Showing posts with label kehidupan dunia. Show all posts
Showing posts with label kehidupan dunia. Show all posts

Tuesday, January 06, 2026

Permasalahan smartwach (The problem with smartwatch)

Saya menyukai memakai jam, dengannya saya bisa tahu waktu. Utamanya waktu untuk sholat dan melakukan aktivitas lainnya. Dengan adanya smartwatch, tidak hanya waktu saja informasi yang saya dapatkan, melainkan lama tidur, detak jantung, dan jumlah langkah (step tracker). Informasi itu sangat bermanfaat. Misalnya, dalam sehari saya menargetkan tidur tujuh jam, jika kurang dari itu (informasi dari smartwatch), saya bisa menambah jam tidur saya. Sebaliknya, jika siang/sore saya sudah tidur 1-2 jam, maka malamnya saya bisa tidur lebih singkat. 

Begitu juga untuk langkah kaki, kalau saya menargetkan tiap harinya harus berjalan 7000 langkah, jika kurang saya bisa menambahnya. Bahkan, saya bisa merangkum data-data itu, seperti yang saya jelaskan di sini: 

https://bagustris.blogspot.com/2021/05/data-jalan-kaki-tidur-dan-detak-jantung.html

Tapi ada satu permasalahan besar pada smartwatch. Apa itu? Sangat tidak masuk akal bagi saya jika saya harus mengisi daya (charge) smartwatch tersebut tiap minggu. Karenanya, dua smartwatch yang saya pakai sebelumnya berdaya tahan lama, Xiaomi Band 4 dan Amazfit Band 7. Keduanya memiliki rentang hidup (lifetime) selama kurang lebih tiga-empat minggu (21-28 hari) untuk sekali isi daya dengan mode power saver. 

Saat ini saya tidak memakai smartwatch lagi, hanya Casio yang memiliki fitur step tracker yang bisa bertahan 10 tahun tanpa diisi daya, cukup mengganti baterainya. Saat itu saya sedang dalam perjalanan selama tiga minggu, dan saya mengandalkan smartwatch untuk bisa bertahan sepanjang waktu itu. Ternyata kapasitasnya menurun, baru dua minggu sudah mati, dan saya tidak membawa kabel pengisian dayanya. Saat itu juga saya beralih ke jam tangan yang tidak perlu diisi daya, tahan lama, memiliki fitur step tracker, dual time, dan fitur-fitur lainnya.  

Friday, November 21, 2025

Kriteria memilih pekerjaan

Dari diskusi dengan seorang teman, dia memiliki tiga kriteria untuk memilih pekerjaan. Ketiga kriteria tersebut adalah:

  1. Make sense
  2. Make money
  3. You love it!

Pertama, pekerjaan kita haruslah masuk akal, logis. Artinya pekerjaan kita itu dibutuhkan dan kita benar-benar bekerja. Adakah pekerjaan yang tidak masuk akal? Ada, contohnya influencer abal-abal, youtuber sembarangan. Apa urgensinya pekerjaan itu?

Kriteria kedua pekerjaan kita haruslah menghasilkan uang (yang cukup). Adakah pekerjaan yang tidak menghasilkan uang? Ada, semua yang berlabel "pro bono" tidak menghasilkan uang karena pekerjaan tersebut adalah voluntary.

Ketiga adalah anda menyukainya. Ada peribahasa "If you are not doing what you love, you are wasting your time". Pepatah ini benar adanya. Jika anda tidak menyukai pekerjaan anda sekarang, anda harus secepatnya mencari pekerjaan baru.

Bagaimana dengan kriteria lain seperti "halal"? Otomatis, tidak mungkin (contohnya sebagai seorang muslim) anda menyukai pekerjaan yang tidak halal meskipun itu menghasilkan banyak uang.

Kriteria memilih perkerjaan menurut Anis Baswedan:  

Menurut Anis Baswedan, ada tiga kriteria memilih pekerjaan:  
  1. Intellectually growth
  2. Financially strong
  3. Socially impactful

Tuesday, June 24, 2025

Kriteria baru untuk Googling

Dulu, sebelum hari ini, saya punya kriteria untuk Googling: apakah ada manfaatnya? kalay iya, saya lanjut googling, kalau tidak, saya hentikan. Kini kriteria itu saya ubah, saya perketat. Ini kriteria baru tersebut.

