Showing posts with label prinsip hidup. Show all posts
Showing posts with label prinsip hidup. Show all posts

Friday, October 16, 2026

Hidup, Umur dan Pencapaian

 NB: Tulisan ini murni ditulis oleh manusia, tanpa campur tangan AI, jadi, bisa salah.

Pagi ini dalam perjalanan ke kantor, saya merenung: Hidup kita dibatasi oleh umur. Tidak ada manusia yang bisa hidup selamanya. Tidak ada. Pun obat dan riset untuk melemahkan penuaan dilakukan sedemikian rupa, tidak akan ada yang bisa menghadang umur manusia. Diberikan kondisi tersebut, bahwa hidup dibatasi oleh umur, apa yang bisa kita lakukan?

Yang jelas terpikir adalah upaya memaksimalkan sisa umur. Bagaimana? Untuk apa?  
Tidak mungkin kita melakukan semua hal yang kita sukai. Tidak akan cukup waktu. Waktu akan memakan umur. Umur akan habis.  Tidak bisa juga kita hanya berusaha setengah hati, mubadzir waktu kita di dunia.

Yang bisa dilakukan adalah memilah dan memilih. Memilah mana yang bermanfaat, dan mana yang tidak bermanfaat. Kemudian, diantara yang bermanfaat tersebut, pilih mana yang sekiranya membuahkan hasil yang maksimal diantara pilihan-pilihan yang lain, dengan ilmu. Taruhlah anda sudah memetakan area mana anda bekerja. Di dalam area tersebut, anda tidak bisa mengerjakan semua hal, meski anda suka. Ketahui kelebihan dan keahlian anda, dan fokus pada bidang/tema tertentu. Tema tertentu tesebut adalah bidang (sub-topik) dimana anda akan mendapatkan hasil yang lebih banyak daripada topik yang lain, berdasarkan ilmu (pengetahuan anda, supply) dan kebutuhan (demand).

Contohnya adalah hal berikut. Saya memilih menjadi dosen (di antara pilihan pekerjaan: peneliti, engineer, karyawan, atau wirausahawan), karena (saat ini) saya mengukur bahwa pekerjaan ini yang bisa memberikan hasil maksimal pada saya daripada pekerjaaan lain. Alasannya adalah karena saya suka menulis makalah dan dosen dinilai dari (kuantitas dan kualitas) publikasinya. Saya juga suka riset. Menjadi dosen akan mengurangi waktu riset saya daripada menjadi peneliti (baik di pemerintah maupun swasta, karena pekerjaan administrasi, dll). Saya sudah mengukurnya. Sebagai seorang dosen, saya memilih bidang utama pengolah sinyal wicara (speech processing) diantara bidang-bidang lainnya karena saya mengukur di bidang ini saya akan lebih maksimal (publikasinya). Di bidang pengolahan sinyal wicara, saya memilih sub-topik aplikasi pengolahan sinyal wicara, misalnya untuk belajar bahasa, untuk mengenali emosi, atau untuk mendeteksi apakah suara itu asli atau buatan AI. Saya tidak memilih bidang utama pengenalan suara (Automatic speech recognition) atau foundational model karena saya mengukur tidak akan mampu melampaui grup riset lain jika mengambil sub-topik tersebut sebagai tema utama. Sub topik itu membutuhkan biaya komputasi yang mahal dan data yang besar. Sampai saat ini saya mengukur seperti itu, menggunakan teknologi yang dihasilkan institusi riset besar (foundational model dari Google, Meta, dll) untuk menyelesaikan persoalan yang ada akan lebih berdampak. Topik yang saya pilih pun membutuhkan komputasi ringan yang masih bisa dijalankan dengan 1-4 GPU. Dengan memilih sub-topik ini saya mengukur pencapaian saya nantinya akan lebih tinggi daripada saya memilih sub-topik lain.

Tapi hidup juga dinamis, mungkin ada suatu ketika, bidang yang kita geluti stagnan. Ukur lagi pertimbangkan lagi. Bidang lain bisa saja nanti akan lebih maksimal ketika kita terjun di bidang itu. Kuasai keahlian tertentu, tapi jangan batasi aplikasi keahlian itu bidang satu bidang tanpa membuka mata pada bidang lain. Pelajari keahlian lain jika kita merasa keahlian itu dibutuhkan. Tidak ada kata berhenti untuk belajar. 頑張って!!!

Merawat mimpi

Dalam mengarungi hidup, menjalani kehidupan sekarang, mimpi harus tetap dirawat. Mimpi itu, sekarang masih sebatas mimpi, jika terwujud, akan memberikan pencapaian yang lebih tinggi daripada keadaan saat ini. Persiapkan untuk meraih mimpi, begitu ada kesempatan, wujudkan. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mempersiapkan dengan matang, sesuai keadaan dan keahlian sekarang. Jika tidak terwujud, kita masih punya keadaan sekarang yang bisa maksimalkan untuk kehidupan esok, baik di dunia atau di akhirat. Pilihlah mimpi yang sesuai dengan pencapaian yang sedang kita wujudkan. Ibarat kita sedang membangun rumah, mimpinya adalah membangun lantai 5, sedang pencapaian idealnya untuk kondisi sekarang adalah lantai tiga. Pencapain ideal sebisa mungkin harus tercapai, tapi mimpi bisa jadi tidak terwujud. Mimpinya adalah membuat perusaan AI, sedangkan dia sekarang adalah dosen di bidang AI. Ketika mimpi tidak terwujud, setidaknya kita berani bermimpi dan merawat mimpi itu. Dengan rencana cadangan (pencapaian ideal).

