Showing posts with label jurnal. Show all posts
Showing posts with label jurnal. Show all posts

Friday, December 22, 2023

Tentang Gift dan Ghost Authorship

If research misconduct occurs, including guest/gift authorship, the integrity of a researchers is questionable; this can PERMANENTLY and NEGATIVELY affect their career.

 

ghost authorsip

Salah salah praktek tercela di bidang akademik adalah ghost dan gift authorship, menuliskan nama mereka yang tidak berkontribusi di dalam penulisan paper. Penerbit seperti Elsevier dan Springer memiliki peraturan ketat dalam kasus ini, sekali praktek ini ditemukan, karya yang bersangkutan bisa  ditarik. Saya sendiri sudah beberapa kali melaporkan kasus ini, tak peduli rekan sejawat, atasan, atau orang lain. Ada kalanya, mungkin, anda "dipaksa" menuliskan nama teman anda, baik kenalan, teman se-lab, se-kampus, atau se-jurusan. Untuk dimasukkan menjadi penulis (authors), setidaknya ada tiga syarat [1]:
1. Kontribusi subtansial dalam riset
2. Ikut menulis draft
3. Menyetujui versi final dari draft

Cara mengetes ghost author, menurut elsevier, adalah bahwa semua penulis mempunyai kemampuan dan kewajiban yang sama dalam mempertahankan ide di dalam tulisannya. Oleh karena itu, jika ada seorang penulis (co-authors) yang tidak bisa menjelaskan atau menjawab pertanyaan terkait tulisannya, bisa jadi penulis itu adalah ghost, guest atau gift author.

Compliance is more than just obeying laws.

Dalam publikasi ilmiah, kita memiliki code of conduct. Dalam setiap submisi artikel, kita diwajibkan menuliskan kontribusi setiap penulis dalam artikel. Secara common sense, setiap mereka yang namanya ada pada paper pasti berkontribusi. Hukum penulisan ini wajib kita patuhi. Bahkan diatasnya, ada etika yang seharusnya kita taati juga: menghindari research misconduct termasuk gift, ghost atau honorary authorship ini.

Jika ada orang lain yang meminta namanya ditulis dalam sebuah paper, sebaliknya ada juga orang yang melarang namanya ditulis dalam sebuah paper. Seorang teman S3 pernah bercerita bahwa professornya, meminta namanya tidak dimasukkan dalam publikasi teman saya tersebut karena dia tidak berkontribusi sama sekali.


Institusi kita punya visi dan misi mulia yang ingin diraih. Kita tidak bisa menghalalkan segala cara untuk meraih visi dan misi itu. You CANNOT choose just any method to achieve your goal. There is a "path we should take" among them. Goal adalah visi institusi kita yang ingin kita capai. Jelas disini bahwa ghost dan gift authorship tidak termasuk dalam "path we should take".
 
Rezeki tidak hanya dari insentif publikasi. Masih banyak jalan dan pintu rezeki berkah dan halal lainnya daripada memasukkan nama istri, teman, atau atasan yang tidak berkontribusi pada publikasi ilmiah kita. Praktek tercela ini membahayakan insitusi kita. Semoga kita terhindar dari praktek tercela ini.

Ghost authorship untuk memperbesar peluang diterimanya paper

Ini disebut efek Chaporone [3]. Penulis Chaperone adalah penulis senior yang telah menulis beberapa journal, katakanlah di jurnal A. Untuk memperbesar kans diterima di journal A, penulis junior mengajak atau memasukkan nama penulis Chaperone saat submisi ke Jurnal A. Tujuannya adalah untuk mempertinggi kans diterima di jurnal A.

