Showing posts with label machine learning. Show all posts
Showing posts with label machine learning. Show all posts

Saturday, June 29, 2024

Belajar Entropy dan Aplikasinya pada Teori Informasi

Entropy yang dibahas ini bukan entropi pada termodinamika, melainkan pada teori informasi, meski secara konsep sama. Yakni, entropi adalah derajat ketidakturan, atau ketidakpastian.

Seperti biasa, proses belajar saya dokumentasikan dengan bantuan asciinema. Perangkat yang saya gunakan adalah scipy.stat.entropy, bisa juga dikodekan manual dengan Numpy. Materi pembelajaran saya kembangan dari manual Scipy.

Berikut dokumentasi pembelajaran saya untuk Entropy.


Keterangan:
Makna koin bias pada pembelajaran di atas adalah bahwa peluang gambar dan angka menjadi tidak 50:50, tetapi 90:10. Bisa jadi karena secara fisik berat sebelah ataupun sebab lain yang menjadikan peluang munculnya gambar jauh lebih besar dari peluang munculnya angka.

Friday, June 24, 2022

Membuka dan menyimpan file json

MENYIMPAN file JSON
Studi kasus
Misalkan kita ingin menyimpan dataset berikut (RAVDESS Speech) dalam format json yang berisi file dan labelnya (data speech emotion recognition). Untuk keperluan tersebut kita ingin memisahkan antara data training ('train_meta_data.json') dan data test ('test_meta_data.json'). Skrip berikut memenuhi tujuan tersebut.
import os
import glob
import json

data_dir = '/data/Audio_Speech_Actors_01-24/'
files = glob.glob(os.path.join(data_dir, 'Actor_??', '*.wav'))
files.sort()

data_train = []
data_test = []

for file in files:
    lab = os.path.basename(file).split('-')[2]
    if int(file[-6:-4]) < 20: # speaker 1-19 for training
        data_train.append({
            'path': file,
            'label': lab
        })
    else:                     # speaker 20-24 for test
        data_test.append({
            'path': file,
            'label': lab
        })

with open("train_meta_data.json", 'w') as f:
        json.dump(data_train, f)

with open("test_meta_data.json", 'w') as f:
        json.dump(data_test, f)

MEMBUKA file JSON
import json
filepath = '/data/Audio_Speech_Actors_01-24/train_meta_data.json'
with open(filepath, 'r') as f:
     data_train = json.load(f)

Monday, April 08, 2019

Implementasi Deep Learning dengan Keras: Terminologi dasar

Berikut konsep deep learning dengan Keras dalam 30 detik (6 detik per baris membaca):
model = Sequential()
model.add(Dense(XX, input_dim=Y)
model.add(Dense(Z))
model.compile(loss='nama_loss_function', optimizer='nama_optimizer', metrics=['nama_metrik'])
model.fit(training_input, training_ouput, epochs=AA)

Terminologi penting (tak kenal maka tak paham?!):

Model: Tipe model yang digunakan. Ada dua: sekuensial dan functional API.
Contoh:
model = Sequential()

Dense: Menambahkan unit atau node beserta argumennya, dari satu layer ke layer selanjutnya. Dengan kata lain, "fully-connected layer", atau "feed forward network", atau "multi-layer perceptron".


Contoh:

model.add(Dense(32, input_dim=2)
Kode di atas membuat layer dengan jumlah 32 unit dan 16 unit input. Jumlah learnable parameternya adalah 16*32+32 = 544. Check dengan model.summary(). Jika kita tambahkan lagi,
model.add(32) 
Maka sekarang kita mempunyai dua layer yang masing-masing berisi 32 unit. Total learnabale parameternya adalah 544+ (32*32+32) = 1600. Check dengan kode yang telah diberikan di atas.

Compile: Mengkonfigurasi model untuk melatih data yang diberikan
Contoh:
model.compile(loss='binary_crossentropy',
              optimizer='adam',
              metrics=['accuracy'])
Fit: Mencari hubungan input dan output data, dengan kata lain: membangun/melatih model.
Contoh:
model.fit(train_input, train_output, batch_size=16, epochs=500)

Empat terminologi di atas merupakan step dasar untuk melakukan training data dengan deep learning. Namun masing-masing terminologi memiliki argumen. Agar lengkap, berikut penjelasan singkat argumen-argmunen tersebut.

