Showing posts with label dosen. Show all posts
Showing posts with label dosen. Show all posts

Friday, May 08, 2026

Problem-based research

Suatu ketika, sekitar tahun 2015, seorang kolega dosen (yang beberapa tahun kemudian menjadi kepala jurusan) ditanya oleh istrinya: Yang, apa sih yang kamu lakukan ketika menjalani S3? Sang suami berpikir sebentar, kemudian menjawab. Sederhananya begini: Saat S3 aku membuat-buat masalah sendiri, kemudian berusaha memecahkannya sendiri. Ketika aku bisa memecahkan masalah tersebut, aku mendapat gelar S3.

Jawaban sang istri mengejutkan: Nek gawe masalah dewe, terus diselesekno dewe, aku yo iso. Lapo adoh-adoh sekolah S3. Nek ngono iku ae yo gak perlu PhD.

Terinspirasi oleh dialog suami-istri tersebut, saya mencari ide penelitian berdasarkan masalah nyata. Bukan masalah yang dibuat-buat. Apakah itu "problem-based research"? Berdasarkan referensi [1], kriterianya adalah sebagai berikut:  

1. Masalahnya adalah masalah "umum", bukan berdasarkan opini personal. Artinya, banyak orang menganggap "masalah" tersebut adalah benar-benar masalah, bukan hanya peneliti saja.

2. Bukan berdasarkan perbandingan dua data(set) saja. Artinya, tidak membandingkan (atau mencari) bahwa di dua data tersebut ada permasalahan, tapi permasalahannya benar-benar "general", ada di dataset yang lain. Dari kriteria ini, sebaiknya riset memakai setidaknya tiga dataset. Atau, jika hanya dua dataset (minimum), ditunjukkan bahwa permasalahan ada juga di dataset yang lain meski tidak dievaluasi (berdasarkan referensi).   Contoh lainnya adalah membandingkan data sebelum dan sesudah "treatment". Ini juga hanya pembuktian metode, bukan sebuah riset berbasis masalah.  

3. Riset berbasis masalah juga bukan karena ada korelasi antara A dan B. Lagi, apa masalahnya? Jika memang ada masalah, misalnya di A, dan solusinya ada di B, bisa jadi ini akan menyelesaikan masalah. Tapi jika ingin mengetahui korelasi A dan B, misalnya tingkat penghasilan dan konsumsi belanja, ini bukan masalah, dan hanya mencari-cari masalah saja.

4. Tujuan riset berbasis masalah bukan "Ya" dan "Tidak", tapi menyelesaikan masalah. Misal penelitian untuk menyelesaikan masalah XXX. Tujuan penelitian bukan untuk membuktikan metode AAA bisa menyelesaikan masalah XXX, tapi untuk mengetahui mengapa dan bagaimana metode (AAA) yang diusulkan bisa menyelesaikan XXX. Bedanya, jika ternyata metode AAA belum bisa menyelesaikan masalah XXX, peneliti akan mencari metode lain yang bisa menyelesaikan XXX. Intinya, cara pandang agar sebuah masalah selesai bukan hanya metode penelitian saja.

Kalau digambarkan, contohnya adalah sebagai berikut:


Diawali dengan masalah, kemudian diselesaikan dengan proposal yang diusulkan (proposed solution). Kriteria keberhasilannya dapat diukur dengan practical benefit. Misalnya, jika metode yang diusulkan bisa mereduksi waktu proses. Misalnya lagi, metode menanak nasi yang hanya butuh 5 menit dibandingkan dengan metode sekarang yang membutuhkan 40 menit. Di sini, practical benefit dari metode yang diusulkan terlihat jelas dapat menyelesaikan masalah (lama waktu menanak nasi).

Referensi:  

[1] T. J. Ellis and Y. Levy, “Framework of problem-based research: A guide for novice researchers on the development of a research-worthy problem,” Informing Sci., vol. 11, pp. 17–33, 2008, doi: 10.28945/3288.


Thursday, October 02, 2025

Mengukur kinerja dosen

Menurut kami (berdasarkan informasi atasan saya), hanya ada tiga metrik untuk mengukur kinerja dosen. Tiga metrik tersebut adalah:

1. Jumlah mahasiwa yang diluluskan

Semakin banyak mahasiswa yang diluluskan berarti semakin produktif dosen tersebut.

2. Jumlah research grant atau funding yang didapat

Research grant dan/atau funding yang didapat merupakan kontribusi dosen yang bersangkutan terhadap institusinya. Funding dan research grant bisa berkaitan langsung atau tidak langsung terhadap jumlah mahasiswa yang diluluskan. Berkaitan langsung jika tema research grant dikerjakan untuk proyek (akhir) mahasiwa, atau bisa jadi tidak berkaitan sama sekali dengan poin pertama jika research grant dikerjakan sendiri.

