Showing posts with label logika. Show all posts
Showing posts with label logika. Show all posts

Thursday, March 14, 2024

Siapa Pencipta Tuhan?

Dalam filosofi, permasalahan siapa pencipta Tuhan (problem of the creator of God) adalah topik perdebatan yang tiada habisnya. Argumennya adalah: "Jika alam semesta diciptakan oleh Tuhan, maka siapa pencipta Tuhan?"

Saya ingin menjawab pertanyaan itu dengan sederhana. Begini analoginya.

Analogi #1

Jika alam semesta, sebagai ciptaan, diibaratkan oleh angka 2, maka sebelum angka dua itu pastilah ada angka sebelumnya, yaitu 1. Angka 2 adalah alam semesta dan angka 1 adalah Tuhan. Lalu, siapa/apa sebelum 1? Tidak ada alias nol, 0. Begitu juga dengan Tuhan, tidak ada penciptanya. 

Analogi #2.

Dari video ini, adanya Tuhan Allah merusak teori sebab-akibat. Karena adanya penciptanya, maka siapa pencipta pencipta? Jawabannya adalah bahwa teori sebab-akibat tidak wajib ada (not necessarily exist). Dari mana hukum sebab-akibat itu berasal? Dari Fisika. Darimana Hukum Fisika itu berasal? Dari Matematika. Jadi pasti ada ujungnya, sebagaimana kita saat ini (fixed ada). Pencipta alam semesta tidak punya pencipta!

Jika semua, anggap, ada sebab-akibatnya, apa sebab dari hukum sebab-akibat (cause-effect relantionship)? Allah!

Wednesday, August 17, 2022

Siapa yang seharusnya membersihkan sampah B?

Andaikan sebuah eksperimen pikiran sebagai berikut.

A mengadakan suatu acara (panitia acara). B mengikuti acara tersebut (peserta acara). Jika B membuang sampah secara sembarangan di saat mengikuti acara tersebut, siapa yang wajib membersihkannya?

Jika anda masih menjawab A. Kita tambahkan kasus lain seperti ini.

B berada di rumahnya sendiri. B membuang sampah secara sembarangan di rumahnya sendiri. Siapa yang seharusnya membersihkan sampah B?

B yang seharusnya membuang sampahnya sendiri, tak peduli dimanapun. Selama itu sampahnya, maka dia sendiri yang wajib membuangnya, bukan orang lain.

Thursday, September 23, 2021

Gagal S3 karena tidak mau menyerahkan buku disertasi

Cerita berikut konyol namun menurut saya salah satu contoh idealisme terbaik. 

Dennis W. Ritchie, penemu bahasa C dan Unix gagal S3 karena tidak mau menyerahkan buku disertasinya ke perpustakaan Harvard University. Si penemu bahasa C tersebut sudah menyelesaikan semuanya tentang disertasinya, buku pun sudah, ujian juga sudah. Cuma satu, saat perpustakaan Harvard meminta buku disertasinya, dia menolaknya. Dia berujar, "Jika perpus mau disertasiku, ya beli...."


‘If the Harvard library wants a bound copy for them to keep, they should pay for the book, because I’m not going to!’


Tidak ada Ritchie artinya (mungkin) tidak ada Unix dan Bahasa C. Tidak ada Unix artinya tidak ada Linux, Windows, MacOS, dan Android, atau mungkin ada namun tidak secanggih sekarang. Di zaman yang modern ini, kita perlu menjaga idealisme hal-hal kecil seperti diatas. Logis sekali pernyataan Dennis Ritchie ini: Jika engkau menginginkan suatu barang, engkau harus membelinya.


Ketikan yang sempurna

Tambahan kecil di cerita disertasi Dennis Ritchie adalah ketikan yang mendekati sempurna. Di zaman yang belum ada komputer (dan dia sendiri yang menemukan/membangun komputer), hanya ada enam kesalahan tik dalam disertasinya. Padahal disertasinya sendiri berkaitan dengan matematika. Sangat sulit untuk membuat persamaan matematika yang sempurna dengan mesin tik. Saya mengalaminya saat SMP. Gambar di bawah adalah contoh ketikan disertasi Ritchie dari sumber [1].

Disertasi Ritchie, hanya 6 salah tik (typo) dalam 181 halaman [1]


Referensi:

[1] https://computerhistory.org/blog/discovering-dennis-ritchies-lost-dissertation/ 


Monday, December 07, 2020

Berapa Makalah yang Anda Baca Dalam Sehari? Panduan Singkat Teknik Membaca Makalah Ilmiah

Dalam suatu perjalanan untuk melihat Gunung Eiger, Monch dan Junfrau, seorang teman yang memiliki h-indeks jauh lebih tinggi daripada saya (per hari ini h-indeksnya 12 dengan 767 sitasi) bertanya kepada saya: berapa paper ilmiah yang kamu baca dalam sehari? Saya menjawab, 1-2 paper dalam seminggu. Teman saya menimpali, "Saya, dalam sehari, bisa lima paper". Pantas saja dia mencapai h-indeks dan sitasi sebanyak itu dengan waktu mulai (start) riset yang sama dengan saya. 

Sejak saat itu saya berusaha meningkatkan kemampuan membaca makalah akademik saya. Berikut ini adalah teknik-teknik membaca makalah ilmiah yang, menurut saya, mampu meningkatkan kemampuan (pemahaman) membaca makalah ilmiah akademik.