Thursday, March 28, 2019

Data yang besar mengalahkan algoritma yang baik

Dalam sebuah workshop yang saya ikuti setahun dua tahun yang lalu di Trieste, seorang pemateri dengan pedenya menyampaikan: "bigger data win over good algorithm", data yang besar mengalahkan algortima yang baik. Saya tercengang. Benarkah...? Selama sekolah, S1~S2, saya diajari dan dituntut untuk menghasilkan algoritma yang baik dari data pengukuran fisis untuk aplikasi kontrol, prediksi, diagnosa dan lain sebagainya. Namun sekarang paradigmanya berubah, bukan bagaimana meng-improve algoritma, tapi mempebesar jumlah data. Tidak sepenuhnya benar memang, namun ini jauh lebih mudah. Akan lebih mudah mengakuisisi lebih banyak data daripada mengimprove/memodifikasi algoritma yang biasanya membutuhkan matematika yang cukup rumit.

Benar adanya, tak semata-mata algoritma/metode yang baik, tapi juga data yang banyak. Gampangannya, orang yang yamg "pintar" tapi jarang belajar dibanding dengan orang yang "rajin" belajar dari banyak data. Pengalaman menunjukkan, tipe orang disebut terakhir lebih banyak berhasilnya daripada tipe orang yang disebut pertama.

Analogi lagi, data vs algoritma: mana yang lebih penting adalah seperti membandingkan mana yang lebih dulu: telur atau ayam. Awalnya saya, mungkin seperti kebanyakan orang juga, berpikiran telur lebih dahulu. Alasannya: telur lebih rigid, lebih statis, dan lebih kecil daripada ayam. Namun hasil penelitian membuktikan bahwa ayam lebih dahulu daripada telur (artinya Tuhan menciptakan ayam dulu, ini lebih masuk akal). Begitu juga dengan data vs algoritma: data-lah akhirnya yang menang, tentunya data yang banyak, big atau bahkan very big.

Jadi tunggu apa lagi? Cari data sebanyak-banyaknya, seakurat mungkin! Mengumpulkan data tidak sesulit membangun algortima. Kalau membangun algortima, kita butuh mikir exktra, menurunkan rumus matematik, dan mengimplementasikannya dalam bahasa pemrograman. Sedangkan untuk mengumpulkan data, kita cuma butuh waktu, keuletan, dan ketekunan. Contohnya untuk data teks, kita perlu sabar dan rajin mengumpulkan kalimat, tokenisasi, mengetik dan sebagaiknya. Untuk data suara, kita perlu merekam, mengedit dan memanipulasi (tambahkan noise, hilangkana noise, dsb). Jauh lebih mudah untuk memperbanyak data daripada memperbaiki algoritma.

Garbage In Garbage Out
Salah satu prinsip yang penting dalam machine learning dan pengenalan pola adalah "data yang baik", berkualitas. Jika data yang kita masukkan adalah sampah, maka hasilnya juga sampah. Maka, selain memperbanyak data, yang harus kita perhatikan adalah kualitas data tersebut. Jangan sampai data yang kita latih, misal dengan deep learning, merupakan data sampah, sehingga hasilnya juga sampah. Disinilah pentingnya preprocessing.

Berapa data yang "besar" itu?

Pertanyaanya selanjutnya, jika data yang besar mengalahkan algoritma yang baik, seberapa besar data yang besar itu? Ian Goodfellow et al. dalam bukunya "Deep learning" berargumen sebagai berikut,
As of 2016, a rough rule of thumb is that a supervised deep learning algorithm will generally achieve acceptable performance with around 5,000 labeled examples per category, and will match or exceed human performance when trained with a dataset containing at least 10 million labeled examples. Working successfully with datasets smaller than this is an important research area, focusing in particular on how we can take advantage of large quantities of unlabeled examples, with unsupervised or semi-supervised learning.
 Jadi, 5000 data yang terlabeli dengan benar merupakan data minimal dari sisi best practice. Tenju saja, semakin besar semakin baik.

Referensi:
  1. Alon Halevy, P. Norvig, F. Pereira, "The Unreasonable Effectiveness of Data". Available online:https://static.googleusercontent.com/media/research.google.com/ja//pubs/archive/35179.pdf
  2. https://www.datasciencecentral.com/profiles/blogs/data-or-algorithms-which-is-more-important

Friday, September 08, 2017

Neural Network with R: A concept [1]

This article is the English version of this article. It is based on Lecture by Roger Barlow given at ICTP Trieste on #DataTrieste17. The image belows show Roger explaining some fundamentals concept of Neural Network at ICTP class.



Neural network is one of the earlier and most developed artificial intelligence. The purpose of the computer, i.e., internet is to differ the picture between cats and dog, or between camel and dromedary.  The human brain is very good at recognising which is which. We can easily detect if the shown picture is camel of dromedary. But, how about computer? Can computer distinguish the image of camel and dromedary? Here is how the neural net works.