![]() |
| Pantai Clungup, view 180 derajat |
Showing posts with label East Java. Show all posts
Showing posts with label East Java. Show all posts
Tuesday, March 07, 2017
Pantai Gatra, Clungup, dan Tiga Warna
Ini adalah petualangan saya kesekian kalinya setelah off (Setelah petualangan terakhir mengunjungi Ambarawa). Perjalanan yang amat sangat mirip sekali dengan Sempu Island in Advanture (Read this!) Lokasinya pun tidak berbeda jauh dengan tempat tersebut, hanya beberapa meter dari Sendang Biru, pantai tempat menyeberang ke Pulau Sempu. Perjalanan ini tentang Raja Ampat-nya Jawa Timur: Pantai Gatra, Clungup dan Tiga Warna.
Thursday, September 08, 2011
Candi Jawi
Sekali waktu saya berkesempatan menghadiri pernikahan seorang teman serta menjenguk teman yang sakit. Nah, rumah teman saya ternyata tidak jauh dari lokasi candi Jawi, dan yang tak kalah serunya ternyata petugas penunggu Candi Jawi tersebut adalah ayah teman saya (pantas saja, saat mau tanya alamat teman saya, teman saya itu malah menyuruh saya bertanya pada petugas Candi). Jadilah, kami mendapat cerita banyak tentang Candi Jawi tersebut.
![]() |
| Candi Jawi, di suatu sore yang mendung |
Latar belakang Pembangunan Candi Jawi
Candi Jawi adalah peninggalan kerajaan Singosari saat dipimpin oleh Raja Kertangera. Dinamakan candi jawi karena lokasinya berada diluar (jawi=luar, bhs Jawa) kotaraja Singosari yang berada di wilayah Malang saat ini. Alasan Kertanegara membangun candi Jawi jauh dari pusat kerajaan diduga karena di kawasan ini pengikut ajaran Siwa-Buddha sangat kuat. Rakyat di daerah itu sangat setia. Sekalipun Kertanegara dikenal sebagai raja yang masyhur, ia juga memiliki banyak musuh di dalam negeri. Kidung Panji Wijayakrama, misalnya, menyebutkan terjadinya pemberontakan Kelana Bayangkara. Negarakertagama mencatat adanya pemberontakan Cayaraja.
Ada dugaan bahwa kawasan Candi Jawi dijadikan basis oleh pendukung Kertanegara. Dugaan ini timbul dari kisah sejarah bahwa saat Dyah Wijaya, menantu Kertanegara, melarikan diri setelah Kertanegera dikudeta raja bawahannya, Jayakatwang dari Gelang-gelang (daerah Kediri), dia sempat bersembunyi di daerah ini, sebelum akhirnya mengungsi ke Madura.
Struktur dan Fungsi Candi Jawi
Bentuk candi berkaki Siwa, berpundak Buddha. Bentuknya tinggi ramping seperti Candi Prambanan di Jawa Tengah, dengan ukuran luas 14,24 x 9,55 meter dan tinggi 24,50 meter. Pintunya menghadap ke timur. Posisi pintu ini oleh sebagian ahli dipakai alasan untuk mempertegas bahwa candi ini bukan tempat pemujaan atau pradaksina (sebuah upacara penghormatan terhadap seorang dewa, disebut Dewayadnya atau dewayajña), karena biasanya candi untuk peribadatan menghadap ke arah gunung, tempat yang dipercaya sebagai tempat persemayaman kepada Dewa. Candi Jawi justru membelakangi Gunung Penanggungan. Sementara ahli lain ada pula yang beranggapan bahwa candi ini tetaplah candi pemujaan, dan posisi pintu yang tidak menghadap ke gunung karena pengaruh dari ajaran Buddha.
Arkeologi Candi Jawi
Keunikan Candi Jawi adalah adanya relief di dindingnya. Sayangnya, relief ini belum bisa dibaca. Bisa jadi karena pahatannya yang terlalu tipis, atau karena kurangnya informasi pendukung, seperti dari prasasti atau naskah. Negarakertagama yang secara jelas menceritakan candi ini tidak menyinggung sama sekali soal relief tersebut. Berbeda dengan relief di Candi Jago dan Candi Penataran yang masih jelas. Salah satu fragmen yang ada pada dinding candi, menggambarkan sendiri keberadaan candi Jawi tersebut beserta beberapa bangunan lain disekitar candi. Nampak Jelas pada fragmen tersebut pada sisi timur dari candi terdapat candi perwara sebanyak tiga buah, namun sayang sekali kondisi ketiga perwara tersebut saat ini bisa dibilang rata dengan tanah. demikan juga di fragmen tersebut terlihat jelas bahwa terdapat candi bentar yang merupakan pintu gerbang candi, terletak sebelah barat. Sisa-sisa bangunan tersebut memang masih ada, namun bentuknya lebih mirip onggokan batu bata, karena memang gerbang candi tersebut dibangun dari batu bata merah.
