Showing posts with label ringkasan buku. Show all posts
Showing posts with label ringkasan buku. Show all posts

Monday, December 02, 2019

Panduan Berpikir Kritis

Tulisan ini merupakan ringkasan dari sebuah buku: Asking the Right Questions, A guide to critical thinking, yang ditulis oleh M. Neil Browne dan Stuart M. Keeley dari Bowling Green State University. Buku tersebut cukup sukses dan banyak dipakai, dari S1 hingga S3; terbukti dari cetakannya yang memasuki edisi ke-11. Meski telah memasuki edisi ke-11, ringkasan ini saya buat berdasarkan edisi ke-7 karena strukturnya lebih runtut dan mudah dipahami.

Berpikir kritis, menurut definisi buku tersebut, adalah mengacu pada tiga dimensi seperti pada gambar di bawah ini. Ketiganya harus terpenuhi, dan untuk memenuhinya "menanyakan pertanyaan yang tepat" adalah kuncinya.


Manfaat Berpikir Kritis
Berpikir kritis bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan menulis dan berbicara karena akan menuntun anda ketika:
  1. Bereaksi kritis atas tulisan, baik di buku, website, jurnal maupun makalah.
  2. Menilai kualitas dari sebuah pemaparan (kuliah, presentasi, dll)
  3. Membentuk argumen
  4. Membuat essai
  5. Berpartisipasi pada diskusi (kelas, dll)

Prinsip Berpikir Kritis

Prinsip yang dimaksudkan disini adalah nilai, standar acuan. Lebih lengkapnya:
Values are unstated ideas that people see as worthwhile.
They provide standards of conduct by which we measure the quality of human behavior.
Dari definisi diatas, maka prinsip-prinsip berpikir kritis adalah sebagai berikut:
  1. Merdeka. Pemikiran anda tidak dikekang oleh siapapun dan apapun.
  2. Keingintahuan. Untuk 'mendulang emas' dalam hidup, anda harus mendengar dan membaca.
  3. Legowo. Bisa menerima perbedaan dan mengakui jika tidak tahu.
  4. Respek. Menghormati (pendapat) orang lain.

The right questions: Pertanyaan yang tepat

Menanyakan pertanyaan yang tepat adalah isi bab-bab dalam buku ini. Berikut adalah pertanyaan yang seharusnya mampu dijawab dan ditanyakan pada saat yang tepat oleh seorang pemikir kritis.

Saturday, November 16, 2019

Menjadi Logis [5]: Prinsip-prinsip Pemikiran Tidak Logis

Ini adalah ringkasan bab terakhir buku "Being Logical". Bab ke-5 ini berisi prinsip-prinsip pemikiran tidak logis. Ringkasan bab sebelumnya bisa dibaca di sini.

Penalaran yang tidak masuk akal (mis-reasoning), disebut kekeliruan (fallacy), dibagi menjadi dua:
  1. Kekeliruan formal: berkaitan dengan bentuk atau struktur dari argumen.
  2. Kekeliruan informal: selain kekeliruan formal.
Beberapa prinsip yang menyebabkan terjadinya kekeliruan logika adalah sebagai berikut.

1. Menolak anteseden
Prinsip yang digunakan seperti ini.
A ==> B
-A,
Maka, -B

Ini adalah kesimpulan yang salah. Contoh:
Jika Bagus berlari, maka Bagus berpindah tempat.
Bagus tidak berlari.
Maka,  Bagus tidak berpindah tempat.

Tentu saja kesimpulan tersebut salah. Bagus bisa berpindah tempat dengan selain berlari, misalnya dengan berjalan.

2. Menyetujui konsekuensi
Prinsipnya seperti ini,

A ==> B
B,
Maka, A.

Ini juga salah. Contohnya.
Jika Bagus berlari, maka Bagus berpindah tempat.
Bagus berpindah tempat.
Maka, Bagus berlari.

Kesimpulan yang salah, karena untuk berpindah tempat tidak harus berlari.

3. Nilai tengah yang tidak terdistribusi
Dalam silogisme, kesimpulan selalu universal (terdistribusi) bila syarat-syaratnya terpenuhi, salah satunya: pernyataan tengah (premis yang tidak muncul pada kesimpulan) harus universal. Jika syaratnya tidak terpenuhi. Contohnya sebagai berikut:

Beberapa anggota klub motor adalah adalah mahasiswa.
Bagus adalah anggota klub motor.
Maka, Bagus adalah mahasiswa.

