Showing posts with label manajemen waktu. Show all posts
Showing posts with label manajemen waktu. Show all posts

Monday, August 30, 2021

Kenapa Harus Berlari...

Saat kerja di Jepang, saya sering dipanggil oleh Pak Bos. Saat awal-awal di panggil, saya mendatanginya dengan berjalan. Pak Bos menyuruh saya berlari. Kalau berjalan saya butuh 1 menit, dengan berlari saya hanya butuh 30 detik. Kalau dalam sehari saya dipanggil 30 kali, maka saya bisa hemat 30 x 30 detik, 900 detik alias 15 menit. Dengan asumsi kerja 20 hari per bulan, saya bisa menghemat 15 x 20 menit alias 300 menit alias 5 jam per bulan. Waktu tsb bisa saya gunakan untuk pekerjaan lainnya. Kenapa harus berlari? Ya karena berlari mempercepat pekerjaan dan menunjukkan semangat kita.

Dalam tulisan saya yang lain: What we can do in 10 minutes, orang lain bisa mentransformasikan ide menjadi "produk" dalam 10 menit. Diberikan waktu 300 menit akan menghasilkan 10 ide  --> 10 produk, untuk orang tersebut.

Ayo berlari...!

Sunday, September 22, 2019

Banyak Tahu itu Tidak Baik

Pada suatu jamuan makan malam (sekitar akhir 2017) setelah konferensi, saya bercakap-cakap dengan orang Jepang. Beliau bertanya tentang riset saya, dan saya menceritakannya. Saya balik bertanya, untuk bidang "ini", dimana yang terbaik di Jepangnya ya? Sambil menyebutkan nama-nama sensei (professor) yang saya ketahui di bidang tersebut. Dia menjawabnya, sambil menimpali: "Kamu banyak tahu ya...".

Di situlah tersadar, banyak tahu itu tidak baik. Orang Jepang, hanya mengurusi yang menjadi urusannya. Mereka hanya mengetahui apa yang digelutinya. Saya perhatikan teman-teman saya orang Jepang, tidak ada satupun yang mentweet tentang politik, pun urusan lainnya. Bisa jadi, nama menteri nya sendiri pun mereka tidak hafal. Bahkan saya pernah bercakap dengan orang Jepang yang nama kaisarnya sendiripun dia tidak ingat.

Kemudian saya mencari (googling) dengan kata kunci: "Know everything is bad", dan menemukan artikel cukup bagus di link ini:
http://davidsearson.com/2015/11/14/why-knowing-everything-is-a-bad-idea/

Di situ dijelaskan juga, banyak tahu itu merupakan ide yang buruk. Kenapa ide yang buruk? Karena tidak ada artinya, tidak ada maknanya (untuk masa depan). Contoh kasus saya diatas, kalaupun saya tahu nama-nama professor di bidang saya tersebut, apa untungnya buat saya? Untuk mencari tempat postdoc? untuk mencari kerjaan/lowongan? Kalau dicari-cari, pembenaran selalu ada. Dalam link artikel bahasa inggris tersebut, sebenarnya bukan pengetahuan yang lebih penting, tapi hikmah (untuk merencanakan masa depan). Jadi urutannya adalah,

Dari diagram alir diatas, yang kita butuhkan adalah tapis, atau filter. Kita menapis banyak (big) data menjadi pengetahuan, dan menggunakannya untuk merencanakan masa depan menjadi hikmah. Jadi kalau ada kebingungan ketika mengambil sebuah keputusan karena banyaknya pilihan atau informasi, sesungguhnya bukan kebanyakan informasi yang salah, tapi kegagalan filter kita untuk menyaring informasi tersebut.

Bukan karena kebanyakan informasi, tapi karena kegagalan filter.


Implementasi

Lalu bagaimana mengimplementasikan "filter" untuk menapis banyaknya informasi/pengetahuan disekitar kita?
Tombol "unfollow", "unsubscribe", "I don't like this (ads)", adalah beberapa yang saya sukai. Bayangkan kalau kita follow/subscribe 1000 akun (youtube, twitter, fb, dll), dan setiap akun memposting 1 tweet/video/status dalam setiap hari, maka dalam sehari kita menerima 1000 posting, diluar iklan. Jika satu jam dari tiap akun tersebut memposting/share video/status/twitter baru, maka kita akan menerima informasi sejumlah:

24000

Setiap jamnya, diluar iklan.

Aturan saya dalam memfollow/subscribe akun cukup sederhana: "Follow/Subscribe" yang bermanfaat, lainnya: abaikan. Sekalipun itu akun orang terkenal, orang berpengaruh ataupun pejabat. Masa depan, kita tentukan sendiri, dari informasi yang kita dapatkan, dan kita filter.