Friday, November 21, 2025

Kriteria memilih pekerjaan

Dari diskusi dengan seorang teman, dia memiliki tiga kriteria untuk memilih pekerjaan. Ketiga kriteria tersebut adalah:

  1. Make sense
  2. Make money
  3. You love it!

Pertama, pekerjaan kita haruslah masuk akal, logis. Artinya pekerjaan kita itu dibutuhkan dan kita benar-benar bekerja. Adakah pekerjaan yang tidak masuk akal? Ada, contohnya influencer abal-abal, youtuber sembarangan. Apa urgensinya pekerjaan itu?

Kriteria kedua pekerjaan kita haruslah menghasilkan uang (yang cukup). Adakah pekerjaan yang tidak menghasilkan uang? Ada, semua yang berlabel "pro bono" tidak menghasilkan uang karena pekerjaan tersebut adalah voluntary.

Ketiga adalah anda menyukainya. Ada peribahasa "If you are not doing what you love, you are wasting your time". Pepatah ini benar adanya. Jika anda tidak menyukai pekerjaan anda sekarang, anda harus secepatnya mencari pekerjaan baru.

Bagaimana dengan kriteria lain seperti "halal"? Otomatis, tidak mungkin (contohnya sebagai seorang muslim) anda menyukai pekerjaan yang tidak halal meskipun itu menghasilkan banyak uang.

Kriteria memilih perkerjaan menurut Anis Baswedan:  

Menurut Anis Baswedan, ada tiga kriteria memilih pekerjaan:  
  1. Intellectually growth
  2. Financially strong
  3. Socially impactful

Tuesday, June 24, 2025

Kriteria baru untuk Googling

Dulu, sebelum hari ini, saya punya kriteria untuk Googling: apakah ada manfaatnya? kalay iya, saya lanjut googling, kalau tidak, saya hentikan. Kini kriteria itu saya ubah, saya perketat. Ini kriteria baru tersebut.

Apakah saya bisa jadi faham setelah googling?

Begini bedanya, kalau manfaat bisa jadi relatif. Misalnya saya googling "Agama si A", "Amalan si B", "Pendidikan si C". Apakah ada manfaatnya? Ada semua. Manfaatnya, jadi tidak tahu menjadi tahu. Lalu so, what? Setelah tahu, apakah bisa dapat pahala? bisa iya, bisa tidak, tergantung pengetahuan tentang apa. lalu apa bedanya dengan faham??

Bedakan dengan googling berikut: 

"apa bedanya sistem hepburn dan sistem kunrei?", 

"bagaimana mencegah radang tenggorokan?", 

"berapa jumlah langkah minimal perhari yang disarankan WHO?". 

Kriteria terakhir, apakah saya bisa paham setelah googling, pasti bermanfaat. Jadi menjadi paham pasti bermanfaat, tapi sekedar bermanfaat belum tentu paham (misalnya hanya tahu saja). Apakah mendapat pahala? bisa jadi iya bisa jadi tidak, terkadung paham tentang apa. Tapi setidaknya, potensi untuk  mendapatkan pahala lebih besar, karena paham tadi (misalnya paham mana yang boleh dan mana yang tidak boleh).

Wallahu a'lam bisshowab.

Monday, June 23, 2025

BFG yang tertunda

Tahun ini saya rencananya pulang ke Indonesia selamanya, Back for Good, alias BFG. Qodarullah, beberapa bulan sebelum saya pulang (sekitar 7 bulan), saya mendapat kabar kalau saya diberhentikan (dengan hormat) dari PNS. Dalam kurun waktu tujuh bulan tersebut, saya harus bisa mencari pekerjaan baru karena kontrak pekerjaan lama akan berakhir pada Maret 2025 (saya menyetujui kontrak kerja sampai kurun tersebut karena setelahnya saya berencana BFG). Di Jepang, umumnya orang mencari pekerjaan dalam kurun waktu 1-2 tahun sebelum mulai bekerja. Seperti mahasiswa saya sekarang, baru masuk S2 sudah mulai mencari pekerjaan. Padahal lulusnya masih dua tahun lagi.