4. Equivocation
Kata ekuivokal adalah kata yang memiliki arti lebih dari satu (homonim).
Bagus suka tahu.
Banyak tahu itu tidak baik.
Maka, Bagus tidak baik.

Kesimpulan yang salah, karena yang dimaksud tahu pada premis mayor adalah makanan.

5. Mengulang pertanyaan
A: Apakan pinus itu?
B: Pohon yang memiliki biji pinus.
A: Apakah biji pinus itu?
B: Biji yang ada di pohon pinus

6. Asumsi yang salah

Monday, November 11, 2019

Menjadi Logis [4]: Sumber pemikiran tidak logis

Ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya, sebuah ringkasan dari buku "Being Logical", Bab ke-4: the source of illogical thinking.

Kesalahan dalam penalaran bisa karena ketidaksengajaan (kecelakaan), atau akibat dari ketidakhatian. Beberapa perilaku dan pandangan berikut perlu dihindari karena bisa mengakibatkan pemikiran yang tidak logis.

1. Skeptis
Sikap skeptis (meragukan) perlu, namun selalu skeptis akan menuntun pada kekeliruan. Contoh skeptis yang diperlukan: Jika datanya meragukan, kita boleh meragukan kesimpulannya. Namun jika kita selalu meragukan argumen orang lain (misal yang tidak kita sukai), akan menjadikan hal tersebut non-logis.

2. Agnostik evasif
Agnostik tidak hanya dalam beragama, tetapi juga dalam berpikir. Orang yang atheis secara tegas tidak mengakui adanya tuhan. Orang agnostik "tidak tahu", apakah tuhan itu ada atau tidak (Setelah mereka meninggal mereka baru tahu, namun itu (menurut saya) sudah telat). Pemikiran yang agnostik mengelak adanya tuhan, namun juga menampik ketidakadaan tuhan, mereka hanya "mengabaikan" sebagai sesuatu yang benar. Bentuk pengabaian ini merupakan akibat kemalasan (untuk mencari tahu).

3. Sinis dan optimis naif
Sikap sinis adalah memberikan penilaian negatif tanpa bukti yang cukup. Sikap naif optimis sebaliknya memberikan penilaian positif tanpa bukti yang cukup. Keduanya tidak logis dan bentuk dari prasangka (prejudice). Prasangka tidak logis karena memberikan kesimpulan sebelum fakta/bukti/premisnya kuat.

Thursday, October 31, 2019

Menjadi Logis [3]: Argumen: Bahasa Logika [2]

Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya: Menjadi Logis [3]: Argumen: Bahasa Logika [1]. Karena isi dari Bab 3 buku "Being Logical" cukup panjang, saya pecah ringkasannya menjadi dua artikel, agar mudah dibaca dan dipahami.

Saya mulai penomoran itemnya dari 11, melanjutkan tulisan sebelumnya 1-10.

11. Kebenaran Premis
Dalam argumen silogisme ada kesesuaian antara konten dan struktur. Konten akan benar jika premisnya benar. Jika premisnya salah, maka secara konsisten kesimpulannya menjadi salah. Contohnya adalah berikut.

Setiap anjing memiliki tiga kepala.
Corolla adalah anjing.
Corolla memiliki tiga kepala.

Meski secara struktur benar, namun karena premisnya salah, kesimpulannya menjadi salah. Dapat dikatakan, jika inputnya sampah, maka outputnya juga sampah (garbage in, garbage out).

12. Relevansi Premis
Meski premis harus benar, namun itu saja tidak cukup. Kebenaran premis harus relevan dan menjangkau kesimpulan. Contohnya adalah berikut.

Pak XXX merupakan purnawirawan jenderal TNI AD.
Beliau sekarang seorang wirausahawan yang sukses.
Karenanya, beliau seharusnya terpilih menjadi presiden.

Pada pernyataan diatas, premisnya benar (kalimat satu dan dua), namun kurang relevan dengan kesimpulan yang diambil (kalimat 3). Bandingkan dengan argumen berikut.

