Showing posts with label Gunung - Mountain. Show all posts
Showing posts with label Gunung - Mountain. Show all posts

Tuesday, July 05, 2022

Teknik Mendaki di Jalan Datar: Flat Foot

Catatan berikut merupakan teknik mendaki di jalan datar. Memangnya ada tekniknya untuk berjalan di jalan yang datar? Ada. Pada perjalanan panjang, menggunakan teknik berikut akan meminimalisir tenaga yang dikeluarkan, sekaligus meminimalkan kecapekan. Dua teknik yang penting adalah postur dan cara berjalan (ayunan kaki).

Postur

Bentuk postur berikut harus digunakan pada jalanan datar.

  1. Tegak/lurus. Berbeda dengan jalan naik yang mencondongkan badan ke depan atau teknik turun seperti gorilla, pada jalan posisi tubuh adalah tegak lurus.
  2. Menegakkan kepala. Kadang kita lupa untuk menegakkan kepala dengan menunduk melihat jalan, atau mendongak melihat pemandangan. Teknik utama pada jalan datar adalah menegakkan kepala.

Teknik Berjalan

  1. Flat foot / mendatarkan kaki. Ini adalah teknik utama berjalan di jalan datar. Sesuai namanya, flat foot mengayunkan lagi sedatar mungkin saat mengangkatnya dan menjejakkan ke tanah. Kalau berjalan normal, kita mengangkat kaki dengan pangkal kaki atau tumit (tumit menyentuh tanah terakhid) dan menjejak dengan jari kaki. Pada flat foot baik mengangkat dan menginjak dengan kaki yang datar. Lihat gambar di bawah untuk lebih jelasnya.
  2. Teknik mengangkat kaki dengan flat foot [1]

    Teknik menjejak kaki dengan flat foot [2]

  3. Mengangkat kaki serendah mungkin. Teknik terakhir adalah mengangkat kaki serendah mungkin, agar tidak capek (lebih tinggi mengangkat kaki lebih banyak tenaga yang dibutuhkan).

Lihat video tutorial berikut untuk prakteknya.

Referensi:

  1. https://sp.yamap.com/cw-x/

Sunday, January 17, 2021

Hiking: Pentingnya Berhenti Ketika Menengok ke Belakang

Tiga minggu yang lalu saya mengalamani cedera terkilir (sprained ankle) ketika turun Gunung Midoyama. Penyebabnya satu: ketika saya menengok ke belakang (untuk melihat teman saya), saya melakukannya sambil berjalan turun (di belokan). Hasilnya, saya terkilir. Butuh waktu 3-4 minggu untuk pulih total, meski, sejenak setelah saya terkilir saya masih bisa berjalan normal seperti biasanya. Tidak ada gangguan berarti kecuali ketidaknyamanan, khususnya ketika duduk di waktu sholat.

Pelajaran pentingnya: berhentilah ketika menengok ke belakang di waktu hiking. Kemungkinan terkilirnya mungkin kecil, 1/100. Tapi, menghindari cedera akan lebih menguntungkan untuk perjalanan selanjutnya. Ketika trail panjang (>30 km), menghindari cedera sangat penting.


Inilah rute perjalanan saya saat terkilir tersebut.
御堂山 / bagusさんの御堂山(石川県)の活動データ | YAMAP / ヤマップ
Update 7 Februari 2021:
Setelah 5 minggu, cedera terkilir pada engkel saya baru "mulai" pulih.

Monday, October 19, 2020

Teknik Pendakian Turun: Meghindari Lutut Sakit dan Telapak Kaki Melepuh (blister)

Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan teknik pendakian naik (ascending/uphill). Tulisan ini membahas teknik pendakian turun (descending/downhill). Pada saat turun, potensi sakit dan letih lebih besar karena kita tidak menyadarinya. Umumnya kita mengira turun lebih mudah dan sedikit membutuhkan tenaga (memang begitu nyatanya!). Namun banyak potensi sakit dan cedera di saat turun. Dua hal yang umum adalah lutut sakit dan jempol kaki melepuh (kadang diikuti oleh bagian kaki lainnya).
Dua pendaki berjalan pelan dengan langkah pendek menuruni gunung


Lutut Bebas Sakit (Ankle pain-free downhill)

