Showing posts with label mountaineering. Show all posts
Showing posts with label mountaineering. Show all posts

Monday, October 19, 2020

Teknik Pendakian Turun: Meghindari Lutut Sakit dan Telapak Kaki Melepuh (blister)

Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan teknik pendakian naik (ascending/uphill). Tulisan ini membahas teknik pendakian turun (descending/downhill). Pada saat turun, potensi sakit dan letih lebih besar karena kita tidak menyadarinya. Umumnya kita mengira turun lebih mudah dan sedikit membutuhkan tenaga (memang begitu nyatanya!). Namun banyak potensi sakit dan cedera di saat turun. Dua hal yang umum adalah lutut sakit dan jempol kaki melepuh (kadang diikuti oleh bagian kaki lainnya).
Dua pendaki berjalan pelan dengan langkah pendek menuruni gunung


Lutut Bebas Sakit (Ankle pain-free downhill)

Selain berolahraga (latihan seperti video di bawah), teknik dibawah ini dapat mencegah lutut sakit saat turun gunung. 
  1. Menggunakan tongkat, gunakan tongkat sebagai tumpuan dan alat bantu (mengontrol) turun. 
  2. Bertumpu pada tumit (heel strike first), bukan pada bagian telapak kaki bagian depan. 
  3. Menyeimbangkan pinggul: saat turun gerakkan pinggul ke bawah untuk mengimbangi pergerakan (bukan malah tegak lurus seperti rest step). Tetap merendah (stay low) dan bengkokkan lutut anda (bent your knee).
  4. Muscle up: memperkuat otot lutut ketika menjejak. Berdasarkan hasil sebuah studi, otot lutut menerima beban 7-8 kali lebih banyak ketika turun daripada ketika naik. Jika tidak dikontrol (ditahan) dengan baik maka akan menyebabkan lutut sakit karena menerima beban/tekanan berlebih. Cara mengontrolnya adalah dengan menguatkan/mengeraskan otot lutut ketika menjejak.
  5. Jangan turun terlalu cepat (jangan lari). Awali dengan gerakan lambat (start slow). Awalnya saya beranggapan kalau turun dengan cepat itu akan mengurangi kelelahan/sakit di kaki (khususnya lutut). Ternyata anggapan ini salah total. Secara fisika jelas, F=ma dan P=F/A. Jadi, naiknya kecepatan (aka percepatan) akan menaikkan gaya (force, F) dan tekanan (pressure, P). Aturan sederhana bagi saya, maksimal waktu untuk turun adalah setengah waktu naik. Jika naik saya butuh satu jam, maka paling cepat saya turun dalam setengah jam, tidak boleh lebih cepat dari itu. Idealnya, mungkin, adalah 3/4 waktu naik.

Perhatikan video berikut untuk lebih detailnya.

Menghindari Jempol Melepuh (Anti-blister downhill)

Penyebab blister (melepuh) adalah adanya tekanan yang berlebihan pada bagian tsb, khususnya jempol kaki. Jadi, langkah paling mudah adalah mengurangi tumpuan pada bagian tersebut. Sebaliknya, pada saat turun tumpuan kaki ada pada tumit, bukan pada ujung depan kaki (jari). Perhatikan video di bawah ini.

Teknik kedua agar kaki tidak melepuh saat turun gunung adalah dengan menggunakan sepatu yang pas (benar-benar pas, tidak kekecilan atau kebesaran). Jika anda hendak membeli sepatu (sebaiknya tidak online agar bisa dicoba), cek ukurannya dengan baik. Tanpa kaos kaki harusnya sepatu sudah (sedikit) nyaman; tidak jatuh saat digunakan melangkah. Ukur ukuran telapak kaki anda dengan teliti, caranya: letakkan telapak kaki di atas kertas, dan buat garis mengelilingi telapak kaki anda. Contohnya adalah ukuran kaki saya seperti di bawah ini, ukurannya 24.5 cm (Ukuran sepatu indonesia: 39.5). Tambah 1-1.5 cm, jadi 25.5 - 26.0 (41-42). Ini ukuran sepatu gunung paling pas buat saya (Ingat: hanya untuk sepatu gunung, tidak berlaku untuk pantofel dan sneaker).

