Showing posts with label Islamic Science. Show all posts
Showing posts with label Islamic Science. Show all posts

Sunday, September 09, 2012

Budaya Ilmiah, Budaya Islam

Jika menilik kemajuan Eropa dalam bidang keilmuan dan teknologi di dunia moderen, hal ini tidak lepas dari munculnya budaya imiah mereka yang mengembangkan metode-metode ilmiah keilmuan dan inspirasi-inspirasi filsafat alam yang didapat dari alam pikiran budaya Yunani pada masa ‘pencerahan’ atau renaissance. Selama ini, jamak pendapat bahwa ilmuwan Eropa memperoleh dasar dari metode ilmiah dari filsuf-filsuf Yunani. Roger Bacon yang disebut-sebut sebagai advokat bagi metode ilmiah modern di Eropa dikatakan terinspirasi oleh Aristoteles dan Plato. Akan tetapi patut diketahui bahwa sifat dan semangat dari folosofi alam Yunani adalah bersifat spekulatif, lebih mengutamakan teori dan tidak mengindahkan kenyataan atau pengalaman konkret. Ilmu pengetahuan moderen amat mengedepankan aspek pengamatan langung dan bukan sekedar teori belaka yang bersifat spekulatif. Hal ini terutama terlihat dalam ilmu-ilmu alam fisik seperti fisika, dimana suatu teori harus mendapatkan konfirmasi melalui eksperimen untuk membuktikan kebenarannya. Kebudayaan Yunani tidak mengenal penyelidikan dan pengumpulan secara sabar terhadap pengetahuan, serta metode-metode keilmuan yang begitu cermat, dan observasi serta penyelidikan eksperimantal yang rinci dan panjang. Roger Bacon sendiri sebenarnya mempelajari metode ilmiah dari Universitas Islam Spanyol. Karyanya Opus Majus yang berisi penjelasan ilmiah tentang matematika, optik, kimia, dan mekanika sebenarnya berisi metode-metode yang berasal dari ilmuwan-ilmuwan muslim seperti Al-Kindi dan Ibn Al-Haytham. Antropolog Robert Briffault dalam bukunya ’The Making of Humanity’ menuliskan:

Baik Roger Bacon maupun kawan sejawatnya yang kemudian, tidak berhak disebut sebagai orang yang telah memperkenalkan metode eksperimen. Roger Bacon tak lebih hanya salah seorang utusan saja dari ilmu pengetahuan dan metode Islam kepada dunia Kristen di Eropa, dan dia pun tak kenal letih mengumumkan, bahwa pengetahuan bahasa dan ilmu pengetahuan Arab bagi mereka yang sezaman adalah satu-satunya jalan ke arah pengetahuan yang sebenarnya. Perdebatan-perdebatan seperti misalnya tentang siapa pencipta pertama metode eksperimen ialah sebagian dari penafsiran yang besar sekali tentang asal-usul peradaban Eropa. Metode eksperimen Islam itu pada masa Bacon secara luas dan bersungguh-sungguh disebarkan ke seluruh Eropa. (The Making of Humanity, page 202)
Budaya Islam melalui semangat Al-Qur’an yang mendasarkan sumber pengetahuan pada tiga sumber, yaitu pengalaman batin, alam, dan sejarah tentu bertentangan dengan semangat filsafat alam Yunani. Hal ini tidak lain karena budaya Islam yang berfokus pada pengalaman konkret (kenyataan) dan menuntut adanya observasi secara langsung terhadap alam guna memahami hakikat alam dan terutama demi memahami sifat ketuhanan.  Hal ini juga tidak lepas dari perintah yang ada dalam kitab Al-Qur’an agar memerhatikan pergantian siang-malam, peredaran bulan dan matahari serta peredaran planet karena Tuhan menampakkan tanda-tandanya melalui alam. Walaupun harus diakui bahwa ilmuwan-ilmuwan muslim banyak yang memperoleh wawasan ilmu dari alam pikir Yunani, akan tetapi ilmuwan-ilmuwan muslim menyadari bahwa apabila terus menyandarkan diri pada alam pikiran Yunani yang tida mendasarkan pemikirannya pada kenyataan maka akan terjadi kegagalan yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Metode observasi dan eksperiman lahir dalam kebudayaan Islam bukan karena suatu kompromi dengan pemikiran Yunani, tetapi karena ada pergulatan yang lama sekali dengan pemikiran itu. Pengaruh Yunani yang pada umumnya menyukai teori, bukan kenyataan, malah lebih mengaburkan pandangan orang Islam terhadap Al-Qur’an. Maka dengan semangat Al-Qur’an sebagai pedoman, ilmuwan-ilmuwan muslim melakukan revolusi terhadap alam pikiran Yunani, sebuah revolusi ilmiah.

