Logika dan Percakapan
"Berkata" berhubungan erat dengan apa yang diucapkan, tidak termasuk hal-hal lain yang ingin diutarakan pembicara diluar apa yang diucapkan (kecuali hanya apa yang dikatakannya). Berkata adalah ungkapan semantik (makna dari kata). Sederhananya, anda tidak bisa ngomong A tapi yang anda maksudkan B (misalnya seperti ini, "maksudku begini lho...."). Tidak bisa.Hal ini berbeda dengan membayangkan, menyarankan, menyampaikan, mengindikasikan, dll. Hal-hal tersebut di luar apa yang dikatakan. Berimplikasi (implicating) adalah ungkapan pragmatik (kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan apa yang dimaksudkan).
Grice mengusulkan teori implikatur, salah satu aspek kajian pragmatik yang perhatian utamanya adalah mempelajari ‘maksud suatu ucapan’ sesuai dengan konteksnya. Implikatur cakapan dipakai untuk menerangkan makna implisit dibalik “apa yang diucapkan atau dituliskan” sebagai “sesuatu yang diimplikasikan” (implicatum: what is implied) [3].
Implikatur: Konvensi vs Cakapan
Implikatur, berdasarkan ragamnya, oleh Grice dibagi menjadi dua: implikatur konvensi dan implikatur cakapan. Perhatikan kalimat dalam bahasa Inggris berikut.“He’s an Englishman, so he’s brave.”
Pada kalimat di atas, kata 'brave' merupakan implikasi dari 'Englishman', tanpa disebutkan secara langsung. Bandingkan dengan contoh.
“She is poor, but she is honest.”
Kata 'honest', pada kalimat diatas merupakan implikasi kebalikan dari kata 'poor'. Namun disini perlu kata 'but', untuk menerangkan pertentangan 'poor' dengan 'honest' untuk membawakan implicatum. Ini adalah contoh implikatur cakapan (conversational implicature) yang mana merupakan bagian dari semantik.