    Alhamdulillah, kurang lebih empat bulan sebelum kontrak pekerjaan lama selesai, saya mendapat kepastian tentang diterimanya aplikasi saya untuk menjadi seorang asisten profesor di sebuah kampus negeri di Jepang. Inilah hikmah saya diberhentikan dari PNS. Agar bisa menjadi seorang asisten profesor di Jepang. Saya teringat kata-kata seseorang beberapa tahun lalu ketika dia menolak saya: urip iki manut miline banyu mawon. Saya juga teringat kata-kata seorang profesor di universitas terkemuka di Jepang saat beliau menolak aplikasi S3 saya: I am hoping for your fruitful stay in Japan. Inilah hidup. Boleh jadi sesuatu tidak kamu sukai, padahal ada baiknya bagi kamu. Dan, boleh jadi kamu suka sesuatu, padahal dia itu tidak baik bagi kamu. Dan, Allah mengetahui, sedang kamu tidaklah tahu (2:216). Bisa jadi, dari sesuatu yang tidak kamu sukai keluar sesuatu yang spesial.

    Seperti halnya saya memaknai bahwa kekalahan adalah kemenangan yang tertunda, saya memaknai gagalnya BFG tahun ini sebagai BFG yang tertunda.

Friday, October 27, 2023

Kapan mendengarkan apa kata orang (dan kapan tidak)

tl;dr: Kadang kita seharusnya mendengarkan kata orang, kadang kita seharusnya tidak mendengarkan kata orang

Kapan seharusnya tidak mendengarkan kata orang

Ada dua kisah diantara banyak kisah. Kisahnya Abu Thalib dan seorang yang menaiki keledainya bersama ayahnya. Abu Thalib ingin mengikuti agama nabi Muhammad diakhir hayatnya namun tidak jadi karena mendengarkan apa kata orang. 

Menjelang wafatnya, Nabi mengajak kembali pamannya Abu Thalib untuk bersyahadat, namun Abu Thalib menjawab, "Seandainya kaum Quraisy tidak mencelaku dengan berkata, 'Tidak ada yang mendorongnya mengucapkannya kecuali karena kesedihannya menghadapi maut,' niscaya aku mengucapkannya untukmu." 

Dari sini terlihat bahwa Abu Thalib lebih memilih apa kata orang daripada mengikuti ajakan nabi Muhammad. Abu Thalib tidak ingin dianggap oleh kaum Quraisy bahwa dirinya takut menghadapi kematian sehingga mengubah agamanya.

Cerita kedua adalah kisah masyhur tentang anak, bapak, dan keledai mereka. Suatu hari ada anak dan bapak yang akan melakukan perjalanan. Mereka adalah  2 orang yang tanggung. Si anak belum dewasa, ia masih remaja yang beranjak. Sedangkan si bapak adalah seorang yang sudah tidak muda lagi, namun belum terlalu tua. Mereka melakukan perjalanan menuju pasar menggunakan keledai tua, namun tubuhnya masih kuat. Hanya saja memang tubuh keledai umumnya berukuran kecil. 

Berangkatlah mereka. Si bapak menunggangi kuda, sedangkan anaknya jalan kaki. Di kampung pertama, mereka disoraki oleh wanita. "Kok, kamu yang naik, sedangkan anakmu yang kecil itu kelelahan berjalan dibelakang?" 

Mendengar itu si Bapak pun turun dari keledai dan menyuruh anaknya  untuk naik keledai. Kemudian tak berapa lama, mereka melewati segerombolan orang tua sedang duduk dibawah pohon. Mereka berkata "Mengapa kamu berjalan kaki, kamu kan sudah tua, sedangkan anakmu yang masih muda. Harusnya anakmulah yang jalan, dan engkaulah yang menunggangi kuda? Si anak pun kemudian turun.

Kemudian di desa lain mereka pun mendapat komentar lagi dari seorang pria berbadan tegap yang terluhat gagah. "Kok cuma satu orang yang naik keledai, kenapa enggak berdua ?". Mendengar itu merekapun menaiki keledai itu bersama-sama. Dua orang naik seekor keledai.

Mereka melintai kampung berikutnya. Tetapi, ditengah perjalanan, mereka melewati sekelompok orang pecinta binatang. Melihat pemandangan itu, para pecinta binatang ini berkomentar "Kasihanilah binatang yang kurus kering itu. Kalian berdua menungganginya, padahal kalian lebih berat dari pada keledai ini."

Mendengar itu, bapak dan anak ini lantas turun dari keledai. "Kalau begitu, mari kita berjalan bersama-sama dan kita biarkan keledai ini berjalan di hadapan kita." Kata si Bapak.

Tak habis sampai disitu mereka masih mendapat komentar lagi. Mereka bertemu orang yang sedang mabuk dan berkata.  "Yang pantas itu keledai yang menaiki kalian berdua, sehingga kalian dapat membuatnya terhindar dari kendala-kendala di jalan". Sang bapak yang terpengaruh omongan pun lansgung mengendong si keledai.

Namun di depan, mereka lagi lagi ditertawakan oleh orang-orang asbab pemandangan aneh itu. Kemudian si bapak  berhenti dan menoleh kepada anaknya sambil berkata, "Wahai anakku, jika mendengar dan mengikuti semua omongan manusia. Tidak akan ada habis - habisnya." Dan mereka berdua pun tertawa. [1]

Dari kisah ini kita mendapat pelajaran bahwa tidak perlu mendengarkan kata orang, selama apa yang kita lakukan itu baik.