Banyak mencari tahu juga tidak baik

Internet memudahkan kita untuk mencari tahu. Cukup duduk manis di depan laptop, mengetikkan kata kunci dari apa yang ingin kita ketahui dan whoala! apa yang kita cari tahu kita dapatkan. Ini tidak baik. Pencarian terhadap satu kata kunci akan memicu pencarian-pencarian kata kunci lainnya. Begini logikanya. Dari hasil pencarian satu kata kunci, anda mendapatkan informasi tentang kata kunci A dalam suatu halam internet (web page). Di laman tersebut anda kemudian menemukan istilah lain. Bisa juga anda penasaran apa agama si A, siapa istri si A, siapa mantan si A, dimana A dilahirkan, dst. Memiliki pengetahuan atas pencarian tersebut menyenangkan, sebagaimana makan camilan atau memiliki uang. Begitu kata hasil penelitian [1]. Bahkan, kesenangan mendapatkan atas jawaban dari apa yang kita cari tersebut bisa disetarakan dengan uang [1]. Inilah tantangannya: meredam kesenangan kita mencari tahu dari sesuatu yang tak penting.

Terakhir, less is more, dan diam itu emas (tapi sedikit orang yang bisa melakukannya). Sedikit tahu akan menjadikan kita ahli dan pro di bidang kita masing-masing.

Referensi
[1] Kobayashi, Kenji, and Ming Hsu. "Common neural code for reward and information value." Proceedings of the National Academy of Sciences 116, no. 26 (2019): 13061-13066.

Thursday, August 24, 2017

Pentingnya sebuah konfirmasi

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mendapat email. Karena tidak belum saya balas, saking sibuknya, si pengirim email mengirim email lagi kepada saya. Isinya kurang lebih begini:

Hi Bagus,
Apakah kamu sudah menerima email saya? Jika iya tolong balas kurang lebih seperti ini, "Terima kasih, emailmu sudah saya terima, dan saya bisa pada jam itu". Bukan apa-apa, sekedar memastikan bahwa kamu sudah menerima emailku.
Terima kasih.

Saat itu saya baru sadar, betapa pentingnya sebuah konfirmasi. Apalagi menyangkut janji (bertemu), attachment email, pengiriman dokumen, dll. Dari situ, saya berusaha untuk menjawab, atau memberi konfirmasi, terhadap email yang masuk. Tidak semua memang, tapi jika membutuhkan konfirmasi atau jawaban, saya usahakan untuk memberikan jawaban atau konfirmasi, ASAP: as soon as possible.

Belajar dari kasus tersebut, saya membuat rule of thumb: kapan harus menjawab atau mengkonfirmasi dari sebuah email (termasuk chat, tapi yang ini less important) sebagai berikut:

  • Email tersebut email penting (dari pejabat, rekan bisnis, keluarga dekat)
  • Email tersebut memuat pertanyaan yang harus dijawab
  • Email tersebut berisi janji (pertemuan/meeting) dan sejenisnya

Orang Jepang biasa meng-cc (carbon copy) setiap email yang dikirimnya ke orang lain, ke emailnya sendiri, memastikan bahwa email tersebut terkirim. Bagaimana dengan kita...? jangan sampai email penting tidak dijawab, dan seseorang disana menunggu dengan sebal.

I am text based, karena itu cara terbaik menghubungi saya adalah dengan text (email). If I marked your email as important, I will reply it.

Important
Beberapa pertanyaan (yang ingin anda tanyakan lewat email), sebagian besar jawabannya sudah tersedia di Internet, googling it. Don't ask the question that the answer can be easily found on the internet. Jangan membuang-buang tenaga untuk mengirim email hanya untuk menanyakan masalah sepele. Kalau sudah seperti ini, entah itu email atau chat, kemungkinan besar anda tidak mendapat jawaban atau konfirmasi. Dan permasalahan sepele seperti ini juga tidak memerlukan konfirmasi.

Friday, June 30, 2017

Gambir, Monas dan Istiqlal (termasuk cara apply visa Italia)

Ini bukan tentang Traveling, tapi ini tentang memanfaatkan waktu dan tempat agar tak terbuang sia-sia. Ya, daripada menunggu di stasiun atau ruang tunggu. Ada waktu yang perlu dimanfaatkan, dan ada tempat yang dapat dikunjungi, inilah tiga tempat dalam satu kompleks yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki itu. Biasanya saya mengunjungi ketiganya saat mengurus visa (di Kedutaan Italia).

Stasiun Gambir
Ini adalah stasiun paling modern di Jakarta menurut saya. Meniru model stasiun di Eropa dan Jepang, rel sepur atau gauge berada di atas sedangkan di bawahnya digunakan untuk administrasi dan pertokoan. Satu kekurangan stasiun ini: belum melayani rute KRL. Jika stasiun ini digunakan untuk melayani rute KRL, perjalanan ke semua sudut kota Jakarta akan mudah dijangkau.

