Showing posts with label catatan perjalanan. Show all posts
Showing posts with label catatan perjalanan. Show all posts

Monday, April 03, 2017

Candi Sukuh dan Candi Ceto

Candi adalah warisan cagar budaya yang bisa dipelajari dan diambil ilmunya. Biasanya, candi terletak di tempat dengan pemandangan yang indah sehingga view candi tersebut akan terlihat menakjubkan, khususnya di saat sore hari. Dua candi berikut terletak tidak jauh dari Magetan, tepatnya di Kecamatan Jenawi, Kab. Karang Anyar Jawa Tengah. Candi Sukuh dan Candi Ceto merupakan peninggalan Majapahit di lereng barat Gunung Lawu di akhir kejayaannya, pertengahan abad ke-15.



Rute Perjalanan

Saya berangkat dari Yogyakarta, setelah mengunjungi Air Terjun Grojogan Sewu, kami melanjutkan perjalanan ke Candi Sukuh dan Candi Ceto. Tepat di jalan keluar pintu II Grojogan Sewu, ada jalan ke kanan naik, jalan tersebut menuju Candi Sukuh, kira-kira 20 menit dari Pintu II Grojogan Sewu (lihat peta dibawah). Jalan tersebut sangat menanjak, jika anda berboncengan, saya sarankan salah satu turun ketika sangat menanjak. Selebihnya, jalanan sangat lempeng dan aman dikendarai dengan sepeda motor. Pada peta di bawah, saya mengambil jalan langsung menuju Candi Sukuh dari pintu bawah Grojogan Sewu (via Jl. Tengklik).


Saturday, December 31, 2016

Catatan Pendakian Gunung Kinabalu

Kinabalu adalah nama sebuah kota, sekaligus gunung, di negara bagian Sabah, Malaysia. Gunung Kinabalu merupakan bagian dari Kinabalu Park (taman nasional) yang dilindungi oleh World Heritage Site. Gunung tersebut adalah gunung tertinggi di Malaysia. Kisah berikut merupakan catatan perjalanan seorang teman ketika mendaki Gunung Kinabalu selama 4 hari perjalanan. Pendakian tersebut dilakukan pada 25-28 Februari 2012(4 hari). Saya edit dan moderasi sedikit agar tidak berantakan. For English version, you can read it here.

Gunung Kinabalu dilihat dari Kundasan (sumber: Wikipedia)


Dua Minggu sebelumnya… 

Berawal dari ajakan camer saya bergegas menyiapkan dokumen, terutama paspor, dan peralatan gunung saya yang udah hampir setahun terbengkalai. Perasaan sungkan, semangat dan penasaran bercampur aduk, karena ini pertama kalinya saya naik gunung di luar negeri, bareng rekan perjalanan yang sangat berbeda dari perjalanan saya mendaki sebelumnya.

Day 0 

Setelah packing, kami bergegas ke Juanda untuk perjalanan ke Jakarta. Karena pesawat Air Asia ke Kota Kinabalu (disingkat KK) hanya ada dari Jakarta. Alhamdulillah pesawat on time. Di Terminal 3 Soetta kami bertemu rombongan dari Jakarta dan Bandung. Sedangkan rombongan dari Batam, Malaysia, dan Singapura langsung ke KK. Rombongan tersebut adalah para WNI yg kerja disana. Fyi, perjalanan kami semua ke Gunung Kinabalu berada dibawah naungan Karas Adventure yang bertanggungjawab atas semua, mulai transport, akomodasi, perijinan, dan asuransi. Gampangannya, semua peserta tinggal bayar, terima beres, tapi tetap memperhatikan aturan umum pendaki gunung, terutama fisik dan mental.

Saturday, July 11, 2015

A one day trip in Trieste, Italia

Trieste adalah kota kecil di perbatasan Italia dan Slovenia, tepatnya di utara timur (timur laut) Italia. Kisah kedatangan saya di kota ini bisa dibaca di sini. Suatu ketika di hari minggu, saya tidak mempunyai agenda, saya putuskan untuk keluar naik bis, tidak tahu kemana, biarlah langkah kaki yang memutuskan.