Kapan seharusnya mendengarkan apa kata orang

Ada dua kisah juga. Kisah pertama saat sahabat menawarkan untuk membunuh munafiq di Madinah dan Nabi tidak mengiyakannya karena takut apa kata orang. Kedua, kisah saat nabi berjalan berdua bersama istrinya di malam hari dan sahabat menghindar.

Kisah pertama adalah seperti ini.

Setelah Rasulullah selesai menghadapi perang dengan Banu Mustaliq, ada dua orang dari kalangan Muslimin yang bertengkar memperebutkan mata air; yang seorang dari kalangan Muhajirin dan yang seorang lagi dari Anshar. Mereka yang dari Muhajirin berteriak: “Saudara-saudara Muhajirin!” Dibalas oleh Anshar: “Saudara-saudara Anshar!” Pada waktu itulah Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum munafik di Madinah berkata kepada orang-orang di sekitarnya: "Di kota kita ini sudah banyak kaum Muhajirin. Penggabungan kita dengan mereka akan seperti kata peribahasa: 'Seperti membesarkan anak harimau.' Sungguh, kalau kita sudah kembali ke Madinah, orang yang berkuasa akan mengusir orang yang lebih hina."  

Muhammad Husain Haekal dalam "Umar bin Khattab" menceritakan bahwa kata-kata Abdullah bin Ubai itu oleh sahabat disampaikan kepada Rasulullah, yang ketika itu ada Sayidina Umar bin Khattab. Umar naik pitam mendengar laporan itu dan katanya: “Rasulullah, perintahkan kepada Abbad bin Bisyir supaya membunuhnya.” Tetapi Rasulullah menjawab: “Umar, bagaimana kalau sampai menjadi pembicaraan orang, bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya sendiri. Lalu ia meminta diumumkan supaya kaum Muslimin segera berangkat pada waktu yang tidak biasa mereka lakukan.” [2]

Jadi nabi tidak membunuh Ubay bin Salul karena takut apa kata orang.

Kisah terakhir adalah ketika Nabi berjalan bersama istrinya pada malam hari yang gelap.  Hadistnya sebagai berikut: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah beriktikaf di masjid, lantas aku (shafiyah) mengunjungi beliau pada malam hari lalu berbincang-bincang dengan beliau, lalu aku berdiri. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengantarkanku pulang ke rumah.” 

Rumah Shafiyyah Ketika itu di rumah Usamah bin Yazid. Ketika mengantarkan pulang, lewatlah dua orang Anshar di jalan. Dua orang Anshar itu memandang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan penuh curiga), kemudian mereka bergegas melewati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Tak perlu curiga seperti itu, ini adalah istriku Shafiyyah binti Huyay.” Mereka berdua pun mengatakan, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia melalui pembuluh darahnya. Aku benar-benar khawatir ada sesuatu prasangka jelek yang ada dalam diri kalian berdua" [3].

Dari cerita di atas, filter sederhana untuk kapan mendengarkan apa kata orang adalah dengan melihat dampak/akibat yang kita terima dari mendengarkan atau tidak mendengarkan kata orang tersebut. Jika terjadi dampak besar (fitnah, masuk neraka, dll) maka kita perlu mengambil mana yang bisa menghindari dampak buruk tersebut. Misal dalam kasus Abu Thalib dan kisah bapak, anak, dan keledai, sudah seharusnya mereka tidak mendengarkan apa kata orang. Sebaliknya, bila dampaknya besar, kita mungkin perlu mendengar apa kata orang.

Referensi:

[1] https://www.kisahweb.com/2021/03/ini-5-hikmah-dari-cerita-kisah-bapak.html

[2] https://kalam.sindonews.com/read/67896/70/tatkala-umar-marah-dan-berniat-membunuh-dedengkot-munafik-ibnu-ubay-1591963573?showpage=all

[3] https://rumaysho.com/25497-40-kiat-agar-tidak-diganggu-setan-lakukanlah-amalan-amalan-ini.html

Wednesday, September 22, 2021

Lebih baik mengundurkan diri daripada menginstall WA

Seorang teman berseloroh: dia lebih memilih untuk dipecat/mengundurkan diri dari pekerjaannya daripada diminta menginstall whatsapp (WA). Dan dia melakukannya. Dia mengundurkan dari posisi dosen PTN di wilayah barat Indonesia. Saya sependapat dengannya. 

Hidup ini pilihan, dan kadang tidak ada pilihan yang salah (dan selebihnya ada, salah memilih). Menjadi dosen itu pilihan baik, pekerjaan lain juga pilihan baik. Teman saya yang mundur gara-gara WA tadi juga tidak salah karena itu pilihannya. Pihak kampus yang memaksa teman saya menginstall WA tadi juga tidak salah karena itu wewenangnya. 

Ketika sudah bekerja kita harus mematuhi peraturan pekerjaan. Jika tidak bisa maka kita harus mundur, itulah konsekuensinya. Mundur juga bukan perbuatan tercela. Hal ini akan berbeda ketika kita bisa merubah kebijakan atau peraturan itu. 

