Friday, May 01, 2009

Pengolahan Sinyal Akustik

Ada beberapa cara untuk merekam dan menganalisa sinyal suara dengan software Matlab. Untuk perekaman, bisa melalui daq toolbox (data acquisition), perintah wavrecord serta audiorecorder. Semua teknik tersebut mensyaratkan adanya souncard yang telah terpasang, baik internal maupun eksternal.

Berikut proses perekaman dengan perintah wavrecord:

>> Fs=8000;   % deklarasi frekuensi sampling
>> y=wavrecord(5.0*Fs,Fs); % merekam suara selama lima detik
>> figure(1);
>> plot(y);    % menggambar bentuk gelombang
>> wavwrite(y,Fs,'aiueo.wav') % menyimpan file .wav

hasil perintah diatas adalah sebagai berikut:
Gb.1 Waveform Sinyal Akustik


Gambar diatas adalah plot sinyal suara dalam domain waktu yang biasa disebut waveform. Pada Matlab, amplitudo sinyal akan dibatasi pada range [-1 1] dikarenakan ini adalah sinyal teganan yang dinormalisasi (encoding PCM) dan tidak bersatuan. Sedangkan pada sumbu-x grafik diatas adalah masih dalam sample point (jumlah sample) bukan dalam satuan detik. Untuk menjadikan sumbu-x menjadi detik, maka dapat kita definisikan variabel t sebagai berikut,

t = 1/Fs:1/Fs:length(y)/Fs;
plot(t,y)

Simple bukan..? Next analysis....

Analisis

Hampir semua analisa sinyal dilakukan dalam domain waktu dan frekuensi, karena itulah disebut time-frequency analysis. Dalam domain waktu, sinyal digambarkan dengan bentuk waveform dimana sumbu-x menunjukkan time dan sumbu-y menunjukkan besarnya amplitude tiap waktu. Bentuk ini kadang kurang informatif karena kita tidak bisa mengetahui besarnya magnitude tiap waktu. Untuk itu diperlukan sebuah transformasi yang mampu mengubah waveform menjadi spectrum, dimana tiap komponen frekuensi akan terlihat jelas. Nah, Fourier Transform merupakan tranformasi yang dapat melakukan hal ini. Apalagi ditambah dengan adanya FFT atau Fast Fourier Transform, maka waktu komputasi akan menjadi lebih cepat sehingga memudahkan analisa sinyal suara. Output dari FFT berupa spectrum yang menggambarkan grafik frekuensi dengan magnitudo.

Berikut cara mengubah waveform dari sinyal y hasil perekaman menjadi spectrum dengan teknik sekaligus perintah fft:

Sunday, March 22, 2009

Adakah Self Control System?

Pada tulisan terdahulu, saya pernah memaparkan tentang konsep Self Control System disini . Tulisan saya tsb masih asal-asalan sbg seorang yang baru belajar ilmu kontrol, nah pada kesempatan ini saya akan menyampaikan langsung dari pakarnya, Adakah sistem yang mengontrol dirinya sendiri?

Sistem pengendalian mulai dari sistem mekanik, pneumatis, elektronik sampai optoelektronik dengan menggunakan algoritma mulai dari on/off, PID, Fuzzy Logic, Neural Network, dst serta berbagai strategi pengendalian baik yang adaptif maupun tidak, semuanya hanya bisa mengendalikan sesuatu yang sejajar atau lebih rendah dari sistem pengendalian itu sendiri.

Ada bagian dari sistem pengendali yang harus diterima dari pihak yang lebih tinggi. Pada sistem pengendalian satu loop yang tidak adaptif maka setpoint dan tuning/setting harus diberikan oleh manusia, dan pada sistem yang adaptif hanya setpoint saja yang harus diberikan, karena tuning pengendali akan dilakukan sendiri oleh sistem pengendali sesuai dengan kondisi/karakteristik plant.

