Friday, October 16, 2026

Hidup, Umur dan Pencapaian

 NB: Tulisan ini murni ditulis oleh manusia, tanpa campur tangan AI, jadi, bisa salah.

Pagi ini dalam perjalanan ke kantor, saya merenung: Hidup kita dibatasi oleh umur. Tidak ada manusia yang bisa hidup selamanya. Tidak ada. Pun obat dan riset untuk melemahkan penuaan dilakukan sedemikian rupa, tidak akan ada yang bisa menghadang umur manusia. Diberikan kondisi tersebut, bahwa hidup dibatas oleh umur, apa yang bisa kita lakukan?

Yang jelas terpikir adalah upaya memaksimalkan sisa umur. Bagaimana? Untuk apa?  
Tidak mungkin kita melakukan semua hal yang kita sukai. Waktu akan memakan umur. Umur akan habis.  Tidak bisa juga kita hanya berusaha setengah hati, mubadzir waktu kita di dunia.

Yang bisa dilakukan adalah memilah dan memilih. Memilah mana yang bermanfaat, dan mana yang tidak bermanfaat. Kemudian, diantara yang bermanfaat tersebut, pilih mana yang sekiranya membuahkan hasil yang maksimal diantara pilihan-pilihan yang lain, dengan ilmu. Taruhlah anda sudah memetakan area mana anda bekerja. Di dalam area tersebut, anda tidak bisa mengerjakan semua hal, meski anda suka. Ketahui kelebihan dan keahlian anda, dan fokus pada bidang/tema tertentu. Tema tertentu tesebut adalah bidang (sub-topik) dimana anda akan mendapatkan hasil yang lebih banyak daripada topik yang lain, berdasarkan ilmu (pengetahuan anda, supply) dan kebutuhan (demand).

Contohnya adalah hal berikut. Saya memilih menjadi dosen (di antara pilihan pekerjaan: peneliti, engineer, karyawan, atau wirausahawan), karena (saat ini) saya mengukur bahwa pekerjaan ini yang bisa memberikan hasil maksimal pada saya daripada pekerjaaan lain. Alasannya adalah karena saya suka menulis makalah dan dosen dinilai dari (kuantitas dan kualitas) publikasinya. Saya juga suka riset. Menjadi dosen akan mengurangi waktu riset saya daripada menjadi peneliti (baik di pemerintah maupun swasta). Saya sudah mengukurnya. Sebagai seorang dosen, saya memilih bidang utama pengolah sinyal wicara (speech processing) diantara bidang-bidang lainnya karena saya mengukur di bidang ini saya akan lebih maksimal (publikasinya). Di bidang pengolahan sinyal wicara, saya memilih sub-topik aplikasi pengolahan sinyal wicara, misalnya untuk belajar bahasa, untuk mengenali emosi, atau untuk mendeteksi apakah suara itu asli atau buatan AI. Saya tidak memilih bidang utama pengenalan suara (Automatic speech recognition) atau foundational model karena saya mengukur tidak akan mampu melampaui grup riset lain jika mengambil sub-topik tersebut sebagai tema utama. Sub topik itu membutuhkan biaya komputasi yang mahal dan data yang besar. Sampai saat ini saya mengukur seperti itu, menggunakan teknologi yang dihasilkan institusi riset besar (foundational model dari Google, Meta, dll) untuk menyelesaikan persoalan yang ada akan lebih berdampak. Topik yang saya pilih membutuhkan komputasi ringan yang masih bisa dijalankan dengan 1-4 GPU. Dengan memilih sub-topik ini saya mengukur pencapaian saya nantinya akan lebih tinggi daripada saya memilih sub-topik lain.

Tapi hidup juga dinamis, mungkin ada suatu ketika, bidang yang kita geluti stagnan. Ukur lagi pertimbangkan lagi. Bidang lain bisa saja nanti akan lebih maksimal ketika kita terjun di bidang itu. Kuasai keahlian tertentu, tapi jangan batasi aplikasi keahlian itu bidang satu bidang tanpa membuka mata pada bidang lain. Pelajari keahlian lain jika kita merasa keahlian itu dibutuhkan. Tidak ada kata berhenti untuk belajar. 頑張って!!!

Merawat mimpi

Dalam mengarungi hidup, menjalani kehidupan sekarang, mimpi harus tetap dirawat. Mimpi itu, sekarang masih sebatas mimpi, jika terwujud, akan memberikan pencapaian yang lebih tinggi daripada keadaan saat ini. Persiapkan untuk meraih mimpi, begitu ada kesempatan, wujudkan. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan dengan matang, sesuai keadaan dan keahlian sekarang. Jika tidak terwujud, kita masih punya keadaan sekarang yang bisa maksimalkan untuk kehidupan esok, baik di dunia atau di akhirat. Pilihlah mimpi yang sesuai dengan pencapaian yang sedang kita wujudkan. Ibarat kita sedang membangun rumah, mimpinya adalah membangun lantai 5, sedang pencapaian idealnya untuk kondisi sekarang adalah lantai tiga. Pencapain ideal sebisa mungkin harus tercapai, tapi mimpi bisa jadi tidak terwujud. Mimpinya adalah membuat perusaan AI, sedangkan dia sekarang adalah dosen di bidang AI. Ketika mimpi tidak terwujud, setidaknya kita berani bermimpi dan merawat mimpi itu. Dengan rencana cadangan (pencapaian ideal).