Apakah saya bisa jadi faham setelah googling?

Begini bedanya, kalau manfaat bisa jadi relatif. Misalnya saya googling "Agama si A", "Amalan si B", "Pendidikan si C". Apakah ada manfaatnya? Ada semua. Manfaatnya, jadi tidak tahu menjadi tahu. Lalu so, what? Setelah tahu, apakah bisa dapat pahala? bisa iya, bisa tidak, tergantung pengetahuan tentang apa. lalu apa bedanya dengan faham??

Bedakan dengan googling berikut: 

"apa bedanya sistem hepburn dan sistem kunrei?", 

"bagaimana mencegah radang tenggorokan?", 

"berapa jumlah langkah minimal perhari yang disarankan WHO?". 

Kriteria terakhir, apakah saya bisa paham setelah googling, pasti bermanfaat. Jadi menjadi paham pasti bermanfaat, tapi sekedar bermanfaat belum tentu paham (misalnya hanya tahu saja). Apakah mendapat pahala? bisa jadi iya bisa jadi tidak, terkadung paham tentang apa. Tapi setidaknya, potensi untuk  mendapatkan pahala lebih besar, karena paham tadi (misalnya paham mana yang boleh dan mana yang tidak boleh).

Wallahu a'lam bisshowab.

Monday, June 23, 2025

BFG yang tertunda

Tahun ini saya rencananya pulang ke Indonesia selamanya, Back for Good, alias BFG. Qodarullah, beberapa bulan sebelum saya pulang (sekitar 7 bulan), saya mendapat kabar kalau saya diberhentikan (dengan hormat) dari PNS. Dalam kurun waktu tujuh bulan tersebut, saya harus bisa mencari pekerjaan baru karena kontrak pekerjaan lama akan berakhir pada Maret 2025 (saya menyetujui kontrak kerja sampai kurun tersebut karena setelahnya saya berencana BFG). Di Jepang, umumnya orang mencari pekerjaan dalam kurun waktu 1-2 tahun sebelum mulai bekerja. Seperti mahasiswa saya sekarang, baru masuk S2 sudah mulai mencari pekerjaan. Padahal lulusnya masih dua tahun lagi.

    Alhamdulillah, kurang lebih empat bulan sebelum kontrak pekerjaan lama selesai, saya mendapat kepastian tentang diterimanya aplikasi saya untuk menjadi seorang asisten profesor di sebuah kampus negeri di Jepang. Inilah hikmah saya diberhentikan dari PNS. Agar bisa menjadi seorang asisten profesor di Jepang. Saya teringat kata-kata seseorang beberapa tahun lalu ketika dia menolak saya: urip iki manut miline banyu mawonSaya juga teringat kata-kata seorang profesor di universitas terkemuka di Jepang saat beliau menolak aplikasi S3 saya: I am hoping for your fruitful stay in Japan. Inilah hidup. Boleh jadi sesuatu tidak kamu sukai, padahal ada baiknya bagi kamu. Dan, boleh jadi kamu suka sesuatu, padahal dia itu tidak baik bagi kamu. Dan, Allah mengetahui, sedang kamu tidaklah tahu (2:216). Bisa jadi, dari sesuatu yang tidak kamu sukai keluar sesuatu yang spesial.

    Seperti halnya saya memaknai bahwa kekalahan adalah kemenangan yang tertunda, saya memaknai gagalnya BFG tahun ini sebagai BFG yang tertunda.

Friday, October 27, 2023

Kapan mendengarkan apa kata orang (dan kapan tidak)

tl;dr: Kadang kita seharusnya mendengarkan kata orang, kadang kita seharusnya tidak mendengarkan kata orang

Kapan seharusnya tidak mendengarkan kata orang

Ada dua kisah diantara banyak kisah. Kisahnya Abu Thalib dan seorang yang menaiki keledainya bersama ayahnya. Abu Thalib ingin mengikuti agama nabi Muhammad diakhir hayatnya namun tidak jadi karena mendengarkan apa kata orang. 

