Suatu ketika, sekitar tahun 2015, seorang kolega dosen (yang beberapa tahun kemudian menjadi kepala jurusan) ditanya oleh istrinya: Yang, apa sih yang kamu lakukan ketika menjalani S3? Sang suami berpikir sebentar, kemudian menjawab. Sederhananya begini: Saat S3 aku membuat-buat masalah sendiri, kemudian berusaha memecahkannya sendiri. Ketika aku bisa memecahkan masalah tersebut, aku mendapat gelar S3.
Jawaban sang istri mengejutkan: Nek gawe masalah dewe, terus diselesekno dewe, aku yo iso. Lapo adoh-adoh sekolah S3. Nek ngono iku ae yo gak perlu PhD.
Terinspirasi oleh dialog suami-istri tersebut, saya mencari ide penelitian berdasarkan masalah nyata. Bukan masalah yang dibuat-buat. Apakah itu "problem-based research"? Berdasarkan referensi [1], kriterianya adalah sebagai berikut:
1. Masalahnya adalah masalah "umum", bukan berdasarkan opini personal. Artinya, banyak orang menganggap "masalah" tersebut adalah benar-benar masalah, bukan hanya peneliti saja.
2. Bukan berdasarkan perbandingan dua data(set) saja. Artinya, tidak membandingkan (atau mencari) bahwa di dua data tersebut ada permasalahan, tapi permasalahannya benar-benar "general", ada di dataset yang lain. Dari kriteria ini, sebaiknya riset memakai setidaknya tiga dataset. Atau, jika hanya dua dataset (minimum), ditunjukkan bahwa permasalahan ada juga di dataset yang lain meski tidak dievaluasi (berdasarkan referensi). Contoh lainnya adalah membandingkan data sebelum dan sesudah "treatment". Ini juga hanya pembuktian metode, bukan sebuah riset berbasis masalah.
3. Riset berbasis masalah juga bukan karena ada korelasi antara A dan B. Lagi, apa masalahnya? Jika memang ada masalah, misalnya di A, dan solusinya ada di B, bisa jadi ini akan menyelesaikan masalah. Tapi jika ingin mengetahui korelasi A dan B, misalnya tingkat penghasilan dan konsumsi belanja, ini bukan masalah, dan hanya mencari-cari masalah saja.
4. Tujuan riset berbasis masalah bukan "Ya" dan "Tidak", tapi menyelesaikan masalah. Misal penelitian untuk menyelesaikan masalah XXX. Tujuan penelitian bukan untuk membuktikan metode AAA bisa menyelesaikan masalah XXX, tapi untuk mengetahui mengapa dan bagaimana metode (AAA) yang diusulkan bisa menyelesaikan XXX. Bedanya, jika ternyata metode AAA belum bisa menyelesaikan masalah XXX, peneliti akan mencari metode lain yang bisa menyelesaikan XXX. Intinya, cara pandang agar sebuah masalah selesai bukan hanya metode penelitian saja.
Kalau digambarkan, contohnya adalah sebagai berikut:
Diawali dengan masalah, kemudian diselesaikan dengan proposal yang diusulkan (proposed solution). Kriteria keberhasilannya dapat diukur dengan practical benefit. Misalnya, jika metode yang diusulkan bisa mereduksi waktu proses. Misalnya lagi, metode menanak nasi yang hanya butuh 5 menit dibandingkan dengan metode sekarang yang membutuhkan 40 menit. Di sini, practical benefit dari metode yang diusulkan terlihat jelas dapat menyelesaikan masalah (lama waktu menanak nasi).
Referensi:
[1] T. J. Ellis and Y. Levy, “Framework of problem-based research: A guide for novice researchers on the development of a research-worthy problem,” Informing Sci., vol. 11, pp. 17–33, 2008, doi: 10.28945/3288.
