguna bagi pembaca untuk memberitahu mereka secara eksplisit apa yang sedang mereka baca. Selain signpost, cara lain untuk memberitahukan secara eksplisit maksud suatu kalimat adalah dengan kata-kata transisi. Misalnya: "Selanjutnya akan dipaparkan XXX", "..., dapat disimpulkan bahwa ... ", "Kontribusi artikel ini adalah sebagai berikut, ...".


4. Satu paragraf berisi satu ide pokok (di awal kalimat/kalimat topik); satu kalimat hanya berisi satu ide.

Satu paragraf hanya berisi satu kalimat topik. Kalimat ini biasanya, dan sangat disarankan, berada di awal paragraf. Kalimat topik pada penulisan akademik berisi statemen thesis. Kalimat-kalimat selanjutnya dalam paragraf tersebut mendukung kalimat topik. Tidak bertentangan ataupun tidak berhubungan dengan kalimat topik. Prinsip ini disebut kesatuan (unity).

Sebagaimana paragraf, satu artikel hendaknya hanya berisi satu ide atau konsep yang ingin dijelaskan. Satu konsep sebagai konsep utama tersebut ditunjang oleh beberapa sub-konsep yang mendukun konsep utama. Konsep utama harus tergambar dalam judul. Sub-konsep sub-konsep pendukungnya bisa berupa seksi (section) yang ditulis dalam heading 1, 2, .. dst. Dengan demikian alur tulisan akan lebih mudah dipahami.

5. Koheren, konsisten dan logis (sound)
Koheren dapat diartikan bahwa antar kalimat dalam satu paragraf memiliki hubungan semantik antarunsur kebahasaan. Hubungan ini biasanya ditandakan dengan kesamaan kata; kata di (akhir) satu kalimat dipakai lagi di (awal) kalimat berikutnya. Koherensi membuat paragraf mudah dimengerti oleh pembaca. Koheren membutuhkan kohesi: hubungan antaralinea bersifat padu [1]. Kohesi ini dapat dibantu dengan kata-kata transisi dan kata-kata penunjuk arah (signpost).

Konsisten dalam penulisan adalah pemakaian istilah, singkatan, dan tanda-tanda yang bersifat tetap [1] sedangkan logis adalah benar baik struktur (sintaks) dan kontennya. Konsisten membantu pembaca untuk lebih mudah memahami isi artikel; pembaca tidak perlu berpikir dua kali untuk arti dari kata yang sama. Perhatikan contoh berikut.

Model A memiliki 23 input dan 3 output. Sistem tersebut tersusun atas 3 lapis jaringan LSTM satu arah. Arsitektur ini diadopsi dari [x] yang terbukti memberikan hasil yang baik untuk sistem pengenalan suara. Dengan ide yang serupa, penggunaan sistem tersebut untuk pengenalan emosi dari suara manusia mungkin akan memberikan hasil yang lebih baik dari sistem yang ada saat ini.

Contoh di atas menggunakan kata-kata yang tidak konsisten. Model, sistem, dan arsitektur adalah kata-kata yang berbeda untuk menunjukkan arti yang sama. Cara ini akan menyulitkan pembaca memahamai tulisan tersebut. Paragraf diatas akan lebih mudah dipahami jika menggunakan kata yang sama, misal "model". Konsistensi membantu mempermudah pemahaman, sebagaimana koherensi dan logika.

Perbedaan dengan penulisan dalam bahasa Inggris

Ada beberapa perbedaan antara penulisan artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Diantaranya adalah dua hal berikut ini.
  1. Pada Bahasa Inggris kalimat verbal lebih mudah dipahami daripada kalimat nominal; pada bahasa Indonesia prinsip ini tidak perlu berlaku mutlak. Kalimat nominal kadang lebih mudah dipahami.
  2. Pada Bahasa Inggris, kalimat aktif lebih mudah dipahami daripada kalimat pasif. Prinsip ini juga tidak perlu pada artikel berbahasa Indonesia. Kalimat pasif sering lebih mudah dipahami seperti dalam kalimat ini.
Dua prinsip menulis artikel ilmiah di atas sangat membantu mempermudah pemahaman artikel ilmiah berbahasa Inggris namun tidak mutlak diperlukan pada artikel ilmiah populer berbahasa Indonesia.

