Showing posts with label In Japan. Show all posts
Showing posts with label In Japan. Show all posts

Friday, March 12, 2021

Pentingnya mengucapkan "Terima Kasih"

Hari ini saya mendapat komplain dari guru bahasa Jepang saya. Seorang teman, ketika membalas email, tidak mengucapkan terima kasih. Padahal guru saya tersebut sudah mau mengajarinya bahasa Jepang, tanpa dibayar. Sensei berkata, impresinya terhadap teman saya ini kurang baik. Beliau bahkan menanyakan apa dia (teman saya tersebut) orang baik. Saya jawab tidak tahu, hanya kenal saja.

Dari sini saya belajar pentingnya mengucapkan terima kasih. Dalam kultur Jepang, ucapan terima kasih ini sangat penting dan sudah membudaya. Bahkan mereka mengatakannya dua kali untuk hal yang sama. Pertama saat ketika selesai ditolong. Kedua saat bertemu lagi, biasanya keesokan harinya atau di lain waktu.

Saya kemudian mengevaluasi diri, apakah saya sudah cukup mengatakan terima kasih. Kadang saya suka terlambat membalas email dari sensei, sampai sensei mengemail lagi apakah telah menerima email sebelumnya. Meski hanya email singkat, seperti "Terima kasih atas emailnya", hal ini sangat berarti. Untuk keharmonisan hubungan guru-murid dan teman kerja, di Jepang ucapan terima kasih merupakan hal yang dijunjung tinggi dan tidak boleh dilupakan.

Pun ketika kita membayar untuk sebuah jasa. Misal ketika naik angkutan umum, saya biasakan (dan memang itu biasa di Jepang) mengucapkan terima kasih (kepada sopir) saat turun dari angkutan tersebut. Terlebih ketika angkutan tersebut gratis. Juga ketika membeli sesuatu di toko, jangan lupa bilang terima kasih pada kasirnya. Kalau saat ditolong seseorang, ucapan terima kasih ini tak boleh lupa, seperti contoh curhatan sensei (guru) saya di atas. Berterima kasih dua kali juga lebih etis ketika kita mendapatkan pertolongan.

Syariatnya, kita berterima kasih kepada manusia. Hakikatnya, kita berterima kasih pada Tuhan, Allah SWT, Tuhan Semesta Alam.

Monday, October 12, 2020

Teknik Pendakian Naik: The Rest Step

Pada pendakian gunung Merapi pada tahun 2009, saya berkesempatan mendaki dengan seorang bule asal Spanyol. Ketika itu saya berkenalan dengannya di tengah perjalanan, dan saya lihat dia mendaki sangat cepat. Saya tanya, berapa waktu yang dia butuhkan untuk mendaki Semeru? "Lima jam pulang pergi!", katanya. Saya takjub. Dalam lima jam, saya berangkat dari pos Selo belum mencapai puncak. Dia sudah sampai puncak dalam waktu setengahnya saja. Saya amati langkahnya. Karena kakinya panjang, langkahnya juga panjang. Ditambah dengan stamina dan kecepatannya, tak heran kalau bule bisa mendaki gunung dengan waktu lebih singkat dari kita, umumnya sepertiga sampai setengah dari waktu yang kita butuhkan (dan bisa lebih singkat lagi). Sejak saat itu, saya perpanjang jangkauan langkah saya dengan harapan bisa memperpendek waktu pendakian.
Mendaki naik dengan rest step, langkah pendek, dan sedikit istirahat akan mengurangi tingkat kelelahan (Gambar: puncak oyama [Tateyama])


Pada pendakian Gunung Bessan (yang merupakan bagian dari pegunungan Tateyama), saya berjalan di belakang seorang Ibu. Kebetulan saat itu saya solo avonturir, teman-teman tinggal di tenda, mau onsen katanya. Saya perhatikan langkah ibu tersebut, lambat dan tegak. Hampir-hampir saja saya menyalipnya. Dan ketika hampir menyalip, napas saya terengah-engah. Akhirnya, dengan sabar saya berjalan di belakang ibu tersebut. Di sinilah cobaannya. Saya menahan diri untuk tidak istirahat selama ibu di depan saya tidak istirahat. Ibu di depan saya tersebut membawa peralatan lengkap, tas carrier 60L (liter). Sedang saya hanya membawa tas selempang berisi air minum. Dengan penuh perjuangan akhirnya saya bisa tetap di belakang Ibu tersebut sampai Tsurugigozenkoya, tempat yang memisahkah jalur pendakian ke Gunung Bessan dan Gunung Tsurugi.

Setelah pos Tsurugigozenkoya tersebut, saya menerapkan dua pelajaran yang saya dapatkan dari Ibu di didepan saya tadi: langkah pendek dan sedikit istirahat. Walhasil, perjalanan dari Raichosawa-Bessan-Masagodake-Raichosawa dapat saya tempuh dalam 4 jam (sesuai estimasi aplikasi Yamap). Langkah pendek dan sedikit istirahat, itulah kuncinya. Dengan langkah pendek, pelan, dan menghirup udara panjang, kita sudah sekaligus beristirahat dalam tiap langkah. Sehingga, istirahat yang lebih panjang tidak diperlukan lagi. Saya juga tidak mengalami kecapekan yang luar biasa setelah pendakian Gunung Tateyama, kaki normal tanpa penumpukan asam laktat di paha atau betis. Berbeda sekali dengan pendakian-pendakian sebelumnya (bisa juga karea bantuan "supporter betis/calf supporter" yang saya pakai). Dua teknik ini, langkah pendek dan sedikit istirahat, merupakan kunci untuk melakukan pendakian tepat waktu.