Wallahua'lam bi showab.

Tulisan terkait:

Wednesday, September 08, 2021

Etika Komunikasi Mahasiswa Terhadap Dosen

Berdasarkan Peraturan Rektor ITS No 15 Tahun 2019, berikut adalah tangkapan layar "Etika Mahasiswa Terhadap Dosen" yang diambil dari sumber aslinya [1].

Dalam artikel ini, saya ingin menggaris bawahi etika komunikasi mahasiswa terhadap dosen seperti tercantum pada poin C. Satu kata untuk menggambarkan etika mahasiswa terhadap dosen adalah "santun".

Arti santun menurut KBBI

san.tun:

  1. (adjektiva) halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan
  2. (adjektiva) penuh rasa belas kasihan; suka menolong

Arti santun menurut saya

Santun menurut saya harus mencakup setidaknya tiga hal berikut:

  1. Menggunakan jalur dan bahasa resmi.
  2. Jalur resmi: Telfon, email kampus, dan SMS (bukan WA, facebook)
    Bahasa resmi: Bahasa Indonesia (bukan jawa, Inggris)
  3. Mengkonfirmasi segala percakapan dan instruksi
  4. Contoh:
    Dosen: Gunakan metode A dan laporkan hasilnya minggu depan senin 30 Agustus 2021
    Mahasiswa: Baik Bapak, saya akan melakukan metode A dan melaporkan hasilnya senin 30 Agustus 2021
  5. Memperhatikan waktu komunikasi, termasuk segera membalasnya jika butuh balasan
  6. Butuh balasan ditandakan dengan: kalimat tanya, perintah, permohonan, dll.

Perkecualian untuk kasus-kasus di atas tentunya dengan seizin dosen dan kedua belah pihak. Misalnya dosen telah mengizinkan mahasiswa untuk mengontaknya via (Facebook) messenger atau (Google) chat.

Khusus saya

Cara terbaik mengontak saya adalah dengan email. Waktu tidak masalah bagi saya. Anda bisa mengirim email ke saya kapan saja. Orang terbaik menurut saya adalah orang yang paling cepat membalas email.

Penutup

Panduan ini tidak hanya berlaku untuk mahasiswa-dosen, bisa diaplikasikan pada kasus lainnya.

Referensi: 

[1] https://www.its.ac.id/ppid/wp-content/uploads/sites/68/2021/02/15.-Peraturan-Rektor-Nomor-15-Tahun-2019-ttg-Kode-Etik-Mahasiswa.pdf

Monday, September 06, 2021

Mengundurkan Diri Itu Bukan Perbuatan Tercela

Saat saya bekerja di pabrik dulu, suatu kali pernah (ibu) sekretaris perusahaan mengundurkan diri. Ceritanya begini. Saat permintaan barang sedang tinggi-tingginya, Pak Direktur (aka sachou) meminta bu sekretaris ikut bekerja di lapangan (genba a.k.a. pabrik). Besoknya si ibu sekretaris langsung minta mengundurkan diri untuk bulan depannya. Alasannya sederhana: dia melamar kerja untuk pekerjaan administrasi, bukan untuk pekerjaan lapangan (genba).

Mirip dengan cerita di atas. Suatu ketika seorang adik kelas melamar  pekerjaan dosen di suatu perguruan tinggi. Setelah diterima, dia komplain karena diminta oleh kepala jurusan (kajur) untuk mengerjakan pekerjaan administrasi. Tak lama kemudian dia mengundurkan diri. Alasannya sederhana: dia melamar pekerjaan dosen, menjadi pengajar dan peneliti, bukan menjadi staf administrasi.

Dalam dua kasus di atas, hampir tidak ada pihak yang salah. Pak direktur mempekerjakan ibu sekretaris karena kekurangan tenaga kerja di lapangan. Di kasus kedua, Pak Kajur juga kekurangan tenaga administrasi (yang terampil) sehingga mempekerjakan dosen untuk pekerjaan administrasi. Dari kedua kasus, baik bu sekretaris maupun teman dosen sama sekali tidak salah. Juga, mereka sulit menolak pekerjaan yang bukan bidangnya karena statusnya sebagai karyawan pada tempat mereka bekerja. Mundur menjadi pilihan terbaik bagi keduanya.

Mundur juga bisa menjadi alasan yang logis ketika tidak setuju dengan suatu hal, misalnya ketika diharuskan untuk menginstall whatsapp (WA) untuk urusan kerja. Sangat tidak logis dan tidak etis menggunakan WA untuk urusan pekerjaan. Seorang teman pernah berujar, hari dimana dia diminta menginstall WA oleh atasannya, hari itu juga dia akan mengundurkan diri. Penggunaan WA dan sejenisnya di kantor saya sekarang ini dilarang, dan bisa fatal akibatnya bila ketahuan menggunakan aplikasi tsb di kantor.

Mengundurkan diri itu bukan perbuatan tercela. Perbuatan tercela itu seperti korupsi. 