Selain berolahraga (latihan seperti video di bawah), teknik dibawah ini dapat mencegah lutut sakit saat turun gunung. 
  1. Menggunakan tongkat, gunakan tongkat sebagai tumpuan dan alat bantu (mengontrol) turun. 
  2. Bertumpu pada tumit (heel strike first), bukan pada bagian telapak kaki bagian depan. 
  3. Menyeimbangkan pinggul: saat turun gerakkan pinggul ke bawah untuk mengimbangi pergerakan (bukan malah tegak lurus seperti rest step). Tetap merendah (stay low) dan bengkokkan lutut anda (bent your knee).
  4. Muscle up: memperkuat otot lutut ketika menjejak. Berdasarkan hasil sebuah studi, otot lutut menerima beban 7-8 kali lebih banyak ketika turun daripada ketika naik. Jika tidak dikontrol (ditahan) dengan baik maka akan menyebabkan lutut sakit karena menerima beban/tekanan berlebih. Cara mengontrolnya adalah dengan menguatkan/mengeraskan otot lutut ketika menjejak.
  5. Jangan turun terlalu cepat (jangan lari). Awali dengan gerakan lambat (start slow). Awalnya saya beranggapan kalau turun dengan cepat itu akan mengurangi kelelahan/sakit di kaki (khususnya lutut). Ternyata anggapan ini salah total. Secara fisika jelas, F=ma dan P=F/A. Jadi, naiknya kecepatan (aka percepatan) akan menaikkan gaya (force, F) dan tekanan (pressure, P). Aturan sederhana bagi saya, maksimal waktu untuk turun adalah setengah waktu naik. Jika naik saya butuh satu jam, maka paling cepat saya turun dalam setengah jam, tidak boleh lebih cepat dari itu. Idealnya, mungkin, adalah 3/4 waktu naik.

Perhatikan video berikut untuk lebih detailnya.

Menghindari Jempol Melepuh (Anti-blister downhill)

Penyebab blister (melepuh) adalah adanya tekanan yang berlebihan pada bagian tsb, khususnya jempol kaki. Jadi, langkah paling mudah adalah mengurangi tumpuan pada bagian tersebut. Sebaliknya, pada saat turun tumpuan kaki ada pada tumit, bukan pada ujung depan kaki (jari). Perhatikan video di bawah ini.

Teknik kedua agar kaki tidak melepuh saat turun gunung adalah dengan menggunakan sepatu yang pas (benar-benar pas, tidak kekecilan atau kebesaran). Jika anda hendak membeli sepatu (sebaiknya tidak online agar bisa dicoba), cek ukurannya dengan baik. Tanpa kaos kaki harusnya sepatu sudah (sedikit) nyaman; tidak jatuh saat digunakan melangkah. Ukur ukuran telapak kaki anda dengan teliti, caranya: letakkan telapak kaki di atas kertas, dan buat garis mengelilingi telapak kaki anda. Contohnya adalah ukuran kaki saya seperti di bawah ini, ukurannya 24.5 cm (Ukuran sepatu indonesia: 39.5). Tambah 1-1.5 cm, jadi 25.5 - 26.0 (41-42). Ini ukuran sepatu gunung paling pas buat saya (Ingat: hanya untuk sepatu gunung, tidak berlaku untuk pantofel dan sneaker).

Teknik ketiga untuk menghindari blister adalah dengan menggunakan kaos kaki khusus untuk mendaki. Kaos kaki ini biasanya berasal dari bahan wool. Pada kaos jenis tertentu (anti-blister shoes), ada juga yang menyebutkan pada tekanan berapa kaos kaki tersebut mampu menahan tekanan dari telapak kai.

Keempat, kencangkan tali sepatu dan tas anda. Ini biasanya saya lupa. Tahu-tahu, ketika sudah di bawah tali sepatu saya sudah lepas (karena tertutup gaiters maka tidak terlihat). Kalau perlu cek di tengah perjalanan turun.