Disamping relief yang terletak dibagian dinding candi, terdapat pula relief lain yang terletak dibagian dalam candi. Terletak tepat dibagian tengah candi yang merupakan bagian tertinggi dari bagian dalam candi, terdapat sebuah relief Dewa Surya yang terpahat jelas.
Keunikan lain dari Candi Jawi adalah batu yang dipakai sebagai bahan bangunannya terdiri dari dua jenis. Bagian bawah terdiri dari batu hitam, sedangkan bagian atas batu putih. Sehingga timbul dugaan bahwa bisa jadi candi ini dibangun dalam dua periode yang berbeda teknik bangunan.
Sejarah Candi Jawi menurut Negarakertagama
Negarakertagama menyebutkan, di dalam bilik candi terdapat arca Siwa. Di atasnya arca Siwa terdapat arca Maha Aksobaya yang kini telah hilang. Ada sejumlah arca bersifat Siwa, seperti Nandiswara, Durga, Ganesa, Nandi, dan Brahma. Kakawin Negarakertagama menyebutkan bahwa pada saat candrasengkala atau pada tahun Api Memanah Hari (1253 Saka) candi itu disambar petir. Saat itulah arca Maha Aksobaya raib. Dikisahkan Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk yang mengunjungi candi itu kemudian bersedih atas hilangnya arca tersebut. Walaupun telah ditemukan arca Maha Aksobaya yang kini disimpan di Taman Apsari, depan Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, yang kemudian dikenal dengan Patung Joko Dolog, arca ini bukan berasal dari Candi Jawi. Ditulis bahwa setahun setelah Candi Jawi disambar petir, telah dilakukan pembangunan kembali. Pada masa inilah diperkirakan penggunaan batu putih. Namun, asal batu putih tersebut masih dipertanyakan, karena kawasan yang termasuk kaki Gunung Welirang kebanyakan berbatu hitam, dan batu putih hanya sering dijumpai di daerah pesisir utara Jawa atau Madura.
Pemugaran dan usaha konservasi
Candi Jawi dipugar untuk kedua kalinya tahun 1938-1941 dalam masa pemerintahan Hindia Belanda karena kondisinya sudah runtuh. Akan tetapi, renovasinya tidak sampai tuntas karena sebagian batunya hilang. Kemudian diperbaiki kembali tahun 1975-1980, dan diresmikan tahun 1982. Kini biaya pemeliharaan didapatkan dari sumbangan sukarela dari pengunjung maupun LSM lainnya.
Bentuk bangunan Candi Jawi memang utuh, tetapi isinya berkurang. Arca Durga kini disimpan di Museum Empu Tantular, Surabaya. Lainnya disimpan di Museum Trowulan untuk pengamanan. Sedangkan yang lainnya lagi, seperti arca Brahmana, tidak ditemukan. Mungkin saja sudah berkeping-keping.
Di gudang belakang candi memang terdapat potongan-potongan patung. Selain itu, terdapat pagar bata merah seperti yang banyak dijumpai di bangunan pada masa Kerajaan Majapahit, seperti Candi Tikus di Trowulan dan Candi Bajangratu di Mojokerto.
Arca dan Benda Sejarah yang telah dipindahkan
Arca-arca peninggalan yang ditemukan di Candi Jawi telah dipindahkan, sebagian besar ke Museum, dan sebagian ke tempat komersial. Pemindahan arca-arca dari Candi Jawi ataupun candi lainnya ini mendapat banyak kritik dari sejarawan dan masyarakat setempat, karena walaupun pada satu sisi memang tepat untuk menghindarkan dari pencurian, pemindahan ini dianggap dapat mengurangi substansi sejarah peninggalan tersebut sehingga menjadi tidak lengkap untuk diapresiasi. Arca-arca yang dipindah dari habitatnya menjadi kehilangan nilai historisnya. Arca candi Jawi yang disimpan di Hotel Tugu Park, Malang, sebagai contoh, memang terawat baik, namun dianggap tercabut dari nilai historis dan ritualitasnya dna menjadi suatu hal yang cenderung dilematis.
Jika anda punya kesempatan berkunjung kesana, atau saat melintasi daerah tersebut (Tretes - Pandaan), sempatkanlah menengok Candi Jawi untuk melepas penat atau menyegarkan suasana sekalian melihat peninggalan kerajaan Hindu-Budha di masa lampau.