The Rest Step

Teknik yang saya ikut dari seorang Ibu di Tateyama di atas ternyata dinamakan "the rest step". Pada jalan biasa naik kita tidak berhenti; kita jalan terus-menerus tanpa memberi kesempatan kaki untuk beristirahat, kecuali di saat istirahat. Apa dasarnya, karena betis dan paha selalu dalam posisi bengkok; tidak pernah dalam posisi lurus (180 derajat). Rest step adalah kebalikannya, dalam sekali jalan posisi paha dan betis kembali 180 derajat setelah melangkah. Energi ketika paha dan betis pada kondisi lurus digunakan untuk menekan/menapak langkah selanjutnya. Perhatikan dua video berikut, dan ambil pelaran darinya! 


Untuk teknik pendakian turun, silahkan baca disini >> http://bagustris.blogspot.com/2020/10/teknik-pendakian-turun-meghindari-lutut.html.

Thursday, September 10, 2020

Hiking Mt. Haku: A Beginner Guide

Disclaimer:
Although I called myself as beginner/amateur mountain climber, I have several experiences in climbing/hiking some mountains in Indonesia (e.g. [1]),  including the highest peak of Java [2]. In Japan, I ever climbed to the top of Mt. Fuji via the Fujinomiya trail (the hardest and shortest trail) [3]. One of our team in this Hakusan trekking is the first timer mountain climber; hence, this story can be used for a total beginner.

Intro

Mt. Hakusan is one of the sacred mountains in Japan (three holy mountains). The others are Mt. Fuji and Mt. Tateyama. But, the reason for this climbing is not because of its holiness; instead, it is very close to my current place of life. I live in Nomi city, Ishikawa prefecture. Hakusan is located in Hakusan city, the neighbor of Nomi city. If you love nature, you will love to live in Ishikawa prefecture. And Hakusan is one of the best natural landscapes in Ishikawa prefecture.



Preparation

I prepared this trekking in several ways. Three weeks before the trekking day, I hiked Sky Shishiku highland (82 m to 642 m) in Tsurugi with a total of 16 km of journey. Two weeks before the trekking day, I repeat to high Shishiku highland, but not to the peak (about 4 km). One week before the trekking day, I intensively walked about 3000 to 8000 steps every day (measured by a wristband), including my daily routine going up and down from 1 floor to 5th floor. This exercise is enough, I think.


Gears

The following gears are ordered from the most important to the less important.
  • Trekking shoes: use hiking shoes with a vibrant and waterproof feature if possible. Vibrant shoes can reduce stiffness on the foot while waterproof shoes keep your foot dry when it rains.
  • lightweight backpack: since there is a cafeteria in Murodo (highest station) and water are available in all stations, bring a lightweight backpack. Fill it with a snack, water, and other important things (raingear, wallet, ticket, etc).
  • Clothing: use a layer hiking t-shirt with long pants in summer. Keep other layers (lightweight jacket/hoodie) in the backpack.
  • Hiking pole: use a single pole for climbing up and down. This pole is important to control and hold you when going down. It prevents your knee for stiffness.
  • Hats: use hats (or cap) to protect you for sunlight and tree branches.
  • To keep in a backpack: rain gear, flashlight, glove, plastic bags, towels, power bank.

The day

We started our journey from JAIST. The time used in this hiking is the most ideal one-day trip. Although the weather prediction changed, from cloudy to rain, in the day, we can keep our schedule on time. Follow our schedule if you stay nearby Mt. Hakusan (about 1-hour drive to ichinose).

We gather in JAIST rotary at 3:20 a.m. At 3:30, we left JAIST by car to Ichinose. From the google map, the trip takes about 70 minutes, and we did it as the map said. We arrived at Ichinose camping ground (and parking area) at 4:30. We pray subuh there once arrived, and buy the bus ticket to the bettou deai center. 

The ticket for a round trip is 1000 yen. The trip is about 15 minutes. We catch the first shuttle bus at 5 a.m. Thus, we arrived at Bettou deai at 5:15. There are a toilet and a water station at Bettou deai. It is better to go to the toilet and fill for the water before starting to climb Mt. Hakusan.

We start to climb Mt. Hakusan at 5:30 when we enter the gate. A beautiful wooded bridge welcomed us before entering the forest. Although it is still dark at that time, the fresh air of nature invites us to enjoy this adventure. Welcome to the jungle!

About one-hour walking (6 a.m.), we arrived at the first station. There are a toilet and water station there. You can take breakfast here, at Nakahanba. Here are my pictures there.



If you plan to take a rest there, don't waste a lot of time. Ten to fifteen minutes is enough to take a rest. If you plan a brief rest, I suggest you do not take a sitting position, but a humped shape position.

Continue walking about 1.5 hours (7.30 a.m.) we arrive at Jinnosuke shelter hut. As the previous station, there are toilets and water stations in addition to a shelter hut. The toilet is clean; hence, I recommend you to make pee here before continuing to Murodo. The first figure in this post, a panorama view, was taken at Jinnosuke shelter hut.

The next walking is the rest journey to the only station before the top, the Murodo station. We need to be checked (due to coronavirus), wear a mask, and show a sticker as a sign that we already take temperature check. The scenery from Jinnosuke to Murodo is the best view during this Hakusan trail. Don't forget to take lot of pictures. Here is one of mine.
Before Murodo, the view is great!
It takes about 1.5 hours from Jinnosuke to Murodo (with two-three breaks). I forget to take a picture when in Murodo, but the following video was taken just before entering Murodo.