Menjelang wafatnya, Nabi mengajak kembali pamannya Abu Thalib untuk bersyahadat, namun Abu Thalib menjawab, "Seandainya kaum Quraisy tidak mencelaku dengan berkata, 'Tidak ada yang mendorongnya mengucapkannya kecuali karena kesedihannya menghadapi maut,' niscaya aku mengucapkannya untukmu." 

Dari sini terlihat bahwa Abu Thalib lebih memilih apa kata orang daripada mengikuti ajakan nabi Muhammad. Abu Thalib tidak ingin dianggap oleh kaum Quraisy bahwa dirinya takut menghadapi kematian sehingga mengubah agamanya.

Cerita kedua adalah kisah masyhur tentang anak, bapak, dan keledai mereka. Suatu hari ada anak dan bapak yang akan melakukan perjalanan. Mereka adalah  2 orang yang tanggung. Si anak belum dewasa, ia masih remaja yang beranjak. Sedangkan si bapak adalah seorang yang sudah tidak muda lagi, namun belum terlalu tua. Mereka melakukan perjalanan menuju pasar menggunakan keledai tua, namun tubuhnya masih kuat. Hanya saja memang tubuh keledai umumnya berukuran kecil. 

Berangkatlah mereka. Si bapak menunggangi kuda, sedangkan anaknya jalan kaki. Di kampung pertama, mereka disoraki oleh wanita. "Kok, kamu yang naik, sedangkan anakmu yang kecil itu kelelahan berjalan dibelakang?" 

Mendengar itu si Bapak pun turun dari keledai dan menyuruh anaknya  untuk naik keledai. Kemudian tak berapa lama, mereka melewati segerombolan orang tua sedang duduk dibawah pohon. Mereka berkata "Mengapa kamu berjalan kaki, kamu kan sudah tua, sedangkan anakmu yang masih muda. Harusnya anakmulah yang jalan, dan engkaulah yang menunggangi kuda? Si anak pun kemudian turun.

Kemudian di desa lain mereka pun mendapat komentar lagi dari seorang pria berbadan tegap yang terluhat gagah. "Kok cuma satu orang yang naik keledai, kenapa enggak berdua ?". Mendengar itu merekapun menaiki keledai itu bersama-sama. Dua orang naik seekor keledai.

Mereka melintai kampung berikutnya. Tetapi, ditengah perjalanan, mereka melewati sekelompok orang pecinta binatang. Melihat pemandangan itu, para pecinta binatang ini berkomentar "Kasihanilah binatang yang kurus kering itu. Kalian berdua menungganginya, padahal kalian lebih berat dari pada keledai ini."

Mendengar itu, bapak dan anak ini lantas turun dari keledai. "Kalau begitu, mari kita berjalan bersama-sama dan kita biarkan keledai ini berjalan di hadapan kita." Kata si Bapak.

Tak habis sampai disitu mereka masih mendapat komentar lagi. Mereka bertemu orang yang sedang mabuk dan berkata.  "Yang pantas itu keledai yang menaiki kalian berdua, sehingga kalian dapat membuatnya terhindar dari kendala-kendala di jalan". Sang bapak yang terpengaruh omongan pun lansgung mengendong si keledai.

Namun di depan, mereka lagi lagi ditertawakan oleh orang-orang asbab pemandangan aneh itu. Kemudian si bapak  berhenti dan menoleh kepada anaknya sambil berkata, "Wahai anakku, jika mendengar dan mengikuti semua omongan manusia. Tidak akan ada habis - habisnya." Dan mereka berdua pun tertawa. [1]

Dari kisah ini kita mendapat pelajaran bahwa tidak perlu mendengarkan kata orang, selama apa yang kita lakukan itu baik.