Teknik ketiga untuk menghindari blister adalah dengan menggunakan kaos kaki khusus untuk mendaki. Kaos kaki ini biasanya berasal dari bahan wool. Pada kaos jenis tertentu (anti-blister shoes), ada juga yang menyebutkan pada tekanan berapa kaos kaki tersebut mampu menahan tekanan dari telapak kai.

Keempat, kencangkan tali sepatu dan tas anda. Ini biasanya saya lupa. Tahu-tahu, ketika sudah di bawah tali sepatu saya sudah lepas (karena tertutup gaiters maka tidak terlihat). Kalau perlu cek di tengah perjalanan turun.


Perawatan

Jika sudah terlanjur turun gunung dan kaki sakit, baik lutut atau telapak kaki. Satu-satunya perawatan yang ampuh adalah banyak istirahat, banyak minum dan makan. Istirahat bukan berarti bolos kerja/kuliah/sekolah, tapi memperpanjang waktunya, misal menyegerakan tidur. Jika lutut masih sakit, mengompressnya dengan es batu mungkin membantu. Banyak minum juga bisa membantu mengembalikan kondisi tubuh (selain banyak minum). Banyak minum ini harusnya juga dilakukan ketika naik dan turun gunung. Berdasarkan pengalaman pribadi, memakai supporter lutut (knee calf) sangat saya sarankan baik saat naik gunung atau perawatan ketika lutut sakit. Setelah dari Gn. Okushishiku, lutut saya sakit. Sehari memakai knee calf support, besoknya langsung sembuh, alhamdulillah. Knee calf support-nya sendiri saya beli di Watts seharga 100 yen.

Sebagai tambahan, video berikut memperlihatkan teknik sederhana pendakian naik dan turun.
Referensi:
[1] https://www.theoutbound.com/jen-weir/do-your-knees-hurt-when-hiking-downhill-here-s-why

Thursday, September 10, 2020

Hiking Mt. Haku: A Beginner Guide

Disclaimer:
Although I called myself as beginner/amateur mountain climber, I have several experiences in climbing/hiking some mountains in Indonesia (e.g. [1]),  including the highest peak of Java [2]. In Japan, I ever climbed to the top of Mt. Fuji via the Fujinomiya trail (the hardest and shortest trail) [3]. One of our team in this Hakusan trekking is the first timer mountain climber; hence, this story can be used for a total beginner.

Intro

Mt. Hakusan is one of the sacred mountains in Japan (three holy mountains). The others are Mt. Fuji and Mt. Tateyama. But, the reason for this climbing is not because of its holiness; instead, it is very close to my current place of life. I live in Nomi city, Ishikawa prefecture. Hakusan is located in Hakusan city, the neighbor of Nomi city. If you love nature, you will love to live in Ishikawa prefecture. And Hakusan is one of the best natural landscapes in Ishikawa prefecture.



Preparation

I prepared this trekking in several ways. Three weeks before the trekking day, I hiked Sky Shishiku highland (82 m to 642 m) in Tsurugi with a total of 16 km of journey. Two weeks before the trekking day, I repeat to high Shishiku highland, but not to the peak (about 4 km). One week before the trekking day, I intensively walked about 3000 to 8000 steps every day (measured by a wristband), including my daily routine going up and down from 1 floor to 5th floor. This exercise is enough, I think.


Gears

The following gears are ordered from the most important to the less important.
  • Trekking shoes: use hiking shoes with a vibrant and waterproof feature if possible. Vibrant shoes can reduce stiffness on the foot while waterproof shoes keep your foot dry when it rains.
  • lightweight backpack: since there is a cafeteria in Murodo (highest station) and water are available in all stations, bring a lightweight backpack. Fill it with a snack, water, and other important things (raingear, wallet, ticket, etc).
  • Clothing: use a layer hiking t-shirt with long pants in summer. Keep other layers (lightweight jacket/hoodie) in the backpack.
  • Hiking pole: use a single pole for climbing up and down. This pole is important to control and hold you when going down. It prevents your knee for stiffness.
  • Hats: use hats (or cap) to protect you for sunlight and tree branches.
  • To keep in a backpack: rain gear, flashlight, glove, plastic bags, towels, power bank.

The day

We started our journey from JAIST. The time used in this hiking is the most ideal one-day trip. Although the weather prediction changed, from cloudy to rain, in the day, we can keep our schedule on time. Follow our schedule if you stay nearby Mt. Hakusan (about 1-hour drive to ichinose).