Skimming

Sebelum lebih jauh mengurai teknik membaca paper, ada dua tipe membaca yang perlu dipahami, scanning dan skimming. Dalam membaca paper, saya selalu menggunakan teknik skimming. Saya hanya membaca apa yang saya cari. Secara singkat teknik skimming ini seperti ini, 

  1. Skimming: cari apa yang anda ingin anda ketahui (pertanyaan di kepala anda, misal: METODE apa yang digunakan? berapa jumlah layernya? Apa input dari sistem yang diusulkan?)
  2. Skip yang tidak dipahami, baca yang dipahami dulu. Baca bagian lain yang bisa membantu pemahaman anda.
Dengan skimming ini, berikut urutan cara membaca makalah ilmiah.

Alternatif urutan membaca paper ilmiah (sumber: IG @bagustris)


Teknik dasar, menurut saya!

Berikut langkah-langkah membaca saintifik menurut pengalaman pribadi saya. Teknik ini saya dapatkan ketika mengikuti workshop tentang "Complex System" di Trieste. Urutan membaca makalah saintifik termudah adalah:

  1. Baca (scanning) ABSTRAK,
  2. Skim Methods,
  3. Lihat GAMBAR dan TABEL,
  4. Skim Results,
  5. Baca (scanning) Conclusions.
Langkah tambahan:
  1. Pahami persamaan matematika yang digunakan (jika ada), jika bisa. Hubungkan persamaan tersebut dengan konteks yang digunakan dalam paper tersebut.
Langkah 1 merupakan yang terpenting, tidak bisa dilewati. Jika ditulis dengan baik, abstrak sudah mencakup isi makalah dari pendahuluan hingga kesimpulan. Langkah ke-2 adalah kunci dari makalah, ide yang ditawarkan. Langkah ke-3 dan ke-4 adalah yang paling sulit untuk dipahami. Langkah ke-5 lebih mudah, dan seharusnya selaras dengan abstrak. 

Pada banyak paper, terutama di bidang sains dan teknik, pasti ada persamaan matematika yang digunakan. Persamaan tersebut untuk memformulasikan permasalahan sekaligus juga solusinya. Inilah pentingnya konsep dan matematika. Tanpa keduanya, kita tidak bisa membaca paper secara menyeluruh. Solusinya harus belajar lagi: teori dasar dan matematika dasar. Bagaimanapun, memahami "ide" dalam sebuah makalah ilmiah tidak memerlukan pemahaman matematika tingkat tinggi. Cukup alur cerita dari makalah tersebut yang bisa diserap untuk memahami apa yang ditawarkan. Pemahaman matematika akan membantu kita memahami makalah secara komprehensif dan memunculkan solusi-solusi lain dari permasalahan yang diangkat pada makalah ilmiah tersebut.

Membaca dengan teknik Feynman

Menurut Feynman, teknik belajar, yang juga bisa diaplikasikan untuk membaca paper, adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi apa subyeknya, tulis apa yang anda ketahui dari paper tsb (kata kunci, definisi, teori, dll).
  2. Jelaskan apa yang anda pahami dari paper tersebut dengan tulisan anda, misal dalam sebuah blog atau tulisan (baik tangan atau cetak).
  3. Cari gap dari makalah dan tulisan anda.
  4. Organisasikan dan sederhanakan tulisan anda. Ceritakan ke orang awam.


Menurut Emka Bluemke

Menurut Emka Bluemke [4], Urutan membaca paper akademik setelah skimming abstrak adalah sebagai berikut:

Sebidang: Conclusions --> Discussion --> Introduction --> Methods

Tidak sebidang: Intro --> Conclusions --> Discussion --> Introduction --> Methods



Membaca paper berdasarkan Quran

Membaca (paper) berdasarkan Quran surat Al-Alaq ayat 1-5 menurut saya adalah seperti berikut:

  1. Bacalah dengan nama TuhanMu yang menciptakan. Teknik membaca paper dari ayat ini adalah: Niat, niat membaca paper untuk mencari ridho Allah.
  2. Menciptakan manusia dari 'alaq. Teknik kedua membaca paper dari ayat ini, menurut saya, adalah: pelajari dasarnya, embrionya (al-'alaq).
  3. Bacalah dan aqungkan nama tuhanMu. Teknik membaca paper dari ayat ini, menurut saya, adalah: meluruskan tujuan kita kembali (reminder) untuk membaca (makalah ilmiah), yakni untuk mengagungkan nama Tuhan. Mereview dan membaca ulang (sebagaimana ayat 1).
  4. Yang menciptakan alam dengan perantara kalam. Teknik membaca paper dari ayat ini, menurut saya, adalah menulis kembali apa yang ada dalam makalah dengan bahasa kita, khususnya dengan pena. 
  5. Yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Teknik membaca paper dari ayat ini, menurut saya, adalah mengajarkan apa yang kita pahami (ke orang lain atau simulasi mengajar ke orang lain) dan mencari tahu apa yang tidak kita pahami dalam makalah ilmiah tersebut.

Demikian beberapa teknik membaca paper yang saya ketahui. Bagaimana dengan anda? Teknik membaca paper tidak hanya terbatas pada teknik-teknik di atas. Setidaknya, cara di atas adalah cara-cara yang terbukti memberikan informasi dan pemahaman dari makalah akademik jika selama ini anda stuck dan tidak mendapatkan apa-apa ketika membaca makalah saintifik ilmiah.