Kapan seharusnya mendengarkan apa kata orang

Ada dua kisah juga. Kisah pertama saat sahabat menawarkan untuk membunuh munafiq di Madinah dan Nabi tidak mengiyakannya karena takut apa kata orang. Kedua, kisah saat nabi berjalan berdua bersama istrinya di malam hari dan sahabat menghindar.

Kisah pertama adalah seperti ini.

Setelah Rasulullah selesai menghadapi perang dengan Banu Mustaliq, ada dua orang dari kalangan Muslimin yang bertengkar memperebutkan mata air; yang seorang dari kalangan Muhajirin dan yang seorang lagi dari Anshar. Mereka yang dari Muhajirin berteriak: “Saudara-saudara Muhajirin!” Dibalas oleh Anshar: “Saudara-saudara Anshar!” Pada waktu itulah Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum munafik di Madinah berkata kepada orang-orang di sekitarnya: "Di kota kita ini sudah banyak kaum Muhajirin. Penggabungan kita dengan mereka akan seperti kata peribahasa: 'Seperti membesarkan anak harimau.' Sungguh, kalau kita sudah kembali ke Madinah, orang yang berkuasa akan mengusir orang yang lebih hina."  

Muhammad Husain Haekal dalam "Umar bin Khattab" menceritakan bahwa kata-kata Abdullah bin Ubai itu oleh sahabat disampaikan kepada Rasulullah, yang ketika itu ada Sayidina Umar bin Khattab. Umar naik pitam mendengar laporan itu dan katanya: “Rasulullah, perintahkan kepada Abbad bin Bisyir supaya membunuhnya.” Tetapi Rasulullah menjawab: “Umar, bagaimana kalau sampai menjadi pembicaraan orang, bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya sendiri. Lalu ia meminta diumumkan supaya kaum Muslimin segera berangkat pada waktu yang tidak biasa mereka lakukan.” [2]

Jadi nabi tidak membunuh Ubay bin Salul karena takut apa kata orang.

Kisah terakhir adalah ketika Nabi berjalan bersama istrinya pada malam hari yang gelap.  Hadistnya sebagai berikut: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah beriktikaf di masjid, lantas aku (shafiyah) mengunjungi beliau pada malam hari lalu berbincang-bincang dengan beliau, lalu aku berdiri. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengantarkanku pulang ke rumah.” 

Rumah Shafiyyah Ketika itu di rumah Usamah bin Yazid. Ketika mengantarkan pulang, lewatlah dua orang Anshar di jalan. Dua orang Anshar itu memandang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan penuh curiga), kemudian mereka bergegas melewati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Tak perlu curiga seperti itu, ini adalah istriku Shafiyyah binti Huyay.” Mereka berdua pun mengatakan, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia melalui pembuluh darahnya. Aku benar-benar khawatir ada sesuatu prasangka jelek yang ada dalam diri kalian berdua" [3].

Dari cerita di atas, filter sederhana untuk kapan mendengarkan apa kata orang adalah dengan melihat dampak/akibat yang kita terima dari mendengarkan atau tidak mendengarkan kata orang tersebut. Jika terjadi dampak besar (fitnah, masuk neraka, dll) maka kita perlu mengambil mana yang bisa menghindari dampak buruk tersebut. Misal dalam kasus Abu Thalib dan kisah bapak, anak, dan keledai, sudah seharusnya mereka tidak mendengarkan apa kata orang. Sebaliknya, bila dampaknya besar, kita mungkin perlu mendengar apa kata orang.

Referensi:

[1] https://www.kisahweb.com/2021/03/ini-5-hikmah-dari-cerita-kisah-bapak.html

[2] https://kalam.sindonews.com/read/67896/70/tatkala-umar-marah-dan-berniat-membunuh-dedengkot-munafik-ibnu-ubay-1591963573?showpage=all

[3] https://rumaysho.com/25497-40-kiat-agar-tidak-diganggu-setan-lakukanlah-amalan-amalan-ini.html

Friday, March 31, 2023

Research Plan 2023

Seperti biasa, bulan April adalah tahun barunya jepang (Fiscal year、年度). Satu tahun (akademik, fiskal, kerja, dll. kecuali pajak) dihitung per 1 April dan berakhir 31 Maret. Jadi kalau bisa, pas hidup di Jepang, lahir tanggal 1 April, meninggal tanggal 31 Maret. Kenapa begitu? Kalau lahir 20 April, anda tidak bisa mengikuti sekolah (SD, SMP, SMA) tahun itu juga kalau belum umurnya. Misalnya umur minimal SD adalah 6 tahun per 1 April. Kalau lahir 20 April berarti nunggu tahun depannya. Begitu juga beasiswa, kerja, dll, hampir semua dimulai per 1 April.