Wednesday, November 05, 2008
Sempu Island in Adventure
Sebuah perjalanan yang juga cukup menakjubkan terulang lagi, mengunjungi salah satu sudut bumi ini yang jarang terjamah manusia. Pulau Sempu, pulau eksotik tak berpenghuni di sebelah selatan malang.
Berangkat dari Surabaya jumat malam, aku janjian dengan teman2ku di kota malang. Kami berencana menginap disana (Malang) semalam, baru paginya ke Sendang biru – Sempu.
Perjalanan ke Sendang Biru – Pulau Sempu memakan waktu sekitar 2 jam dari malang kota. Jalannya naik turun, dengan tikungan yang tajam. Harus ekstra hati-hati ketika berkendara, seperti yang dialami temenku. Pengennya niru Valentino Rossi di MotoGP yang berkcecepatan tinggi saat menikung, namun badannya malah lecet-lecet terjatuh saat di tikungan. Meski siapa cepat dia dapat, Tapi biar lambat asal selamat. Silakan pilih dua pepatah yang sesuai. Tergantung sikon, untuk kasus ini aku jelas memilih pepatah kedua.
Memasuki pantai sendang biru, kami ditarik retribusi. Sebagai warga negera yang baik aku membayar 4500 rupiah untuk orang plus kendaraannya. Kami langsung ngetem sebentar, nitipkan sepeda motor, nyari perahu dan ngurus perizinan ke Cagar Alam Pulau Sempu. Perizinan kena 25 ribu sedang perahunya kena 100 ribu.
Dari pantai dimana kami dilabuhkan di pulau Sempu, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju segoro anakan. Awalnya kami bergembira ria, namun kelamaan ternyata beban di pundak kami terasa berat. Aku barter dengan temanku, Carrierku kuserahkan padanya dan aku ganti yang membawa galon. Berdasarkan pengalaman teman yang pernah kesini, air tawar merupakan permasalahan utama. Karena belum tentu kami menemukan air tawar, makanya kami beranikan membawa air berlebih, 2 galon, 2 jirigen dan banyak botol air mineral.
Sampai segoro anakan aku tercengang, tempat ini benar-benar mirip The Beach. Dikelilingi oleh perbukitan, tempat tersebut aman dari ombak besar Samudra Hindia. Ombak hanya mampu menerobos karang bolong yang menyebabkan cekungan air seperti membentuk danau atau telaga. So Beautifull...
![]() |
| Nyebrang ke Sempu |
![]() |
| Di Pantai Tak Bernama |
Pas nyampai di segoro anakan pun tenda kami sudah berdiri karena aku termasuk di akhir rombongan. Kelelahan karena menggotong galon seakan terbayar dengan pemandangan indah ini. Kami langsung berhamburan, mencari sudut terbaik untuk take a photo.
Siang yang terik tak menghalangi teman-temanku untuk segera berenang di segoro anakan. Tidak terlalu dalam memang, Cuma 1 m sampai 1,5 meter, jadi aman-aman aja untuk berenang, sekalipun bagi yang tidak bisa berenang. Tapi hati-hati, ada beberapa bagian yang langsung menjorok dalam dan hati-hati juga menginjakkan kaki karena didasarnya banyak terumbu karangnya.
| Di Puncak Bukit |
Aku lebih memilih untuk mengalah, menunggu sore. Kulitku sudah hitam, bisa-bisa jadi legam kalau siang yang terik langsung kucelupkan badanku ke air. Setelah sholat ashar baru kuberanikan diri berendam bersama teman-teman. Itupun tidak lama, karena badanku sudah menggigil duluan.
Sepakbola pantai, menjadi acara sore itu. Asyik, dengan pasir putih bersih kami tak segan-segan untuk menjatuhkan diri di pasir memperebutkan bola. Seru, dan tim-ku pun juga menang. Capek setelah sepak bola kami beristirahat.
Saat beristirahat, aku melihat ke arah bukit di sebelah barat yang menjulang tinggi menghadap samudra Hindia. Seolah dia tersenyum, menggodaku untuk mendakinya. Apalagi timingnya pas banget, sekitar jam 16.30, saat yang tepat untuk melihat sunset. Tak berpikir lama, akupun beranjak dari tempat dudukku mengajak yang lain untuk menaiki bukit tersebut, yang lainpun sepakat, kami berangkat.
Aku mendaki bukit tersebut sampai ke puncak. Ternyata langkah kami mengundang pengunjung pulau Sempu yang lain untuk mendaki puncak tersebut. Sebelumnya di puncak bukit ada satu-dua orang, dan bertambah ramai ketika kami sampai di puncak bukit itu.