Referensi:

  1. https://www.sciencemag.org/careers/2016/03/how-seriously-read-scientific-paper
  2. https://blogs.lse.ac.uk/impactofsocialsciences/2016/05/09/how-to-read-and-understand-a-scientific-paper-a-guide-for-non-scientists/
  3. https://towardsdatascience.com/how-to-read-scientific-papers-df3afd454179
  4. https://twitter.com/emmabluemke/status/1269615728581361666

Monday, October 05, 2020

Kemampuan Menjawab Pertanyaan

Salah satu kemampuan penting yang, menurut saya, belum ada metrik/ukurannya (seperti IQ dan EQ) adalah kemampuan menjawab pertanyaan. Kemampuan ini merupakan salah satu dari tiga dimensi berpikir kritis. Sering kita lihat pertanyaan "ya" dan "tidak" yang cukup hanya dijawab dalam hitungan detik dijawab secara bertele-tele bermenit-menit. Tulisan ini membahas apa saja aspek penting untuk meningkatkan kemampuan menjawab pertanyaan.

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh pengalaman saya pribadi. Suatu saat co-supervisor saya menimpali jawaban saya, "Bagus-san, kamu cuma ditanya pertanyaan singkat dan sederhana, tapi kenapa jawabannya panjang dan bertele-tele. Saya melongo. Hah, benar. Ternyata selama ini saya tidak mempunyai kemampuan menjawab pertanyaan dengan baik. Beruntung saya mengambil kuliah "Scientific Discussion" di JAIST. Kuliah tersebut berisi prinsip-prinsip berlogika dalam berdiskusi, mencakup kemampuan menjawab pertanyaan.

Sering kita lihat di televisi, misalnya dalam acara dialog/debat, si penanya menanyakan A dan si penjawab menjawab B. Sering pula pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak" dijawab dengan bertele-tele.

Prinsip-prinsip dalam menjawab pertanyaan yang saya kemukakan di bawa ini sudah umum: singkat, pada, dan berisi. Urutannya saja yang saya rubah berdasarkan esensinya. Saya tambahkan prinsip keempat yang opsional, yakni memberikan referensi.
  1. Berisi (jawaban)
  2. Jawaban harus memuat dari apa yang ditanyakan. Jika pertanyaannya adalah pertanyaannya ya/tidak, maka harus ada salah satunya, ya atau tidak. Jika tidak ada, maka harus ada penjelasannya. Contoh lain: Apa kontribusi (novelty) penelitian anda? Jawaban: Kontribusi penelitian saya adalah XXX dan YYY.
  3. Singkat (short)
  4. Pertanyaan tidak hanya memuat jawaban, tetapi juga harus memuat alasan kenapa dijawab seperti itu. Justifikasi adalah argumen dan bukti/alasan (evidence). Jawaban adalah argumen, sedangkan bukti/alasannya harus singkat.
  5. Padat (dense)
  6. Jawaban atas pertanyaan harus padat, terutama pada alasannya. Misalnya, saya menjawab A karena B. B harus singkat dan padat. Singkat, seperti pada poin sebelumnya, hanya berisi alasan yang dibutuhkan, bukan alasan-alasan yang tidak dibutuhkan. Alasan-alasan yang tidak dibutuhkan tsb (data pendukung, bukan data utama) akan menyebabkan jawaban tidak padat.
  7. Berdasarkan Referensi atau Alasan
  8. Prinsip terakhir adalah jawaban harus berdasarkan referensi, jika ada. Misalnya, saya menjawab A berdasarkan referensi C. Saya menjawab C karena D. Saya memilih E karena F. Prinsip ini bisa jadi tidak dibutuhkan, misalnya dalam pertanyaan opini atau pendapat. Contohnya, apa warna kesukaan anda? Dalam hal seperti itu, argumen harus kuat, karena bisa jadi ada pertanyaan susulan. Banyak pertanyaan yang sudah ada jawabannya, dan kita tinggal menyitir/mensitasi saja. Jawaban yang berdasarkan referensi akan membuat posisi (jawaban) kita kuat, khususnya jika referensi tersebut bereputasi (misalnya dari jurnal SpringerNature dan Elsevier).
Itulah kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan untuk bisa menjawab pertanyaan secara tepat. Kita bisa menilai jawaban seseorang dari tiga prinsip di atas. Kita pun juga harus belajar kemampuan-kemampuan di atas agar bisa menjawab pertanyaan secara tepat, sebuah dimensi berpikir kritis.

Saturday, June 06, 2020

Outline: Logika bahasa ilmiah

Berikut adalah outline dari beberapa resume kuliah "Scientific Discussion" yang diajar oleh Prof. Preining pada 2019 di JAIST. Agar tidak menguap begitu saja, saya membuat outline (daftar isi/tulisan) yang pernah saya buat untuk merangkum isi kuliah tersebut. Dalam Bahasa Indonesia, "scientific discussion" lebih pas diterjemahkan sebagai "logika bahasa ilmiah" atau "logika diskusi ilmiah", karena isinya banyak berupa prinsip logika yang dipakai dalam diskusi ilmiah.

Materi kuliah tersebut sangat cocok untuk membangun alur berpikir dalam berbahasa ilmiah, baik tulisan maupun lisan (lebih dikhususkan pada tulisan, namun bisa diaplikasikan secara lisan/ucapan, less formal). Klik setiap baris item outline di bawah ini untuk membaca artikel dengan judul tersebut.

  1. Menjadi logis: Menyiapkan akal untuk logika
  2. Menjadi logis: Prinsip dasar logika
  3. Argumen: Bahasa logika [1]
  4. Argumen: Bahasa logika [2]
  5. Sumber pemikiran tidak logis
  6. Prinsip-prinsip pemikiran tidak logis
  7. Logika dan percakapan-nya Grice (implikatur) beserta kritiknya
  8. Panduan berpikir kritis
Tulisan-tulisan tersebut cukup menarik karena sejatinya bukan tulisan saya. Namun, ulasan dari buku-buku dan makalah yang benar-benar berbobot. Beruntung saya pernah mendapatkan kuliah tersebut. 