Di Trieste, tiket bus anda tidak diperiksa. Lebih longgar daripada di Jepang. Jadi, bisa saja anda naik bus tanpa membeli tiket, tergantung kejujuran masing-masing. Saya naik bus nomor 6 dari Adriatico Guest House (AGH), dan berhenti dimana orang-orang juga berhenti, bus stop (halte) setelah stasiun Trieste Centrale.

Turun dari bus, saya juga berjalan mengikuti arah kebanyakan orang berjalan, dan saya menemukan tempat-tempat berikut yang sebelumnya sudah terbayang secara visual dari internet.

Canal Grande di Trieste
Merasa berada di Venice, itulah yang saya rasakan ketika menjumpai kanal ini. Namun saya ingat, ini Trieste, bukan Venice. Inilah Canal Grande di Trieste! Tidak banyak landscap memang, namun perpaduan kanal dan bangunan di ujung kanal tersebut mengingatkan kita pada zaman Romawi kuno. Tempat romantis ini sangat cocok untuk minum kopi di sore hari, sambil bercengkerama memandang laut Adriatic

Canal Grandi di Trieste

Tuesday, May 19, 2015

Becasuse it's there: Catatan Perjalanan Latimojong

Orang yang bersusah payah mendaki gunung pasti memiliki tujuan tertentu. Ada yang ingin melihat pemandangan yang indah dan udara bersih; ada yang ingin mendapatkan suasana yang tenang, sunyi, dan temaram; ada yang ingin mencari penghasilan tambahan atau justru mendaki adalah penghasilan utamanya seperti para porter; ada yang berambisi menaklukkan sebanyak mungkin puncak gunung sebelum dia mencapai check point tertentu seperti menikah, kerja, atau usia tua; namun ada juga yang tujuannya sederhana saja, seperti kata-kata George Mallory: “Because It’s There”.

Di perjalanan menuju Latimojong

Setelah sedikit merenung, sepertinya saya termasuk yang terakhir.

Kalau mencari ketenangan, ngapain jauh-jauh mendaki gunung. Camping kemana aja bisa. Kalau mencari pemandangan indah, ke Argopuro atau Rinjani aja. Lengkap alamnya. Kalau bertujuan mendaki seven summits, harusnya Rinjani dulu (hingga tulisan ini diunggah, saya belum pernah ke Rinjani). Lebih rame, lebih mudah aksesnya, dan banyak temennya. Jadi, mengapa saya memilih mendaki Latimojong yang nun jauh di Sulawesi sana? Entahlah. Mungkin bener kata Mallory. Because It’s There.

Singkat saja, saya ikut salah satu open trip dari internet. Tinggal bayar, diantara-jemput di Bandara, dibawakan tenda serta sleeping bag, dan makan—termasuk selama pendakian—semua udah beres. Tinggal beli tiket PP SUB-UPG saja.

Thursday, September 18, 2014

Pendakian Semeru: Rute, Tips, Catatan Perjalanan, Estimasi Waktu dan Biaya

Ini adalah kali keduanya saya mendaki gunung Semeru (setelah first summit pada 2007), kali ketiga bagi teman saya dan kesekian kalinya mendaki gunung setelah sekian lama tidak melakukan hiking berat. Catatan perjalanan teman saya dibawah ini merupakan rute ideal dengan persiapan yang matang sehingga diperoleh efisiensi tenaga, waktu dan biaya saat melakukan pendakian gunung semeru. Total waktu yang diperlukan adalah 3  hari 2 malam, dengan anggaran dana kurang lebih 400 ribu rupiah (September 2014), dan start point dari Surabaya. Estimasi waktu tersebut adalah waktu ideal untuk pendaki amatir, bisa lebih cepat untuk pendaki professional, atau malah lebih lambat untuk pendaki pemula. Inilah kisah perjalanan ideal tersebut.
Jalur pendakian Semeru: tanjakan berat mulai kalimati-mahameru (sb gambar: akuntomountain.worpress.com)
---
Setiap manusia normal semestinya memiliki keinginan dan cita-cita. Entah itu hanya sekedar bisa makan setiap hari, bisa menjadi pengacara atau dokter di kemudian hari, atau memiliki Bugatti Veyron di suatu saat nanti. Dalam ruang lingkup yang lebih sempit, kita sering disarankan membuat wishlist tahunan ketika memasuki pergantian tahun. Nah, menapakkan kaki di puncak Mahameru adalah cita-cita sekaligus wishlist saya yang belum kunjung tercapai hingga usia saya melebihi seperempat abad ini.
September ini saya bertekad mewujudkan cita-cita saya tersebut. Bersama bagustris, seorang sahabat yang barusan kembali ke kampung halaman selepas bekerja 3 tahun di Jepang, kami bertekad mendaki puncak Mahameru September ini.