Ada kasus dimana peneliti yang sudah meninggal tetap dilibatkan dalam pembuatan paper. Kasus ini [2], ditengarai untuk memperbesar kans diterimanya paper tersebut di sebuah jurnal. Anggaplah peneliti yg sudah meninggal tsb adalah peneliti terkenal, misal peraih nobel. Dengan memasukkan namanya sebagai co-author maka kans diterimanya sebuah paper dalam jurnal mungkin akan bertambah besar. Hal yang tidak mungkin dilakukan oleh peneliti yang sudah meninggal adalah pada persyaratan nomor 3 authorship di atas: menyetujui versi final. Pun demikian, hal ini (memasukkan penulis yang sudah meninggal) bisa saja dilakukan bila penulis yang telah meninggal tersebut benar-benar berkontribusi dan disebutkan dalam "Aknowledgement" bahwa salah satu penulis telah meninggal sebelum paper diterbitkan.

Kenapa ada praktek Ghost Authorship, khususnya di negeri kita?

Seorang sejawat bertanya, kenapa kondisi ideal (tidak ada ghost authorship) tidak bisa diterapkan di, khususnya, negeri kita tercinta. Banyak faktor. Diantara banyak faktor, menurut saya yang paling penting adalah mental peneliti dan kecukupan ekonominya. Di negeri kita, mental peneliti belum terbentuk secara ideal. Alih-alih melakukan "impactful research"; yang dilakukan peneliti adalah bagaimana mendapatkan cuan dari penelitian, entah itu dari insentif, kenaikan pangkat, dll. Disini mental peneliti yang bersangkutan bermasalah. Bisa jadi karena tidak ada pendidikan "Compliance and Researcher Ethics" untuk para peneliti (di institusi saya, setiap peneliti diwajibkan mengambil e-learning ini setiap tahunnya dan wajib lulus ujian e-learning tsb). Kondisi ini diperparah dengan kecukupan ekonomi peneliti yang bersangkutan. Selama kebutuhan dasar belum terpenuhi (sandang, pangan, papan), maka dia akan mencari segala cara (dan mungkin saja menghalalkan segala cara) untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satunya dengan meminta rekannya untuk memasukkan namanya saat publikasi. Agar, ketika mendapat insentif, dia juga ikut kecipratan. Sekaligus mempercepat proses kenaikan pangkat.


Lalu, Bagaimana solusinya?

Alih-alih menuliskan teman atau orang lain sebagai ghost authorship, kita bisa menawari mereka untuk berkontribusi, misalnya:

  • Funding, membiayai biaya publikasi
  • Proof-read, misalnya menemukan minimal 10 kesalahan dalam draft dan merevisinya

Dengan cara itu, seorang menjadi layak menjadi co-author. Dengan catatan, sekali lagi, kontribusinya substansial (dua diatas adalah contoh kotribusi yang substansial).

 

Referensi: 

[1] https://www.jscpt.jp/eng/journal/kitei.html

[2] https://retractionwatch.com/2024/02/16/highly-cited-scientist-published-dozens-of-papers-after-his-death/

[3] V. Sekara, P. Deville, S. E. Ahnert, A. L. Barabási, R. Sinatra, and S. Lehmann, “The chaperone effect in scientific publishing,” Proc. Natl. Acad. Sci. U. S. A., vol. 115, no. 50, pp. 12603–12607, 2018, doi: 10.1073/pnas.1800471115.

 

Friday, March 10, 2023

Antara Tukang Cuci Piring dan Editor Jurnal

Alkisah. Seorang teman bercerita, dia mendapat dua pilihan pekerjaan sampingan. Pertama sebagai pencuci  piring. Kedua sebagai editor jurnal. Kerena bimbang untuk memilih salah satu diantara dua pekerjaan tersebut, beliau meminta pertimbangan istrinya. Berikut diskusi mereka.

Istrinya bertanya, 

"Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mereview satu jurnal?" 

Sang suami menjawab, 

"Kira-kira empat jam". 

Istri melanjutkan, 

"Berapa bayaran review dan mengedit satu jurnal itu?"

Suami menjawab,

"Seratus dua puluh lima ribu rupiah". 