Jika ada tulisan baru saya dengan tema yang sama/mirip, akan saya tambahkan dalam outline di atas.

Monday, December 02, 2019

Panduan Berpikir Kritis

Tulisan ini merupakan ringkasan dari sebuah buku: Asking the Right Questions, A guide to critical thinking, yang ditulis oleh M. Neil Browne dan Stuart M. Keeley dari Bowling Green State University. Buku tersebut cukup sukses dan banyak dipakai, dari S1 hingga S3; terbukti dari cetakannya yang memasuki edisi ke-11. Meski telah memasuki edisi ke-11, ringkasan ini saya buat berdasarkan edisi ke-7 karena strukturnya lebih runtut dan mudah dipahami.

Berpikir kritis, menurut definisi buku tersebut, adalah mengacu pada tiga dimensi seperti pada gambar di bawah ini. Ketiganya harus terpenuhi, dan untuk memenuhinya "menanyakan pertanyaan yang tepat" adalah kuncinya.


Manfaat Berpikir Kritis
Berpikir kritis bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan menulis dan berbicara karena akan menuntun anda ketika:
  1. Bereaksi kritis atas tulisan, baik di buku, website, jurnal maupun makalah.
  2. Menilai kualitas dari sebuah pemaparan (kuliah, presentasi, dll)
  3. Membentuk argumen
  4. Membuat essai
  5. Berpartisipasi pada diskusi (kelas, dll)

Prinsip Berpikir Kritis

Prinsip yang dimaksudkan disini adalah nilai, standar acuan. Lebih lengkapnya:
Values are unstated ideas that people see as worthwhile.
They provide standards of conduct by which we measure the quality of human behavior.
Dari definisi diatas, maka prinsip-prinsip berpikir kritis adalah sebagai berikut:
  1. Merdeka. Pemikiran anda tidak dikekang oleh siapapun dan apapun.
  2. Keingintahuan. Untuk 'mendulang emas' dalam hidup, anda harus mendengar dan membaca.
  3. Legowo. Bisa menerima perbedaan dan mengakui jika tidak tahu.
  4. Respek. Menghormati (pendapat) orang lain.

The right questions: Pertanyaan yang tepat

Menanyakan pertanyaan yang tepat adalah isi bab-bab dalam buku ini. Berikut adalah pertanyaan yang seharusnya mampu dijawab dan ditanyakan pada saat yang tepat oleh seorang pemikir kritis.

Saturday, November 16, 2019

Menjadi Logis [5]: Prinsip-prinsip Pemikiran Tidak Logis

Ini adalah ringkasan bab terakhir buku "Being Logical". Bab ke-5 ini berisi prinsip-prinsip pemikiran tidak logis. Ringkasan bab sebelumnya bisa dibaca di sini.

Penalaran yang tidak masuk akal (mis-reasoning), disebut kekeliruan (fallacy), dibagi menjadi dua:
  1. Kekeliruan formal: berkaitan dengan bentuk atau struktur dari argumen.
  2. Kekeliruan informal: selain kekeliruan formal.
Beberapa prinsip yang menyebabkan terjadinya kekeliruan logika adalah sebagai berikut.

1. Menolak anteseden
Prinsip yang digunakan seperti ini.
A ==> B
-A,
Maka, -B

Ini adalah kesimpulan yang salah. Contoh:
Jika Bagus berlari, maka Bagus berpindah tempat.
Bagus tidak berlari.
Maka,  Bagus tidak berpindah tempat.

Tentu saja kesimpulan tersebut salah. Bagus bisa berpindah tempat dengan selain berlari, misalnya dengan berjalan.

2. Menyetujui konsekuensi
Prinsipnya seperti ini,

A ==> B
B,
Maka, A.

Ini juga salah. Contohnya.
Jika Bagus berlari, maka Bagus berpindah tempat.
Bagus berpindah tempat.
Maka, Bagus berlari.

Kesimpulan yang salah, karena untuk berpindah tempat tidak harus berlari.

3. Nilai tengah yang tidak terdistribusi
Dalam silogisme, kesimpulan selalu universal (terdistribusi) bila syarat-syaratnya terpenuhi, salah satunya: pernyataan tengah (premis yang tidak muncul pada kesimpulan) harus universal. Jika syaratnya tidak terpenuhi. Contohnya sebagai berikut:

Beberapa anggota klub motor adalah adalah mahasiswa.
Bagus adalah anggota klub motor.
Maka, Bagus adalah mahasiswa.

4. Equivocation
Kata ekuivokal adalah kata yang memiliki arti lebih dari satu (homonim).
Bagus suka tahu.
Banyak tahu itu tidak baik.
Maka, Bagus tidak baik.

Kesimpulan yang salah, karena yang dimaksud tahu pada premis mayor adalah makanan.

5. Mengulang pertanyaan
A: Apakan pinus itu?
B: Pohon yang memiliki biji pinus.
A: Apakah biji pinus itu?
B: Biji yang ada di pohon pinus

6. Asumsi yang salah

Wednesday, November 13, 2019

"Logika dan Percakapan"-nya Grice beserta Kritiknya

Herbert Paul Grice (13 March 1913 – 28 August 1988) merupakan filsuf bahasa Inggris yang banyak bekerja di bidang implikatur dan semantik. Tulisan ini membahas tulisannya tentang logika dan percakapan (logics and conversation), prinsip didalamnya, beserta kritik terhadap tulisan tersebut.