Menurut kebudayaan Islam, ilmu harus dinilai dengan yang sesuatu yang konkret dan terukur, hanya kekuatan intelektual yang menguasai yang konkret-lah yang akan memberi kemungkinan kecerdasan manusia untuk dapat melampaui yang konkret, seperti dalam Al-Qur’an;

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

Wahai masyarakat jin dan manusia, kalau kalian dapat menembus perbatasan-perbatasan langit dan bumi, tembuslah. Tapi hanya dengan kekuasaan sajalah kalian dapat menembusnya. (QS. 55:33)

Referensi:
  1. Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, Yogyakarta; Jalasutra, 2008.
  2. Dari Puncak Bagdad; Sejarah Dunia Versi Islam, Jakarta; Penerbit Zaman, 2009.  
  3. Metode ilmiah, orang eropa mempelajarinya dari budaya Islam

Wednesday, January 11, 2012

Al-Quran on Embryology


Dr. Moore was a former President of the Canadian Association of Anatomists, and of the American Association of Clinical Anatomists. He was honoured by the Canadian Association of Anatomists with the prestigious J.C.B. Grant Award and in 1994 he received the Honoured Member Award of the American Association of Clinical Anatomists "for outstanding contributions to the field of clinical anatomy."
 
"For the past three years, I have worked with the Embryology Committee of KingcAbdulaziz University in Jeddah, Saudi Arabia, helping them to interpret the many statements in the Qur'an and Sunnah referring to human reproduction and prenatal development. At first I was astonished by the accuracy of the statements that were recorded in the 7th century AD, before the science of embryology was established. Although I was aware of the glorious history of Muslim scientists in the 10th century AD, and some of their contributions to Medicine, I knew nothing about the religious facts and beliefs contained in the Qur'an and Sunnah."
 
At a conference in Cairo he presented a research paper and stated:
 

Saturday, October 22, 2011

The Forgotten Contribution of Medieval Physicists

We learn at school that Newton is the father of modern optics, Copernicus heralded the birth of astronomy, and Snell deduced the law of refraction. But what debt do these men owe to the physicists and astronomers of the medieval Islamic Empire? What about Ibn al-Haytham, the greatest physicist in the 2000-year span between Archimedes and Newton, whose Book of Optics was just as influential as Newton’s seven centuries later? Or Ibn Sahl, who came up with the correct law of refraction many centuries before Snell? What of the astronomers al-Tusi and Ibn al-Shatir, without whom Copernicus would not have been able to formulate his heliocentric model of the solar system?

Is that all true? Come in to this lecture in the link below, Jim Al-Khalili recounts the stories of these characters and more from his new book Pathfinders: The Golden Age of Arabic Science.

Please follow the link below,

Friday, September 16, 2011

Tanda Kiamat: Tanah Arab Menjadi Perkebunan

Ilustrasi Tanah Arab
Di antara mukjizat dalam sains atau ilmu pengetahuan pada sunnah adalah sabda Rasulullah, "Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga tanah Arab kembali menjadi padang rerumputan atau perkebunan." (HR Muslim)

Dalam hadits ini, Rasulullah bersabda "sehingga tanah Arab kembali" maksudnya tanah jazirah Arab. Adapun makna sabda Rasul SAW "sehingga kembali" yaitu bahwa dahulu tanah Arab dipadati oleh rerumputan dan perkebunan, dan nanti tanah Arab akan kembali seperti semula yakni menjadi perkebunan kembali setelah lama menjadi padang pasir. Itulah tanda akan kiamat.

Pembuktian hadits ini, bahwa berkat kemajuan teknologi dan ilmu geologi serta kemajuan teknologi riset, para ahli geologi memprediksi bahwa sebagian daratan Arab pada masa dahulu adalah tanah yang subur untuk pertanian dan perkebunan.

Sunday, September 11, 2011

Sains Islam, adakah...?