Wednesday, February 10, 2021

Menghindari Human Error: Pentingnya Pokayoke

Hari ini saya dirugikan oleh keteledoran saya yang menyebabkan JPY 1500 dan waktu tiga jam terbuang sia-sia. Tidak besar memang, tapi bisa jadi di kemudian hari kerugian yang saya derita akan jauh lebih besar hanya karena human error. Tulisan ini untuk mendokumentasikan peristiwa human error dan langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk mencegahnya.

Implementasi pokayoke untuk menghindari kesalahan pemasangan simcard HP

Dua tipe kesalahan manusia: dua tipe human error

Manusia itu tempatnya salah dan lupa (hadist). Berdasarkan hadist ini, dan sebuah bacaan di buku Minna no Nihongo Chukyuu I, maka ada dua tipe kesalahan, lebih tepatnya human error. Pertama human error karena kesalahan, lebih spesifik karena tidak sadar atau tidak tahu (carelesness), kedua human error karena lupa (absent-mindedness). Untuk mengetahui tipe mana yang lebih dominan, coba jawab pertanyaan di sini, https://brainfall.com/quizzes/how-absent-minded-are-you.

Singkatnya, karena sudah sifat manusia, maka suatu ketika manusia pasti salah. Semua manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Human error pasti terjadi. Sisi positifnya, human error bisa dihindari, atau lebih spesifik bisa diminimalisir. Teknik untuk menghindari atau meminimalisir human error ini, dalam bahasa Jepang, disebut pokayoke.

Pokayoke

Pokayoke (dari kata ぽか避ける) adalah bagian dari manajemen lean (ditemukan oleh Toyota) untuk menghindari human error. Pokayoke mencegah manusia berbuat salah. Karena manusia pasti (pernah) berbuat salah maka harus dibuat langkah untuk menghindari kesalahan itu. Contoh sederhana, ketika anda bekerja yang mengharuskan tangan kanan, maka tangan kiri harus dipekerjakan juga dengan pekerjaan lainnya, agar tidak ikut mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh tangan kanan. Teknik/prosedur ini banyak diterapkan oleh pabrik-pabrik di Jepang.

Contoh lain sebenarnya pernah kita terapkan. Bila anda ikut pramuka maka anda akan diajari periksa kerapian untuk memeriksa kelengkapan atribut yang anda pakai. Cara tersebut merupakan salah satu aplikasi pokayoke, yakni dengan melafalkan (shouting) apa yang di-cek (pokayoke tipe atensi). Cara ini juga banyak dipakai di Jepang. Contohnya adalah para masinis ketika memeriksa prosedur menjalankan kereta api.

Untuk membangun prosedur pokayoke, diperlukan tujuh langkah berikut:

  1. Identifikasi proses
  2. Analisa dimana kesalahan bisa terjadi
  3. Cari pokayoke yang tepat, shutout (menutup/blok kemungkinan terjadinya kesalahan) atau atensi (highlight persiapan/cek)
  4. Mengambil langkah komprehensif, bisa berupa langkah fisik atau bantuan berupa alat.
  5. Menggunakan salah satu, beberapa, atau semua dari kontak (bisa bentuk [shape], ukuran [size], atau atribut fisik), angka konstan, atau urutan metode.
  6. Evaluasi metode yang diusulkan
  7. Latih pada operator, review performansi, dan ukur kesuksesan metode pokayoke tersebut.

Studi kasus: Keliru membawa paspor anak saat mengganti status residensi di kantor Imigrasi Jepang

Masalah human error yang saya alami tadi sepele, saya keliru membawa paspor anak saya alih-alih paspor saya sendiri. Tujuannya saya ingin mengganti status visa (status residen) saya di Jepang dari pelajar ke peneliti. Dokumen yang dibutuhkan ada di sini: aplikasi, foto, paspor, dan resident card. Sederhana, namun ternyata ada kesalahan yang membawa implikasi kerugian uang dan waktu. Berikut teknik pokayoke yang akan saya terapkan:

  1. Proses: kelengkapan dokumen (foto, pasport, residen card, form aplikasi)
  2. Kesalahan bisa terjadi: keliru paspor, form tidak lengkap
  3. Pokayoke: atensi (sebutkan dan cek ulang)
  4. Langkah komprensif: kumpulkan dokumen dalam satu map
  5. Alat bantu: urutan dokumen
  6. Evaluasi: cek dua kali minimal
  7. Review: apakah ada yang kurang atau belum

Sekian. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Pokayoke adalah teknik untuk meminimalisasi salah dan lupa.

Referensi:

  1. https://kanbanize.com/lean-management/improvement/what-is-poka-yoke

Friday, October 30, 2020

10 hal pengubah hidup!



