Thursday, October 31, 2019

Menjadi Logis [3]: Argumen: Bahasa Logika [2]

Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya: Menjadi Logis [3]: Argumen: Bahasa Logika [1]. Karena isi dari Bab 3 buku "Being Logical" cukup panjang, saya pecah ringkasannya menjadi dua artikel, agar mudah dibaca dan dipahami.

Saya mulai penomoran itemnya dari 11, melanjutkan tulisan sebelumnya 1-10.

11. Kebenaran Premis
Dalam argumen silogisme ada kesesuaian antara konten dan struktur. Konten akan benar jika premisnya benar. Jika premisnya salah, maka secara konsisten kesimpulannya menjadi salah. Contohnya adalah berikut.

Setiap anjing memiliki tiga kepala.
Corolla adalah anjing.
Corolla memiliki tiga kepala.

Meski secara struktur benar, namun karena premisnya salah, kesimpulannya menjadi salah. Dapat dikatakan, jika inputnya sampah, maka outputnya juga sampah (garbage in, garbage out).

12. Relevansi Premis
Meski premis harus benar, namun itu saja tidak cukup. Kebenaran premis harus relevan dan menjangkau kesimpulan. Contohnya adalah berikut.

Pak XXX merupakan purnawirawan jenderal TNI AD.
Beliau sekarang seorang wirausahawan yang sukses.
Karenanya, beliau seharusnya terpilih menjadi presiden.

Pada pernyataan diatas, premisnya benar (kalimat satu dan dua), namun kurang relevan dengan kesimpulan yang diambil (kalimat 3). Bandingkan dengan argumen berikut.

Pak YYY adalah wirausahawan sukses.
Beliau terpilih menjadi walikota ZZZ dan gubernur AAA selama dua periode.
Melihat kecakapannya memimpin kota dan provinsi, maka beliau layak menjadi presiden.

Argumen kedua ini lebih logis karena ada relevansi antara premis dan kesimpulan.

13. Pernyataan Fakta, Pernyataan Nilai
Pernyataan bisa berupa fakta atau berupa nilai. Contohnya berikut,

Musisi adalah mereka yang piawai memainkan alat musik.
Bagus adalah musisi.
Kesimpulan: Bagus piawai memainkan alat musik.

Bandingkan dengan pernyataan berupa nilai berikut.

Musisi adalah manusia yang sangat unggul.
Bagus adalah musisi.
Kesimpulan: Bagus adalah manusia yang sangat unggul.

Kata unggul sebagai nilai pada argumen di atas samar (vague). Premis dengan pernyataan nilai tidak bisa digunakan secara presisi seperti pernyataan nilai. Untuk mengetes validitas pernyataan nilai, premis tersebut diuji dengan fakta lainnya yang ada, bila cocok maka bisa diterima.

Tuesday, October 29, 2019

Menjadi Logis [3]: Argumen: Bahasa Logika [1]

Tulisan berikut merupakan review Bab ke-3 buku "Being Logical". Review dari bab sebelumnya ada di sini dan di sini. Bab 3 berisi tentang argumen: bahasa logika. Ekspresi konkrit dari penalaran logika adalah argumen. Untuk membuat argumen yang kuat dan efektif, beberapa hal-hal berikut perlu diperhatikan.

1. Membangun Argumen
Perpindahan ke satu ide dari ide yang lain yang telah diketahui kebenarannya, dan menjadikan ide kedua menjadi benar, merupakan inti argumen. Argumen terdiri atas pernyataan-pernyataan, dan pernyataan-pernyataan itulah yang menyampaikan ide dimana perpindahan inferensial (bersifat dapat disimpulkan) terkonsentrasi.

Argumen tersusun atas dua: pernyataan premis dan pernyataan simpulan. Premis adalah pernyataan pendukung. Pernyataan ini merupakan awal argumen dimana kebenaran pernyataan tersebut sudah diketahui. Simpulan adalah pernyataan yang didukung. Premis bisa bermacam-macam, namun simpulan yang baik seharusnya hanya berisi satu hal. Contoh argumen sederhana yang terdiri atas satu pernyataan premis dan satu simpulan.
Karena tidak cocok dengan kepala kantor cabang di Surabaya, Pak Budi dipindahkan ke kantor cabang di Bandung.
Kalimat pertama merupakan premis; alasan, yang dianggap benar. Kalimat kedua adalah simpulan yang menjadi benar karena premisnya benar. Premis adalah dasar dari argumen, dan cakupannya harus bisa mampu menjangkau apa yang disimpulkan.