Perawatan

Jika sudah terlanjur turun gunung dan kaki sakit, baik lutut atau telapak kaki. Satu-satunya perawatan yang ampuh adalah banyak istirahat, banyak minum dan makan. Istirahat bukan berarti bolos kerja/kuliah/sekolah, tapi memperpanjang waktunya, misal menyegerakan tidur. Jika lutut masih sakit, mengompressnya dengan es batu mungkin membantu. Banyak minum juga bisa membantu mengembalikan kondisi tubuh (selain banyak minum). Banyak minum ini harusnya juga dilakukan ketika naik dan turun gunung. Berdasarkan pengalaman pribadi, memakai supporter lutut (knee calf) sangat saya sarankan baik saat naik gunung atau perawatan ketika lutut sakit. Setelah dari Gn. Okushishiku, lutut saya sakit. Sehari memakai knee calf support, besoknya langsung sembuh, alhamdulillah. Knee calf support-nya sendiri saya beli di Watts seharga 100 yen.

Sebagai tambahan, video berikut memperlihatkan teknik sederhana pendakian naik dan turun.
Referensi:
[1] https://www.theoutbound.com/jen-weir/do-your-knees-hurt-when-hiking-downhill-here-s-why

Monday, October 12, 2020

Teknik Pendakian Naik: The Rest Step

Pada pendakian gunung Merapi pada tahun 2009, saya berkesempatan mendaki dengan seorang bule asal Spanyol. Ketika itu saya berkenalan dengannya di tengah perjalanan, dan saya lihat dia mendaki sangat cepat. Saya tanya, berapa waktu yang dia butuhkan untuk mendaki Semeru? "Lima jam pulang pergi!", katanya. Saya takjub. Dalam lima jam, saya berangkat dari pos Selo belum mencapai puncak. Dia sudah sampai puncak dalam waktu setengahnya saja. Saya amati langkahnya. Karena kakinya panjang, langkahnya juga panjang. Ditambah dengan stamina dan kecepatannya, tak heran kalau bule bisa mendaki gunung dengan waktu lebih singkat dari kita, umumnya sepertiga sampai setengah dari waktu yang kita butuhkan (dan bisa lebih singkat lagi). Sejak saat itu, saya perpanjang jangkauan langkah saya dengan harapan bisa memperpendek waktu pendakian.
Mendaki naik dengan rest step, langkah pendek, dan sedikit istirahat akan mengurangi tingkat kelelahan (Gambar: puncak oyama [Tateyama])


Pada pendakian Gunung Bessan (yang merupakan bagian dari pegunungan Tateyama), saya berjalan di belakang seorang Ibu. Kebetulan saat itu saya solo avonturir, teman-teman tinggal di tenda, mau onsen katanya. Saya perhatikan langkah ibu tersebut, lambat dan tegak. Hampir-hampir saja saya menyalipnya. Dan ketika hampir menyalip, napas saya terengah-engah. Akhirnya, dengan sabar saya berjalan di belakang ibu tersebut. Di sinilah cobaannya. Saya menahan diri untuk tidak istirahat selama ibu di depan saya tidak istirahat. Ibu di depan saya tersebut membawa peralatan lengkap, tas carrier 60L (liter). Sedang saya hanya membawa tas selempang berisi air minum. Dengan penuh perjuangan akhirnya saya bisa tetap di belakang Ibu tersebut sampai Tsurugigozenkoya, tempat yang memisahkah jalur pendakian ke Gunung Bessan dan Gunung Tsurugi.

Setelah pos Tsurugigozenkoya tersebut, saya menerapkan dua pelajaran yang saya dapatkan dari Ibu di didepan saya tadi: langkah pendek dan sedikit istirahat. Walhasil, perjalanan dari Raichosawa-Bessan-Masagodake-Raichosawa dapat saya tempuh dalam 4 jam (sesuai estimasi aplikasi Yamap). Langkah pendek dan sedikit istirahat, itulah kuncinya. Dengan langkah pendek, pelan, dan menghirup udara panjang, kita sudah sekaligus beristirahat dalam tiap langkah. Sehingga, istirahat yang lebih panjang tidak diperlukan lagi. Saya juga tidak mengalami kecapekan yang luar biasa setelah pendakian Gunung Tateyama, kaki normal tanpa penumpukan asam laktat di paha atau betis. Berbeda sekali dengan pendakian-pendakian sebelumnya (bisa juga karea bantuan "supporter betis/calf supporter" yang saya pakai). Dua teknik ini, langkah pendek dan sedikit istirahat, merupakan kunci untuk melakukan pendakian tepat waktu.

