Showing posts with label Budaya Islam. Show all posts
Showing posts with label Budaya Islam. Show all posts

Sunday, December 16, 2012

Minum Kopi: Budaya Islam...?

Secangkir kopi yang disajikan di Cafe Jepang (photo credit by me)
     Peradaban Muslim memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, seperti seni, sastra, hingga kuliner. Tradisi minum kopi, misalnya, siapa sangka hal itu katanya juga berasal dari dunia Islam.

Sebuah manuskrip tentang budaya Muslim di abad ke-15 menyebutkan, kopi mulai dikenal dalam budaya umat Islam pada sekitar tahun 1400. Kopi itu dibawa masyarakat Yaman dari Ethiopia. Orang Afrika, terutama Ethiopia, telah mengenal kopi sejak tahun 800 SM.  Saat itu, mereka mengonsumsi kopi yang dicampur dengan lemak hewan dan anggur untuk memenuhi kebutuhan protein dan energi tubuh.

Sumber lain, yakni kesaksian dari ilmuwan Muslim terkemuka, Al-Razi dan Ibnu Sina, menyatakan kopi telah dikenal di kalangan umat Islam pada awal abad ke-10. Minuman ini pertama kali dinikmati dan dibudidayakan oleh masyarakat Yaman. Mereka menyebut minuman kopi sebagai al-Qahwa. Konon, peminum pertama kopi adalah kaum sufi yang menggunakannya sebagai stimulan agar tetap terjaga selama berzikir pada malam hari.

Dari Yaman, keharuman kopi merebak ke berbagai kawasan di sekitarnya, lalu ke Eropa, Amerika, dan akhirnya mendunia. Para pelancong, peziarah, dan pedaganglah yang membawa kopi melanglang buana. 

Abd-Al-Qadir Al-Jaziri dalam bukunya Umdat Al-Safwa (Argumen Penggunaan Kopi) memerinci tentang bagaimana kopi mencapai Kairo, Mesir. Dikatakan, pada pertengahan abad ke-16, kopi dibawa oleh para siswa Al-Azhar berkebangsaan Yaman untuk meningkatkan stamina mereka. Dari kalangan terdidik Al-Azhar, kopi segera memasuki jalan-jalan, toko-toko, dan rumah tinggal di kota itu.

Sebelumnya, yakni pada awal abad ke-15, kopi telah mencapai Turki. Warung kopi pertama di negeri ini berdiri pada 1475 di Istanbul. Namanya, warung kopi Kiva Han.

Dalam bukunya, Al-Jaziri sekaligus menanggapi perdebatan agama tentang manfaat dan boleh-tidaknya minum kopi di bawah hukum Islam. Ini adalah dokumen tertua tentang sejarah, penggunaan, dan manfaat minum kopi di dunia Islam. Setelah melewati perdebatan panjang,  kopi pun menjadi minuman tersohor di Makkah dan Madinah.

Dari interaksi para peziarah dan pedagang tadi, kopi kemudian menyebar ke luar kalangan Muslim. Penyebarannya di Eropa dimulai pada abad ke-17 melalui kota-kota terkemuka, seperti Venesia, Marseilles, Amsterdam, London, dan Wina. Hal ini tentu saja berimbas pada nilai ekspor kopi Yaman yang melonjak tajam.


Salah satu kopi tersohor di dunia adalah kopi Turki. Penyajiannya yang unik menjadi daya tarik rasa tersendiri. Biji kopi sangrai dididihkan dalam wadah khusus hingga ampasnya mengental. Kopi Turki umumnya bisa ditemukan di seluruh Timur Tengah, Afrika Utara, Kaukasus, dan Balkan. Budaya kedai kopi sangat berkembang di Turki, bahkan menjadi salah satu ciri khas negeri ini. Kopi pun memengaruhi budaya Turki hingga linguistiknya.  Begitu cintanya masyarakat Turki pada kopi hingga seorang musafir Inggris, Charles Mac Farlane, yang pernah melakukan observasi di negara itu menyebut, “Turki tidak bisa hidup tanpa kopi.”