Penutup

Dalam tulisan ini, saya berargumen bahwa ada beberapa prinsip (dalam hal ini lima) yang sangat penting agar sebuah artikel ilmiah populer dapat dipahami dengan mudah. Meskipun ditujukan untuk artikel ilmiah populer, bukan tidak mungkin prinsip-prinsip tersebut dapat diaplikasikan pada artikel jenis lain untuk tujuan yang sama: agar tulisan mudah dipahami pembaca.

Referensi:
[1] RM Wibowo, 2013, "Cermat Menulis dalam Bahasa Indonesia", Yogyakarta: A.com Advertising.

Tuesday, August 18, 2020

Menulis: Mengikat Ilmu dan Memajukan Bangsa

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya | Tie science by writing” (Ali bin Abi Thalib)

Petuah dari seorang presiden dan ilmuwan masa lampau di atas patut direnungkan. Tanpa mengabaikan latar belakang agama (Islam), quote dari Ali di atas telah terbukti kebenarannya. Kejayaan bangsa timur tengah pada masa lampau adalah karena kejayaan mereka pada ilmu pengetahuan dan penulisannya. Pun demikian dengan era kejayaan bangsa-bangsa Eropa dan Amerika pada masa kini. Kualitas dan kuantitas menulis yang bisa diketahui dari jumlah publikasi, baik artikel, buku, baik ilmiah maupun non ilmiah menjadi ukuran kemajuan suatu bangsa yang sejalan dengan realita di lapangan. Sebagai contoh, daftar publikasi buku di dunia per negara per tahun menempatkan Amerika, China dan Inggris sebagai penerbit buku terbanyak. Tidak berbeda jauh, rangking jurnal dunia per negara juga menghasilkan urutan yang sama untuk tiga besar negara sains internasional berdasarkan jumlah publikasi jurnal, sitasi dan indeks jurnal tersebut.

Publikasi buku, dan mungkin juga publikasi ilmiah, dapat dijadikan acuan untuk mengukur tingkat standar kehidupan, pendidikan, dan kesadaran berbangsa [1]. Amerika pada tahun 2010 menerbitkan buku dengan jumlah tertinggi sebanyak 328,259 eksemplar dan Indonesia berada di urutan 19 dengan lebih dari 24,000 eksemplar per tahun [2]. Sayang data ini tidak diperbarui (diupdate). Hanya beberapa negara yang memperbarui datanya. Kini, Indonesia masuk 10 besar (Indonesia menggunakan data tahun 2018, sedangkan negara lainnya kebanyakan masih data tahun 2013).



Karena data publikasi buku tidak dapat dibandingkan secara langsung karena perbedaan data per tahun, memakai data publikasi ilmiah akan memberikan hasil yang lebih sesuai. Berikut adalah perbandingan data publikasi ilmiah yang dilansir oleh Scimagojr.com pada tahun 2013 dan 2019.

Tabel 1. 10 besar negara dengan publikasi ilmiah terbanyak (1996-2013)[4]
No Country Documents Citable documents Citations Self-Citations Citations per Document H index
1 United States 7,063,329 6,672,307 129,540,193 62,480,425 20.45 1380
2 China 2,680,395 2,655,272 11,253,119 6,127,507 6.17 385
3 United Kingdom 1,918,650 1,763,766 31,393,290 7,513,112 18.29 851
4 Germany 1,782,920 1,704,566 25,848,738 6,852,785 16.16 740
5 Japan 1,776,473 1,734,289 20,347,377 6,073,934 12.11 635
6 France 1,283,370 1,229,376 17,870,597 4,151,730 15.6 681
7 Canada 993,461 946,493 15,696,168 3,050,504 18.5 658
8 Italy 959,688 909,701 12,719,572 2,976,533 15.26 588
9 Spain 759,811 715,452 8,688,942 2,212,008 13.89 476
10 India 750,777 716,232 4,528,302 1,585,248 7.99 301