In Murodo, we take about 20 minutes of breaks. We did brunch (breakfast + lunch). At about 9:40 a.m, we continue our journey to the top of Mt. Haku. From Murodo to the top of Mt. Haku needs about 40 minutes slow walking (because the trek is a little bit steep). Nevertheless, the view at the top of Mt. Haku is awesome. At 10:20 we reached the top of Mt. Haku!

At the top of Mt. Haku

Murodo from the top of Mt. Haku
That's all the journey of ascending Mt. Haku. Going down from Mt. Haku at that time is longer than expected, a little bit messy. It was rain! So, even the weather forecast says it will sunny or cloudy, prepare your rain gear in advance. Nevertheless, here is our track to hike Mt. Hakusan.



After staying about 20 minutes at the top we back to Murodo, having lunch there and go back down. It takes 5 hours from Murodo to Betto deai in rainy conditions. On the descending way, we take a break in Nakahanba station just to wait for the rain stopped (not really stopped, but better). At 4 p.m, we arrived at Bettou deai center and directly riding the bus to Ichinose. We arrived at Ichinose at 4:15 p.m. Mission accomplished!





Time frame:

Active time: 4h44m
Break time:  4h53m
Total time: 10h37m


Closing: Tips and Tricks

  • There is a cafeteria at Murodo, soba or udon cost about 500 yen, not so expensive.
  • In every station water faucet is available, no need to worry about water. At least three water stations are available before achieving Murodo.
  • No bus from Kanazawa to Ichinose during the pandemic (2020), the only way to achieve Ichinose is by car.
  • Bring lightweight equipment, it only takes 10 hours roundtrip for the beginner in rainy conditions descending.
For more detail trekking data, see my yamap activity page: https://yamap.com/activities/7569742

Reference
  1. https://bagustris.blogspot.com/2008/09/reach-top-of-arjuno.html
  2. https://bagustris.blogspot.com/2014/09/pendakian-semeru-rute-tips-catatan.html 
  3. https://bagustris.blogspot.com/2018/09/pendakian-gn-fuji-via-fujinomiya-trail.html
  4. http://www.kagahakusan.jp/en/pdf/en.pdf

Monday, May 18, 2020

Pentingnya bersih-bersih setiap hari...

Pada suatu ketika, di sela-sela belajar bahasa Jepang (kursus gratis man-to-man diadakan oleh volunteer), guru saya bertanya, "Bagus-san, kamu bersih-bersih tiap berapa hari sekali?" Saya menjawabnya, "Seminggu sekali, sensei." Sensei saya menimpali "Are, Takebi-sensei, mainichi souji shimasu". Itu si Takebi-sensei bersih-bersih rumahnya tiap hari. Takebi-sensei yang berada di belakang saya mengangguk dan menimpali, "hai, mainichi souji shimasu." Orang jepang suka yang bersih dan suka bersih-bersih. Bahkan saya curiga, pekerjaan mereka cuma bersih-bersih.

Mari berhenti sejenak dari membaca tulisan ini dan melihat dua video pendek berikut yang dibuat oleh vlogger amatir Jepang.



Monday, May 07, 2018

Pengalaman membeli simcard/HP di Jepang tanpa kartu kredit

Memiliki nomor Jepang saat di Jepang hampir mendekati kebutuhan, karena untuk "hidup" kita butuh HP. Contoh kecil adalah ketika bertransaksi online, baik untuk pembelian, pembayaran tiket dll, telfon tetap dibutuhkan untuk konfirmasi, utamanya saat akan menerima barang. Nah, hampir semua provider telekomunikasi di Jepang mensyaratkan kartu kredit sebagai alat pembayaran, the only one. Namun, ada beberapa provider yang menyediakan alternatif pembayaran melalui deposit transfer dari akun bank (振り込み/furikomi), tanpa mengeluarkan biaya yang mahal.

Provider apa sajakah itu...? Berikut pengalaman saya.

1. Softbank Prepaid
Softbank merupakan provider yang paling nyaman untuk foreigner karena ketersediaan layanan berbahasa inggris. HP pertama saya adalah softbank flip (non-smartphone) prepaid. Saat itu harganya hanya 2000 yen plus pulsa 1500 yang berlaku sebulan. Nomor tersebut aktif selama setahun (hanya bisa menerima saja ketika bulan pertama habis), dan bisa diisi ulang per bulan (3000 yen).
Saat ini saya juga masih menggunakan softbank prepaid, bedanya tahun lalu saya beli SIM cardnya saja (HP dari Indonesia), biaya awal 3000 yen plus pulsa 3000 yen untuk dua bulan, masa tenggan satu tahun dan jika diisi lagi akan bertambah masa tenggang setahun lagi.
Pembayaran kartu prepaid ini bisa secara tunah/cash di counter softbank.

2. Softbank
Saat saya kerja, saya beralih ke Softbank pasca bayar, dapat HP Dell (diskon 50%). Biaya bulanan sekitar 2000 yen plus modem mobile 4000 yen per bulan, jadi totalnya sekitar 6000 yen. Biaya yang besar, namun hanya itu cara saya bisa berkomunikasi dengan keluarga di tanah air saat itu. Dengan masa kontrak minimal 2 tahun, saya harus setor ke softbank minimal 24 x 6000 = 134000 yen plus biaya awal 10000 dan tagihan yang membludak jika roaming atau over kuota.
Pembayaran kartu ini melalui deposit tranfer atau furikomi, potong tabungan tiap bulan.

