Wednesday, November 13, 2019

"Logika dan Percakapan"-nya Grice beserta Kritiknya

Herbert Paul Grice (13 March 1913 – 28 August 1988) merupakan filsuf bahasa Inggris yang banyak bekerja di bidang implikatur dan semantik. Tulisan ini membahas tulisannya tentang logika dan percakapan (logics and conversation) beserta kritik terhadap tulisan tersebut.

Logika dan Percakapan

"Berkata" berhubungan erat dengan apa yang diucapkan, tidak termasuk hal-hal lain yang ingin diutarakan pembicara diluar apa yang diucapkan (kecuali hanya apa yang dikatakannya). Berkata adalah ungkapan semantik (makna dari kata).

Hal ini berbeda dengan membayangkan, menyarankan, menyampaikan, mengindikasikan, dll. Hal-hal tersebut di luar apa yang dikatakan. Berimplikasi (implicating) adalah ungkapan pragmatik (kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan apa yang dimaksudkan).

Grice mengusulkan teori implikatur, salah satu aspek kajian pragmatik yang perhatian utamanya adalah mempelajari ‘maksud suatu ucapan’ sesuai dengan konteksnya. Implikatur cakapan dipakai untuk menerangkan makna implisit dibalik “apa yang diucapkan atau dituliskan” sebagai “sesuatu yang diimplikasikan” (implicatum: what is implied)  [3].

Implikatur: Konvensi vs Cakapan

Implikatur, berdasarkan ragamnya, oleh Grice dibagi menjadi dua: implikatur konvensi dan implikatur cakapan. Perhatikan kalimat dalam bahasa Inggris berikut.

“He’s an Englishman, so he’s brave.”

Pada kalimat di atas, kata 'brave' merupakan implikasi dari 'Englishman', tanpa disebutkan secara langsung. Bandingkan dengan contoh.

“She is poor, but she is honest.”

Kata 'honest', pada kalimat diatas merupakan implikasi kebalikan dari kata 'poor'. Namun disini perlu kata 'but', untuk menerangkan pertentangan 'poor' dengan 'honest' untuk membawakan implicatum. Ini adalah contoh implikatur cakapan (conversational implicature) yang mana merupakan bagian dari semantik.

Prinsip Kooperatif

Grice mengusulkan prinsip umum untuk membuat partisipan percakapan diharapkan untuk faham: Buat kontribusi percakapan seperti yang dibutuhkan, pada tahap dimana dimana terjadi, dengan tujuan atau arah percakapan dimana anda dilibatkan. Prinsip-prinsip tersebut dinamakan prinsip kooperatif (cooperative principal) yang terbagi atas maxim (prinsip dasar) dan submaxim (bagian dari prinsip dasar). Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Kuantitas
    1. Jadilah seinformatif dibutuhkan.
    2. Jangan memberi informasi lebih dari yang dibutuhkan.
  2. Kualitas
    1. Jangan mengatakan yang anda percayai itu salah.
    2. Jangan mengatakan jika anda tidak memiliki bukti yang cukup
  3. Relasi ( jadilah relevan)
  4. Gaya
    1. Hindari ketidakjelasan
    2. Hindari ambiguitas (makna ganda)
    3. Singkat
    4. Runtut

Contoh

Dalam memberikan contoh, Grice membagi ke dalam beberapa kategori, berdasarkan (terpenuhi/tidaknya) maxim-maxim di atas.

Group 1. Contoh yang mana tidak ada maxim yang dilanggar, atau setidaknya tidak jelas apakah ada maxim yang dilanggar.

A: "Saya kehabisan bensin"
B: "Ada bengkel di pojok sana."
Implikatum: Ada bengkel yang buka dan menjual bensin.
Maxim: tidak ada yang dilanggar.

Group 2. Contoh dimana ada benturan antar maxim
A: Dimana C tinggal?
B: Di suatu tempat di Perancis.
Implikatum: B tidak tahu secara pasti dimana C tinggal.
Maxim: Prinsip kuantitas dilanggar, namun ini sudah maksimal agar tidak memberikan informasi yang salah.

Group 3: Ada maxim yang dieksploitasi
[surat rekomendasi dari guru ke muridnya yang sedang mencari pekerjaan guru filosofi]
Dengan hormat,
Sdr. X memiliki kecakapan bahasa Inggris yang bagus, dan dia selalu hadir di kelas saya.
Implikatum: X tidak cakap dalam filosofi.

Fitur Implikatur Cakapan

Grice memaparkan bahwa implikatur cakapan harus memiliki fitur-fitur berikut:
  1. Semua implikatur cakapan dapat dibatalkan (cancelable)
  2. Sebuah implikatur cakapan yang umum dibawa dengan ungkapan yang familiar memiliki tingkat yang tinggi untuk tidak bisa dihilangkan (high degree nondetachability).
  3. Implikatur cakapan pada awalnya bukan bagian dari makna dari suatu ekspresi. Namun apa yang diawali dari implikatur cakapan bisa menjadi konvensi.
  4. Dalam setiap kasus, aoa yang diucapkan mungkin bisa benar sedangkan apa yang diimplikasikan bisa jadi salah.
  5. Secara khusus, ada kemungkinan perbedaan penjelasan yang akan menjaga anggapan bahwa prinsip kooperatif sedang diamati.