We gather in JAIST rotary at 3:20 a.m. At 3:30, we left JAIST by car to Ichinose. From the google map, the trip takes about 70 minutes, and we did it as the map said. We arrived at Ichinose camping ground (and parking area) at 4:30. We pray subuh there once arrived, and buy the bus ticket to the bettou deai center. 

The ticket for a round trip is 1000 yen. The trip is about 15 minutes. We catch the first shuttle bus at 5 a.m. Thus, we arrived at Bettou deai at 5:15. There are a toilet and a water station at Bettou deai. It is better to go to the toilet and fill for the water before starting to climb Mt. Hakusan.

We start to climb Mt. Hakusan at 5:30 when we enter the gate. A beautiful wooded bridge welcomed us before entering the forest. Although it is still dark at that time, the fresh air of nature invites us to enjoy this adventure. Welcome to the jungle!

About one-hour walking (6 a.m.), we arrived at the first station. There are a toilet and water station there. You can take breakfast here, at Nakahanba. Here are my pictures there.



If you plan to take a rest there, don't waste a lot of time. Ten to fifteen minutes is enough to take a rest. If you plan a brief rest, I suggest you do not take a sitting position, but a humped shape position.

Continue walking about 1.5 hours (7.30 a.m.) we arrive at Jinnosuke shelter hut. As the previous station, there are toilets and water stations in addition to a shelter hut. The toilet is clean; hence, I recommend you to make pee here before continuing to Murodo. The first figure in this post, a panorama view, was taken at Jinnosuke shelter hut.

The next walking is the rest journey to the only station before the top, the Murodo station. We need to be checked (due to coronavirus), wear a mask, and show a sticker as a sign that we already take temperature check. The scenery from Jinnosuke to Murodo is the best view during this Hakusan trail. Don't forget to take lot of pictures. Here is one of mine.
Before Murodo, the view is great!
It takes about 1.5 hours from Jinnosuke to Murodo (with two-three breaks). I forget to take a picture when in Murodo, but the following video was taken just before entering Murodo.


In Murodo, we take about 20 minutes of breaks. We did brunch (breakfast + lunch). At about 9:40 a.m, we continue our journey to the top of Mt. Haku. From Murodo to the top of Mt. Haku needs about 40 minutes slow walking (because the trek is a little bit steep). Nevertheless, the view at the top of Mt. Haku is awesome. At 10:20 we reached the top of Mt. Haku!

At the top of Mt. Haku

Murodo from the top of Mt. Haku
That's all the journey of ascending Mt. Haku. Going down from Mt. Haku at that time is longer than expected, a little bit messy. It was rain! So, even the weather forecast says it will sunny or cloudy, prepare your rain gear in advance. Nevertheless, here is our track to hike Mt. Hakusan.



After staying about 20 minutes at the top we back to Murodo, having lunch there and go back down. It takes 5 hours from Murodo to Betto deai in rainy conditions. On the descending way, we take a break in Nakahanba station just to wait for the rain stopped (not really stopped, but better). At 4 p.m, we arrived at Bettou deai center and directly riding the bus to Ichinose. We arrived at Ichinose at 4:15 p.m. Mission accomplished!





Time frame:

Active time: 4h44m
Break time:  4h53m
Total time: 10h37m


Closing: Tips and Tricks

  • There is a cafeteria at Murodo, soba or udon cost about 500 yen, not so expensive.
  • In every station water faucet is available, no need to worry about water. At least three water stations are available before achieving Murodo.
  • No bus from Kanazawa to Ichinose during the pandemic (2020), the only way to achieve Ichinose is by car.
  • Bring lightweight equipment, it only takes 10 hours roundtrip for the beginner in rainy conditions descending.
For more detail trekking data, see my yamap activity page: https://yamap.com/activities/7569742

Reference
  1. https://bagustris.blogspot.com/2008/09/reach-top-of-arjuno.html
  2. https://bagustris.blogspot.com/2014/09/pendakian-semeru-rute-tips-catatan.html 
  3. https://bagustris.blogspot.com/2018/09/pendakian-gn-fuji-via-fujinomiya-trail.html
  4. http://www.kagahakusan.jp/en/pdf/en.pdf

Saturday, September 29, 2018

Pendakian Gn Fuji via Fujinomiya Trail: Rute, Estimasi Waktu dan Biaya

Persiapan

Video berikut sangat membantu untuk persiapan mendaki Fuji, khususnya via Fujinomiya trail. Langsung cus ke link youtube di bawah ini. Simak dengan baik, kalau perlu catat hal-hal penting yang sekiranya bermanfaaat ketika mendaki nantinya.