Tabel 2. 10 besar negara dengan publikasi imliah terbanyak (1996-2019)[5]
No Country Documents Citable documents Citations Self-citations Citations per document H index
1 United States 12,839,607 11,339,587 339,229,687 151,101,326 26.42 2386
2 China 6,589,695 6,469,704 61,658,138 35,288,321 9.36 884
3 United Kingdom 3,715,590 3,145,039 89,357,199 20,051,057 24.05 1487
4 Germany 3,222,549 2,964,814 70,371,678 16,909,011 21.84 1298
5 Japan 2,893,614 2,762,245 48,232,916 12,366,873 16.67 1036
6 France 2,249,498 2,084,654 48,364,784 9,918,365 21.5 1180
7 Italy 1,881,818 1,708,800 37,430,348 8,584,150 19.89 1030
8 Canada 1,877,183 1,684,334 45,766,661 7,875,702 24.38 1193
9 India 1,873,277 1,741,868 18,243,852 6,215,206 9.74 624
10 Australia 1,489,730 1,315,978 32,118,547 6,519,905 21.56 1001

Indonesia pada tahun 2012 diatas menempati urutan ke-61 rangking sains internasional secara keseluruhan (1996-2020). H indeks pada tabel diatas mencerminkan jumlah publikasi dari satu negara yang di-sitasi (dikutip) dan menerima minimah h sitasi.(sumber: SCImago Journal & Country Rank ). Pada tahun 2019 Indonesia menempati 47. Jika diasumsikan kenaikan peringkatnya adalah linier, maka Indonesia membutuhkan waktu 24 tahun lagi untuk bisa menembus 10 besar negara dengan publikasi ilmiah terbanyak di dunia (dihitung dari tahun 1996-). Peringkat per tahun dengan metrik H-index mungkin lebih baik dalam merepresentasikan posisi negara-negara di dunia berdasarkan publikasi ilmiahnya.

Dari data diatas, jelaslah posisi kita diantara negara-negara lain di dunia. Kita di posisi buncit, khususnya dalam H-indeks. Tidak harus menulis buku atau membuat publikasi ilmiah untuk memulai menulis. Namun, dengan tulisan sederhana yang bisa kita bagikan untuk orang lain bisa menjadi awal untuk menuju ke tahap yang lebih tinggi. Bagaimana bisa? menulis artikel (ilmiah populer) akan mendukung kemampuan menulis ilmiah. Jika dibalik, tulisan ilmiah (publikasi seminar atau jurnal) ditulis dalam blog, media sosial, atau media cetak, peluang untuk disitasi semakin besar sehingga meningkatkan indeks sitasi dan H-index.

Menulis: Bakat atau Keahlian??

Ada yang mengatakan, skill (keahlian) yang kita miliki itu diciptakan, bukan jatuh dari langit. Pepatah inggris mengatakan: greatness isn't born by nurture, It's grown by nature. Seorang Thomas Alfa Edison butuh 1000 eksperimen gagal (dia tidak menyebutnya gagal, namun 1000 cara berbeda) sebelum menemukan bola lampu dan berbagai penemuan lainnya. Begitu juga dengan menulis, diperlukan usaha yang keras untuk bisa memiliki keahlian menulis. Beberapa orang mungkin memiliki bakat menulis sejak lahir, namun tanpa mengasah kemampuan menulisnya, dia tak akan menjadi ahli. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki bakat menulis pada awalnya, namun dia rajin dan selalu mengasah keahliannya, dia mampu menjadi penulis besar pada akhirnya.

Imajinasi dan Kreativitas

Karena menulis tidak hanya datang dari bakat, namun latihan menulis lebih utama untuk mengasah imaginasi dan kreativitas dalam menulis. Imaginasi mengambil apa yang yang kita lihat, pengalaman kita dan mengkombinasikannya menjadi suatu hal yang baru. Satu hal yang bisa menjadikan anda skillful dalam menulis adalah dengan menulis hanya topik/ilmu yang anda sukai dan kuasai, bukan topik-topik yang lain. Menjadi seorang ahli dalam satu bidang akan lebih baik, daripada tidak menguasai satu hal-pun dikarenakan bidang yang sangat luas cakupannya. Dalam menulis, mengasah kemampuan dalam topik tertentu serta menggunakan imajinasi kita dalam menulis topik tersebut akan menghasilkan tulisan yang kreatif. Dengan menulis, maka akan mengikat ilmu anda pada bidang tersebut. Kalau kelak anda lupa atau ingin memperbaiki tulisan anda, anda tinggal membuka catatan tentang hal tersebut.