3. Jumlah publikasi ilmiah (bukan sebagai penulis pertama)

Publikasi dosen seharusnya TIDAK diukur dari makalah sebagai penulis pertama. Karena jika ia menjadi penulis pertama (atau mahasiswa bimbingannya bukan penulis pertama), artinya dia gagal untuk mendidik mahasiswanya (menjadi penulis pertama). Penulis pertama merupakan kontributor utama (https://bagustris.blogspot.com/2025/07/deciding-who-is-first-author.html), maka selayaknyalah menjadi tugas dosen untuk mendidik mahasiswa untuk berkontribusi (utama) dalam riset mahasiswa tsb. Di Jepang, dosen pembimbing biasanya diletakkan di akhir dalam penulisan makalah ilmiah.

Bagaimana dengan kriteria lain seperti pengabdian masyarakat? Kriteria tersebut tidak harus dimasukkan, tapi menjadi kriteria "Lain-lain" yang menunjang tiga kriteria utama di atas.


Friday, March 10, 2023

Antara Tukang Cuci Piring dan Editor Jurnal

Alkisah. Seorang teman bercerita, dia mendapat dua pilihan pekerjaan sampingan. Pertama sebagai pencuci  piring. Kedua sebagai editor jurnal. Kerena bimbang untuk memilih salah satu diantara dua pekerjaan tersebut, beliau meminta pertimbangan istrinya. Berikut diskusi mereka.

Istrinya bertanya, 

"Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mereview satu jurnal?" 

Sang suami menjawab, 

"Kira-kira empat jam". 

Istri melanjutkan, 

"Berapa bayaran review dan mengedit satu jurnal itu?"

Suami menjawab,

"Seratus dua puluh lima ribu rupiah". 

Istri bertanya lagi, 

"Berapa bayaran cuci piring?"

Suami menjawab:

"1000 yen jam per jam".

Akhirnya si istri mengakhiri diskusi dengan solusinya.

"Ya udah, kamu ambil kerjaan cuci piring saja, kamu sedekahkan separo dari bayaran cuci piringmu ke masjid di Indonesia, itu jauh lebih bermanfaat dari menjadi bekerja paruh waktu sebagai editor jurnal."

Tuesday, January 10, 2023

Dual Afiliasi

Salah satu cita-cita saya yang belum tercapai adalah dual afiliasi, bekerja di dua institusi dan memberi manfaat untuk keduanya dengan mengisi kekurangan satu insitusi dengan kelebihan institusi lainnya, begitu pula sebaliknya. Contoh terbaik untuk kasus ini adalah Bjorn Schuller (Imperial College dan Audeering), Yan Lecun (Facebook dan New York University), Junichi Tsujii (AIST dan Manchester University), dan Junichi Yamagishi (NII dan Edinburg University).

Contoh dari manfaat dual afiliasi adalah pada riset dan publikasi akademik. Biaya publikasi akan tertutupi oleh institusi yang secara finansial lebih stabil. Keuntungan untuk institusi yang secara finansial lebih stabil adalah pada kolaborasi. Contohnya pada institusi privat (Swasta), dimana butuh usaha ekstra untuk merekrut peneliti dan kolaborator. Sebaliknya, hal tersebut mudah dilakukan di universitas. Institusi privat tidak perlu mengeluarkan waktu dan biaya ekstra untuk proyek mereka.

Manfaat utama dual afiliasi ada pada siklus teori dan praktek. Dosen (seperti Lecun) yang bekerja di sektor swasta secara dual afiliasi akan dengan mudah menangkap permasalahan nyata (praktek) di lapangan/industri, alih-alih permasalahan teoritik di buku teks. Mahasiswa dari dosen yang bersangkutan juga akan memecahkan permasalahan nyata, the real problem, bukan sebatas permasalahan yang ada di buku teks. Permasalahan (soal-soal) di buku teks tetap penting untuk mengasah teori atau konsep dasar dan kerangka berpikir dalam menyelesaikan permasalahan nyata.

Double Universitas

Selain dual afiliasi universitas dan industri, dual afiliasi bisa juga dilakukan pada dua (atau lebih) kampus yang berbeda. Banyak dosen China yang mengambil dual afiliasi dengan universitas Jepang untuk memanfaatkan kebaikan dan kelebihan universitas Jepang (~2020). Dosen-dosen China tersebut tinggal di Jepang dan hanya pulang ke China ketika dibutuhkan saja. Dengan cara yang sama, banyak dosen-dosen Eropa bertebaran tidak di negaranya (sesama Uni Eropa) dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihan kampus papan atas Uni Eropa untuk mendongkrak reputasi universitas Uni Eropa lainnya.

Keterbatasan Untuk Dosen PNS

Ada keterbatasan PNS (atau dosen yang berstatus sebagai PNS). Keterbatasan rangkap jabatann tersebut seperi yang didiskusikan di sini: 

https://www.hukumonline.com/klinik/a/hukumnya-rangkap-menjadi-asn-sekaligus-pegawai-swasta-lt5ed13c19b8117

Diperlukan usaha ekstra untuk mewujudkan dual afiliasi sebagai dosen PNS dan praktisi di tempat lain (atau peneliti di institusi lain). Hukum perlu diubah agar lebih fleksibel demi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara kita.


p.s.:Dual afilias yang saya maksud adalah yang bersifat long-term di dua institusi, akademik dan universitas luar negeri atau industri/institusi riset. Bukan tugas belajar, izin belajar dan sejenisnya.