Rute

Rute yang kita gunakan adalah Fujinomiya trail. Selain Fujinomiya, ada tiga rute lainnya: Gotenba trail, Subashiri trail, dan Yoshida (Kawaguchiko) trail. Fujinomiya trail sendiri bukan rute yang populer, karena terletak di arah selatan. Kebanyakan orang mendaki dari arah Tokyo, khususnya rute Yoshida trail beserta dua rute lainnya. Awalnya, saat ibukota Jepang masih di Kyoto, rute Fujinomiya trail ini (katanya) adalah yang paling populer. Namun, begitu Ibukota Jepang berpindah ke Tokyo (Utara), maka rute yang populer adalah dari sisi utara Gunung Fuji.

Saturday, December 31, 2016

Catatan Pendakian Gunung Kinabalu

Kinabalu adalah nama sebuah kota, sekaligus gunung, di negara bagian Sabah, Malaysia. Gunung Kinabalu merupakan bagian dari Kinabalu Park (taman nasional) yang dilindungi oleh World Heritage Site. Gunung tersebut adalah gunung tertinggi di Malaysia. Kisah berikut merupakan catatan perjalanan seorang teman ketika mendaki Gunung Kinabalu selama 4 hari perjalanan. Pendakian tersebut dilakukan pada 25-28 Februari 2012(4 hari). Saya edit dan moderasi sedikit agar tidak berantakan. For English version, you can read it here.

Gunung Kinabalu dilihat dari Kundasan (sumber: Wikipedia)


Dua Minggu sebelumnya… 

Berawal dari ajakan camer saya bergegas menyiapkan dokumen, terutama paspor, dan peralatan gunung saya yang udah hampir setahun terbengkalai. Perasaan sungkan, semangat dan penasaran bercampur aduk, karena ini pertama kalinya saya naik gunung di luar negeri, bareng rekan perjalanan yang sangat berbeda dari perjalanan saya mendaki sebelumnya.

Day 0 

Setelah packing, kami bergegas ke Juanda untuk perjalanan ke Jakarta. Karena pesawat Air Asia ke Kota Kinabalu (disingkat KK) hanya ada dari Jakarta. Alhamdulillah pesawat on time. Di Terminal 3 Soetta kami bertemu rombongan dari Jakarta dan Bandung. Sedangkan rombongan dari Batam, Malaysia, dan Singapura langsung ke KK. Rombongan tersebut adalah para WNI yg kerja disana. Fyi, perjalanan kami semua ke Gunung Kinabalu berada dibawah naungan Karas Adventure yang bertanggungjawab atas semua, mulai transport, akomodasi, perijinan, dan asuransi. Gampangannya, semua peserta tinggal bayar, terima beres, tapi tetap memperhatikan aturan umum pendaki gunung, terutama fisik dan mental.

Tuesday, May 19, 2015

Becasuse it's there: Catatan Perjalanan Latimojong

Orang yang bersusah payah mendaki gunung pasti memiliki tujuan tertentu. Ada yang ingin melihat pemandangan yang indah dan udara bersih; ada yang ingin mendapatkan suasana yang tenang, sunyi, dan temaram; ada yang ingin mencari penghasilan tambahan atau justru mendaki adalah penghasilan utamanya seperti para porter; ada yang berambisi menaklukkan sebanyak mungkin puncak gunung sebelum dia mencapai check point tertentu seperti menikah, kerja, atau usia tua; namun ada juga yang tujuannya sederhana saja, seperti kata-kata George Mallory: “Because It’s There”.

Di perjalanan menuju Latimojong

Setelah sedikit merenung, sepertinya saya termasuk yang terakhir.

Kalau mencari ketenangan, ngapain jauh-jauh mendaki gunung. Camping kemana aja bisa. Kalau mencari pemandangan indah, ke Argopuro atau Rinjani aja. Lengkap alamnya. Kalau bertujuan mendaki seven summits, harusnya Rinjani dulu (hingga tulisan ini diunggah, saya belum pernah ke Rinjani). Lebih rame, lebih mudah aksesnya, dan banyak temennya. Jadi, mengapa saya memilih mendaki Latimojong yang nun jauh di Sulawesi sana? Entahlah. Mungkin bener kata Mallory. Because It’s There.