3. Rakuten Mobile
Selain Softbank prepaid, saat ini saya juga menggunakan kartu rakuten mobile untuk akses internet di luar kampus. Plan yang saya gunakan adalah "data only", jadi tidak bisa menerima telfon dan sms. Kuota yang saya ambil adalah 3.1 GB per bulan dengan biaya per bulan 900 yen. Biaya awal sebesar 4000 yen dan ada biaya administrasi tranfer karena saya menggunakan akun bank untuk furikomi, yakni 100 yen. Jadi saya harus membayar 1000 yen tiap bulan selain biaya awal tadi.

4. Skype Credit
Skype sebenarnya bukan merupakan provider, tapi IP Phone atau VoIP. Jadi bisa digunakan untuk telfon (termasuk sms, dan ada nomornya) namun harus memiliki koneksi internet. Saya beli kredit skype 1000 yen (tanpa langganan dan batasan waktu) via amazon.co.jp. Metode pembelian kredit (pulsa) skype yang lain adalah via kombini dan debit/credit card. Untuk dapat nomor, kita perlu langganan.

Selain metode diatas, masih ada beberapa provider lain seperti AU, dan provider bayangan (MVNO, Mobile Virtual Network Operator) lainnya selain tiga MNO utama: AU, softbank dan Docomo. Sekali lagi, jika menginginkan harga termurah, pembayaran dengan kartu kredit tetap lebih murah.

Tuesday, December 26, 2017

Kembali ke Jepang: Life at Nomi

Tak terasa, sudah tiga tahun saya meninggalkan Jepang, tepatnya 3 tahun 3 bulan. Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya kembali ke Jepang melalui MEXT. Melalui seorang teman, saya mendapat informasi tentang beasiswa MEXT, kemudian saya apply beasiswa tsb, wawancara dan alhamdulillah diterima. Saat bekerja di Jepang dulu, saya sudah beberapa kali apply beasiswa dan gagal. Saya sendiri bisa ke Jepang saat itu dengan beasiswa Jasso, kemudian bekerja di sebuah perusahaan Jepang di Mie-ken. Pelajaran yang bisa diambil, jangan takut untuk mencoba. Puluhan kali saya mencoba mendaftar beasiswa (Jepang) sejak S1, kemudian setelah lulus S2, kemudian setelah jadi PNS, akhirnya berbuah. Sebelumnya saya diinstruksikan untuk mendaftar beasiswa ke Eropa, namun hati kecil saya ingin kembali je Jepang, lingkungan dimana saya sudah terbiasa. Dan Tuhanpun mengabulkannya, Aamiin.

Saya masih ingat betul email terakhir dari calon supervisor yang mereject aplikasi saya, beliau menulis: "I regret to tell you this bad news, but I am hoping your fruitful stay in Japan", dan alhamdulillah, insyaAllah menjadi kenyataan.

Friday, December 26, 2014

Lima Tempat yang Wajib Dikunjungi di Fujinomiya

Sekali waktu anda di Jepang, dan anda punya waktu 2-4 hari, ada baiknya anda mengeksplorasi keindahan kota Fujinomiya, sebuah kota kecil, unik nan cantik di kaki Gunung Fuji, home base dari Fuji 5th station, pos pendakian Gunung Fuji yang banyak diminati. Selain Fuji, ada banyak tempat lain yang harus dikunjungi. Berikut daftarnya.
  1. Tokiwa Guest House
  2. Tokiwa guest house adalah penginapan termurah dan ternyaman di Fujinomiya. Hanya berjalan 1 menit dari Fujinomiya station, anda sudah dapat menemukan guest house ini. Beragam fasilitas pun ditawarkan, mulai dari sarapan pagi (free), private ofuro (mandi air panas, free), maupun fasilitas antar jemput ke tempat wisata dengan fee yang kompetitif (dibanding naik bis atau sewa mobil lain misalnya). Pemiliknya pun ramah dan tarifnya pun murah (JPY 3500/day). Silakan cermati video berikut untuk melihat Tokiwa guest house di Fujinomiya.
  3. Fujisan Sengen Shrine
  4. Ini adalah kuil dimana pada jaman dahulu merupakan start point untuk mendaki Gunung Fuji. Bila cuaca cerah, gunung Fuji akan terlihat cantik dari kuil ini. Pun demikian dengan kuil ini sendiri, tempat tersebut merupakan simbol dan landmark dari kota Fujinomiya. Kuil Fujisan Sengen Shrine ini bisa dijangkau dengan jalan kaki dari Tokiwa guest house, sekitar 15 menit.
  5. Shiraito Waterfall
  6. Air terjun yang mempesona ini dapat dijangkau sekitar 20-30 menit perjalanan dari Fujinomiya Train Station atau dari Tokiwa Guest House. Dengan tiket masuk yang gratis (atau mungkin sekitar 500 yen, saya lupa), air terjun ini meningatkan saya pada air terjun madakaripura di Probolinggo, Jawa Timur. Perbedaannya, air terjun ini lebih bersih dan terawat dengan fasilitas yang lebih lengkap dan memadai. Air terjun ini menawarkan view alam pegunungan yang bisa merefresh pikiran kita dari kesibukan dan kepenatan aktivitas kerja dan kampus.
    Bagus Tris Atmajaさん(@bagustris)がシェアした投稿 -

Tuesday, May 06, 2014

Cinta yang Menjadi Syafaat

Pada hari Sabtu 3 Mei 2014 kemarin, dalam acara Tabligh Akbar Golden Week 2014 di Osaka, Ustadz Habiburrahman El Shirarzy (Kang Abik) memberikan materi tentang seni dan cinta dalam Islam yang dikemas dalam format tanya jawab dari moderator dengan narasumber. Beliau memaparkan bahwa cinta pun kelak bisa menjadi syafaat kelak di akhirat. Cinta yang bagaimana? berikut paparan beliau yang saya transkrip langsung (saya ketik saat pengajian berlangsung) tentang cinta yang bisa menjadi manfaat.