The Rest Step

Teknik yang saya ikut dari seorang Ibu di Tateyama di atas ternyata dinamakan "the rest step". Pada jalan biasa naik kita tidak berhenti; kita jalan terus-menerus tanpa memberi kesempatan kaki untuk beristirahat, kecuali di saat istirahat. Apa dasarnya, karena betis dan paha selalu dalam posisi bengkok; tidak pernah dalam posisi lurus (180 derajat). Rest step adalah kebalikannya, dalam sekali jalan posisi paha dan betis kembali 180 derajat setelah melangkah. Energi ketika paha dan betis pada kondisi lurus digunakan untuk menekan/menapak langkah selanjutnya. Perhatikan dua video berikut, dan ambil pelaran darinya! 


Untuk teknik pendakian turun, silahkan baca disini >> http://bagustris.blogspot.com/2020/10/teknik-pendakian-turun-meghindari-lutut.html.

Friday, September 25, 2020

Pendakian Pegunungan Tateyama: 6 Puncak dalam 2 Hari

Pegunungan Tateyama mungkin adalah pegunungan di Jepang yang paling banyak didaki dan paling banyak penginapannya (mountain hut) setelah Gunung Fuji. Gunung Tateyama merupakan satu diantara tiga gunung sakral di Jepang (Japan's three holy mountains, 三霊山). Tapi bukan karena kesakralannya saya mendaki gunung tersebut. Kebetulan, letak gunung tersebut tidak jauh dari tempat tinggal saya saat ini. Tateyama merupukan sekumpulan gunung (pegunungan) dengan beberapa puncak. Artikel ini bercerita tentang perjalanan pendakian Pegunungan Tateyama, 6 puncak dalam dua hari. Berikut kisahnya.

Di Puncak Tateyama (Onanjiyama)

Persiapan

Tidak ada persiapan khusus untuk pendakian Gunung Tateyama. Diantara tiga gunung suci di Jepang, mungkin Tateyama adalah yang termudah (dengan puncaknya Gn. Onanjiyama). Saya hanya jalan minimal 5000 langkah per hari, yang sudah menjadi rutinitas saya, naik turun tangga lantai 5 sehari tiga kali, dan naik Gn. Kuragatake seminggu sebelum mendaki Tateyama. Diari pendakian Gn. Kuragatake bisa dilihat disini: https://yamap.com/activities/7629620.

Perlengkapan

Kesalahan saya tidak membawa perlengkapan yang memadai. Saya menyangka, karena masih musim panas, udara tidak akan begitu dingin. Nyatanya sangat dingin. Di tempat saya, Nomi city, suhu saat berangkat berkisar 28 derajat celcius. Begitu nympai Murodo, sudah sekitar 15 derajat celcius. Saat malam tiba, suhu mencapai lima derajat celcius. Saya terpaksa membeli jaket baru disitu. Ngomong-ngomong, alat-alat berikut saya urutkan dari yang terpenting:
  1. Jaket windbreaker
  2. Sarung tangan hiking (better thinsulate)
  3. Sepatu hiking low-cut
  4. Kaos kaki neoprene 3mm (saya dobel dengan kaos kaki 1mm)
  5. Hiking pole
  6. Calf supporter
  7. Sleeping bag (jika ngecamp)
  8. Tenda yang mumpuni, minimal tahan hujan 5mm
  9. Dll (kompor jika perlu, topi, flashlight, water bottle)

Rencana Perjalanan

Sebelum berangkat, kurang lebih seminggu, saya sudah merencanakan perjalanan saya seperi di bawah ini. Rencana tersebut saya buat berdasarkan sumber-sumber di referensi.
Rencana perjalanan selama 2 hari (3 hari 2 malam)
Jadwal bis Tateyama - Bijoadaira - Murodo


Hari-0

Bus option (departure)
10:30 - 11:28: JAIST - Kanazawa
11:50 - 12:50: Kanazawa - Toyama
13:32 - 13:35: Dentetsu Toyama - Tateyama
13:50 - 13:57: Tateyama - Bijodaira (this schedule not shown in [5] but exist)
14:50 - 15:50: Bijodaira - Murodo 

16:20 - 17:30: Murodo - raichosawa camping ground
17:30 - 18:00: Dhuhur + Ashr prayer + building camp
18:30 - 19:00: Dinner + Free
19:00 - 19:30: Maghrib prayer + snack
20:00 - : Sleep
Memulai perjalanan dari Raichosawa
Raichosawa campsite di belakang