Logika dan Percakapan

"Berkata" berhubungan erat dengan apa yang diucapkan, tidak termasuk hal-hal lain yang ingin diutarakan pembicara diluar apa yang diucapkan (kecuali hanya apa yang dikatakannya). Berkata adalah ungkapan semantik (makna dari kata). Sederhananya, anda tidak bisa ngomong A tapi yang anda maksudkan B (misalnya seperti ini, "maksudku begini lho...."). Tidak bisa.

Hal ini berbeda dengan membayangkan, menyarankan, menyampaikan, mengindikasikan, dll. Hal-hal tersebut di luar apa yang dikatakan. Berimplikasi (implicating) adalah ungkapan pragmatik (kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan apa yang dimaksudkan).

Grice mengusulkan teori implikatur, salah satu aspek kajian pragmatik yang perhatian utamanya adalah mempelajari ‘maksud suatu ucapan’ sesuai dengan konteksnya. Implikatur cakapan dipakai untuk menerangkan makna implisit dibalik “apa yang diucapkan atau dituliskan” sebagai “sesuatu yang diimplikasikan” (implicatum: what is implied)  [3].

Implikatur: Konvensi vs Cakapan

Implikatur, berdasarkan ragamnya, oleh Grice dibagi menjadi dua: implikatur konvensi dan implikatur cakapan. Perhatikan kalimat dalam bahasa Inggris berikut.

“He’s an Englishman, so he’s brave.”

Pada kalimat di atas, kata 'brave' merupakan implikasi dari 'Englishman', tanpa disebutkan secara langsung. Bandingkan dengan contoh.

“She is poor, but she is honest.”

Kata 'honest', pada kalimat diatas merupakan implikasi kebalikan dari kata 'poor'. Namun disini perlu kata 'but', untuk menerangkan pertentangan 'poor' dengan 'honest' untuk membawakan implicatum. Ini adalah contoh implikatur cakapan (conversational implicature) yang mana merupakan bagian dari semantik.

Prinsip Kooperatif (kerja sama)

Monday, November 11, 2019

Menjadi Logis [4]: Sumber pemikiran tidak logis

Ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya, sebuah ringkasan dari buku "Being Logical", Bab ke-4: the source of illogical thinking.

Kesalahan dalam penalaran bisa karena ketidaksengajaan (kecelakaan), atau akibat dari ketidakhatian. Beberapa perilaku dan pandangan berikut perlu dihindari karena bisa mengakibatkan pemikiran yang tidak logis.

1. Skeptis
Sikap skeptis (meragukan) perlu, namun selalu skeptis akan menuntun pada kekeliruan. Contoh skeptis yang diperlukan: Jika datanya meragukan, kita boleh meragukan kesimpulannya. Namun jika kita selalu meragukan argumen orang lain (misal yang tidak kita sukai), akan menjadikan hal tersebut non-logis.

2. Agnostik evasif
Agnostik tidak hanya dalam beragama, tetapi juga dalam berpikir. Orang yang atheis secara tegas tidak mengakui adanya tuhan. Orang agnostik "tidak tahu", apakah tuhan itu ada atau tidak (Setelah mereka meninggal mereka baru tahu, namun itu (menurut saya) sudah telat). Pemikiran yang agnostik mengelak adanya tuhan, namun juga menampik ketidakadaan tuhan, mereka hanya "mengabaikan" sebagai sesuatu yang benar. Bentuk pengabaian ini merupakan akibat kemalasan (untuk mencari tahu).

3. Sinis dan optimis naif
Sikap sinis adalah memberikan penilaian negatif tanpa bukti yang cukup. Sikap naif optimis sebaliknya memberikan penilaian positif tanpa bukti yang cukup. Keduanya tidak logis dan bentuk dari prasangka (prejudice). Prasangka tidak logis karena memberikan kesimpulan sebelum fakta/bukti/premisnya kuat.

Thursday, October 31, 2019

Menjadi Logis [3]: Argumen: Bahasa Logika [2]

Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya: Menjadi Logis [3]: Argumen: Bahasa Logika [1]. Karena isi dari Bab 3 buku "Being Logical" cukup panjang, saya pecah ringkasannya menjadi dua artikel, agar mudah dibaca dan dipahami.

Saya mulai penomoran itemnya dari 11, melanjutkan tulisan sebelumnya 1-10.

11. Kebenaran Premis
Dalam argumen silogisme ada kesesuaian antara konten dan struktur. Konten akan benar jika premisnya benar. Jika premisnya salah, maka secara konsisten kesimpulannya menjadi salah. Contohnya adalah berikut.

Setiap anjing memiliki tiga kepala.
Corolla adalah anjing.
Corolla memiliki tiga kepala.

Meski secara struktur benar, namun karena premisnya salah, kesimpulannya menjadi salah. Dapat dikatakan, jika inputnya sampah, maka outputnya juga sampah (garbage in, garbage out).

12. Relevansi Premis
Meski premis harus benar, namun itu saja tidak cukup. Kebenaran premis harus relevan dan menjangkau kesimpulan. Contohnya adalah berikut.

Pak XXX merupakan purnawirawan jenderal TNI AD.
Beliau sekarang seorang wirausahawan yang sukses.
Karenanya, beliau seharusnya terpilih menjadi presiden.

Pada pernyataan diatas, premisnya benar (kalimat satu dan dua), namun kurang relevan dengan kesimpulan yang diambil (kalimat 3). Bandingkan dengan argumen berikut.