Bersama Kang Abik, Perwakilan Konjen RI dan Ustadz Chandra

==========
Sesi II: Seni dan Cinta dalam Islam
 “Tidak beragama orang yang tidak menunaikan amanah”

Cinta bisa memberi syafaat kepada kita kelak di akhirat. Cinta yang bagaimana?
Dan tidak aku utus engkau Muhammad kecuali untuk menjadi Rahmat bagi seluruh alam.

Tuesday, October 15, 2013

Rindu Ramadan

Sudah hampir dua bulan yang lalu bulan Ramadan meninggalkan kita. Imam Syafii dalam 1 kali Ramadan bisa khatam Al-Quran sampai 60 kali, namun tidak pernah kita dengar beliau khatam sebanyak itu pada bulan-bulan lainnya. Bulan Ramadan memang spesial, dan ada satu malam lagi yang lebih spesial di bulan Ramadan, malam lailatul qodar.

Saat hati rindu Ramadan,  menjaga konsistensi kita beribadah sangat diperlukan, setidaknya aktifitas ibadah kita diluar bulan lain di luar Ramadan mendekati atau separuh dari aktivitas ibadah kita di bulan Ramadan. Untuk mencapai hal itu,  dibutuhkan konsistensi dan pemahaman. Pemahaman tentang kematian, tentang surga dan neraka, tentang pahala yang bisa kita dapatkan dari amal kebaikan.

Ingat mati, ingat mati.

Abdullah bin Umar menangis ketika minta air karena teringat penghuni neraka ketika meminta seteguk air dingin, malah diberi nanah panas oleh Allah swt. Mati adalah suatu keniscayaan yang semua orang pasti mencicipinya. Siapa yang tidak akan mati? Bahkan orang sehebat Firaun bisa mati, pun dengan seorang presiden. Tak hanya dokter, sekumpulan dokter yang disebut tim dokter kepresidenan tak mampu menyelamatkan seorang presiden yang sedang sakaratul maut. Cerita ini mungkin akan mengingatkan kita betapa maut itu sangat dekat.

Ingat surga dan neraka.

Bila surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau,  sujud kepadaNYa.
Bila surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau, menyebut namaNYa.
Kira-kira, begitulah lagu yang pernah di populerkan oleh (alm) Chrisye dan Ahmad Dhani. Ya, dengan mengingat surga dan neraka, kita akan ingat bahwa kehidupan di dunia ini cuma sebentar. Nunut mampir ngombe, begitu istilah orang jawa.

Monday, October 07, 2013

Terpesona di Kuil Kiyomizudera, Kyoto

Hari ini setelah mengunjungi masjid Kobe dan area Kitano, acara ryoko (piknik) saya bersama rekan-rekan KMI Mie (Keluarga Muslim Indonesia di Perfektur Mie) dilanjutkan ke kuil Kiyomizudera di Kyoto. Berdasarkan referensi yang saya baca disini lewat link twitter @HappyTravelJP, Kiyomizudera bersaing dengan Kinkaku Ji untuk menjadi destinasi terbaik di Kyoto. Saya sudah pernah ke Kinkaku Ji yang ceritanya bisa dibaca disini, sekarang tiba saatnya saya melihat langsung kuil Kiyomizudera untuk menentukan siapa yang sebenarnya pantas menjadi tujuan wisata terbaik di Kyoto menurut saya.


Kiyomizudera, kuil megah di Kyoto ini terletak di pegunungan Otowa. Kyomizudera berarti kuil air murni (the temple of clear water). Bangunan utama yang disebut "Kiyomizu" dibangunan di lerang pegunungan, dengan 139 pilar tanpa pasak. Metode pembangunan bangunan kayu tanpa pasak dan paku tersebut dinamakan "kakezukuri", salah satu warisan budaya Jepang di bidang ilmu arsitektur dan bangunan. Bangunan utama tersebut tidak hanya menawarkan pemandangan Kiyomizudera berlatar pegunungan dan tebing, namun juga menawarkan panorama kota Kyoto dilihat dari atas beserta Kyoto tower-nya.