Dalam sebuah pidatonya dalam upacara wisuda University of Texas at Austin pada Mei 17, 2014., admiral William H. McRaven (dari US Navy) menjelaskan 10 pelajaran yang bisa dipetik dari sistem pendidikan Navy Seal. Sepuluh pelajaran tersebut dibukukan dalam karyanya, "Make Your Bed: 10 Life Lessons from a Navy SEAL". Berikut daftar sepuluh hal pengubah hidup tersebut.
  1. Merapikan tempat tidur setelah bangun
  2. Memilih teman (hidup) yang seirama
  3. Menghormati semua orang
  4. Teruslah bergerak, apapun yang terjadi
  5. Jangan takut gagal
  6. Berani mengambil resiko
  7. Jangan mundur
  8. Bersiap untuk yang terburuk
  9. Jangan pernah berhenti berharap, teruslah bernyanyi!
  10. Jangan pernah menyerah

Sepuluh hal itu mungkin sepele. Coba dengarkan video di atas. Sepuluh hal tersebut akan menjadi berbeda, dan bisa saja mengubah hidup kita 180 derajat.

Monday, October 05, 2020

Kemampuan Menjawab Pertanyaan

Salah satu kemampuan penting yang, menurut saya, belum ada metrik/ukurannya (seperti IQ dan EQ) adalah kemampuan menjawab pertanyaan. Kemampuan ini merupakan salah satu dari tiga dimensi berpikir kritis. Sering kita lihat pertanyaan "ya" dan "tidak" yang cukup hanya dijawab dalam hitungan detik dijawab secara bertele-tele bermenit-menit. Tulisan ini membahas apa saja aspek penting untuk meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan.

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh pengalaman saya pribadi. Suatu saat co-supervisor saya menimpali jawaban saya, "Bagus-san, kamu cuma ditanya pertanyaan singkat dan sederhana, tapi kenapa jawabannya panjang dan bertele-tele. Saya melongo. Hah, benar. Ternyata selama ini saya tidak mempunyai kemampuan menjawab pertanyaan dengan baik. Beruntung saya mengambil kuliah "Scientific Discussion" di JAIST. Kuliah tersebut berisi prinsip-prinsip berlogika dalam berdiskusi, mencakup kemampuan menjawab pertanyaan.

Sering kita lihat di televisi, misalnya dalam acara dialog/debat, si penanya menanyakan A dan si penjawab menjawab B. Sering pula pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak" dijawab dengan bertele-tele.

Prinsip-prinsip dalam menjawab pertanyaan yang saya kemukakan di bawa ini sudah umum: singkat, pada, dan berisi. Urutannya saja yang saya rubah berdasarkan esensinya. Saya tambahkan prinsip keempat yang opsional, yakni memberikan referensi.
  1. Berisi (jawaban)
  2. Jawaban harus memuat dari apa yang ditanyakan. Jika pertanyaannya adalah pertanyaannya ya/tidak, maka harus ada salah satunya, ya atau tidak. Jika tidak ada, maka harus ada penjelasannya. Contoh lain: Apa kontribusi (novelty) penelitian anda? Jawaban: Kontribusi penelitian saya adalah XXX dan YYY.
  3. Singkat (short)
  4. Pertanyaan tidak hanya memuat jawaban, tetapi juga harus memuat alasan kenapa dijawab seperti itu. Justifikasi adalah argumen dan bukti/alasan (evidence). Jawaban adalah argumen, sedangkan bukti/alasannya harus singkat.
  5. Padat (dense)
  6. Jawaban atas pertanyaan harus padat, terutama pada alasannya. Misalnya, saya menjawab A karena B. B harus singkat dan padat. Singkat, seperti pada poin sebelumnya, hanya berisi alasan yang dibutuhkan, bukan alasan-alasan yang tidak dibutuhkan. Alasan-alasan yang tidak dibutuhkan tsb (data pendukung, bukan data utama) akan menyebabkan jawaban tidak padat.
  7. Berdasarkan Referensi atau Alasan
  8. Prinsip terakhir adalah jawaban harus berdasarkan referensi, jika ada. Misalnya, saya menjawab A berdasarkan referensi C. Saya menjawab C karena D. Saya memilih E karena F. Prinsip ini bisa jadi tidak dibutuhkan, misalnya dalam pertanyaan opini atau pendapat. Contohnya, apa warna kesukaan anda? Dalam hal seperti itu, argumen harus kuat, karena bisa jadi ada pertanyaan susulan. Banyak pertanyaan yang sudah ada jawabannya, dan kita tinggal menyitir/mensitasi saja. Jawaban yang berdasarkan referensi akan membuat posisi (jawaban) kita kuat, khususnya jika referensi tersebut bereputasi (misalnya dari jurnal SpringerNature dan Elsevier).
Itulah kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan untuk bisa menjawab pertanyaan secara tepat. Kita bisa menilai jawaban seseorang dari tiga prinsip di atas. Kita pun juga harus belajar kemampuan-kemampuan di atas agar bisa menjawab pertanyaan secara tepat, sebuah dimensi berpikir kritis.

Sunday, October 27, 2019

Menjadi logis [2]: Prinsip Dasar Logika

Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya, Menjadi Logis [1]: Menyiapkan Akal untuk Logika. Tulisan ini merupakan bagian terpenting dari catatan seri kuliah "scientific discussion" [1] di JAIST. Tulisan ini saya buat sesederhana mungkin agar bisa dibaca oleh semua orang. Tidak ada kata-kata yang seharusnya tidak ada. Sebaliknya, semua yang harus ada harus tertulis di sini. Semua yang bisa membaca seharusnya mampu memahami tulisan ini.