Singkat saja, saya ikut salah satu open trip dari internet. Tinggal bayar, diantara-jemput di Bandara, dibawakan tenda serta sleeping bag, dan makan—termasuk selama pendakian—semua udah beres. Tinggal beli tiket PP SUB-UPG saja.

Thursday, September 18, 2014

Pendakian Semeru: Rute, Tips, Catatan Perjalanan, Estimasi Waktu dan Biaya

Ini adalah kali keduanya saya mendaki gunung Semeru (setelah first summit pada 2007), kali ketiga bagi teman saya dan kesekian kalinya mendaki gunung setelah sekian lama tidak melakukan hiking berat. Catatan perjalanan teman saya dibawah ini merupakan rute ideal dengan persiapan yang matang sehingga diperoleh efisiensi tenaga, waktu dan biaya saat melakukan pendakian gunung semeru. Total waktu yang diperlukan adalah 3  hari 2 malam, dengan anggaran dana kurang lebih 400 ribu rupiah (September 2014), dan start point dari Surabaya. Estimasi waktu tersebut adalah waktu ideal untuk pendaki amatir, bisa lebih cepat untuk pendaki professional, atau malah lebih lambat untuk pendaki pemula. Inilah kisah perjalanan ideal tersebut.
Jalur pendakian Semeru: tanjakan berat mulai kalimati-mahameru (sb gambar: akuntomountain.worpress.com)
---
Setiap manusia normal semestinya memiliki keinginan dan cita-cita. Entah itu hanya sekedar bisa makan setiap hari, bisa menjadi pengacara atau dokter di kemudian hari, atau memiliki Bugatti Veyron di suatu saat nanti. Dalam ruang lingkup yang lebih sempit, kita sering disarankan membuat wishlist tahunan ketika memasuki pergantian tahun. Nah, menapakkan kaki di puncak Mahameru adalah cita-cita sekaligus wishlist saya yang belum kunjung tercapai hingga usia saya melebihi seperempat abad ini.
September ini saya bertekad mewujudkan cita-cita saya tersebut. Bersama bagustris, seorang sahabat yang barusan kembali ke kampung halaman selepas bekerja 3 tahun di Jepang, kami bertekad mendaki puncak Mahameru September ini.

Sekedar info, saya sudah dua kali mendaki jalur Semeru. Yang pertama hanya sampai di Ranu Kumbolo sekitar 3 tahun lalu, dan tahun 2013 kemarin perjalanan saya terhenti di Kalimati karena fisik yang kurang fit. Oleh karena itu, tahun ini saya mempersiapkan segalanya termasuk berdoa di sepertiga malam terakhir agar diizinkan oleh-Nya menapaki puncak tertinggi di Jawa.

Day 0: 3 September 2014

Persiapan, bikin ceklis gear, belanja, ngumpulin persyaratan perijinan, dan beli tiket. Semua kami lakukan di tengah kesibukan kerja. Rencana awal berangkat sore hari itu ditunda jadi pagi buta keesokan harinya karena pertimbangan persiapan alat dan bahan yang belum matang.

Friday, October 14, 2011

Jalur Pendakian Gunung Kerinci

After all equipments are already packed.

Mulai dari carrier sampai jas hujan. Dari kompor masak, sleeping bag, peralatan logistik dan lain-lain. Yang di list udah masuk. Tinggal berangkat aja. Let's go!

Gunung Kerinci
Gunung Kerinci merupakan gunung berapi yang tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3800m dpl dan masih dalam keadaan aktif. Berada pada lintang 10°45,50' LS dan 1010°160' BT. Terletak di dua kabupaten yaitu Kerinci dan Sulak Deras. Dikaki gunung ini juga anda bisa temukan perkebunan teh yang terdapat di desa Kersik Tuo. Didesa Kersik Tuo ini banyak terdapat penginapan-penginapan yang diusahakan oleh penduduk setempat. Penduduk didesa Kersik Tuo ini mayoritas adalah suku Jawa yang sudah lama sekali tinggal disana, sejak jaman kolonial Belanda. Gunung kerinci berada dibawah perlindungan Taman Nasional Kerinci Semblat.