Hari 1

Hari pertama kami berjalan lambat. Dari perkiraan 7-8 jam perjalanan, kami menempuhnya dalam 12 jam. Kebanyak untuk untuk istirahat dan mengambil foto. Berangkat dari Raichosawa camping ground jam 6:25, dan kembali ke Raichosawa jam 17:20. Sholat dhuhur dan ashar kami lakukan di Murodo, di belakang bangunan utama. Wudho bisa di water pond atau di Toilet. Dari keseluruhan rute -- Funinoritate - Onanjiyama - Oyama - Jodo -- rute naik ke Fujinoritate adalah yang paling sulit, butuh 3 jam dari campingground ke puncak pertama tersebut. Untung kami mengambil rute ini. Jika dari arah sebaliknya, mulai dari Jodo, medannya akan lebih terjal lagi. Dan itu kami alami saat turun dari Jodo menuju Murodo. Berikut timeline perjalanan kami bertiga di hari pertama.

05:00: Wake up
05:30: Fajr prayer
05:45: Preparation
06:21 - 09:39: Raichosawa - Mt. Fujinoritate
09:30 - 10:06: Mt.Fujinoritate - Mt. Onanjiyama
10:30 - 11:10: Mt. Onanji-yama, stay at top  for 20 min
11:30 - 14:15: Mt. Tateyama (Onanjiyama) - Mt. Oyama, stay at the top for 15 min
14:31 - 12:00: Mt. Oyama - Mt. Jodo, stay at the top for 30 minutes lunch. 
12:30 - 16:24: Mt. Jodo to Murodo, pray Dhuhr+Ashr at Murodo
17:00 - 18:00: Murodo to Raichosawa camping ground
19:00: dinner, pray Maghrib+Isya, sleep
Peta perjalanan dan gain elevasi hari 1, detail: https://yamap.com/activities/7766032
Menuju Fujinoritate
View dekat puncak Onanjiyama
Danau Mikuriga
Selepas Murodo


Hari 2

Di hari kedua saya pergi sendiri. Dua teman saya memilih onsen di hari itu karena kecapekan di hari pertama. Berbeda dengan hari pertama, pendakian di hari ke dua ini saya lalui dengan cepat. Hanya perlu waktu 4 jam dari Raichosawa - Tusurugigozenkoya - Bessan - Masagodake - Raichosawa. Saya berangkat jam 6 dan kembali jam 10. Berikut timeline perjalanan saya di hari ke dua.

05:00 - 06:00: Fajr prayer + breakfast + preparation
06:05 - 07:30: Raichosawa - Tsurugigozenkoya
07:40 - 08:10: Tsurugigozenkoya - Mt. Bessan
08:15 - 08:45: Mt. Bessan - Mt. Masagodake
09:00 - 10:05: Mt. Masagodake - Raichosawa
11:40 - 12:40: Raichosawa - Murodo
13:20 - 14:10: Murodo - Bijodaira
14:40 - 14:47: Bijodaira - Tateyama
15:05 - 15:48: Tateyama - Dentetsu Toyama (4 minutes late)
16:00 - 17:00: Toyama (bus platform 2) - Kanazawa station (10 minutes late)
17:17 - 18:38: Kanazawa - JAIST
Peta perjalanan dan gain elevasi hari 2, detail: https://yamap.com/activities/7766043/article
Menuju puncak Gn. Bessan
Paling kiri; North Bessan, tengah: Bessan
Dari Gn. Bessan menuju puncak Gn. Masagodake
Sebelum mencapai puncak Gn. Bessan
Di puncak Gn. Masagodake

Pulang

Pulang selalu menjadi menyenangkan. Apalagi setelah capek. Bertemu anak dan istri adalah penghilang lelah. Dua hari perjalanan terbayar sudah. Bertemu si kecil ternyata lebih indah daripada memandang puncak gunung. Alhamdulillah.