Sains Islam (Science Islam)
 Sebelum membahas lebih jauh tentang sains Islam, perlu dipahami konsep sains itu sendiri. Sains (ilmu pengetahuan, atau ilmu saja) Berbeda dengan pengetahuan (knowledge). Pengetahuan adalah semua informasi yang diterima oleh manusia. Menurut Arthur Hays Sulzberger, pengetahuan tidak hanya sesuatu yang diterima namun juga yang dipersespsi, dipelajari dan ditemukan oleh manusia. Sedangkan sains (arab: al-'ilm) merupakan pengetahuan yang terorganisasi. Pendapat lain mengatakan bahwa sains adalah pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Jadi, sains merupakan bagian dari pengetahuan dan tidak semua pengetahuan merupakan sains.
            Konsep sains Islam merupakan upaya untuk membentuk ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Sains tersebut tidak terbatas pada ilmu-ilmu agama seperti Tafsir, Hadits, Fiqh, Kalam, Tasawuf, dan lain-lain, namun juga pada bidang yang lain: Matematika, Fisika, Kima, Biologi, Kedokteran, dll. Konsepsi sains Islam ini berusaha untuk menggabungkan ilmu-ilmu agama dan sains secara umum yang sebelumnya terdikotomikan. Sains, karena sarat akan nilai-nilai subyektif dan juga obyektif, dapat dibangun dengan pendekatan kultural yang khas, termasuk dari sisi agama. Islam, sebagai agama yang diakui oleh pemeluknya satu-satunya yang benar tentunya memiliki landasan dan arahan dalam membangun dan mengembangkan sains di semua bidang agar tidak bertentangan dengan keimanan pemeluknya.

Tuesday, September 06, 2011

Habibie, Islam, dan Teknologi [2]: Dipaksa Boutros Boutros-Ghali Berpidato dan Terima Standing Applause

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO - Mantan Presiden Bacharuddin Yusuf Habibie dalam ceramahnya di Al Azhar Conference Center (ACC) di Kairo, Mesir, pada Senin (6/6), mengungkapkan bahwa ia pernah ditantang Presiden Soeharto untuk mengaktualisasi ajaran Islam. Ia juga menyatakan pernah 'dipaksa' Sekjen PBB saat itu, Boutros Boutros-Gali untuk berpidato.

Foto Prof Dr. Ing. B.J. Habibie
Tepatnya, pada 7 Desember 1994 dalam forum yang diadakan untuk memperingati Tahun Emas (Golden Jubilee) atau HUT ke-50 berdirinya Organisasi Penerbangan Sipil (The International Civil Aviation Organization/ICAO). Dalam ajang ini,  Habibie terpilih sebagai ilmuwan dirgantara yang berjasa dalam pengembangan dan desain pesawat, dan paling berhak menerima Medali Edward Warner Award.

ICAO didirikan di Chicago, AS, pada 7 Desember 1944, yang kemudian menjadi salah satu Badan PBB, sementara Medali Edward Warner Award yang diambil dari nama pendiri dan pemimpin pertama IACO diberikan kepada para ilmuwan dirgantara yang paling berjasa memajukan pernerbangan internasional.

Sekretaris Jenderal PBB saat itu, Boutros Boutros-Ghali juga hadir dalam HUT 50 tahun ICAO tersebut.
Saat acara penyerahan Medali, Boutros-Ghali membisiki Habibie agar sedikit memberi sambutan.
Pak Habibie pun berujar,
Wah, saya tidak punya persiapan pidato sambutan, jadi tidak perlu saya pidato.

Friday, September 21, 2007

Secret Behind Ferum

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan/turunkanbesi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu), dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.
(al-Hadid 57: 25).

Memang aneh, tampaknya, dalam pelajaran teologi, nama salah satu elemen kimia dalam tabel periodik, yaitu besi (Fe = ferrum) bisa menjadi salah satu judul surat dalam kitab suci agama. Tetapi itulah al-Qur'an. Sehingga pertanyaan bagi orang awam tentunya, karakter apa yang menarik pada surat ini? Lalu, mengapa besi dijadikan salah satu nama surat dalam al-Qur'an? Bukankah emas, misalnya, lebih berharga?
(ARIFIN MUFTIE dalam MATEMATIKA ALAM SEMESTA Kodetifikasi Bilangan Prima dalam Al-Qur'an)


unsur besi merupakan salah satu unsur yang menarik untuk "dibaca"......salah satu sebabnya ialah karena unsur ini merupakan "kiriman dari angkasa diluar tata surya"
(Energi sistem tata surya kita tidak cukup untuk memproduksi elemen besi. Perkiraan paling baik, energi yang dibutuhkan adalah empat kali energi sistem matahari kita.... dalam Harun Yahya, Pesona AI-Qur'an, Rabbani Press 2002, hal. 38)......