Sekedar info, saya sudah dua kali mendaki jalur Semeru. Yang pertama hanya sampai di Ranu Kumbolo sekitar 3 tahun lalu, dan tahun 2013 kemarin perjalanan saya terhenti di Kalimati karena fisik yang kurang fit. Oleh karena itu, tahun ini saya mempersiapkan segalanya termasuk berdoa di sepertiga malam terakhir agar diizinkan oleh-Nya menapaki puncak tertinggi di Jawa.

Day 0: 3 September 2014

Persiapan, bikin ceklis gear, belanja, ngumpulin persyaratan perijinan, dan beli tiket. Semua kami lakukan di tengah kesibukan kerja. Rencana awal berangkat sore hari itu ditunda jadi pagi buta keesokan harinya karena pertimbangan persiapan alat dan bahan yang belum matang.

Sunday, September 01, 2013

Today's Adventure: Exploring Kasagi, Kyoto

Alhamdulillah hari ini libur, agar waktu tak terbuang sia-sia, saya memanfaatkannya untuk keluar rumah. Tujuan saya tidak muluk-muluk, cukup menikmati perjalanan dengan kereta dan berhenti di salah satu stasiun yang dilaluinya. Awalnya saya merencanakan untuk berhenti di stasiun Kabuto, karena pada waktu ke Kyoto yang lalu, saya lihat view-nya cukup menarik. Namun, setelah beberapa waktu googling tidak menemukan referensi yang relevan tentang daerah di sekitar stasiun Kasado, maka saya terus melanjutkan perjalanan saat di kereta JR Kansai Line yang dioperasikan oleh JR West dengan rute Kameyama (Mie) - Kamo (Kyoto). Satu stasiun sebelum kereta terebut mencapai tujuan akhir, yakni stasiun Kamo, saya melihat pemandangan yang menarik di sisi sebelah kanan rel. Sebuah sungai di lembah bukit yang disesaki bebatuan besar, pun ada beberapa kanoe di sungai tersebut, dan di pinggir sungai ada taman serta tenda-tenda yang didirikan pengunjung taman wisata tersebut. Saya pun memutuskan untuk berhenti di stasiun tersebut, Kasagi station/Kasagi eki, Kyoto.

A photo posted by Bagus Tris Atmaja (@bagustris) on
Naas, saat saya keluar kereta, petugas Kereta Api (masinis) menghampiri saya dan menanyakan tiket kereta saya. Karena dari stasiun pemberangkatan, Kasado, tidak ada petugas penjual tiket, dan mesin penjual tiket pun tidak ada, saya tidak bisa menunjukkan tiket saya. Petugas tersebut pun dengan agak marah meminta saya membeli tiket kereta. Saya pun menyanggupinya. Allahummaghfir ya Rabbi. Padahal saat di kereta ada petugas yang menanyakan siapa yang belum beli tiket bisa beli tiket di petugas tersebut, atau dengan memasukkan uang di mesin gerbong paling depan, tapi saya tidak ngeh dengan hal itu. Pikir saya, kalau nanti pas turun di stasiun tersebut ada petugasnya, ya saya bayar (bagaimana kalau ternyata tidak ada petugasnya??) Di Jepang, banyak stasiun yang tidak dijaga dan tidak ada mesin tiketnya. Jadi semuanya berdasarkan kejujuran kita saja, tanpa membayar tiketpun kita bisa naik kereta, bahkan ada yang bisa mengelabui mesin pemeriksa tiket yang biasanya ada di stasiun-stasiun.