Pak YYY adalah wirausahawan sukses.
Beliau terpilih menjadi walikota ZZZ dan gubernur AAA selama dua periode.
Melihat kecakapannya memimpin kota dan provinsi, maka beliau layak menjadi presiden.

Argumen kedua ini lebih logis karena ada relevansi antara premis dan kesimpulan.

13. Pernyataan Fakta, Pernyataan Nilai
Pernyataan bisa berupa fakta atau berupa nilai. Contohnya berikut,

Musisi adalah mereka yang piawai memainkan alat musik.
Bagus adalah musisi.
Kesimpulan: Bagus piawai memainkan alat musik.

Bandingkan dengan pernyataan berupa nilai berikut.

Musisi adalah manusia yang sangat unggul.
Bagus adalah musisi.
Kesimpulan: Bagus adalah manusia yang sangat unggul.

Kata unggul sebagai nilai pada argumen di atas samar (vague). Premis dengan pernyataan nilai tidak bisa digunakan secara presisi seperti pernyataan nilai. Untuk mengetes validitas pernyataan nilai, premis tersebut diuji dengan fakta lainnya yang ada, bila cocok maka bisa diterima.

Tuesday, October 29, 2019

Menjadi Logis [3]: Argumen: Bahasa Logika [1]

Tulisan berikut merupakan review Bab ke-3 buku "Being Logical". Review dari bab sebelumnya ada di sini dan di sini. Bab 3 berisi tentang argumen: bahasa logika. Ekspresi konkrit dari penalaran logika adalah argumen. Untuk membuat argumen yang kuat dan efektif, beberapa hal-hal berikut perlu diperhatikan.

1. Membangun Argumen
Perpindahan ke satu ide dari ide yang lain yang telah diketahui kebenarannya, dan menjadikan ide kedua menjadi benar, merupakan inti argumen. Argumen terdiri atas pernyataan-pernyataan, dan pernyataan-pernyataan itulah yang menyampaikan ide dimana perpindahan inferensial (bersifat dapat disimpulkan) terkonsentrasi.

Argumen tersusun atas dua: pernyataan premis dan pernyataan simpulan. Premis adalah pernyataan pendukung. Pernyataan ini merupakan awal argumen dimana kebenaran pernyataan tersebut sudah diketahui. Simpulan adalah pernyataan yang didukung. Premis bisa bermacam-macam, namun simpulan yang baik seharusnya hanya berisi satu hal. Contoh argumen sederhana yang terdiri atas satu pernyataan premis dan satu simpulan.
Karena tidak cocok dengan kepala kantor cabang di Surabaya, Pak Budi dipindahkan ke kantor cabang di Bandung.
Kalimat pertama merupakan premis; alasan, yang dianggap benar. Kalimat kedua adalah simpulan yang menjadi benar karena premisnya benar. Premis adalah dasar dari argumen, dan cakupannya harus bisa mampu menjangkau apa yang disimpulkan.

2. Perpindahan dari universal ke partikular
Perpindahan dari pernyataan universal bisa dilakukan ke pernyataan partikular. Perhatikan contoh berikut.
(i) Semua anjing adalah karnivora. (ii) Beberapa anjing adalah karnivora. 
Karena pernyataan universal (i) adalah benar, maka pernyataan partikular (ii) juga benar. Logika dari prinsip ini cukup sederhana, jika semua anggota dari satu kelas adalah benar, maka sebagiannya juga benar.

3. Perpindahan dari partikular ke universal
Berbeda dengan kaidah sebelumnya, kita tidak bisa secara asa menggeneralisasi dari pernyataan partikular ke pernyataan universal. Perhatikan contoh berikut.
(i) Beberapa wanita adalah ibu. (ii) Semua wanita adalah ibu. 
Pernyataan partikular (i) tentu saja benar, namun tidak dengan pernyataan universal (ii). Untuk berpindah dari pernyataan partikular ke universal dibutuhkan premis yang kuat dan runtut. Perhatikan contoh berikut.
Setiap orang China yang saya temui di sana bermata sipit. Penduduk Lanzhou 99% bermata sipit berdasarkan data sensus tahun 2010. Di beberapa propinsi lain, persentase penduduk bermata sipit juga mendekati 100%. Bisa disimpulkan, sebelum terjadinya perkawinan antar ras, semua penduduk China bermata sipit.

Sunday, October 27, 2019

Menjadi logis [2]: Prinsip Dasar Logika

Tulisan ini adalah kelanjutan tulisan sebelumnya, Menjadi Logis [1]: Menyiapkan Akal untuk Logika. Tulisan ini merupakan bagian terpenting dari catatan seri kuliah "scientific discussion" [1] di JAIST. Tulisan ini saya buat sesederhana mungkin agar bisa dibaca oleh semua orang. Tidak ada kata-kata yang seharusnya tidak ada. Sebaliknya, semua yang harus ada harus tertulis di sini. Semua yang bisa membaca seharusnya mampu memahami tulisan ini.

Setelah kita membiasakan hal-hal untuk menerima logika, langkah selanjutnya adalah mengasimilasikan prinsip-prinsip dasar logika agar menjadi kebiasaan kita. Berikut prinsip-prinsip dasar logika tersebut.