Kuil Kiyomizudere berlatar pegunungan dan landscape kota Kyoto di kejauhan

Saturday, June 15, 2013

Tiga Pilar Kebijakan Abenomics

Pemerintahan Jepang saat ini, PM Shinzino Abe, menggencarkan upaya pertumbuhan ekonomi di Negeri Matahari Terbit dengan kebijakan ekonominya yang dikenal dengan Abenomics. Apa saja pilar kebijakan ekonomi Abenomics? Berikut ulasan Tetsuro Sugiura, Wakil Ketua Institut Riset Mizuho, terhadap kebijakan ekonomi PM Abe seperti yang dirilis oleh NHK versi bahasa Indonesia.
  1. Langkah pelonggaran moneter berani
  2. Kebijakan pelonggaran moneter Bank Sentral Jepang didasarkan pada gagasan untuk memasok dana dalam jumlah sangat besar guna memicu investasi.
    Menurut Sugiura, seharusnya pemerintah Jepang mengambil langkah yang lebih berani yakni pemangkasan pajak perusahaan dan reformasi tenaga kerja untuk mendorong kekuatan sekt
  3. Kebijakan fiskal yang fleksibel
  4. Kebijakan fiskal yang fleksibel ditujukan untuk membantu revitalisasi aktifitas ekonomi dengan menyediakan dana di sektor bisnis. Pemerintah Jepang juga sepakat untuk mencapai surplus di tahun fiskal 2020, karenanya pemerintah memberlakukan kebijakan yang fleksibel mulai sekarang.
    Menurut Sugiura, pemerintah Jepang perlu memangkas kenaikan anggaran kesejahteraan sosial yang merupakan anggaran belanja terbesar. Hal yang paling penting dalam bidang ini adalah mencegah kenaikan biaya layanan kesehatan bagi masyarakat usia lanjut, mengingat masyarakat Jepang yang kini menua secara pesat. Salah satu caranya bagaimana membuat kalangan usia lanjut yang kaya dengan pendapatan atau aset yang tinggi, untuk membayar lebih banyak bagi layanan kesehatan mereka
  5. Strategi pertumbuhan yang berkelanjutan
  6. Sementara strategi pertumbuhan berkelanjutan adalah agar pemerintah mengambil gagasan untuk membantu perkembangan industri dan restrukturisasi bisnis. Strategi pertumbuhan yang berkelanjutan identik dengan reformasi struktural yang berani, tapi menurut Sugiura, langkah yang ditempuh PM Abe masih belum cukup berani.
Dampak dari kebijakan Abenomics adalah merosotnya nilai mata uang yen. Kalau sebelumnya nilat tukar yen sekitar 70 yen per 1 USD, kini yen melemah di kisarat 96 yen / USD. Rupiah yang sebelum saya pergi ke Jepang (2011) bernilai 120 /1 JPY, sekarang hanya 90-an rupiah/1 JPY. Sistem ekonomi jepang  berkebalikan dengan umumnya sistem ekonomi dunia, jika yen melemah, maka Jepang diuntungkan karena mereka adalah negara pengekspor. Katanya juga, termasuk kebijakan Abenomics ini juga adalah Jepang akan mempermudah pintu masuk ke negara mereka bagi warga negara Indonesia, Malaysia dan Thailand.


sumber: NHK Indonesia

Thursday, June 13, 2013

Rahasia Sukses Jepang: Ganbatte Kudasai!

Pertama kali melihat pola kerja orang jepang, saya terheran-heran. Ini bukan manusia, ini robot, pikirku saat itu. Di lain pihak saya berargumen, "mereka kan hidupnya hanya untuk kerja, tidak sholat, puasa, dll". Kerja 18 jam sehari pun bagi mereka tidak masalah. Sampai hari ini saya berfikir argumen saya itu benar, tapi saya coba menelaah ulang pikiran saya itu dengan mengamati kehidupan orang jepang di bidang lain, tidak hanya masalah pekerjaan.

Di hampir semua sisi kehidupan, orang jepang terbiasa rapi dan indah. Bagi mereka, segala sesuatu akan berjalan baik, bila sesuai dengan aturannya. Ya, orang jepang sangat patuh pada aturan, dan mereka sangat jarang (hampir tidak pernah) membengkokkan aturan tsb. Seiri, seiton seishou (3S): ringkas, rapi, resik (3R), itu prinsip dasar mereka. Dan prinsip itu mereka pakai di semua lini kehidupan. Itu salah satu rahasia sukses Jepang.

Namun, apa rahasia utama sukses Jepang? Ganbatte, menurut saya itulah jawabannya. Bila diartikan, bisa berarti "semangat" atau "do the best" (lakukan yang terbaik) dalam bahasa inggris.. Ketua tim saya hampir setiap hari mengatakan itu, ganbatte kudasai, ganbarre ne, ganbarimashou dan sejenisnya. Orang Jepang selalu melakukan semuanya dengan yang terbaik yang mereka bisa. Tak heran, bila sebuah pekerjaan yang dilakukan orang non-jepang dibutuhkan waktu satu jam untuk menyelesaikannya, orang jepang hanya butuh setengahnya saja, setengah jam, karena mereka melakukannya dengan penuh semangat. Bahkan, kepala pabrik saya, dengan langkah tertaih-tatih (karena sakit pinggang) dipaksakan datang ke pabrik untuk melihat kondisi pabriknya. Atau,  ketua tim saya yang sakit dan tak mampu berdiri, beliau juga masih sempat melakukan patroli mengecek anak buahnya. Saya jadi teringat Rasulullah, yang ketika itu harus dipapah untuk mengimami sholat. Sakit yang luar biasa pun beliau tahan, demi bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Sebaliknya, saya juga teringat kawan saya di SD yang hanya karena hujan, dia tidak masuk sekolah. Apakah kita tidak bisa seperti itu?  

Harus bisa, pasti bisa, bismillah. Saat saya mendaki gunung Merapi 2009 silam, saya bertemu dengan orang bule dari portugal. Dia hanya butuh waktu 4 jam untuk sampai puncak dari hotel tempat dia menginap. Sedangkan kita pribumi, butuh waktu sekitar 6-8 jam untuk sampai ke puncak, itupun bila tidak ngecamp. Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak? Ganbatte kudasai!

Saturday, June 08, 2013

Pentingnya Sholat di Awal Waktu

Kemarin saya mendapat pelajaran berharga. Saat melakukan perjalanan Kameyama - Nagoya - Tokyo - Saitama, saya sebenarnya mendapat kesempatan sholat di shinkansen Nagoya - Tokyo. Namun karena saya memudahkan urusan sholat ini (Allumaghfirli, ya Allah), akhirnya saya kena imbasnya. Di negeri ini urusan sholat tidak semudah di Indonesia atau negeri-negeri yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Apalagi jika bekerja, urusan sholat akan lebih sulit daripada masih berstatus sebagai mahasiswa. Karena menunda sholat dhuhur - ashar (jamak), saya kesulitan menunaikan ibadah ini, dan akhirnya harus saya lakukan dalam keadaan "dhorurot" (saya ulang lagi ketika sampai di rumah), dan di waktu yang sudah injury time pula.