Istri bertanya lagi, 

"Berapa bayaran cuci piring?"

Suami menjawab:

"1000 yen jam per jam".

Akhirnya si istri mengakhiri diskusi dengan solusinya.

"Ya udah, kamu ambil kerjaan cuci piring saja, kamu sedekahkan separo dari bayaran cuci piringmu ke masjid di Indonesia, itu jauh lebih bermanfaat dari menjadi bekerja paruh waktu sebagai editor jurnal."

Tuesday, March 15, 2022

Permasalahan Ekuitas Jurnal Open Access

Jurnal dengan skema Open Access (OA) terlihat fair: jika anda (penulis) ingin tulisannya bebas diunduh (didownload), maka harus membayar article processing charge (APC). APC ini tidak murah, jurnal dimana saya mengirim tulisan saya, yakni Speech Communication, mematok USD 2390 untuk APC-nya. Daftar APC lengkap untuk jurnal Elsevier ada di sini. Jika tulisan kita diterima, maka kita bisa memilih subcription fee agar terhindar dari APC. Konsekuensinya, orang yang mau mengunduh tulisan kita harus membayar (melanggan) baik secara pribadi ataupun secara institusi. Catatan (baik) pentingnya, proses review tidak bergantung pada pilihan publikasi ini, baik open access atau subcription fee. Acceptance rate dari jurnal-jurnal Elsevier tetap kompetitif, sekitar 20-30% dari total 100% submisi.

Kembali kita tulis logika sederhananya.

Jika anda penulis ingin tulisan anda gratis diunduh, anda harus membayar APC. Jika tidak, maka pengunduh yang harus membayar biaya unduhannya.

Statement di atas terlihat logis, namun ada permasalahan mendasar pada logika di atas.

Permasalahan

Bagaimana dengan penulis yang tidak memiliki dana untuk membayar APC padahal open science / open research itu seharusnya tetap diberlakukan (wajib) bagi mereka? Disinilah ketidakadilan (inequity) itu nampak.

Saya pun belum menemukan solusi untuk hal ini; pun demikian ada rekomendasi dari ON-MERRIT yang bisa dibaca di sini. Ada jurnal open access di [1] yang bebas APC, namun (mungkin) reputasinya dipertanyakan. Penerbit tentunya tidak mau rugi, namun harus tetap profesional dalam mencari biaya operasional perusahaan mereka.

Note:

1. Ada jurnal open access yang bebas biaya APC,  daftarnya ada di URL ini.

Wednesday, July 08, 2015

Tutorial Latex Sederhana dan Instalasinya

Bisa menggunakan Latex adalah salah satu skill dasar yang harus dimiliki oleh mereka yang ingin menjadi ilmuwan atau peneliti (scientist and researcher). Menguasai Latex akan memudahkan kita ketika menulis paper akademik dan saintifik semisal jurnal, conference paper dan thesis (TA dan disertasi).

Untuk dapat menggunakan Latex, anda harus menginstallnya terlebih dahulu. Jika anda memakai Windows, anda bisa mengintall miktex dan texworks. Untuk Unix, khususnya Linux, saya akan mendemokan instalasi Latex dengan editor Gedit.

Step-by-step instalasi Latex dan gedit-latex-plugin (di terminal) di Ubuntu (14.04):
    1. sudo apt-get install latex
    2. sudo apt-get install gedit-latex-plugin
Dengan dua perintah tersebut (bisa dijadikan satu juga), maka Ubuntu anda sudah terinstall Latex, lebih sederhana dibandingkan dengan instalasi pada Windows. Silakan cek pada gedit, aktifkan plugin, edit >> preference >> plugin, synctex. Kemudian akan muncul tab "Latex" serta menu "Tools" Latex--> pdf, pada window Gedit anda.

Tampilan Gedit dengan plugin Latex
Selanjutnya, anda dapat mendownload tutorial Latex di bawah ini untuk belajar Latex, file sumber saya sertakan disini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...