Dari mana memulai?

Kita bisa memulai menulis dari mana saja. Membuat blog adalah salah satu hal paling cepat dan mendasar untuk mengembangkan kemampuan menulis kita. Wordpress dan Blogspot adalah dua provider blog terpopuler saat ini. Silakan bergabung di salah satu atau kedua blog tersebut dan kembangkan kemampuan menulis anda disitu. Blog adalah buku harian atau diary di era modern. Namun tak hanya tulisan-tulisan pribadi saja yang hendaknya di posting di blog. Tulisan yang kiranya bisa lebih bermanfaat untuk orang lain akan memiliki nilai lebih dari sekedar kisah pribadi tentang diri kita.

Bagaimana selanjutnya?

Jika anda sudah memiliki blog, bagaimana selanjutnya? Langkah-langkah berikut mungkin bisa membantu anda meningkatkan kemampuan menulis anda.
  • Banyak membaca, semakin banyak membaca, akan memperkaya tulisan anda.
  • Menulis sebanyak mungkin, kuantitas menghasilkan kualitas.
  • Meminta saran dan pendapat teman tentang tulisan anda (read dan proofread).
  • Menggunakan kata-kata baku, bukan alay, bisa mengacu pada KBBI.
  • Mengikuti kursus MOOC menulis, misalnya di EdX, Coursera, atau yang lainnya.
  • Berkontribusi pada web sukarela, misalnya di SainsHack.com
Sebagai tambahan, saat ini saya bertindak sebagai editor SainsHack.com, dan kami akan sangat senang menerima kontribusi tulisan anda.

Penutup

Artikel ini memotivasi pembaca untuk menulis. Ada dua manfaat utama yang diperoleh, yakni secara internal penulis akan lebih mengokohkan bangunan keilmuannya, dan secara eksternal meningkatkan daya saing bangsa melalui kenaikan tingkat standar kehidupan, pendidikan dan kesadaran berbangsa. Penulis memaparkan dan mengalisa secara singkat dua buah metrik, publikasi buku dan publikasi ilmiah. Penulis mengalisa data keduanya dengan membandingkan data antar waktu. Dari analisa publikasi ilmiah, penulis memprediksi bahwa Indonesia baru akan masuk pada 10 besar negara dengan publikasi ilmiah terbesar di dunia berdasarkan ranking Scimago pada tahun 2044. Diperlukan langkah-langkah tambahan untuk mempercepat masuknya Indonesia pada 10 besar negara dengan publikasi ilmiah terbanyak di dunia, dan menulis artikel ilmiah mungkin salah satunya.

Referensi:
[1] Wresch, William. Have and Have-Nots in the Information Age. Rutgers University Press, 1996, p. 39 (via [2])
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Books_published_per_country_per_year, diakses 20 Oktober 2013.
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Books_published_per_country_per_year, diakses 16 Agustus 2020.
[4] https://www.scimagojr.com/countryrank.php?order=h&ord=desc, diakses 10 Oktober 2013.
[5] https://www.scimagojr.com/countryrank.php?order=h&ord=desc, diakses 16 Agustus 2020.

Sunday, August 09, 2020

Fair Use dan Menghindari Jebakan Karya Berhak Cipta

Fair use

Fair use merupakan penggunaan karya berhak-cipta untuk tujuan mentranformasikan informasi di dalamnya (karya berhak-cipta) untuk tujuan non-komersial. Secara umum sebuah karya berdasarkan haknya; copyright dan copyleft (atau right to copy :) ). Copyright dilindungi undang-undang, sedangkan copyleft memperbolehkan anda untuk mengcopy material tertentu dengan syarat dan ketentuannya. Misalnya material di dalam blog ini berlisensi Creative Commons 3.0 4.0 CC-by-SA, artinya anda bisa menggunakan materi dalam blog saya ini dengan tujuan apapun, bahkan untuk tujuan komersial sekalipun (dengan kata lain anda boleh menjual tulisan saya selama tetap menyertakan nama saya!), kecuali materi-materi yang saya ambil dari luar, maka lisensinya mengikuti sumber materi tersebut.