Singkat saja, berikut adalah rencana penelitian saya satu tahun mendatang. Tahun ini saya akan fokus mengembangkan sistem multilingual speech emotion recognition (SER) dengan riset tambahan tentang anomaly detection (vibration and sound) dan melanjutkan riset sebelumnya tentang text-independent speech emotion recognition. Semoga semua luaran tahun ini bisa tercapai, alih-alih bisa melebihi luaran yang diharapkan.




Wednesday, September 22, 2021

Lebih baik mengundurkan diri daripada menginstall WA

Seorang teman berseloroh: dia lebih memilih untuk dipecat/mengundurkan diri dari pekerjaannya daripada diminta menginstall whatsapp (WA). Dan dia melakukannya. Dia mengundurkan dari posisi dosen PTN di wilayah barat Indonesia. Saya sependapat dengannya. 

Hidup ini pilihan, dan kadang tidak ada pilihan yang salah (dan selebihnya ada, salah memilih). Menjadi dosen itu pilihan baik, pekerjaan lain juga pilihan baik. Teman saya yang mundur gara-gara WA tadi juga tidak salah karena itu pilihannya. Pihak kampus yang memaksa teman saya menginstall WA tadi juga tidak salah karena itu wewenangnya. 

Ketika sudah bekerja kita harus mematuhi peraturan pekerjaan. Jika tidak bisa maka kita harus mundur, itulah konsekuensinya. Mundur juga bukan perbuatan tercela. Hal ini akan berbeda ketika kita bisa merubah kebijakan atau peraturan itu. 

Wallahua'lam bi showab.

Tulisan terkait:

Monday, September 06, 2021

Mengundurkan Diri Itu Bukan Perbuatan Tercela

Saat saya bekerja di pabrik dulu, suatu kali pernah (ibu) sekretaris perusahaan mengundurkan diri. Ceritanya begini. Saat permintaan barang sedang tinggi-tingginya, Pak Direktur (aka sachou) meminta bu sekretaris ikut bekerja di lapangan (genba a.k.a. pabrik). Besoknya si ibu sekretaris langsung minta mengundurkan diri untuk bulan depannya. Alasannya sederhana: dia melamar kerja untuk pekerjaan administrasi, bukan untuk pekerjaan lapangan (genba).

Mirip dengan cerita di atas. Suatu ketika seorang adik kelas melamar  pekerjaan dosen di suatu perguruan tinggi. Setelah diterima, dia komplain karena diminta oleh kepala jurusan (kajur) untuk mengerjakan pekerjaan administrasi. Tak lama kemudian dia mengundurkan diri. Alasannya sederhana: dia melamar pekerjaan dosen, menjadi pengajar dan peneliti, bukan menjadi staf administrasi.

Dalam dua kasus di atas, hampir tidak ada pihak yang salah. Pak direktur mempekerjakan ibu sekretaris karena kekurangan tenaga kerja di lapangan. Di kasus kedua, Pak Kajur juga kekurangan tenaga administrasi (yang terampil) sehingga mempekerjakan dosen untuk pekerjaan administrasi. Dari kedua kasus, baik bu sekretaris maupun teman dosen sama sekali tidak salah. Juga, mereka sulit menolak pekerjaan yang bukan bidangnya karena statusnya sebagai karyawan pada tempat mereka bekerja. Mundur menjadi pilihan terbaik bagi keduanya.