1. Prinsip-prinsip utama
Sains adalah kumpulan pengetahuan terstruktur yang dibangun dari prinsip-prinsip utama. Logika, sebagai sains, juga demikian, dibangun atas prinsip-prinsip utama. Ada empat prinsip utama logika sebagai berikut:
  1. Prinsip identitas: sesuatu adalah apa adanya.
  2. Prinsip pengecualian nilai tengah: antara ada dan tidak ada tidak ada nilai tengah.
  3. Prinsip alasan yang cukup: ada alasan yang cukup untuk semua hal (Ya! semua).
  4. Prinsip kontradiksi: tidak mungkin sesuatu menjadi dan tidak menjadi pada satu waktu.
Tiga dari prinsip di atas diusulkan oleh Aristoteles, sedangkan satu dari Leibiniz, yakni prinsip cukup alasan (logikanya: tiga prinsip yang lain, selain yang diusulkan oleh Leibniz, adalah usulan Aristoteles). 

Prinsip identitas (principum identitatis) adalah prinsip yang paling utama diantara yang utama. Secara sederhana, A adalah A, bukan B. Kucing adalah kucing bukan anjing. Segitiga adalah segitiga, bukan segi empat. Semua yang logis harus beridentitas [2]. Sebaliknya, sesuatu yang identitasnya dipertanyakan juga dipertanyakan kelogisannya.

Prinsip kedua mengatakan bahwa tidak mungkin ada kondisi tengah diantara ada dan tidak ada. Sebagai contoh: di dalam kotak ada kucing atau tidak ada kucing, tapi tidak diantaranya (yakni setengah ada dan setengah tidak ada).  B adalah kucing, bukan anjing, tidak mungkin setengah kucing dan anjing.

Prinsip ketiga merupakan prinsip penting dalam logika dan diskusi saintifik, termasuk/khususnya penulisan ilmiah. Harus ada alasan untuk semuanya. Prinsip ini mirip hukum sebab-akibat. Ketika anda mengusulkan metode A, harus ada alasan mengapa A. Ketika anda mengusulkan variabel X, harus ada alasan mengapa variabel X, bukan Y. Kenapa menggunakan contoh kucing dalam kotak, karena contoh tersebut sangat sederhana sehingga mudah dimengerti semua orang. Itu juga alasan untuk contoh sebelum dan sesudah prinsip ini.

Prinsip terakhir -- kontradiksi -- mirip dengan prinsip kedua. Bedanya, kalau dalam prinsip kedua tidak ada nilai tengah, maka dalam kontradiksi tidak mungkin ada dua keadaan dalam satu waktu. Tidak mungkin ada kucing dalam kotak A dan tidak ada kucing dalam kotak A. Tidak mungkin B adalah kucing dan anjing. Contoh pertama dikembangkan oleh Erwin Schrodinger dalam eksperimen pemikirannya: kucing dalam kotak. Menurutnya, tidak mungkin kucing dalam keadaan hidup dan mati bersamaan. Meski probabilitasnya 50:50, tapi tidak bisa dikatakan bahwa kucing hidup dan mati dalam keadaan bersamaan. Harus dibedakan antara probabilitas dan realita. Probabilitas tidak mengubah realita. Realita ada dengan atau tanpa observasi. Inilah logika.

2. Daerah abu-abu, daerah yang dibuat abu-abu
Daerah abu-abu adalah daerah dimana kebenaran tidak secara jelas dapat dinyatakan. Dalam hidup, banyak daerah abu-abu, namun jangan terlalu banyak menggunakannya. Abu-abu, sebagai warna, ada karena perbedaannya sebagai alternatif warna putih dan hitam. Jika dalam hidup kita berada pada situasi dimana tidak ada alternatif yang jelas, secara objektif, bukan berarti tidak ada alternatif yang jelas. Tidak adanya alternatif bukan karena tidak ada, namun karena kita tidak bisa melihatnya. Daerah yang dibuat abu-abu ada karena kita tidak bisa melihat daerah abu-abu, (sebenarnya) disebabkan ketidakpastian kita atau kurangnya pengalaman.

Sebagai contoh, anda berada  pada suatu masalah, menentukan benar atau salah. Anda tidak memiliki pengalaman kalau masalah tersebut benar, namun anda punya pengalaman kalau masalah itu salah. Prinsipnya: negatif hanya dapat dikenali sebagai negatif, "secara tidak pasti", karena positif telah diketahui. Disini ada kemungkinan kepastian. Jika pasti itu mungkin, maka kepastian itu mungkin terjadi, meski tidak pasti. Itulah yang harus dipilih.

Menjadi logis [1]: Menyiapkan akal untuk logika

Ini adalah resume buku "Being Logical: A guide to good thinking", sekaligus referensi utama kuliah "E413: Scietific Discussion 2" di JAIST. Tulisan ini adalah resume Bab 1 buku tersebut. Judul babnya adalah: Preparing for the Mind.

Ada tiga materi utama kuliah ini:
1. Logika dan penalaran
2. Argumentasi
3. Diskusi ilmiah (lisan dan tulisan)

Untuk menjadi logis kita perlu menyiapkan sikap, pandangan dan prosedur praktis agar logika bisa masuk, diterima maupun keluar dari akal kita. Hal-hal tersebut, dibahas dalam Bab 1 buku "Being Logical", adalah sebagai berikut.

1. Memberi atensi
Menjadi atensif adalah hal mutlak diperlukan untuk menerima logika. Banyak kesalahpahaman karena kita tidak menaruh perhatian terhadap apa yang kita dengarkan. Mendengar (hear) saja tidak cukup, harus mendengar secara seksama (listen). Fokus kita bisa dilatih. Dengan melatih fokus kita pada hal-hal kecil, kita akan terhindar dari permasalahan besar.