Setelah kita membiasakan hal-hal untuk menerima logika, langkah selanjutnya adalah mengasimilasikan prinsip-prinsip dasar logika agar menjadi kebiasaan kita. Berikut prinsip-prinsip dasar logika tersebut.

1. Prinsip-prinsip utama
Sains adalah kumpulan pengetahuan terstruktur yang dibangun dari prinsip-prinsip utama. Logika, sebagai sains, juga demikian, dibangun atas prinsip-prinsip utama. Ada empat prinsip utama logika sebagai berikut:
  1. Prinsip identitas: sesuatu adalah apa adanya.
  2. Prinsip pengecualian nilai tengah: antara ada dan tidak ada tidak ada nilai tengah.
  3. Prinsip alasan yang cukup: ada alasan yang cukup untuk semua hal (Ya! semua).
  4. Prinsip kontradiksi: tidak mungkin sesuatu menjadi dan tidak menjadi pada satu waktu.
Tiga dari prinsip di atas diusulkan oleh Aristoteles, sedangkan satu dari Leibiniz, yakni prinsip cukup alasan (logikanya: tiga prinsip yang lain, selain yang diusulkan oleh Leibniz, adalah usulan Aristoteles). 

Prinsip identitas (principum identitatis) adalah prinsip yang paling utama diantara yang utama. Secara sederhana, A adalah A, bukan B. Kucing adalah kucing bukan anjing. Segitiga adalah segitiga, bukan segi empat. Semua yang logis harus beridentitas [2]. Sebaliknya, sesuatu yang identitasnya dipertanyakan juga dipertanyakan kelogisannya.

Prinsip kedua mengatakan bahwa tidak mungkin ada kondisi tengah diantara ada dan tidak ada. Sebagai contoh: di dalam kotak ada kucing atau tidak ada kucing, tapi tidak diantaranya (yakni setengah ada dan setengah tidak ada).  B adalah kucing, bukan anjing, tidak mungkin setengah kucing dan anjing.

Prinsip ketiga merupakan prinsip penting dalam logika dan diskusi saintifik, termasuk/khususnya penulisan ilmiah. Harus ada alasan untuk semuanya. Prinsip ini mirip hukum sebab-akibat. Ketika anda mengusulkan metode A, harus ada alasan mengapa A. Ketika anda mengusulkan variabel X, harus ada alasan mengapa variabel X, bukan Y. Kenapa menggunakan contoh kucing dalam kotak, karena contoh tersebut sangat sederhana sehingga mudah dimengerti semua orang. Itu juga alasan untuk contoh sebelum dan sesudah prinsip ini.

Prinsip terakhir -- kontradiksi -- mirip dengan prinsip kedua. Bedanya, kalau dalam prinsip kedua tidak ada nilai tengah, maka dalam kontradiksi tidak mungkin ada dua keadaan dalam satu waktu. Tidak mungkin ada kucing dalam kotak A dan tidak ada kucing dalam kotak A. Tidak mungkin B adalah kucing dan anjing. Contoh pertama dikembangkan oleh Erwin Schrodinger dalam eksperimen pemikirannya: kucing dalam kotak. Menurutnya, tidak mungkin kucing dalam keadaan hidup dan mati bersamaan. Meski probabilitasnya 50:50, tapi tidak bisa dikatakan bahwa kucing hidup dan mati dalam keadaan bersamaan. Harus dibedakan antara probabilitas dan realita. Probabilitas tidak mengubah realita. Realita ada dengan atau tanpa observasi. Inilah logika.

2. Daerah abu-abu, daerah yang dibuat abu-abu
Daerah abu-abu adalah daerah dimana kebenaran tidak secara jelas dapat dinyatakan. Dalam hidup, banyak daerah abu-abu, namun jangan terlalu banyak menggunakannya. Abu-abu, sebagai warna, ada karena perbedaannya sebagai alternatif warna putih dan hitam. Jika dalam hidup kita berada pada situasi dimana tidak ada alternatif yang jelas, secara objektif, bukan berarti tidak ada alternatif yang jelas. Tidak adanya alternatif bukan karena tidak ada, namun karena kita tidak bisa melihatnya. Daerah yang dibuat abu-abu ada karena kita tidak bisa melihat daerah abu-abu, (sebenarnya) disebabkan ketidakpastian kita atau kurangnya pengalaman.

Sebagai contoh, anda berada  pada suatu masalah, menentukan benar atau salah. Anda tidak memiliki pengalaman kalau masalah tersebut benar, namun anda punya pengalaman kalau masalah itu salah. Prinsipnya: negatif hanya dapat dikenali sebagai negatif, "secara tidak pasti", karena positif telah diketahui. Disini ada kemungkinan kepastian. Jika pasti itu mungkin, maka kepastian itu mungkin terjadi, meski tidak pasti. Itulah yang harus dipilih.