Jika berangkat dengan kereta, dari Surabaya misalnya, ada beberapa kereta dari Surabaya Gubeng yang berhenti di stasiun Gambir, jika tidak anda bisa menggunakan transjakarta menuju stasiun ini. Per Juni 2017, kereta Bima dan Bangunkarta berhenti di stasiun Gambir dari Surabaya Gubeng. Sedang dari stasiun Pasar Turi, ada kereta Sembrani dan Argo Bromo Anggrek, baik yang berangkat pagi jam 08.00 WIB, atau yang berangkat malam, Argo Bromo Anggrek Malam, berangkat jam 20.00 WIB.

Jika berangkat menggunakan pesawat terbang, ada bus Damri di ketiga terminal yang menuju stasiun Gambir. Per Juni 2017, tarifnya masih empat puluh ribu rupiah. Waktu tempuh dari Bandara Soekarno-Hatta sampai ke Gambir biasanya 40 menit.

Tugu Monas
Tugu Monas terletak tepat di belakang stasiun Gambir. Dari stasiun, anda cukup berjalan kaki menuju bagian belakang kiri dan disitulah pintu Monas terletak. Kalau di Monas dan punya uang saku, sempatkan-lah naik ke puncak tugu agar bisa melihat Jakarta dari Puncak Monas. Tiket lift-nya sebesar sepuluh ribu rupiah.
Tugu Monas, dari pintu belakang stasiun Gambir

Wednesday, April 09, 2014

What Can We Do In 10 Minutes?

Saya termasuk orang yang (berusaha) menghargai waktu, karena waktu itu benar-benar terbatas sekali. Kita hanya diberi kesempatan hidup di dunia beberapa menit, dan waktu yang sudah lewat takkan mungkin kembali. Seperti saat saya menulis artikel ini di blog ini, waktu yang saya gunakan untuk menulis ini tak akan pernah bisa saya gunakan untuk hal lain.

Seperti yang telah saya tulis tentang memaksimalkan waktu: dasar, konsep dan aplikasi, jangan ada waktu yang sia-sia. Meski 30 menit, 10 menit atau bahkan 5 menit atau bahkan 1 detik. Kebiasan bekerja dengan orang Jepang, mereka sangat memanfaatkan waktu dengan baik. Ketika di kereta, menunggu kereta, di dalam bis, ataupun saat nyangkruk, semua melakukan aktivitas produktif seperti membaca, menyusun agenda/rencana, mengecek kesiapan untuk aktivitas, atau menggunakan waktu untuk istirahat. Paling tidak, waktu luang karena suatu hal (menunggu, di perjalanan, dll) bisa termanfaatkan dengan baik.

DHO Who App, aplikasi yang dibuat hanya dalam 10 menit

Friday, April 04, 2014

Memaksimalkan Waktu: Dasar, Konsep dan Aplikasi


Proverb Jepang yang artinya: waktu itu ibarat anak panah

Dalam Al-Quran, dimana istilah "waktu" yang kita pakai saat ini berasal, kata waktu sendiri hanya disebutkan dua kali dengan kalimat yang sama,

إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

Artinya: Sampai waktu yang telah ditentukan.

Namun dalam banyak ayat yang lain, Allah bersumpah dengan kata-kata Demi waktu, Demi Siang, Demi Malam, dan "demi-demi" yang lain yang mengisyaratkan waktu ketika fenomena alam terjadi, pergantian waktu dan hal-hal lain. Sebegitu pentingkah waktu hingga Tuhan menggunakan kata-kata waktu untuk sumpah?

Sunday, April 21, 2013

Kajian Bulanan Mie ken Perdana: Pentingnya Memanfaatkan waktu

Alhamdulillah, setelah sekian lama direncanakan, akhirnya acara kajian bulanan untuk masyarakat Indonesia di Mie-ken (Prefekture Mie, Jepang) bisa terlaksana. Kajian bulanan perdana dimulai Maret 2013 lalu bertempat di apato kensyusei di Kuwana-shi.

A post shared by Bagus Tris Atmaja (@bagustris) on


Pada pengajian perdana di bulan maret lalu, Al-ustadz, Chandra Yuliansjah menyampaikan materi tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Beliau mentadzaburi surat Al-Ashr, surat yang cukup pendek tapi menyimpan makna yang dalam. Bahkan, Imam Syafii ra pernah berujar, kalau Al-Quran tidak diturunkan, cukuplah surat Al-Ashr ini saja yang menjadi pedoman untuk umat manusia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...