2. Mendapatkan fakta secara langsung
Fakta bisa didapatkan secara langsung untuk objek riil (benda, tempat, dll), dan tidak langsung untuk suatu kejadian. Contoh: anda mendengar bahwa ada diskon di Matahari. Anda datang ke Matahari dan ternyata memang ada diskon. Bagaimana jika kita tidak bisa mendatanginya langsung. Contoh: Presiden Jokowi menang pemilu 2019. Dengan mendatangi website KPU, kita bisa mengkonfirmasi bahwa fakta itu benar adanya. Jika kita tidak bisa membuktikannya langsung (dengan mendatangi), maka kita perlu mengeceknya secara tidak langsung, dengan perangkat lain, misalnya website pada contoh di atas.

3. Ide dan objek dari ide
Ide dan objek dari ide berbeda. Suatu ide harus dapat direpresentasikan menjadi objek. Contoh kita punya ide mempercepat suatu proses komputasi dengan mem-by pass prosesnya. Ide tersebut direpresentasikan dalam bahasa pemrograman (objek dari ide). Cara terbaik untuk mengklarifikasi ide (apakah berjalan atau tidak) adalah dengan melihat objeknya, berhasil atau tidak.

4. Memperhatikan asal ide
Kita pada dasarnya yakin bahwa ide dari akal kita. Murni dari akal kita? Tidak. Lingkungan berpengaruh. Ide kita muncul karena lingkungan, tempat, waktu dan latar belakang lainnya. Jika gagal menghubungkan ide kita dengan asalnya (ide) secara sistematis, maka ide tersebut menjadi unreliable, tidak terpercaya.

Wednesday, June 01, 2011

Beragama dengan Logika

Ada seorang agamis dan atheis berdialog. Dialog tersebut terbagi atas tiga babak, pertama tentang adanya Tuhan, kedua tentang hari akhir dan terakhir tentang agama yang paling benar. Inilah dialog mereka dan silakan anda simpulkan sendiri hasilnya...

Dialog I: Bukti adanya Tuhan
Agamis: Percayakah anda, bila ada orang bercerita bahwa tiba-tiba saja dia melihat sebuah kapal di dermaga tanpa ada yang membuatnya
Atheis: Tentu saja tidak, itu mustahil, tentu saja kapal itu ada yang membuatnya, kemudian baru dilabuhkan di dermaga.
Agamis: Begitulah alam semesta, tidak mungkin ada dengan sendirinya…
Atheis: ….
Atheis: Jika Tuhan menciptakan alam semesta, siapa yang menciptakan Tuhan?
Agamis: OK. Jika kita perhatikan setiap tingkatan ada ujungnya. Lihatlah gunung, piramida, dan pohon. Apakah kesemuanya itu tidak terbatas? Disetiapnya pasti ada puncak yang tidak ada lebih tinggi darinya.

Dialog II: Bukti adanya akhirat

Monday, October 22, 2007

Bukti logis adanya akhirat

Selama ini masih banyak orang yang tidak mempercayai adanya kehidupan (akhirat) setelah kematian terutama kaum orientalis. Mereka menganggap bahwa adanya kehidupan setelah mati merupakan lelucon. Mereka (orang barat) tidak mau menerima hal tsb meski hal tsb sudah disebutkan secara jelas dalam al-quran. Pada surat At-thagaabun ayat 7:

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya:
"Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah"
Namun disini saya tidak akan menunjukkan adanya akhirat berdasarkan Al-Quran, karena semua orang sudah tahu dan jelas dari ayat diatas orang kafir mengatakan tidak dibangkitkan dari kubur. Disini, saya akan melakukan pendekatan dari sisi sains dan logis karena orang-orang barat sangat mengagung-agungkan logika mereka. Diantara pencapaian sains yang menunjukkan adanya akhirat adalah sebagai berikut:
  1. Analogi Tumbuhan
  2. Kalau biji ditanam maka akan tumbuh tanaman kenapa manusia ditanam (dikubur) tidak tumbuh manusia lagi ?? sungguh logis bukan, biji/benih padi yang ditanam akan menghasilkan padi (yang juga brbiji) dan manusiapun bila ditanam (dikubur) maka akan keluar manusia lagi. Dari analogi ini juga dpt simpulkan bahwa apa yang kita lakukan akan kita petik kemudian, misalnya bila kita menanam ganja maka jelas akan tumbuh ganja sebaliknya bila kita menanam mangga pasti akan tumbuh mangga.Sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Al-Quran dan Al-Hadist bahwa manusia akan memperoleh imbalan sesuai apa yang diamalkan ketika di dunia (heaven or hell!!)
  3. Hukum Kekekalan Energi
  4. Hk. Kekelan energi menyebutkan bahwa Energi adalah kekal, tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Hk ini juga dikenal sbg Hk Termodinamika I. Kalau manusia yang dikubur tidak dibangkitkan kembali lalu energinya kemana?? Katanya energi adalah kekal, tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan!!
Itu hanya beberapa, dan mungkin masih banyak fakta sains yang menunjukkan adanya kehidupan setelah mati. Logika harus dilawab dengan logika, namun harus tetap bersandar pada Al-Quran. That's Quranic Science, begitu saya menyebutnya... (kalau dengan logika masih tetap tidak mau menerima, saya nggak tahu harus pake cara apa lagi... Semoga Allah memeberi hidayah pada kita semua... Amiin).

Refferensi:
1. Al-Quranul Karim.
2. Ust. Abdullah Bahreys: Pengajian Tafsir & Al-Hikam (surabaya).
3. My Dad, Sutrisno, SP : Diskusi pribadi.