Empat faktor yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan fair use:
1. Tujuan dan karakter penggunaan, apakah untuk tujuan komersial (misal penulisan buku komersial) atau untuk non-komersial (penggunaan di kelas atau web non-komersial)
Prinsip dasar fair use adalah tujuan penggunaan karya cipta. Sederhananya, jika untuk tujuan komersial maka bukan termasuk fair use.

2. Bentuk materi yang digunakan, apakah gambar, teks, tabel, dll.
Setiap karya cipta, jika tidak disebutkan lisensinya, by default dilindungi oleh hak cipta. Gambar, ilustrasi, dan tabel TIDAK BISA disitasi tanpa ijin. Hanya teks yang bisa dikutip, itupun tidak secara langsung. Pengutipan langsung (tanpa editing) dengan secara utuh (misal satu kalimat) termasuk plagiasi.

3. Porsi dan substansi dari karya yang digunakan, apakah (gambar/tulisan) utuh atau hanya sebagian.
Menggunakan materi secara utuh (misal: semua gambar) nampaknya tidak fair. Kita hanya bisa menggunakan sebagian (kecil) dari karya yang kita sitasi.

4. Efek dari karya yang digunakan ulang; apakah menimbulkan kerugian dari karya yang digunakan.
Salah satu penilaian penting fair use adalah dampak yang dihasilkan; apakah menguntungkan bagi pemakai fair use dan merugikan pembuat karya cipta asli. Jika ada kerugian dari pembuat karya cipta aslinya, maka pemakaian karya cipta tersebut tidak fair use.

Salah satu contoh kasus gagalnya penggunaan fair use ini adalah pemakaian Java programming language di Android. Google dinilai tidak menggunakan java programming secara fair use dan diharuskan membayar royalti ke Oracle atas revenue yang diperoleh dari Android [1].

Menghindari jebakan karya berhak cipta

Karya berhak cipta bersifat menjebak. Telah dijelaskan sebelumnya, by default, semua karya (tulisan, gambar, video, dll) dilindungi oleh hak cipta meski tidak disebutkan lisensinya. Hanya karya yang berlisensi creative commons yang bisa digunakan tanpa izin (tapi harus mencantumkan kredit). Karya berhak cipta tetap bisa digunakan ulang, namun harus meminta izin pemegang hak cipta. Berikut cara singkatnya.

Mencari tahu lisensi dari karya cipta

Lisensi dari sebuah karya cipta biasanya dicantumkan langsung di bawah judul dan penulis (untuk karya ilmiah). Lagi, jika tidak ada lisensi CC, maka karya cipta tersebut berhak cipta (copyrighted). Berikut adalah contoh-contoh pencantuman lisensi karya tulis ilmiah.
Contoh karya tulis berhak cipta dan berlisensi CC.



Contoh karya tulis berhak cipta dan berlisensi non CC.

Meminta izin

Jika karya yang ingin disitasi berlisensi non CC, maka langkah selanjutnya adalah meminta izin. Dua hal penting saat meminta izin karya berhak cipta, ada yang gratis dan ada yang berbayar. Berikut contoh permintaan izin karya yang berbayar dan gratis.
Permintaan izin karya berhak cipta berbayar
Permintaan izin karya berhak cipta gratis

Memberi kredit karya berhak cipta

Setelah mendapatkan izin dari pemegang hak cipta, kita bisa menampilkan gambar, tabel, atau ilustrasi yang ingin kita sitasi. Kita tetap diwajibkan memberikan kredit atas izin yang telah diberikan tersebut. Berikut contoh pemberian kredit terhadap pemegang hak cipta.
Contoh pemberian kredit terhadap karya berhak cipta [2] 

Penutup: diagram alir penggunaan karya berhak cipta

Sebagai penutup, diagram alir dibawah ini menjelaskan proses permintaan izin karya berhak cipta. Karya cipta yang digunakan pada diagram alir ini dibatasi hanya karya cipta yang berlisensi cc dan non-cc yang gratis.
Diagram alir penggunaan materi (gambar, tabel, dll) dari karya tulis berhak cipta


Referensi:
[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Google_v._Oracle_America
[2] https://www.sainshack.com/2020/08/07/foto-atom-hidrogen/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...