bagaimana kalau besi tidak jadi dikirim?
Bumi dan isinya dilindungi oleh Sabuk Van Allen yang membungkus bumi seolah-olah perisai berbentuk medan elektromagnetik berenergi tinggi. Perisai dengan "ke­kuatan hebat" ini tidak dimiliki oleh planet-planet lain.Sabuk radiasi yang membentuk energi tinggi, terdiri dari proton dan elektron, mengelilingi ribuan kilometer di alas bumi, diberi nama Sabuk Van Allen. Sabuk ini melindungi bumi dan isinya dari ledakan dahsyat energi matahari yang terjadi setiap 11 tahun sekali yang disebut solar flares. Ledakan dahsyat ini bila tidak ditahan di angkasa dapat meluluh-lantakkan semua kehidupan di bumi, dengan kekuatan setara 100 juta bom atom Hiroshima. Perlindungan juga didapatkan dari serangan badai kosmis yang membahayakan umat manusia. Bagaimana sabuk perisai ini terbentuk? Sabuk ini terbentuk dari inti bumi yang besar, yaitu terdiri dari besi dan nikel. Keduanya membentuk medan magnet yang besar, yang tidak dimiliki oleh planet lain, kecuali planet Merkurius, dengan radiasi yang lebih lemah.
(ARIFIN MUFTIE dalam MATEMATIKA ALAM SEMESTA Kodetifikasi Bilangan Prima dalam Al-Qur'an)

"Gak ada besi gak ada manusia"?????
unsur besi merupakan unsur yang sangat diperlukan oleh tumbuhan.....kekurangan unsur ini pada tumbuhan menyebabkan produksi klorofil dalam tumbuhan terganggu....fungsi klorofil pada tumbuhan sangat vital........klorofil memiliki kemiripan fungsi dengan hemoglobin pada manusia.....klorofil dan hemoglobin sama-sama berfungsi mengikat karbon dioksida dan oksigen...kemiripan lain juga pada struktur kimianya.......keduanya juga mirip dalam hal penyebab terganggunya produksi yaitu kekurangan unsur besi......"jadi tanpa unsur besi tidak ada tumbuhan"......."tidak ada tumbuhan tidak ada manusia"........

beberapa pertanyaan.........
Tumbuhan dan manusia penduduk asli bumi?
apakah bisa dilacak "perjalanan besi" sehingga bisa diketahui asalnya?
bagaimana besi bisa "menetap" di bumi?
kira kira apa penyebab besi "pergi" lagi?

__Wallahu a'lam bisshowab__

Monday, August 13, 2007

Sujud dan Kecerdasan

Adakah hubungan antara sujud dengan kecerdasan? Ada. Masih nyambung dengan tulisan saya sebelumnya tentang Isro' Mi'roj, setelah melakukan isro' mi'roj nabi membawa oleh-oleh perintah sholat, dan di diantara gerakan sholat ada yang namanya sujud. Beruntung beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan melihat presentasi saudara "Harapan" dari Fak. Kedokteran Univ. Syah Kuala, Aceh. Beliau (saudara harapan) memaparkan secara detail pengaruh sujud terhadap kecerdasan dari segi kedokteran. Ketika sujud ternyata ada darah yang mengalir dari dopamin ke amigdala (semuanya merup. bag. otak), dan ini hanya terjadi pada saat sujud. Nah darah tersebut ternyata membawa banyak energi dan dapat memacu kecerdasan manusia.
Teman saya, woodin, ketika melakukan sujud syukur di puncak Semeru

Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan darah. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yamg memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan (tausyiah275.blogsome.com, 2007).

Nah, yang pengin tambah cerdas, lama-lamain aja ketika sujud. Tapi syaratnya harus ikhlas dan khusyu' lho..., klo nggak ikhlas dan khusyu' bukannya tambah cerdas tapi malah pegal-pegal semua ketika bangun dari sujud.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...