Tradisi kongkow-kongkow sembari ngobrol di kedai kopi membentuk gaya hidup serta filsafat kehidupan yang khas pada masyarakat Turki. Dari sana, mereka membentuk sebuah jaringan penyebaran budaya yang mencakup semua elemen masyarakat.

Kedai kopi pertama di Turki adalah Kiva Han. Tak sekadar minum kopi, orang-orang datang ke kedai ini juga untuk membaca buku dan teks-teks yang indah, bermain catur, serta mendiskusikan puisi atau sastra.

Kopi mulai dikenal di Istanbul pada masa pemerintahan Sultan Suleiman (1543). Gubernur Ottoman Yaman, Ă–zdemir Pasha, yang memperkenalkannya melalui cara baru minum kopi. Tak lama kemudian, kopi menjadi bagian penting pada setiap perjamuan di Istana dan sangat populer di pengadilan.

Begitu pentingnya minuman kopi ini, sampai-sampai ada jabatan ketua pembuat kopi di dalam daftar nama pejabat pengadilan. Tugas utama pembuat kopi adalah meracik kopi dengan resep rahasia kerajaan. Maka itu, dipilihlah orang yang mempunyai loyalitas dan kemampuan menjaga rahasia.

Dari Turki, kopi kemudian merambah Eropa. Ketertarikan bangsa Eropa terhadap gaya hidup orang Turki pada abad ke-17 menjadi awal kegemaran mereka pada kopi. Di Inggris, kopi pertama kali diperkenalkan oleh seorang keturunan Yunani bernama Pasqua Rosee sebelum tahun 1650. Ia pernah bekerja pada pedagang Turki sehingga mengetahui seluk-beluk kopi. Dia jugalah yang pertama kali menjual kopi di kedai kopi di tepi Lombard-Street. Kemudian pada 1658, muncul kafe lain di Cornhill bernama Sultaness Head, dan pada 1700 sudah ada sekitar 500 kedai kopi di London.

Popularitas kedai kopi mencuat pada abad ke-17 hingga 18. Booming kedai kopi terekam dalam banyak karya sastra Inggris. Para sastrawan secara perinci menceritakan kebiasaan masyarakat Inggris duduk-duduk sambil minum kopi di kafe. Selain minum kopi atau teh, banyak juga pengunjung yang membaca koran, merokok, juga berdebat soal politik atau perkembangan sosial saat itu. Akibatnya, kedai-kedai kopi harus mendaftarkan diri secara hukum karena banyak kegiatan yang bisa mengancam pemerintahan kerajaan Inggris.  Bahkan, pada 1675, pemerintah menganggap kedai kopi sebagai sumber pemberontakan. Kedai-kedai itu pun ditutup.

Sementara di Italia, kopi dikenal berkat hubungan bisnis yang aktif antara para pedagang Venesia dengan relasinya dari Afrika Utara, Mesir, dan Timur Tengah. Setelah mencicipi cita rasa kopi yang sedap, pedagang Venesia yakin bahan minuman ini memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Mereka pun lalu mengimpornya.

Selanjutnya, kopi dijual di pusat-pusat perdagangan di Venesia dan akhirnya tersedia luas untuk masyarakat umum. Kedai kopi pertama di Venesia berdiri pada 1645. Pada 1763, gerai kopi sudah berkembang menjadi 218. Dari Venesia, kopi menyebar ke wilayah-wilayah lainnya di Italia, seperti Turin, Genoa, Milan, Florence, dan Roma.

Seperti barang impor lainnya yang berasal dari dunia Muslim, kopi pada awalnya ditolak oleh institusi agama di Italia. Paus Klemens VIII (1536-1605) sempat melarang konsumsi kopi. Namun, setelah mencicipi, Paus membolehkan bahkan memberkatinya. Persetujuan ini melempangkan jalan bagi kopi untuk hadir di semua rumah di Eropa.