Monday, September 06, 2021

Mengundurkan Diri Itu Bukan Perbuatan Tercela

Saat saya bekerja di pabrik dulu, suatu kali pernah (ibu) sekretaris perusahaan mengundurkan diri. Ceritanya begini. Saat permintaan barang sedang tinggi-tingginya, Pak Direktur (aka sachou) meminta bu sekretaris ikut bekerja di lapangan (genba a.k.a. pabrik). Besoknya si ibu sekretaris langsung minta mengundurkan diri untuk bulan depannya. Alasannya sederhana: dia melamar kerja untuk pekerjaan administrasi, bukan untuk pekerjaan lapangan (genba).

Mirip dengan cerita di atas. Suatu ketika seorang adik kelas melamar  pekerjaan dosen di suatu perguruan tinggi. Setelah diterima, dia komplain karena diminta oleh kepala jurusan (kajur) untuk mengerjakan pekerjaan administrasi. Tak lama kemudian dia mengundurkan diri. Alasannya sederhana: dia melamar pekerjaan dosen, menjadi pengajar dan peneliti, bukan menjadi staf administrasi.

Dalam dua kasus di atas, hampir tidak ada pihak yang salah. Pak direktur mempekerjakan ibu sekretaris karena kekurangan tenaga kerja di lapangan. Di kasus kedua, Pak Kajur juga kekurangan tenaga administrasi (yang terampil) sehingga mempekerjakan dosen untuk pekerjaan administrasi. Dari kedua kasus, baik bu sekretaris maupun teman dosen sama sekali tidak salah. Juga, mereka sulit menolak pekerjaan yang bukan bidangnya karena statusnya sebagai karyawan pada tempat mereka bekerja. Mundur menjadi pilihan terbaik bagi keduanya.

Mundur juga bisa menjadi alasan yang logis ketika tidak setuju dengan suatu hal, misalnya ketika diharuskan untuk menginstall whatsapp (WA) untuk urusan kerja. Sangat tidak logis dan tidak etis menggunakan WA untuk urusan pekerjaan. Seorang teman pernah berujar, hari dimana dia diminta menginstall WA oleh atasannya, hari itu juga dia akan mengundurkan diri. Penggunaan WA dan sejenisnya di kantor saya sekarang ini dilarang, dan bisa fatal akibatnya bila ketahuan menggunakan aplikasi tsb di kantor.

Mengundurkan diri itu bukan perbuatan tercela. Perbuatan tercela itu seperti korupsi

Thursday, December 01, 2016

Diklat Prajab: Lessons Learned

Tiga minggu ini saya mengikuti diklat prajab, mengimplementasikan apa yang saya dapatkan selama dua minggu kedepan, dan mempresentasikannya pada minggu kelima dari total durasi waktu. Jadi formatnya, tiga minggu on, 2 minggu off, dan presentasi laporan diakhir minggu ke-5 tsb. Apa yang saya dapatkan selama tiga minggu ini? apa yang akan saya lakukan selama dua minggu kedepan? Apa yang akan saya presentasikan sebagai laporan akhir? Tulisan ini dibagi menjadi 5 section: Pendahuluan, Routine Yes Supersitions No, ANEKA, Review dan Attachment

Foto bersama Widyaiswara, Gol 3, Angkatan 22 Balai Diklat Prov. Jateng

Pendahuluan

First of first, ini konsep saya memilih pekerjaan: Menjadi peneliti itu impian, menjadi pns/asn itu pilihan --> impian harus diraih, pilihan boleh dipilih. Dan saya sudah memilihnya. Sebagai konsekuensi logis dari abdi negara, saya harus mengikuti serangkaian diklat untuk menghilangkan huruf "C" dari jabatan cpns saya. Realistis.

Routines yes, superstitions no.

Ini mungkin adalah manfaat terbesar saya mengikuti diklat ini: membiasakan rutinitas (yang baik), membentuk pola (hidup). Manfaat terbesar tinggal di asrama adalah membiasakan rutinitas: bangun jam 3 pagi, olahraga jam 4, sarapan jam 7, makan siang jam 12, makan malam jam 19, dan tidur sekitar jam 22.00 WIB. Impact nya: sehat, disiplin waktu dan... keteraturan hidup. Rutinitas ini persis seperti yang saya alami sekitar 12 tahun yang lalu, saat saya nyantri di Pesantren Darul Ulum Jombang. Hal tersulit adalah tetap membiasakan rutinitas ini selepas diklat. InsyaAllah, komitmen harus dijalankan, jikalau tidak bisa sama dengan rutinitas ketika mengikuti diklat ini, paling tidak mendekati (minus apel pagi dan sore...:D ).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...