Showing posts with label Gaji Buta. Show all posts
Showing posts with label Gaji Buta. Show all posts

Wednesday, December 04, 2013

Terpaksa Harus Korupsi (4, Epilog)

Akhirnya, setelah berkoar-koar tentang Para Pencuri Gaji, Korupsi Telah Mendarah Daging, Anti Korupsi: Belajar Kejujuran dari Pengemudi Taksi, toh akhirnya kita terpaksa harus korupsi juga. Ironis memang, tapi kalau tidak korupsi, kita tidak akan mendapatkan hak-hak kita. Sistem-lah yang memaksa kita untuk korupsi. Ketika mengurus dokumen administrasi di pemerintahan seperti KTP, Paspor,  ketika mengajukan SIM, ketika ditilang, atau membuat laporan pertanggung-jawaban bagi pegawai pemerintah.

Dalam kaitan korupsi secara luas, yakni KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), dua perkara bisa kita cegah yakni korupsi dan nepotisme, namun untuk kolusi, kadang kita harus melakukannya untuk mendapatkan hak-hak kita.

Deklarasi Anti Korupsi parpol yang sebatas di mulut saja

Praktik kolusi yang terpaksa kita lakukan biasanya berkenaan dengan pengurusan dokumen administrasi pemerintahan seperti dalam pembuatan akta kelahiran, ktp, surat nikah, SIM dan paspor. Kadang tak sungkan-sungkan, oknum pegawai negeri dengan terang-terangan meminta uang pelicin, padahal hal tersebut tidak ada dalam aturan resminya. Jika kita tidak membayar uang tersebut, maka dokumen administrasi seperti KTP tidak diberikan. Saya pernah mengalami hal ini, oknum aparat desa dengan cara halus meminta uang sebagai tebusan KTP saya. Begitu juga dalam pengurusan SIM, jika kita mengikuti prosedur resmi, cenderung untuk tidak lulus ujian SIM. Walhasil, terpaksa kita memanfaatkan jalur pintas dengan membayar uang pelicin kepada oknum polisi. Saya juga melakukan hal yang sama.

Saturday, November 09, 2013

Ketika Korupsi Sudah Mendarah Daging [2]

Membaca cerita tentang seorang kasir yang melakukan korupsi secara kontinyu di sebuah minimarket, saya miris. Betapa korupsi telah mendarah daging di tubuh kita. Tak hanya kasir supermarket, kasir POM bensin, kasir toko, dari pejabat pemerintah sampai rakyat kecil, dari untuk mencari sekolah sampai mencari kerja, semua melakukan korupsi. Ayah saya menyebutnya sebagai korupsi yang terorganisir. Padahal hal tersebut jauh dari ajaran Islam. Masalah jual beli, tak hanya berhenti sampai di kasir saja, meskipun kedua belah pihak menghalalkan. Karena di satu pihak tidak tahu kalau dia dibohongi, maka dia menghalalkan jual beli tersebut. Kelak semuanya akan diminta pertanggung jawabannya, ketika bukan mulut kita yang bicara, namun anggota tubuh kita yang lain mengatakan hal sebenarnya yang dulu kita tutupi saat di dunia.

Begitu juga ketika mencari kerja. Hampir semua sektor kerja di pemerintahan dan militer 'mensyaratkan' uang pelicin untuk masuk instansi pemerintah tersebut. Tidak semua memang, namun hal itu sudah umum terjadi saat mencari kerja di instansi pemerintah. Hal ini justru berbeda ketika kita mencari kerja di sektor swasta. Umumnya, rekruitmen pegawai baru di sektor swasta lebih jujur dan fair, tidak seperti instansi pemerintah dan militer dimana banyak oknum yang meminta uang dari puluhan juta sampai ratusan juta. Ini fakta kawan! coba tanya teman anda yang apply PNS atau militer (baik Tamtama atau Akabri). Berapa uang yang mereka serahkan untuk diterima di tempat tersebut? Padahal gaji kerja tersebut nantinya akan diberikan pada keluarga, pada anak dan istri. Bagaimana keluarga bisa berkah kalau gajinya didapat dari cara mencari kerja yang tidak barokah pula? Dalam luang lingkup yang lebih besar, bagaimana negara ini bisa maju dan barokah kalau sistemnya seperti itu?

Struk yang diduga bukti korupsi kasir (Sumber Kompasiana -Angin Maj)

Friday, November 01, 2013

Para Pencuri Gaji [1]

Saya heran dan terkejut ketika seorang teman Jepang bercerita tentang sekolahnya yang dulu (SMA). Teman saya, sebut saja namanya Kojima San,  menyebut para gurunya di SMA sebagai para pencuri gaji, atau dalam bahasa Jepang disebut kyuryo dorobou (給料泥棒/きゅろうどろぼう). Di  negeri yang serba tertib dan katanya yang ketahuan korupsi langsung bunuh diri ini, ternyata malah banyak kasus 'korupsi' yang tidak terlihat. Dulu saat masih mahasiswa, kami menyebutnya mereka yang makan gaji buta, yakni mereka yang kerjanya tidak ada (sedikit), tapi tetap menerima atau malah meminta gaji. Diantara mereka adalah para guru dan dosen yang sering tidak hadir saat jam mengajar.

Ilustasi: Pencuri Gaji (sumber 123rf.com)

Tindakan korupsi adalah tindakan yang tidak jujur. Awalnya dengan mencuri gaji, meskipun gaji tersebut memang hak dia, namun bila dia tidak bekerja tentunya tidak sepantasnya dia menerima gaji. Aktivitas tidak jujur ini pun akhirnya merembet ke bidang lain. Ketika ada proyek, dan kita terlibat didalamnya, ketidak jujur-an akan mengakibatkan kita "bersedia" menerima uang yang sebenarnya bukan hak kita. Sebagai muslim, apalagi yang mengaku ahlus sunnah wal jamaah (aswaja), tentunya hal bertentangan dengan sunnah Rasul. Dalam sebuah riwayat, beliau baginda Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Allah melaknati baik pemberi suap maupun penerima suap. Sebaliknya, mencari gaji dengan halal akan mendapat ridho Allah SWT. Pencari gaji dan pencuri gaji memang hanya beda satu huruf, tapi implikasinya antara surga dan neraka.