Mundur juga bisa menjadi alasan yang logis ketika tidak setuju dengan suatu hal, misalnya ketika diharuskan untuk menginstall whatsapp (WA) untuk urusan kerja. Sangat tidak logis dan tidak etis menggunakan WA untuk urusan pekerjaan. Seorang teman pernah berujar, hari dimana dia diminta menginstall WA oleh atasannya, hari itu juga dia akan mengundurkan diri. Penggunaan WA dan sejenisnya di kantor saya sekarang ini dilarang, dan bisa fatal akibatnya bila ketahuan menggunakan aplikasi tsb di kantor.

Mengundurkan diri itu bukan perbuatan tercela. Perbuatan tercela itu seperti korupsi

Thursday, August 19, 2021

Kenapa Harus Meng-CC email ke Diri Sendiri

Salah satu budaya "aneh" orang Jepang yang akhir-akhir ini mulai saya tiru adalah meng-cc email ke diri sendiri.

Saat awal datang ke Jepang, saya merasa aneh saja ada orang mengemail ditujukan (CC, carbon copy) ke diri sendiri. Professor saya melakukannya. Professor-professor lain pun ternyata juga sama. Saat itu professor saya meminta saya meng-CC email ke diri saya setiap kali mengemail beliau, namun saya jarang melakukannya. Sepuluh tahun berlalu, kini kebiasaan itu menjadi wajib bagi saya.

Kenapa harus meng-cc email ke diri sendiri?

Agar kita tahu, apakah email kita sampai atau tidak. Seseorang mungkin akan berargumen, kalau tidak sampai pasti ada notifikasi. Bisa jadi benar, tapi bisa jadi tidak semua email provider memberikan notifikasi jika ada email yang bouncing (tidak terkirim karena alasan teknis, misal alamat tidak tersedia, atau email tujuan penuh, atau alasan yang lain). Kalaupun toh pasti ada notifikasi jika tidak terkirim, tetap kita dapat mengambil manfaat, yakni lamanya waktu pengiriman. Alih-alih mengirim email dua kali (ganda), kita bisa mengecek apakah email yang kita kirim sudah diterima atau belum.

Sunday, September 22, 2019

Banyak Tahu itu Tidak Baik

Pada suatu jamuan makan malam (sekitar akhir 2017) setelah konferensi, saya bercakap-cakap dengan orang Jepang. Beliau bertanya tentang riset saya, dan saya menceritakannya. Saya balik bertanya, untuk bidang "ini", dimana yang terbaik di Jepangnya ya? Sambil menyebutkan nama-nama sensei (professor) yang saya ketahui di bidang tersebut. Dia menjawabnya, sambil menimpali: "Kamu banyak tahu ya...".

Di situlah tersadar, banyak tahu itu tidak baik. Orang Jepang, hanya mengurusi yang menjadi urusannya. Mereka hanya mengetahui apa yang digelutinya. Saya perhatikan teman-teman saya orang Jepang, tidak ada satupun yang mentweet tentang politik, pun urusan lainnya. Bisa jadi, nama menteri nya sendiri pun mereka tidak hafal. Bahkan saya pernah bercakap dengan orang Jepang yang nama kaisarnya sendiripun dia tidak ingat.

Kemudian saya mencari (googling) dengan kata kunci: "Know everything is bad", dan menemukan artikel cukup bagus di link ini:
http://davidsearson.com/2015/11/14/why-knowing-everything-is-a-bad-idea/

Di situ dijelaskan juga, banyak tahu itu merupakan ide yang buruk. Kenapa ide yang buruk? Karena tidak ada artinya, tidak ada maknanya (untuk masa depan). Contoh kasus saya diatas, kalaupun saya tahu nama-nama professor di bidang saya tersebut, apa untungnya buat saya? Untuk mencari tempat postdoc? untuk mencari kerjaan/lowongan? Kalau dicari-cari, pembenaran selalu ada. Dalam link artikel bahasa inggris tersebut, sebenarnya bukan pengetahuan yang lebih penting, tapi hikmah (untuk merencanakan masa depan). Jadi urutannya adalah,

Dari diagram alir diatas, yang kita butuhkan adalah tapis, atau filter. Kita menapis banyak (big) data menjadi pengetahuan, dan menggunakannya untuk merencanakan masa depan menjadi hikmah. Jadi kalau ada kebingungan ketika mengambil sebuah keputusan karena banyaknya pilihan atau informasi, sesungguhnya bukan kebanyakan informasi yang salah, tapi kegagalan filter kita untuk menyaring informasi tersebut.