Pengeluaran (berangkat dari Kanazawa, dalam Yen):

- Kanazawa - Toyama: 980 * 2 = 1860
- Toyama - Tateyama = 1230 + 1230 + 210  = 2570 (pulang dengan limited express, + fare ticket)
- Tateyama - Murodo = 4940 (pp)
- Total transportasi = 9370
- Snack/makan 2 hari = ~3000
- Total semua = ~12500

Tips:

 - Siapkan pakaian hangat (winter)
 - Bawa peralatan anti air

Referensi

[1] https://hikesinjapan.yamakei-online.com/course/41.php
[2] https://yamap.com/activities/7599164
[3] https://www.youtube.com/watch?v=5VaTlmAGSHc&lc=z22zdxixnqa2enncracdp432cz1yxw2zq3zgkz4p2gxw03c010c
[4] https://yamap.com/activities/7344348
[5] https://www.alpen-route.com/media/access/timetable/timetable-202007_en.pdf

Saturday, December 31, 2016

Catatan Pendakian Gunung Kinabalu

Kinabalu adalah nama sebuah kota, sekaligus gunung, di negara bagian Sabah, Malaysia. Gunung Kinabalu merupakan bagian dari Kinabalu Park (taman nasional) yang dilindungi oleh World Heritage Site. Gunung tersebut adalah gunung tertinggi di Malaysia. Kisah berikut merupakan catatan perjalanan seorang teman ketika mendaki Gunung Kinabalu selama 4 hari perjalanan. Pendakian tersebut dilakukan pada 25-28 Februari 2012(4 hari). Saya edit dan moderasi sedikit agar tidak berantakan. For English version, you can read it here.

Gunung Kinabalu dilihat dari Kundasan (sumber: Wikipedia)


Dua Minggu sebelumnya… 

Berawal dari ajakan camer saya bergegas menyiapkan dokumen, terutama paspor, dan peralatan gunung saya yang udah hampir setahun terbengkalai. Perasaan sungkan, semangat dan penasaran bercampur aduk, karena ini pertama kalinya saya naik gunung di luar negeri, bareng rekan perjalanan yang sangat berbeda dari perjalanan saya mendaki sebelumnya.

Day 0 

Setelah packing, kami bergegas ke Juanda untuk perjalanan ke Jakarta. Karena pesawat Air Asia ke Kota Kinabalu (disingkat KK) hanya ada dari Jakarta. Alhamdulillah pesawat on time. Di Terminal 3 Soetta kami bertemu rombongan dari Jakarta dan Bandung. Sedangkan rombongan dari Batam, Malaysia, dan Singapura langsung ke KK. Rombongan tersebut adalah para WNI yg kerja disana. Fyi, perjalanan kami semua ke Gunung Kinabalu berada dibawah naungan Karas Adventure yang bertanggungjawab atas semua, mulai transport, akomodasi, perijinan, dan asuransi. Gampangannya, semua peserta tinggal bayar, terima beres, tapi tetap memperhatikan aturan umum pendaki gunung, terutama fisik dan mental.

Thursday, September 18, 2014

Pendakian Semeru: Rute, Tips, Catatan Perjalanan, Estimasi Waktu dan Biaya

Ini adalah kali keduanya saya mendaki gunung Semeru (setelah first summit pada 2007), kali ketiga bagi teman saya dan kesekian kalinya mendaki gunung setelah sekian lama tidak melakukan hiking berat. Catatan perjalanan teman saya dibawah ini merupakan rute ideal dengan persiapan yang matang sehingga diperoleh efisiensi tenaga, waktu dan biaya saat melakukan pendakian gunung semeru. Total waktu yang diperlukan adalah 3  hari 2 malam, dengan anggaran dana kurang lebih 400 ribu rupiah (September 2014), dan start point dari Surabaya. Estimasi waktu tersebut adalah waktu ideal untuk pendaki amatir, bisa lebih cepat untuk pendaki professional, atau malah lebih lambat untuk pendaki pemula. Inilah kisah perjalanan ideal tersebut.
Jalur pendakian Semeru: tanjakan berat mulai kalimati-mahameru (sb gambar: akuntomountain.worpress.com)
---
Setiap manusia normal semestinya memiliki keinginan dan cita-cita. Entah itu hanya sekedar bisa makan setiap hari, bisa menjadi pengacara atau dokter di kemudian hari, atau memiliki Bugatti Veyron di suatu saat nanti. Dalam ruang lingkup yang lebih sempit, kita sering disarankan membuat wishlist tahunan ketika memasuki pergantian tahun. Nah, menapakkan kaki di puncak Mahameru adalah cita-cita sekaligus wishlist saya yang belum kunjung tercapai hingga usia saya melebihi seperempat abad ini.
September ini saya bertekad mewujudkan cita-cita saya tersebut. Bersama bagustris, seorang sahabat yang barusan kembali ke kampung halaman selepas bekerja 3 tahun di Jepang, kami bertekad mendaki puncak Mahameru September ini.