Dari dalam negeri, ulama Kediri - Jawa Timur, pernah menulis kitab dengan judul Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi Syurb al-Qahwah wa al-dhukhan (Kitab Kopi dan Rokok). Beliau adalah ulama kondang yang pernah diminta pemerintah Mesir untuk mengajar di universitas Al-Azhar namun beliau menolaknya. Buku membahas seluk beluk kopi dan rokok, mulai dari: sejarah, polemik hukum mengkonsumsi, hingga kasiat yang dikandung.

Dan salah satu kopi favorit saya adalah berikut ini.
My fave: Good Day Mocacinno

Saturday, November 03, 2007

No Dokter No Problem... (secrert behind honey)

Saya (bta) termasuk orang yang tidak percaya pada dokter. Ketika saya sakit, saya hanya berdoa, dan itupun biasanya sudah cukup untuk menyembuhkan penyakit saya. Ketika doa ternyata belum mampu menyembuhkan penyakit saya maka saya minum ramuan ajaib andalan saya, MADU. Yup, madu merupakan ramuan ajaib yang mampu menyembuhkan segala penyakit. Dalam QS. An-Nahl: 69 Allah SWT berfirman:
"...dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat kebesaran Tuhan bagi orang-orang yang memikirkan"

Cukup madu, tidak perlu obat2an kimia lainnya. Dan biasanya bila penyakit yang menimpa saya agak kronis saya menambahkan habatussauda (yg bentuk bubuk) ke dalam sesendok madu dan kemudian saya meminumnya. Madu yang dicampur dalam segelas air dingin merupakan minuman kesukaan saya, dan ini dapat memberikan tambahan tenaga ketika melakukan aktivitas semisal belajar. Selain manis minuman tersebut juga menyegarkan. Dalam sebuah Hadist Rasulullah juga pernah bersabda: "Bagi kalian ada dua penyembuhan yakni madu dan Al-Quran".

Berbagai penelitian juga menunjukkan madu memberikan hasil yang signifikan dalam pengobatan penyakit gula (diabetes),pengeroposan gigi,Penyakit kulit (dermatology),gangguan pencernaan,TBC, penyakit mata (katarak dll), penyakit kewanitaan, gangguan pada jantung, gangguan pada ginjal dll. Itu baru yang terbukti secara klinis melalui penelitian.Teknik pengobatannya pun beragam mulai dari hanya meminumnya, injeksi ke dalam tubuh (harus dilakukan dg petunjuk dokter), dioleskan pada bagian yang sakit dll. Berbagai khasiat madu tersebut tak luput karena berbagai kandungannya spt: zat gula (15 macam) enzim-enzim (amilase,invertase,katalase peroksidase,lipase dll), vitamin (B,B2,B5,B6,C,K,E,A dll), protein, asam amino, asam lactat serta yan terpenting zat-zat antibiotik. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam penggunaan madu adalah madu harus dijauhkan dari kelembapan dan khasiatnya akan hilang jika dipanaskan melebihi 60 derajat celcius.

Namun satu yang saya takutkan kalau semua orang di dunia ini mengkonsumsi madu, para dokter di dunia ini tidak laku dan sebaliknya penjual serta pencari madu menjadi kaya raya sehingga banyak dokter yang beralih profesi menjadi penjual/pencari madu, He...3x.

That's bot "honey"..., seingat saya terakhir kali saya ke dokter waktu SMA (itupun karena terpaksa) dan terakhir kali saya minum obat2an kimia beberapa bulan yang lalu (karena persediaan madu saya habis). Selanjutnya saya akan mengandalkan madu bahkan sampai di surga nanti (kalo masuk surga, Amiin) karena sungai yang mengalir di dalam surga pun airnya berasal dari madu yang disaring (Q.S. Muhammad:15). Terakhir, seseorang pernah berkata "Hidup ini jangan sampai berurusan dg dua hal, rumah sakit/dokter dan polisi". Semoga saya (ato kita klo anda juga mau) tidak pernah lagi berurusan dengan yang namanya dokter, kecuali kalo dokternya..... (bla..bla..bla..bla...).