Di Dalam Shinkansen Nozomi N700

Ceritanya, beberapa saat sebelum sampai di Tokyo station (東京駅) saya ganti kereta (norikai - のりかい) di stasiun shinagawa, padahal waktu itu sudah masuk dhuhur. Di kereta yang baru, JR Local, karena berdesak-desakan, akan lebih sulit untuk menunaikan sholat. Pun ketika ganti kereta lagi di Ikebukuro menuju fujimino (kawagoe) dan akhirnya berhenti di stasiun tujuan, kami-fukuoka. Di Kawagoe (Saitama-ken), sebenarnya pun bisa izin sholat, tapi sekali lagi karena sendiri dan baru pertama kali datang masih "malu dan sungkan", sampai acara berakhir sekitar pukul 16.00 JST, ibadah dhuhur - ashar belum tertunaikan. Menuju Tokyo station dengan JR Local, kereta (yang rute-nya melingkar) masih berdesak-desakan (pemandangan yang lazim di stasiun-stasiun sekitar Tokyo, seperti juga terlihat di sini), dan masih belum berani menunaikan sholat di tempat tersebut. Ah, nanti saja, pikirku saat itu, padahal waktu sudah jam 5-an sore, kurang dari dua jam lagi sudah maghrib. Akhirnya, kami sampai di Tokyo station, tak lupa saya alasan ke toilet untuk mengambil air wudhu sebelum bertemu teman yang sudah menanti. Setelah itu, kami menuju cafe di dalam stasiun Tokyo untuk bicara tentang pekerjaan, dilanjutkan makan malam di 御食事処 yang juga berada di dalam stasiun Tokyo. Saya googling "prayer room tokyo station", tapi saya tidak menemukannya.

Sunday, April 21, 2013

Kajian Bulanan Mie ken Perdana: Pentingnya Memanfaatkan waktu

Alhamdulillah, setelah sekian lama direncanakan, akhirnya acara kajian bulanan untuk masyarakat Indonesia di Mie-ken (Prefekture Mie, Jepang) bisa terlaksana. Kajian bulanan perdana dimulai Maret 2013 lalu bertempat di apato kensyusei di Kuwana-shi.

A post shared by Bagus Tris Atmaja (@bagustris) on


Pada pengajian perdana di bulan maret lalu, Al-ustadz, Chandra Yuliansjah menyampaikan materi tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Beliau mentadzaburi surat Al-Ashr, surat yang cukup pendek tapi menyimpan makna yang dalam. Bahkan, Imam Syafii ra pernah berujar, kalau Al-Quran tidak diturunkan, cukuplah surat Al-Ashr ini saja yang menjadi pedoman untuk umat manusia.

Monday, April 15, 2013

The Nara Park

One of the must-visited place in Japan is Nara, the first Japan capital city ( 710 to 784) before Kyoto and Tokyo (CMIIW). The Nara Park (Nara Koen), which I visited last week, is located in the center of the city of Nara, extending about 4 kilometers from east to west, and about 2 kilometers from south to north. Many deer (Japan: shika - 鹿) graze along the spacious lawns and frolic on the grass. Inside the park area are Todai-ji Temple, Kasuga-taisha Shrine and many other historic structures that represent the glory of the city over many centuries. Small streams and ponds add charm to the scenery. The image of great temple roofs and the tips of tall pagodas peeking through the trees will be an unforgettable memory of your journey to Nara. Throughout the year the stream of visitors to Nara is never interrupted.


Todaiji, very beautiful from outside

In 728, the Emperor Shomu, who placed great importance upon Buddhism, founded Todai-ji Temple, now inscribed as a World Cultural Heritage Site. It is a head temple, ruling the other 68 Kokubun-ji temples (branch temples) scattered throughout the country, and it is said that it was called "Himugashi-no-Odera," or "large temple in the east," because it was located to the east of the then-capital, Heijo-kyo.

The major attraction inside the park is Kofuku-ji, a temple built in the early 8th century by the Fujiwara clan, a powerful family of the time. The precincts were expanded as the Fujiwaras became more dominant, and at their peak, it is said to have been 13 times larger than it is today (now 4 square kilometers).

The approximately 50-meter-high five-story pagoda of Kofuku-ji Temple is the second tallest old tower in Japan, after the pagoda of To-ji Temple in Kyoto City.

Saturday, April 13, 2013

Hanami: A Cherry Blossom Viewing in Japan

Hanami (花見) is a "flower viewing" party that is a common sight in Japan during spring, particularly during the short period when the cherry blossoms are in full bloom. Some photos on this page showing about Hanami in Kairaku koen (park), Tsu - Mie to see beautiful blossoms this 2013 spring.

Hanami in Kairaku Park, Tsu City
The concept is very simple: We find a good spot for looking at the trees -- ideally right underneath them -- and have a party. Many parties consist of snack foods, a yakiniku-style barbecue grill plus some raw meat, and topped off with plenty of drinks. This time, I go to with my friend to Kairaku koen. Suddenly, there is rain when we reached there, so we just enjoying hanami in a small cafe (food stall) with coffee, juice, takoyaki, and Japanese food.

As I did, there will also be snack food and drinks available at food stalls in the more popular parks. Groups generally pick a spot and "reserve" it by putting a large blue plastic sheet over the area with their name on it. Sometimes people do this well in advance as prime spots in the most popular areas are hard to come by.