Bukan karena kebanyakan informasi, tapi karena kegagalan filter.


Implementasi

Lalu bagaimana mengimplementasikan "filter" untuk menapis banyaknya informasi/pengetahuan disekitar kita?
Tombol "unfollow", "unsubscribe", "I don't like this (ads)", adalah beberapa yang saya sukai. Bayangkan kalau kita follow/subscribe 1000 akun (youtube, twitter, fb, dll), dan setiap akun memposting 1 tweet/video/status dalam setiap hari, maka dalam sehari kita menerima 1000 posting, diluar iklan. Jika satu jam dari tiap akun tersebut memposting/share video/status/twitter baru, maka kita akan menerima informasi sejumlah:

24000

Setiap jamnya, diluar iklan.

Aturan saya dalam memfollow/subscribe akun cukup sederhana: "Follow/Subscribe" yang bermanfaat, lainnya: abaikan. Sekalipun itu akun orang terkenal, orang berpengaruh ataupun pejabat. Masa depan, kita tentukan sendiri, dari informasi yang kita dapatkan, dan kita filter.

Banyak mencari tahu juga tidak baik

Internet memudahkan kita untuk mencari tahu. Cukup duduk manis di depan laptop, mengetikkan kata kunci dari apa yang ingin kita ketahui dan whoala! apa yang kita cari tahu kita dapatkan. Ini tidak baik. Pencarian terhadap satu kata kunci akan memicu pencarian-pencarian kata kunci lainnya. Begini logikanya. Dari hasil pencarian satu kata kunci, anda mendapatkan informasi tentang kata kunci A dalam suatu halam internet (web page). Di laman tersebut anda kemudian menemukan istilah lain. Bisa juga anda penasaran apa agama si A, siapa istri si A, siapa mantan si A, dimana A dilahirkan, dst. Memiliki pengetahuan atas pencarian tersebut menyenangkan, sebagaimana makan camilan atau memiliki uang. Begitu kata hasil penelitian [1]. Bahkan, kesenangan mendapatkan atas jawaban dari apa yang kita cari tersebut bisa disetarakan dengan uang [1]. Inilah tantangannya: meredam kesenangan kita mencari tahu dari sesuatu yang tak penting.

Terakhir, less is more, dan diam itu emas (tapi sedikit orang yang bisa melakukannya). Sedikit tahu akan menjadikan kita ahli dan pro di bidang kita masing-masing.

Referensi
[1] Kobayashi, Kenji, and Ming Hsu. "Common neural code for reward and information value." Proceedings of the National Academy of Sciences 116, no. 26 (2019): 13061-13066.

Monday, November 04, 2013

Kajian Bulanan KMI Mie-ken Nopember 2013: Dunia Sebagai Sarana Mencapai Akhirat

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Anfaal ayat 67,

تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّÙ†ْÙŠَا ÙˆَاللَّÙ‡ُ ÙŠُرِيدُ الْØ¢َØ®ِرَØ©َ ÙˆَاللَّÙ‡ُ عَزِيزٌ Ø­َÙƒِيمٌ...

Artinya:
..Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu).Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat diatas mengingatkan kita bahwa tujuan hidup di dunia adalah untuk mencapai akhirat. Sudah menjadi sifat manusia untuk menginginkan dunia. Bahkan kalangan sahabat pun mengingatkannya. Dalam perang Uhud, Rasululullah berpesan kepada pasukan pemanah untuk tetap berada diatas gunung apapun yang terjadi. Namun, saat peperangan, ketika pasukan di bawah merayakan kemenangan dan mengambil harta rampasan perang, pasukan pemanah ada beberapa yang turun. Akhirnya beberapa sahabat pasukan pemanah turun untuk ikut menikmati rampasan perang, harta duniawi.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...