Beberapa rute untuk mencapai G. Kerinci
Gunung Kerinci bisa dicapai lewat kota Jambi atau kota Padang atau juga dari Muara Bungo. Muara Bungo terletak di jalan Lintas Sumatera antara profinsi Jambi dan Sumatera Barat. Keterangan rute-rute tersebut sebagai berikut.

Rute Kota Padang Sumatera Barat.
Padang - Kersik Tuo - Sugai Penuh.
Naik bus umum trayek Padang Sungai Penuh dan turun didesa Kersik Tuo.

Rute dari Jambi.
Jakarta - Jambi - Sungai Penuh - Kersik Tuo.

Rute dari Muara Bungo.
Jakarta - Muara Bungo - Sungai Penuh.

Dari Jakarta naik bus tujuan Padang, dan turun di kota Muara Bungo, dari sini dilanjutkan perjalan dengan menumpang mini bus dengan tujuan Sungai Penuh. Kemudian ganti kendaraan lagi dengan naik angkutan mini bus ke desa Kersik Tuo. Selain dari Kersik Tuo bisa juga dicapai dari Lubuk Gadang dan Kayu Aro. Akan tetapi rute dari desa Kersik Tuo adalah yang umum dipakai oleh para pendaki. High-camp.com menyarankan anda menginap dulu di Kersik Tuo dan memulai pendakian pagi keesokan harinya.

Mengawali perjalanan dari sungai Penuh kami langsung menuju Pintu Rimba untuk memasuki kawasan Gunung Kerinci. Setelah menyantap makan siang nasi bungkus Dendeng Betokok kami siap-siap berangkat. Namun hujan mulai turun. Aku bertanya apakah pendakian ditunda? Tidak jawab guide kami. Pendakian harus dimulai karena waktu berjalan terus. Kami semua mengeluarkan jas hujan. itulah gunanya membawa barang tersebut.

Setelah semuanya siap, tepat pukul 16.30 WIB mulai mendaki.

TAHAPAN RUTE PENDAKIAN

Sunday, March 01, 2009

Pendakian Gunung Welirang

Beberapa bulan yang lalu kulakukan lagi sebuah perjalanan. Tidak berapa lama setelah perjalan mengelilingi Lumajang. Perjalanan mengunjungi tetangga G. Arjuna, yakni G Welirang. Simak saja cerita temanku tentang perjalanan itu:
(sebenarnya pengen cerita sendiri, eh ternyata udah ada temanku yang nulis cerita perjalanannya, ya copas aja lebih mudah....:-) )
Berfoto di Pos Ijin Pendakian Gunung Welirang, Tretes
Here is the story...

Wednesday, September 03, 2008

Reach the top of Arjuno...

Jumat, 29/08/2008, kuselesaikan dulu kuliah reksemnya pak Agung, trus ngurus beasiswa AHM di rektorat lt.3 dan setelah itu baru cabut ke kontrakan..

Di kontrakan ternyata teman-teman belum siap, kirain aku dah ditungguin. Satu jam dari jadwal yang ditentukan kami berangka ke lawang. Di lawang Yupra udah menyambut kami dengan berbagai jamuannya dan beberapa pesenan kami (beberapa botol air minum). Dia ikut mengantar kami sampai POS I Jalur pendakian Gunung Arjuno Lawang yg juga kantor Tahura (Taman Hutan Rakyat), setelah itu kami diantarnya juga sampai kebun teh wonorejo (bukan kebun teh wonosari), kami berpisah di tempat itu. Sebelum berpisah kami sempat foto-foto, gambarnya di bawah ini (dari kiri: Habibi, Yudi, Bagus, Shofwan, Teguh)
Foto Bersama Sebelum Memulai Pendakian