Pak YYY adalah wirausahawan sukses.
Beliau terpilih menjadi walikota ZZZ dan gubernur AAA selama dua periode.
Melihat kecakapannya memimpin kota dan provinsi, maka beliau layak menjadi presiden.

Argumen kedua ini lebih logis karena ada relevansi antara premis dan kesimpulan.

13. Pernyataan Fakta, Pernyataan Nilai
Pernyataan bisa berupa fakta atau berupa nilai. Contohnya berikut,

Musisi adalah mereka yang piawai memainkan alat musik.
Bagus adalah musisi.
Kesimpulan: Bagus piawai memainkan alat musik.

Bandingkan dengan pernyataan berupa nilai berikut.

Musisi adalah manusia yang sangat unggul.
Bagus adalah musisi.
Kesimpulan: Bagus adalah manusia yang sangat unggul.

Kata unggul sebagai nilai pada argumen di atas samar (vague). Premis dengan pernyataan nilai tidak bisa digunakan secara presisi seperti pernyataan nilai. Untuk mengetes validitas pernyataan nilai, premis tersebut diuji dengan fakta lainnya yang ada, bila cocok maka bisa diterima.

Tuesday, October 29, 2019

Menjadi Logis [3]: Argumen: Bahasa Logika [1]

Tulisan berikut merupakan review Bab ke-3 buku "Being Logical". Review dari bab sebelumnya ada di sini dan di sini. Bab 3 berisi tentang argumen: bahasa logika. Ekspresi konkrit dari penalaran logika adalah argumen. Untuk membuat argumen yang kuat dan efektif, beberapa hal-hal berikut perlu diperhatikan.

1. Membangun Argumen
Perpindahan ke satu ide dari ide yang lain yang telah diketahui kebenarannya, dan menjadikan ide kedua menjadi benar, merupakan inti argumen. Argumen terdiri atas pernyataan-pernyataan, dan pernyataan-pernyataan itulah yang menyampaikan ide dimana perpindahan inferensial (bersifat dapat disimpulkan) terkonsentrasi.

Argumen tersusun atas dua: pernyataan premis dan pernyataan simpulan. Premis adalah pernyataan pendukung. Pernyataan ini merupakan awal argumen dimana kebenaran pernyataan tersebut sudah diketahui. Simpulan adalah pernyataan yang didukung. Premis bisa bermacam-macam, namun simpulan yang baik seharusnya hanya berisi satu hal. Contoh argumen sederhana yang terdiri atas satu pernyataan premis dan satu simpulan.
Karena tidak cocok dengan kepala kantor cabang di Surabaya, Pak Budi dipindahkan ke kantor cabang di Bandung.
Kalimat pertama merupakan premis; alasan, yang dianggap benar. Kalimat kedua adalah simpulan yang menjadi benar karena premisnya benar. Premis adalah dasar dari argumen, dan cakupannya harus bisa mampu menjangkau apa yang disimpulkan.

2. Perpindahan dari universal ke partikular
Perpindahan dari pernyataan universal bisa dilakukan ke pernyataan partikular. Perhatikan contoh berikut.
(i) Semua anjing adalah karnivora. (ii) Beberapa anjing adalah karnivora. 
Karena pernyataan universal (i) adalah benar, maka pernyataan partikular (ii) juga benar. Logika dari prinsip ini cukup sederhana, jika semua anggota dari satu kelas adalah benar, maka sebagiannya juga benar.

3. Perpindahan dari partikular ke universal
Berbeda dengan kaidah sebelumnya, kita tidak bisa secara asa menggeneralisasi dari pernyataan partikular ke pernyataan universal. Perhatikan contoh berikut.
(i) Beberapa wanita adalah ibu. (ii) Semua wanita adalah ibu. 
Pernyataan partikular (i) tentu saja benar, namun tidak dengan pernyataan universal (ii). Untuk berpindah dari pernyataan partikular ke universal dibutuhkan premis yang kuat dan runtut. Perhatikan contoh berikut.
Setiap orang China yang saya temui di sana bermata sipit. Penduduk Lanzhou 99% bermata sipit berdasarkan data sensus tahun 2010. Di beberapa propinsi lain, persentase penduduk bermata sipit juga mendekati 100%. Bisa disimpulkan, sebelum terjadinya perkawinan antar ras, semua penduduk China bermata sipit.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...