Thursday, January 05, 2012

A Harmonizing Proposal For Islamic Science

Dari 2000-an universitas di berbagai negara Muslim hanya sedikit yang masuk dalam top 500 universities in the world. Itupun cuma nangkring di peringkat 400-500. Jumlah publikasi ilmiah yang berasal dari dunia Muslim hanya 1,1% dari total publikasi ilmiah yang dihasilkan para ilmuan dari seluruh dunia. Pada tahun 1999, hanya 134 paten yang terdaftar di seluruh negara-negara Muslim. Sangat jauh dibandingkan dengan 3.076 paten yang teregistrasi di Israel. Semakin lengkap dengan rendahnya frekuensi kutipan atas artikel-artikel ilmiah (per satu juta orang) yang cuma 0,02 di Mesir, 0,07 di Arab Saudi, 0,01 di Aljazair, dan 0,53 di Kuwait. Sementara Israel mampu meraih angka 38, Amerika Serikat menembus 43, dan Swiss melejit dengan capaian 80. 

Fakta di atas disampaikan oleh Prof. Nidhal Guessoum, seorang astrofisika muslim lulusan University of California San Diego USA dalam “The First International Conference on Knowledge and Values” yang diselenggarakan oleh CRCS UGM, ICRS bersama Panitia Dies Natalis UGM ke 62 di Auditorium Gedung Lengkung Sekolah Pascasarjana UGM pada hari Jum’at 16 Desember 2011. 

Bagi Prof. Nidhal, kondisi ini sungguh ironis jika kita sandingkan dengan seruan-seruan teologis Islam yang begitu bersemangat mengajak umatnya untuk menuntut ilmu, seperti: “Tinta seorang sarjana lebih suci daripada darah syuhada”, “Tuhan menaruh (di luar sana) obat untuk setiap penyakit yang Ia ciptakan”, “Kontemplasi satu jam (atau studi) tentang alam lebih baik daripada beribadah selama setahun, ”Carilah pengetahuan hingga ke negeri China!”. Semakin menyedihkan apabila kita memutar bandul sejarah ke belakang. “Al Biruni telah mengadopsi induksi sebagai pendekatan yang valid untuk sains 2-3 abad sebelum dipopulerkan oleh Francis Bacon. Isaac Newton yang digadang-gadang sebagai bapak optik modern pun berdiri di atas pundak seorang jenius yang hidup 7 abad sebelumnya, Al-Hassan Ibn al-Haytham,” ungkap professor of Physics di American University of Sharjah (United Arab Emirates) ini. Belum lagi jika kita menyebut Al-Khwarizmi, Al-Battani, Ibn Sina, Al-Tusi, Ibn al-Shatir, Ibn Sahl, Omar Khayyam, Ibn al-Nafis, Ibn Yunus, Al-Zahrawi, Ibn al-Baytar, Ibn al-Banna, Al-Qushji, dan Al-Khafri. 
Setelah abad keemasan dunia Islam digantikan dominasi ilmuwan Barat, sains digiring dengan metodologi naturalisme dan falsifiability. Sains dipersempit dengan hanya mau menerima penjelasan terkait fenomena alam (fisikal), mengandalkan penyebab materi, dan meninggalkan keberadaan agen supernatural. Sementara dunia Islam terjebak pada dua tren dominan: “Miraculous Scientific content” dan Kreasionisme (literalisme) yang sama-sama meletakkan Al Qur'an sebagai sumber referensi untuk pengembangan ilmu. Tren ini berkelindan dengan budaya otoritas kekuasaan (ulama, pemimpin, dan pengetahuan tertentu yang dianggap Islami). “Situasi yang sebenarnya melanggar prinsip-prinsip pengembangan keilmuan yang pernah disampaikan Al-Kindi, Ibnu Sina, dan Biruni”, ujar Prof. Nidhal.

Pada dekade 1970-an – 1980-an tampil 4 mazhab pemikiran yang mencoba mendudukkan posisi Islam dalam pergulatan ilmu pengetahuan: Sacred (“Islamic”) Science yang diusung oleh Seyyed Hossein Nasr, Ethical (“Islamic”) Science oleh Ziauddin Sardar, Universal Science ala Abdus Salam, serta I`jaz yang dikenalkan oleh Bucaille, Zendani, dan El-Naggar. Bagi Nasr, ilmu pengetahuan modern menjadi anomali kemanusiaan karena mengabaikan keberadaan Tuhan, sehingga menimbulkan penyakit kronis seperti kesewenangan terhadap alam dan “debasement of Man”. Padahal Islam meletakkan alam sebagai entitas suci, perpaduan antara realitas material dan spiritual. Untuk mengembalikan kondisi itu, kita harus menolak objektifitas pengetahuan modern, kemudian beralih kepada pementingan tujuan, makna, keindahan, dan harmoni kehidupan. 

Sardar lebih menilik ilmu pengetahuan dari sisi sosial dan aplikasinya di tengah-tengah umat manusia. Memikirkan relevansi sosial sains lebih penting daripada memperdebatkan tujuan epistemologisnya. Oleh karena itu, menurut Sardar, prinsip-prinsip Islam seperti tauhid (keesaan Ilahi), khalifah (perwalian manusia di Bumi), pengetahuan dan ibadah, keadilan, pengutamaan kepentingan umum dapat membantu redefinisi Ilmu. 

Lain halnya dengan universalisme sains yang dilontarkan oleh Abdus Salam, seorang muslim pertama yang meraih Hadiah Nobel Fisika - 1979. Salam menegaskan bahwa Ilmu adalah universal, hanya dalam aplikasi dipengaruhi oleh faktor budaya. Ia tidak melihat ada persoalan "metafisik" (konseptual) serius yang mengharuskan ilmu pengetahuan modern direkonstruksi. “There is no ‘Islamic Science’ just like there is no Chinese, Indian, Hindou, or Jewish science”, kata Salam.

Mencoba mencari jalan tengah dari 4 arus pemikiran di atas, Prof. Nidhal Guessoum menawarkan “a harmonizing proposal”, mengadopsi sains modern dengan segala metodologinya secara kritis serta memberikan warna interpretatif teistik dan menerapkan standar universal etika yang ketat. Profesor yang mengidentifikasi diri sebagai “Neo Ibn Rushd (Averroes)” ini, mencoba mengkolaborasikan nilai-nlai Quran dengan filsafat pengetahuan melalui jembatan hermeneutika ketika terjadi kontradiksi dengan ilmu pengetahuan modern. Hermeneutik diperlukan karena ada multi gradasi makna yang melekat dalam Quran ketika berhubungan dengan fenomena alam. 

Dengan “harmonizing proposal” ini, Prof. Nidhal berharap bisa menggerakkan kembali dinamika keilmuan di tengah-tengah masyarakat Islam, tanpa harus dibayangi ketakutan akan kekafiran karena menegasikan keberadaan Tuhan, tetapi tidak pula melewati batas karena terlalu terobsesi dalam mengungkap semua fenomena yang ada. (ANG) 

Source: 
http://crcs.ugm.ac.id/posts/general/724/Harmonizing-Proposal-untuk-Perdebatan-Islamisasi-Ilmu-Pengetahuan.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...