Aku melewatkan sore itu di puncak bukit. Pun ketika teman-turun yang lain sudah turun, aku ingin tetap disitu untuk beberapa saat, sendirian. Ku tatap ke barat, laut yang maha luasnya yang dilingkupi oleh langit gelap sore hari. Matahari jingga tertutup sebagian oleh awan, namun tak mengurangi keindahan lukisan Sang Pencipta sore itu. Bagaimana manusia bisa lupa akan keagungan cipataa illahi ini? Sungguh bodoh orang yang bisa melihat keindahan alam namun tak menyadari siapa penciptanya. Puas menikmati sunset aku beranjak turun, hari sudah gelap.
Tiba di tenda, aku mendapat cerita bahwa sebagian teman-temanku yang lain sudah menemukan sumber air tawar. Tak hanya air tawar, tapi teman-temanku tersebut juga mendapatkan kerang-kerang yang cukup dimakan oleh kami semua. Kami pun merebus kerang-kerang itu, memakannya dengan saus tiram. Sungguh enak, apalagi makannya di tepi pantai segoro anakan, di pergantian sore menuju malam (perhatikanlah pergantian siang dan malam, perhatikan perubahan udaranya...).
| Writing my Adventure |
Gerimis kecil menyelingi suasana malam itu di pulau sempu. Kami pun bersiap-siap membuat jalan air di sekeliling tenda kami, jaga-jaga kalau nanti malam hujan. Malam itu kami lewatkan dengan makan-makan: nasi dangan mi, snack (pemberian dari tenda sebelah), minum-minum: kopi dan teh. Kami bercerita, ngobrol, bernyanyi, menikmati malam di tepi pantai segoro anakan. Sesekali langit terang benderang, yang jelas itu bukan kilat atau halilintar. Ada juga saat itu bintang jatuh disertai langit yang berubah terang sekilas. Sungguh indah melihat bintang-bintang menghiasi langit malam itu dengan semilir angin pantai.
Aku sempat terlelap malam itu namun terjaga kembali saat mencium aroma gurihnya makanan. Masih ada sisa kerang sore tadi, dan akupun langsung ikut menyantapnya. Sampai sekarangpun aku tidak tahu kenapa saat hawa dingin perut kita bawaannya lapar terus. Tengah malam, aku dan teman-teman kembali masak mi dan kopi untuk mengisi perut. Setelah itu kami menikmati malam sampai subuh. Sempat juga sholat malam di tepi pantai, nuansanya sungguh khusyu’. Seakan seisi pantai ikut beribadah bersama kami.
Paginya, rencana kami adalah menyusuri pulau ini. Pantai panjang, pantai lele dan pantai-pantai lainnya yang kemarin sudah ‘ditemukan’ oleh sebagian teman kami akan kami jejak ulang untuk menambah persedian air tawar. Ternyata memang benar, pantai-pantai tersebut tak kalah eksotiknya dengan segoro anakan. Dan yang lebih penting, di pantai tersebut kami sendirian, seakan kamilah penemu pantai tersebut. Tidak ada sampah, apalagi penjual makanan. Kami seakan menjadi raja di pantai itu.
| Our Camp |
Jalan menuju sumber air tawar tidak mudah, tidak juga terlalu sulit. Bagi yang sudah biasa naik gunung pasti tidak mengalami kendala, Cuma butuh kehati-hatian karena sebagian jalannya bebatuan cadas. Setelah melewati tiga pantai kami menemukan sumber air tawar tersebut, berupa sumur kecil dengan kedalaman tak lebih dari dua meter. Kami minum, cuci muka, sikat gigi, dan sebagian ada yang keramas di tempat itu. Setelah dirasa cukup, kami pun balik karena siang ini kami sudah harus kembali ke sendang biru. Sampai di segoro anakan-pun ternyata tenda sudah dibongkar oleh teman-teman kami yang tidak ikut mencari air. Barang-barang sebagian juga sudah dipacking. Tingal merapikan dan pulang, tak lupa kami berfoto full team dengan latar segoro anakan. Bukti bahwa kami telah menginjakkan kami di pulau Sempu.
Perjalanan pulang terasa ringan karena sebagian barang sudah terpakai, logistik sisa sedikit dan hanya beberapa botol yang berisi air. Kami puas, kami senang dan ini akan menjadi perjalanan tak terlupakan buat kami. Masih banyak tempat yang belum kami kunjungi, masih ada gunung yang harus didaki. Alam memang bukan untuk ditaklukan, tapi untuk dijadikan sahabat. Sahabat untuk lebih mengenalNya.
![]() |
| Habis Renang, Segerrr |
Subscribe to:
Posts (Atom)