Sekedar info, saya sudah dua kali mendaki jalur Semeru. Yang pertama hanya sampai di Ranu Kumbolo sekitar 3 tahun lalu, dan tahun 2013 kemarin perjalanan saya terhenti di Kalimati karena fisik yang kurang fit. Oleh karena itu, tahun ini saya mempersiapkan segalanya termasuk berdoa di sepertiga malam terakhir agar diizinkan oleh-Nya menapaki puncak tertinggi di Jawa.

Day 0: 3 September 2014

Persiapan, bikin ceklis gear, belanja, ngumpulin persyaratan perijinan, dan beli tiket. Semua kami lakukan di tengah kesibukan kerja. Rencana awal berangkat sore hari itu ditunda jadi pagi buta keesokan harinya karena pertimbangan persiapan alat dan bahan yang belum matang.

Saturday, May 11, 2013

Climbing the Mt. Kinibalu

The following is story from my friend, Shofwan MD, with whom I have climbed Mt. Arjuno in Malang, East Java (the story can be read here). For more convenience, I translated the original story from Indonesian to English paragraph by paragraph. This is the story...

---
Two weeks before departure
Started from the offer of my girlfriend's Dad, I hurry up prepared the required documents like passport and mountaineering equipments, almost one year untouched. The feel of spirit, reluctant and embittered was mixed as it will my first international climb with the very different community compared to my previous adventure.


---
February 25th, 2013
After everything was packed, we go to Jakarta from Juanda AP (Surabaya). The airplane, Air Asia, is only available from Jakarta to Kinibalu (KK), Malaysia. It was lucky because the airplane came on time as scheduled. As depart from different place, Batam, Malaysia and Singapore, we choose meet point in Kinibalu. They are Indonesian lived there. For information, this mountaineering trip was organized by Karas Adventure which responsible from all from transport, accommodation, permission, and insurance. Simplified talking, all participant just pay the fee, but we keep the ordinary mountaineering rules, especially physical and mental condition.

Taking photo before starting climbing

Tuesday, June 28, 2011

Pantai Depok, Yogyakarta

Suatu waktu saya ke jogja, dan ada kesempatan bermain, saya bingung kemana akan bermain. Tanya sana-sini (yang ditanya juga sama bingungnya dengan yang bertanya), akhirnya saya menemukan tempat tujuan bermain untuk menikmati sunset: Pantai Depok.

Pantai Depok, begitu namanya. Saat pertama kali dengar, saya kita itu Depok yang dekat Jakarta itu, Eh, ternyata bukan, itu pantai yang dekatnya Parang Tritis. Tepat sebelum masuk gapura Parang Tritis, ada jalan ke kanan. Menyusuri jalan itu akan mengantarkan anda menuju Pantai Depok.
Gerbang Pantai Depok
Yang membedakan Pantai Depok denga pantai-pantai lainnya adalah ikan. Ya, di Pantai Depok anda dapat menemukan hidangan ikan segar dan sejumlah hasil tangkapan laut lainn. Kesemua itu dipadu dengan nuansa khas restaurant pesisir. Tak jauh dari pantai ini, anda bisa menikmati panorama gumuk pasir satu-satunya di kawasan Asia Tenggara.

Sunday, March 01, 2009

Pendakian Gunung Welirang

Beberapa bulan yang lalu kulakukan lagi sebuah perjalanan. Tidak berapa lama setelah perjalan mengelilingi Lumajang. Perjalanan mengunjungi tetangga G. Arjuna, yakni G Welirang. Simak saja cerita temanku tentang perjalanan itu:
(sebenarnya pengen cerita sendiri, eh ternyata udah ada temanku yang nulis cerita perjalanannya, ya copas aja lebih mudah....:-) )
Berfoto di Pos Ijin Pendakian Gunung Welirang, Tretes
Here is the story...

Wednesday, September 03, 2008

Reach the top of Arjuno...

Jumat, 29/08/2008, kuselesaikan dulu kuliah reksemnya pak Agung, trus ngurus beasiswa AHM di rektorat lt.3 dan setelah itu baru cabut ke kontrakan..