2. Perpindahan dari universal ke partikular
Perpindahan dari pernyataan universal bisa dilakukan ke pernyataan partikular. Perhatikan contoh berikut.
(i) Semua anjing adalah karnivora. (ii) Beberapa anjing adalah karnivora. 
Karena pernyataan universal (i) adalah benar, maka pernyataan partikular (ii) juga benar. Logika dari prinsip ini cukup sederhana, jika semua anggota dari satu kelas adalah benar, maka sebagiannya juga benar.

3. Perpindahan dari partikular ke universal
Berbeda dengan kaidah sebelumnya, kita tidak bisa secara asa menggeneralisasi dari pernyataan partikular ke pernyataan universal. Perhatikan contoh berikut.
(i) Beberapa wanita adalah ibu. (ii) Semua wanita adalah ibu. 
Pernyataan partikular (i) tentu saja benar, namun tidak dengan pernyataan universal (ii). Untuk berpindah dari pernyataan partikular ke universal dibutuhkan premis yang kuat dan runtut. Perhatikan contoh berikut.
Setiap orang China yang saya temui di sana bermata sipit. Penduduk Lanzhou 99% bermata sipit berdasarkan data sensus tahun 2010. Di beberapa propinsi lain, persentase penduduk bermata sipit juga mendekati 100%. Bisa disimpulkan, sebelum terjadinya perkawinan antar ras, semua penduduk China bermata sipit.

Sunday, October 27, 2019

Menjadi logis [2]: Prinsip Dasar Logika

Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya, Menjadi Logis [1]: Menyiapkan Akal untuk Logika. Tulisan ini merupakan bagian terpenting dari catatan seri kuliah "scientific discussion" [1] di JAIST. Tulisan ini saya buat sesederhana mungkin agar bisa dibaca oleh semua orang. Tidak ada kata-kata yang seharusnya tidak ada. Sebaliknya, semua yang harus ada harus tertulis di sini. Semua yang bisa membaca seharusnya mampu memahami tulisan ini.

Setelah kita membiasakan hal-hal untuk menerima logika, langkah selanjutnya adalah mengasimilasikan prinsip-prinsip dasar logika agar menjadi kebiasaan kita. Berikut prinsip-prinsip dasar logika tersebut.

1. Prinsip-prinsip utama
Sains adalah kumpulan pengetahuan terstruktur yang dibangun dari prinsip-prinsip utama. Logika, sebagai sains, juga demikian, dibangun atas prinsip-prinsip utama. Ada empat prinsip utama logika sebagai berikut:
  1. Prinsip identitas: sesuatu adalah apa adanya.
  2. Prinsip pengecualian nilai tengah: antara ada dan tidak ada tidak ada nilai tengah.
  3. Prinsip alasan yang cukup: ada alasan yang cukup untuk semuanya.
  4. Prinsip kontradiksi: tidak mungkin sesuatu menjadi dan tidak menjadi pada satu waktu.
Tiga dari prinsip di atas diusulkan oleh Aristoteles, sedangkan satu dari Leibiniz, yakni prinsip cukup alasan. 

Prinsip identitas (principum identitatis) adalah prinsip yang paling utama diantara yang utama. Secara sederhana, A adalah A, bukan B. Kucing adalah kucing bukan anjing. Segitiga adalah segitiga, bukan segi empat. Semua yang logis harus beridentitas [2]. Sebaliknya, sesuatu yang identitasnya dipertanyakan juga dipertanyakan kelogisannya.

Prinsip kedua mengatakan bahwa tidak mungkin ada kondisi tengah diantara ada dan tidak ada. Sebagai contoh: di dalam kotak ada kucing atau tidak ada kucing, tapi tidak diantaranya (yakni setengah ada dan setengah tidak ada).  B adalah kucing, bukan anjing, tidak mungkin setengah kucing dan anjing.

Prinsip ketiga merupakan prinsip penting dalam logika dan diskusi saintifik, termasuk/khususnya penulisan ilmiah. Harus ada alasan untuk semuanya. Prinsip ini mirip hukum sebab-akibat. Ketika anda mengusulkan metode A, harus ada alasan mengapa A. Ketika anda mengusulkan variabel X, harus ada alasan mengapa variabel X, bukan Y. Kenapa menggunakan contoh kucing dalam kotak, karena contoh tersebut sangat sederhana sehingga mudah dimengerti semua orang. Itu juga alasan untuk contoh sebelum dan sesudah prinsip ini.