Keluar dari stasiun Kasagi, saya menuju ke arah kiri, menyusuri jalan, untuk mencari lokasi taman yang tadi saya lihat dari dalam kereta. Kurang lebih setelah berjalan kaki selama lima belas menit, saya menemukan lokasi Kasagiyama Park (府立笠置山自然公園 Furitsu Kasagiyama shizen kōe), nama taman tersebut. Hanya belok kiri sekali dari arah stasiun saya menemukan Kasagiohashi, jembatan yang membelah sungai Kizugawa. Saya menyeberangi jembatan tersebut sebelum turun ke tepi sungai.

A photo posted by Bagus Tris Atmaja (@bagustris) on

Saturday, August 04, 2007

Di Puncak Tertinggi

Aku, di Puncak Semeru
Jangan merasa menjadi yang tertinggi, karena pasti ada yang lebih tinggi !! Sungguh "DIA" yang maha tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya... Subhanallah...

Sebuah pengalaman dari puncak Mahameru

Bersama-sama teman-teman dari kontrakan (Teguh , Harta) plus farid, hasyim dan cahyo, aku pergi dg sepeda motor ke Malang untuk memulai ekspedisi NINTH goes to mahameru kali ini. Di Arjosari Nanunk, Woodin dan Imron sudah menunggu. Kemudian, sekitar maghrib Rizal datang, kami langsung menuju tumpang. Dengan proses (angkutannya) yg agak alot akhirnya kami tiba di tumpang, kami mampir ke masjid utk menghilangkan stress awal. Beruntung dari informasi penjaga masjid kami mendapatkan transportasi yang cukup murah dan kamis malam itu (12-07-2007) kami sampai di pos pertama, ranu pane dan kami beristirahat semalam di pondok pendaki yang ada di wilayah pos tersebut.

Ninth di Ranu Kumbolo (menghadap ke tanjakan cinta)

Paginya kami mengurus izin pendakian dan setelah itu kami memulai pendakian, sekitar jam 07.30 WIB. Sekitar 4 jam kemudian kami tiba di Ranu Kumbolo, sebuah danau yang eksotik dan ternyata disana teman-teman kami sudah menunggu: Aat, Huri dan Setyo. Kurang lebih pukul 02.00 WIB kami melanjutkan pendakian bersama sama, dan setelah berkali-kali beristirahat di perjalanan kami sampai di pos terakhir, Arcopodo untuk nge-camp. Sebelumnya kami sempat istirahat di pos kalimati untuk mengambil air dan memasak makanan. Sebenarnya kami ingin melanjutkan perjalanan ke puncak sabtu dini hari, namun karena alasan fisik perjalanan ke puncak kami undur sehari sehingga kami dapat beristirahat dan mengambil air lagi (di sumbermani). Pagi dini hari (01.30) kami menuju puncak dan sampai di puncak pukul 05.30, tentu saja yang sampai puncak pertama kali hasyim dan Alhamdulillah kami bertigabelas mampu mencapai puncak semua. Setelah semuanya selesai kami langsung turun dengan perjalanan yang melelahkan karena menempuh jalur yang berbeda.

Ada kisah yang menarik, malam hari saat tiba di ranu pane dan tertidur di pos 1 (penginapan), teman saya mimpi basah. Walhasil, paginya dia harus cari tempat untuk mandi besar, dan kebetulan dia menemukan ada masjid/mushola di dekat situ. Dalam dinginnya ranu pane, dia terpaksa harus mandi untuk menggugurkan kewajiban syar'i. Kejadian ini berefek saat turun gunung, dengkulnya agak sakit bersama satu teman lainnya yang mimpi pada hari sebelumnya.

Update:
Setelah pendakian pertama pada 2007 ini, saya mendaki Semeru lagi pada 2014. Catatan lengkap tentang biaya perjalanan, estimasi waktu, jalur pendakian dan beberapa tips dan trik pendakian semeru bisa dibaca disini.