Di kontrakan ternyata teman-teman belum siap, kirain aku dah ditungguin. Satu jam dari jadwal yang ditentukan kami berangka ke lawang. Di lawang Yupra udah menyambut kami dengan berbagai jamuannya dan beberapa pesenan kami (beberapa botol air minum). Dia ikut mengantar kami sampai POS I Jalur pendakian Gunung Arjuno Lawang yg juga kantor Tahura (Taman Hutan Rakyat), setelah itu kami diantarnya juga sampai kebun teh wonorejo (bukan kebun teh wonosari), kami berpisah di tempat itu. Sebelum berpisah kami sempat foto-foto, gambarnya di bawah ini (dari kiri: Habibi, Yudi, Bagus, Shofwan, Teguh)
Foto Bersama Sebelum Memulai Pendakian

29/08/2008 @ 16.20 WIB.
Perjalanan dimulai, awalnya tenang-tenang aja. Tawa dan ceria menghiasi perjalanan awal kami, kanan kiri kebun teh sampai dan di depan hutan serta pegunungan. Sampai Brak 2 (tempat pemetik teh istirahat) Hujan turun dengan derasnya. Kami mulai was-was, namun kami tetap melanjutkan perjalanan. benar saja setelah itu ternyata kami tersesat!! kami baru tahu kalau kami tersesat setelah bercakap-cakap dengan seorang bapak di kebun jagung. Saat itu kami masih tenang-tenang aja plus senang karena bisa bakar jagung gratis plus menghangatkan badan di perapian bapak tsb, namun petaka justru terjadi setelah itu. kami tidak mengikuti petuah bapak penjaga kebun tsb dengan baik, bukannya lurus dulu seperti kata bapak itu namun kami malah belok kiri dan akhirnya menempuh arah yang tidak jelas. Tracking yang dilakukan Shofwan di GPSnya menunjukkan kalo jalan yang kami tempuh mbulet gak karuan dan akhirnya kami terjebak di semak belukar, kami istirahat disitu. Paginya setelah subuhan kami baru tahu kalau sekeliling kami memang benar-benar semak yang lebat. kami kembali ke arah yang ditunjukkan oleh bapak penjaga kebun pada malam sebelumnya dan setelah bertanya pada warga pejaga kebun lainnya kami kembali ke jalan yang benar, jalur pendakian Arjuno sesungguhnya.

Wednesday, June 25, 2008

Special Adventure : Penanjakan, Bromo dan Madakaripura

Awalnya sih cuma mau survey tempat buat outbond, tapi biar ga mubadzir sekalian aja dipakai buat jalan-jalan. Berangkat dari surabaya pagi jam 7.30 menuju PPLH Seloliman, Trawas Mojokerto. Di perjalanan mampir ke rumah temannya titon di sawotratap dekatnya juanda, karena orangnya ngga ada so perjalanan kami lanjutkan kembali. Seperti biasa, di porong macet, tapi itu bukan masalah. Setelah melewati porong kami belok kanan menuju PPLH Seloliman lewat watukosek, Gempol. Dipandu oleh papan penunjuk arah, kami dengan mudah menemukan tempat tsb. Pemandangan saat perjalanan pun begitu mempesona, tak lupa kami mengabadikannya melalui jepretan kamera digital.
 
PPLH ternyata emang ga murah, biaya per-orang untuk acara yang mau kami adakan mencapai hampir 200 ribu per-orang per-malam. Padahal obyek kami adalah mahasiswa yang uangnya pas-pasan. Walhasil kami mencari tempat alternatif lain. Beberapa ratus meter dari PPLH kami menemukannya, sebuah villa yang cukup strategis meski terkesan tidak terawat. Strategis karena letaknya tepat di depan jalur pendakian gunung penanggungan, di bawahnya juga ada balai desa dan masjid. View-nya pun, wow.., sungguh bagus. Kami tanya-tanya dan kebetulan berjumpa langsung dengan penjaga villa tsb.

Perjalanan berlanjut, karena orang yg mw kami inapi nanti malam belum pulang, kami jalan2 dulu ke Bangil ke rumahnya Sofyan dan Totok. Rencana puasa hari itupun terpaksa ku batalkan karrna kami disuguhi berbagai makanan. Kenyang, sorenya kami menuju Leces, Probolinggo dan bermalam di sana.
A photo posted by Bagus Tris Atmaja (@bagustris) on

Continue...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...