Prinsip terakhir -- kontradiksi -- mirip dengan prinsip kedua. Bedanya, kalau dalam prinsip kedua tidak ada nilai tengah, maka dalam kontradiksi tidak mungkin ada dua keadaan dalam satu waktu. Tidak mungkin ada kucing dalam kotak A dan tidak ada kucing dalam kotak A. Tidak mungkin B adalah kucing dan anjing. Contoh pertama dikembangkan oleh Erwin Schrodinger dalam eksperimen pemikirannya: kucing dalam kotak. Menurutnya, tidak mungkin kucing dalam keadaan hidup dan mati bersamaan. Meski probabilitasnya 50:50, tapi tidak bisa dikatakan bahwa kucing hidup dan mati dalam keadaan bersamaan. Harus dibedakan antara probabilitas dan realita. Probabilitas tidak mengubah realita. Realita ada dengan atau tanpa observasi. Inilah logika.

2. Daerah abu-abu, daerah yang dibuat abu-abu
Daerah abu-abu adalah daerah dimana kebenaran tidak secara jelas dapat dinyatakan. Dalam hidup, banyak daerah abu-abu, namun jangan terlalu banyak menggunakannya. Abu-abu, sebagai warna, ada karena perbedaannya sebagai alternatif warna putih dan hitam. Jika dalam hidup kita berada pada situasi dimana tidak ada alternatif yang jelas, secara objektif, bukan berarti tidak ada alternatif yang jelas. Tidak adanya alternatif bukan karena tidak ada, namun karena kita tidak bisa melihatnya. Daerah yang dibuat abu-abu ada karena kita tidak bisa melihat daerah abu-abu, (sebenarnya) disebabkan ketidakpastian kita atau kurangnya pengalaman.

Sebagai contoh, anda berada  pada suatu masalah, menentukan benar atau salah. Anda tidak memiliki pengalaman kalau masalah tersebut benar, namun anda punya pengalaman kalau masalah itu salah. Prinsipnya: negatif hanya dapat dikenali sebagai negatif, "secara tidak pasti", karena positif telah diketahui. Disini ada kemungkinan kepastian. Jika pasti itu mungkin, maka kepastian itu mungkin terjadi, meski tidak pasti. Itulah yang harus dipilih.

Menjadi logis [1]: Menyiapkan akal untuk logika

Ini adalah resume buku "Being Logical: A guide to good thinking", sekaligus referensi utama kuliah "E413: Scietific Discussion 2" di JAIST. Tulisan ini adalah resume Bab 1 buku tersebut. Judul babnya adalah: Preparing for the Mind.

Ada tiga materi utama kuliah ini:
1. Logika dan penalaran
2. Argumentasi
3. Diskusi ilmiah (lisan dan tulisan)

Untuk menjadi logis kita perlu menyiapkan sikap, pandangan dan prosedur praktis agar logika bisa masuk, diterima maupun keluar dari akal kita. Hal-hal tersebut, dibahas dalam Bab 1 buku "Being Logical", adalah sebagai berikut.

1. Memberi atensi
Menjadi atensif adalah hal mutlak diperlukan untuk menerima logika. Banyak kesalahpahaman karena kita tidak menaruh perhatian terhadap apa yang kita dengarkan. Mendengar (hear) saja tidak cukup, harus mendengar secara seksama (listen). Fokus kita bisa dilatih. Dengan melatih fokus kita pada hal-hal kecil, kita akan terhindar dari permasalahan besar.

2. Mendapatkan fakta secara langsung
Fakta bisa didapatkan secara langsung untuk objek riil (benda, tempat, dll), dan tidak langsung untuk suatu kejadian. Contoh: anda mendengar bahwa ada diskon di Matahari. Anda datang ke Matahari dan ternyata memang ada diskon. Bagaimana jika kita tidak bisa mendatanginya langsung. Contoh: Presiden Jokowi menang pemilu 2019. Dengan mendatangi website KPU, kita bisa mengkonfirmasi bahwa fakta itu benar adanya. Jika kita tidak bisa membuktikannya langsung (dengan mendatangi), maka kita perlu mengeceknya secara tidak langsung, dengan perangkat lain, misalnya website pada contoh di atas.

3. Ide dan objek dari ide
Ide dan objek dari ide berbeda. Suatu ide harus dapat direpresentasikan menjadi objek. Contoh kita punya ide mempercepat suatu proses komputasi dengan mem-by pass prosesnya. Ide tersebut direpresentasikan dalam bahasa pemrograman (objek dari ide). Cara terbaik untuk mengklarifikasi ide (apakah berjalan atau tidak) adalah dengan melihat objeknya, berhasil atau tidak.

4. Memperhatikan asal ide
Kita pada dasarnya yakin bahwa ide dari akal kita. Murni dari akal kita? Tidak. Lingkungan berpengaruh. Ide kita muncul karena lingkungan, tempat, waktu dan latar belakang lainnya. Jika gagal menghubungkan ide kita dengan asalnya (ide) secara sistematis, maka ide tersebut menjadi unreliable, tidak terpercaya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...