Saturday, February 16, 2013

Pesta Rakyat Indonesia 2013 in Yokkaichi, Mie Prefecture


In January 4th, 2013, Indonesian community in Mie Prefecture hold a party which is called "Pesta Rakyat Indonesia 2013". This event was presented to celebrate the new year of 2013 as well as the communication forum for Indonesian life in Mie or in Japan generally. What make it different with the other Indonesian festival, just indexing annual Indonesia festival in Nagoya, the Indonesian party in Yokkaichi show most of Indonesian band performed by some Indonesian trainee (kensyusei) in whole Japan. Some cultural dances also were performed in this event including tari Betawi, Jaipong, Bali and others. 

Music Perfomance in Pesta Rakyat Indonesia 2013, Yokkaichi

As local Indonesian event in Japan, this Indonesian party successively made Indonesian people to come to Yokkaichi. However, the limitation of time in preparing the event make the organization of the event (Ori Management) not to perfectly shown the distinguish Indonesian show. Some mistakes was occurred in stage by some band personnel and by dancer. Located in Yokkaichi bunka kaikan, the place was the perfect stage. By paying 1000 yen, the people are welcome to this event, especially for Indonesian who wants to meet other Indonesians in Yokkaichi. Some Japanese and other nations are also present in that time.

Sunday, January 27, 2013

Ayo Belajar Bahasa Jepang [5]: Issho Ni Kaerimasenka?

Sebagai kelanjutan pelajaran 4 bahasa Jepang yang lalu di sini, pada pelajaran 5 ini membahas percakapan setelah Kuon selesai rapat di kantornya. Karena rapat di kantor telah selesai, Kuon hendak mengajak Ibu Yamada (山田さん) untuk pulang bersama. Bagimana ungkapan Kuon ketika mengajak Ibu Yamada?

Kuon dan Ibu Yamada (image credit: NHK)

Naskah Percakapan

クオン 山田さん、一緒に帰りませんか?Yamada, bagaimana kalau kita pulang sama-sama?
KUON YAMADA-SAN, ISSHO NI
 KAERIMASEN KA?
山田 ごめんなさい。
 まだ仕事が終わりません。
 クオンさんも手伝ってください。
Maaf, tapi pekerjaan saya belum selesai.
Kuon, bisa tolong bantu saya?
YAMADA GOMENNASAI.
 MADA SHIGOTO GA OWARIMASEN.  KUON-SAN MO TETSUDATTE KUDASAI.
クオン えーと、今日は残業できません。Mm... saya tidak bisa kerja lembur hari ini.
KUON  ÊTO, KYÔ WA ZANGYÔ DEKIMASEN.
山田 えっ…。Heh?
YAMADA E'...?

File suara percakapan di atas dapat diunduh di sini.

Saturday, January 26, 2013

Nenek-nenek Petualang

Suatu hari diawal tahun 2013, di stasiun Kasado, yang masuk wilayah kota Suzuka, terlihat dua orang nenek-nenek dan seorang kakek mengenakan atribut avonturir lengkap. Di tengah dinginnya pagi, mereka mengecek jadwal kereta di papan pengumuman. Ternyata, banyak kakek-nenek di Jepang yang mengisi hari tua mereka dengan berpetualang, 山上り(hiking, yama nobori) dan sejenisnya.

Ketika saya memfotonya, dia menengok, lalu saya mengalihkan hape ke sudut lain, berpura-pura memfoto obyek lain. Begitulah aktivitas kaum tua di negeri ini, umur bukan halangan untuk berpetualang menikmati alam. Dinginnya salju musim dingin juga bukan alasan untuk berdiam diri saja di rumah. Ganbatte obaachan!

Nenek Petualang di Stasiun Kasado, Yokkaichi

Sunday, December 30, 2012

Bounenkai: Tradisi Akhir Tahun Masyarakat Jepang

Memasuki bulan desember, beberapa perusahaan di Jepang sudah memulai pesta akhir tahun. Bonenkai, yang sudah menjadi tradisi baik di perusahaan swasta, pemerintah maupun kalangan akademisi menjadi agenda wajib tahunan untuk saling merefresh suasana kerja, khususnya antara atasan dan bawahan, guru dan murid atau si bos dengan pegawainya.

Hampir setahun ini saya telah bekerja di perusahaan Jepang, dan kemarin saya baru mengikuti tradisi bonenkai di perusahaan saya. Tahun lalu pun sebenarnya saya berkesempatan mengikuti bonenkai di kampus, namun karena kantong mahasiswa yang pas-pasan, saya memilih tidak ikut dan menyendiri di apato sambil mengerjakan tesis.

Tahun ini perusahaan saya memilih lokasi bonenkai di Pulau Awaji atau dalam bahasa Jepangnya dikenal dengan awajishima. Berangkat dari kantor pukul 08.00 waktu Jepang, perjalanan berlangsung selama kurang lebih 5 jam dari propinsi Mie dengan istirahat tiap satu jam di service area selama lima belas menit. Service area merupakan area parkir bis dan kendaraan pribadi di mana penumpang bisa ke toilet, makan dan minum, serta membeli oleh-oleh di tempat tersebut.
Bersama Sacho dan Penari Awa Odori

Sebelum menuju tempat bonenkai, rombongan kami terlebih dahulu mampir ke pabrik sake di Kobe. Di sana dijelaskan sejarah pembuatan minuman sake dari zaman tradisional hingga era modern saat ini. Bangsa Jepang telah memiliki budaya terstruktur dan sistematis meskipun saat itu masih menggunakan alat-alat tradisional dari kayu, kulit, tulang dan logam-logam kuno. Peralatan itu pun masih tersimpan dan terdokumentasikan dengan rapi, sehingga siapa saja yang berkunjung ke tempat tersebut bisa melihat evolusi proses pembuatan sake dari masa ke masa.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...