Kritik terhadap "Prinsip Kooperatif" dalam "Logika dan Percakapan"

Atefeh Hadi, dalam papernya tahun 2012 yang berjudul 'A Critical Appraisal of Grice's Cooperative Principle' mengkritik prinsip kooperatif yang diajukan Grice. Hal paling utama yang menjadi kritik Hadi adalah penggunaan kata kooperatif yang maknanya bisa menjadi berbeda dari apa yang dimaksudkan dalam paper tersebut dengan kata kooperatif yang digunakan sehari-hari.

Prinsip kooperatif, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, berusaha untuk menjelaskan prinsip rasional secara eksplisit dari percakapan. Grice mengklaim bahwa komunikasi satu sama lain dilakukan secara logis (masuk akal) dan rasional (beralasan), dan kerjasama (cooperation) tertanam di dalam percakapan tersebut.

Menurut Hadi, Grice mengasumsikan kondisi ideal dimana pemahaman pendengar atas implikasi dari pembicara berdasarkan kerjasama, informasi kontekstual, dan latar belakang pengetahuan.

Jenis Kerjasama

Untuk memperjelas jenis kerjasama (cooperation) dalam tulisan Grice, Pavlidou [4] membagi kerjasama menjadi dua:
  1. Kerjasama formal: bertindak sesuai atau bertentangan dengan prinsip kooperatif.
  2. Kerjasama substansial: berbagi tujuan dengan partner komunikasi, diluar pertukaran informasi.
Perbedaan diatas mirip dengan dengan linguistik dan ekstra-linguistik, komunikatif dan ekstra-komunikatif, kerjasama linguistik/formal dan kerjasama sosial. Pada banyak eksperimen, teori Grice hanya berlaku pada kerjsama linguistik/formal saja. Artinya, makna kooperatif pada Prinsip Kooperatif Grice hanya untuk yang sesuai atau bertentangan/melanggar maxim atau prinsip-prinsip tersebut. Ketika ada kerjasama dengan cakupan/tujuan yang lebih luas, tujuannya harus spesifik terhadap relevansi percakapan. Dengan kata lain, makna kooperatif pada teori Grice hanya pada 'mutually accepted goal'  bukan '(social) sharing common goals' .

Pendapat saya tentang dua paper diatas

Seperti dinyatakan oleh Hadi [2] dalam kritiknya terhadap paper Grice, Grice berusaha untuk mencari logika dibalik percakapan dan bagaimana kita bisa menjelaskan gap antara perkataan dan arti, perkataan dan implikasi, arti konvensi dan arti non-konvensi. Permasalahannya, menurut Hadi, bahwa Grice tidak memasukkan unsur sosial dalam teorinya.

Dalam teori yang diusulkannya, Grice hanya berasumsi bahwa perkataan hanya dimaksudkan agar seseorang faham. Bagaimana jika maksudnya berbeda, orang yang berkata ingin agar pendengarnya tidak paham, atau disengaja agar maknanya beda atau terjadi miskomunikasi. Maksud diluar logika inilah yang tidak bisa dijelaskan oleh teori yang diusulkan oleh Grice.

Menurut saya, jika yang dimaksudkan untuk mengetahui logika kooperatif (logika mencari kebenaran sebagaimana seharusnya), dengan mengesampingkan aspek lain seperti sosial, teori Grice tetap dapat dipakai. Namun, jika aspek sosial dan lainnya, seperti percakapan untuk mengelabui, ambigu, dll, maka teori kooperatif Grice tidak bisa dipakai. Grice tidak mempertimbagkan bahwa, ketika orang berinteraksi dengan membawa isu berbeda, percakapan mereka akan terpecah meski dalam satu kesatuan. Misalnya, seseorang yang tidak setuju (dalam debat), atau memang sengaja mengaburkan isi pembicaraan.

Sebaliknya, dalam percakapan ilmiah (scientific communication), teori Grice wajib dipakai, karena dia berusaha mendefinisikan scientific communication (termasuk written communication tapi bukan everyday communication) dalam papernya "Logic and Conversation".

Referensi:
  1. Grice, H. Paul, Peter Cole, and Jerry Morgan. "Logic and conversation." 1975 (1975): 41-58.
  2. Hadi, Atefeh. "A critical appraisal of Grice’s Cooperative Principle." Open journal of modern linguistics 3, no. 01 (2013): 69.
  3. Nugroho, Rudi Adi. "Analisis implikatur percakapan dalam tindak komunikasi di kelompok teater Peron FKIP UNS." Tugas Makalah Pragmatik. Solo: UNS (2008).
  4. Pavlidou, Theodossia. "Cooperation and the choice of linguistic means: Some evidence from the use of the subjunctive in Modern Greek." Journal of Pragmatics 15, no. 1 (1991): 11-42.

Latest posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...