Monday, November 11, 2019

Menjadi Logis [4]: Sumber pemikiran tidak logis

Ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya, sebuah ringkasan dari buku "Being Logical", Bab ke-4: the source of illogical thinking.

Kesalahan dalam penalaran bisa karena ketidaksengajaan (kecelakaan), atau akibat dari ketidakhatian. Beberapa perilaku dan pandangan berikut perlu dihindari karena bisa mengakibatkan pemikiran yang tidak logis.

1. Skeptis
Sikap skeptis (meragukan) perlu, namun selalu skeptis akan menuntun pada kekeliruan. Contoh skeptis yang diperlukan: Jika datanya meragukan, kita boleh meragukan kesimpulannya. Namun jika kita selalu meragukan argumen orang lain (misal yang tidak kita sukai), akan menjadikan hal tersebut non-logis.

2. Agnostik evasif
Agnostik tidak hanya dalam beragama, tetapi juga dalam berpikir. Orang yang atheis secara tegas tidak mengakui adanya tuhan. Orang agnostik "tidak tahu", apakah tuhan itu ada atau tidak (Setelah mereka meninggal mereka baru tahu, namun itu (menurut saya) sudah telat). Pemikiran yang agnostik mengelak adanya tuhan, namun juga menampik ketidakadaan tuhan, mereka hanya "mengabaikan" sebagai sesuatu yang benar. Bentuk pengabaian ini merupakan akibat kemalasan (untuk mencari tahu).

3. Sinis dan optimis naif
Sikap sinis adalah memberikan penilaian negatif tanpa bukti yang cukup. Sikap naif optimis sebaliknya memberikan penilaian positif tanpa bukti yang cukup. Keduanya tidak logis dan bentuk dari prasangka (prejudice). Prasangka tidak logis karena memberikan kesimpulan sebelum fakta/bukti/premisnya kuat.

4. Berpikiran sempit
Ketika berbicara logika, tujuannya adalah menemukan kebenaran, bukan pembenaran. Untuk menemukan kebenaran, kita harus berpikiran luas, tidak membatasi pemikiran kita pada suatu ajaran, aliran, atau asumsi. 

5. Argumen dan Emosi
Emosi tidak boleh dilibatkan dalam argumentasi. Semakin kita melibatkan emosi, semakin sulit untuk berpikir jernih dan sederhana. Manusia pada hakikatnya makhluk yang memiliki emosi, namun jangan pernah melibatkan emosi secara langsung (membandingkan secara langsung terhadap emosi seseorang)

6. Alasan untuk Penalaran
Mencari alasan untuk alasan, bukan untuk mencari kebenaran, merupakan penggunaan alasan yang salah. Sebagaimana penalaran (reasoning) dapat digunakan untuk tujuan baik dan buruk, maka mencari alasan untuk tujuan buruk (menyangkal yang sebaliknya, bukan untuk mencari kebenaran) juga menjadikan kekeliruan dalam berlogika. Contoh ini banyak terjadi dalam perdebatan, karena kebanyakan debat dilakukan untuk mengalahkan yang lain, bukan untuk mencari kebenaran.

7. Argumentasi bukan Perkelahian
Argumentasi merupakan upaya untuk menawarkan kebenaran, dengan dasar-dasar yang kuat dan sistematis. Beda dengan perkelahian yang untuk mengalahkan yang lain, argumentasi dibangun dengan prinsip-prinsip kebenaran. Jangan menghabiskan waktu dengan orang yang ngotot mempertahankan pendapatnya jika salah. Sebaliknya, kita harus mengakui jika ada yang lebih benar, agar tidak terjadi debar kusir.

8. Batas Keikhlasan
Ikhlas merupakan kondisi yang dibutuhkan logika. Anda harus ikhlas jika ada pendapat yang lebih kuat. Namun anda harus percaya dengan apa yang anda utarakan/argumentasikan. Siapa yang akan percaya kalau yang memberi argumen tidak yakin? Keihklasan tidak bisa membuat argumen yang keliru menjadi benar. Pasti ada yang lebih benar, dan harus ada yang mengalah/ikhlas. Jika pendapat orang lain lebih benar, kita harus ikhlas dan mengalah.

9. Akal sehat
Logika adalah akal sehat (common sense). Akal sehat artinya semua orang mengakui bahwa itu hal yang benar, contoh kucing dan anjing, semua pasti bisa membedakannya. Seperti semua orang sepakat pada kata-kata Aristoteles bahwa manusia adalah binatang yang rasional (meski saya tidak sepakat). Kita tidak boleh mengabaikan akal sehat.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...