29/08/2008 @ 16.20 WIB.
Perjalanan dimulai, awalnya tenang-tenang aja. Tawa dan ceria menghiasi perjalanan awal kami, kanan kiri kebun teh sampai dan di depan hutan serta pegunungan. Sampai Brak 2 (tempat pemetik teh istirahat) Hujan turun dengan derasnya. Kami mulai was-was, namun kami tetap melanjutkan perjalanan. benar saja setelah itu ternyata kami tersesat!! kami baru tahu kalau kami tersesat setelah bercakap-cakap dengan seorang bapak di kebun jagung. Saat itu kami masih tenang-tenang aja plus senang karena bisa bakar jagung gratis plus menghangatkan badan di perapian bapak tsb, namun petaka justru terjadi setelah itu. kami tidak mengikuti petuah bapak penjaga kebun tsb dengan baik, bukannya lurus dulu seperti kata bapak itu namun kami malah belok kiri dan akhirnya menempuh arah yang tidak jelas. Tracking yang dilakukan Shofwan di GPSnya menunjukkan kalo jalan yang kami tempuh mbulet gak karuan dan akhirnya kami terjebak di semak belukar, kami istirahat disitu. Paginya setelah subuhan kami baru tahu kalau sekeliling kami memang benar-benar semak yang lebat. kami kembali ke arah yang ditunjukkan oleh bapak penjaga kebun pada malam sebelumnya dan setelah bertanya pada warga pejaga kebun lainnya kami kembali ke jalan yang benar, jalur pendakian Arjuno sesungguhnya.

Saturday, August 04, 2007

Di Puncak Tertinggi

Aku, di Puncak Semeru
Jangan merasa menjadi yang tertinggi, karena pasti ada yang lebih tinggi !! Sungguh "DIA" yang maha tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya... Subhanallah...

Sebuah pengalaman dari puncak Mahameru

Bersama-sama teman-teman dari kontrakan (Teguh , Harta) plus farid, hasyim dan cahyo, aku pergi dg sepeda motor ke Malang untuk memulai ekspedisi NINTH goes to mahameru kali ini. Di Arjosari Nanunk, Woodin dan Imron sudah menunggu. Kemudian, sekitar maghrib Rizal datang, kami langsung menuju tumpang. Dengan proses (angkutannya) yg agak alot akhirnya kami tiba di tumpang, kami mampir ke masjid utk menghilangkan stress awal. Beruntung dari informasi penjaga masjid kami mendapatkan transportasi yang cukup murah dan kamis malam itu (12-07-2007) kami sampai di pos pertama, ranu pane dan kami beristirahat semalam di pondok pendaki yang ada di wilayah pos tersebut.

Ninth di Ranu Kumbolo (menghadap ke tanjakan cinta)

Paginya kami mengurus izin pendakian dan setelah itu kami memulai pendakian, sekitar jam 07.30 WIB. Sekitar 4 jam kemudian kami tiba di Ranu Kumbolo, sebuah danau yang eksotik dan ternyata disana teman-teman kami sudah menunggu: Aat, Huri dan Setyo. Kurang lebih pukul 02.00 WIB kami melanjutkan pendakian bersama sama, dan setelah berkali-kali beristirahat di perjalanan kami sampai di pos terakhir, Arcopodo untuk nge-camp. Sebelumnya kami sempat istirahat di pos kalimati untuk mengambil air dan memasak makanan. Sebenarnya kami ingin melanjutkan perjalanan ke puncak sabtu dini hari, namun karena alasan fisik perjalanan ke puncak kami undur sehari sehingga kami dapat beristirahat dan mengambil air lagi (di sumbermani). Pagi dini hari (01.30) kami menuju puncak dan sampai di puncak pukul 05.30, tentu saja yang sampai puncak pertama kali hasyim dan Alhamdulillah kami bertigabelas mampu mencapai puncak semua. Setelah semuanya selesai kami langsung turun dengan perjalanan yang melelahkan karena menempuh jalur yang berbeda.

Ada kisah yang menarik, malam hari saat tiba di ranu pane dan tertidur di pos 1 (penginapan), teman saya mimpi basah. Walhasil, paginya dia harus cari tempat untuk mandi besar, dan kebetulan dia menemukan ada masjid/mushola di dekat situ. Dalam dinginnya ranu pane, dia terpaksa harus mandi untuk menggugurkan kewajiban syar'i. Kejadian ini berefek saat turun gunung, dengkulnya agak sakit bersama satu teman lainnya yang mimpi pada hari sebelumnya.

Update:
Setelah pendakian pertama pada 2007 ini, saya mendaki Semeru lagi pada 2014. Catatan lengkap tentang biaya perjalanan, estimasi waktu, jalur pendakian dan beberapa tips dan trik pendakian semeru bisa dibaca disini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...