Tanpa setpoint yang benar maka semua usaha pengendali, walaupun terbaca error sama dengan nol tetap saja tidak ada artinya, karena kebenaran yang didapat belum tentu sama dengan kebenaran yang diharapkan pada sistem yang lebih tinggi.

Pada sistem real tak ada sistem yang hanya terdiri dari satu loop, multiloop yang saling berinteraksi secara kompleks. Terkadang setpoint suatu loop datang dari loop yang lain disebut pengendalian cascade, terkadang dia membantu loop lain terhadap ganguan untuk mempertahankan kondisi sesuai setpoint disebut pengendali feed forward, terkadang dia berbagi output untuk mempertahankan sebuah setpoint disebut pengendali split range dan ada yang berbagi perbandingan pengukuran berdasarkan setpoint disebut pengendali rasio...

Sunday, March 01, 2009

Pendakian Gunung Welirang

Beberapa bulan yang lalu kulakukan lagi sebuah perjalanan. Tidak berapa lama setelah perjalan mengelilingi Lumajang. Perjalanan mengunjungi tetangga G. Arjuna, yakni G Welirang. Simak saja cerita temanku tentang perjalanan itu:
(sebenarnya pengen cerita sendiri, eh ternyata udah ada temanku yang nulis cerita perjalanannya, ya copas aja lebih mudah....:-) )
Berfoto di Pos Ijin Pendakian Gunung Welirang, Tretes
Here is the story...

Salam Speech at Nobel Banquet

Pada perjamuan Nobel 1979, Prof. Abdus Salam memberikan sambutannya sebagai berikut:
Your Majesties, Excellencies, Ladies and Gentlemen,
On behalf of my colleagues, Professor Glashow and Weinberg, I thank the Nobel Foundation and the Royal Academy of Sciences for the great honour and the courtesies extended to us, including the courtesy to me of being addressed in my language Urdu.
Pakistan is deeply indebted to you for this.
The creation of Physics is the shared heritage of all mankind. East and West, North and South have equally participated in it. In the Holy Book of Islam, Allah says
"Thou seest not, in the creation of the All-merciful any imperfection, Return thy gaze, seest thou any fissure. Then Return thy gaze, again and again. Thy gaze, Comes back to thee dazzled, aweary." This in effect is, the faith of all physicists; the deeper we seek, the more is our wonder excited, the more is the dazzlement for our gaze...

Thursday, February 05, 2009

Blind Source Separation (BSS)

Penelitian pada bidang teori informasi dan pemrosesan sinyal salah satunya menuju pada pengembangan algoritma Blind Source Separation (BSS). BSS adalah teknik mengekstrak sinyal menjadi komponen individunya dari output pengukuran dimana output yang terukur hanyalah jumlahan dari beberapa sumber yang berbeda tanpa mengetahui sumber itu sendiri. BSS merupakan teknik yang lazim dipakai pada telekomunikasi nirkabel, dimana pengguna (telpon genggam, internet nirkabel dll) selalu terhubung pada antena (sensor) terdekat. Tugas sensor adalah memisahkan antara pengguna satu dengan yang lain sehingga pesan yg dikirim tidak salah alamat. Secara garis besar, BSS merupakan teknik untuk memisahkan jumlahan dari sinyal output tanpa mengetahui karakteristik dan jumlah sumbernya. Berdasarkan statistik sinyal masukan maka dapat ditentukan komponen-komponen sinyalnya. BSS memanfaatkan perbedaan sifat sinyal sebelum terdeteksi sensor dan memanfaatkan informasi yg diperoleh akibat perbedaan sudut datang dan jarak tempuh pada sensor. Perbedaan sifat sinyal pada sensor pertama dan sensor ke-n (dimana n adalah integer dan jumlah sensor) dipilah berdasarkan sifat statistik sinyal (independensi). Gambar 1 menunjukkan proses jumlahan sinyal suara dari dua sumber (s1 dan s2) yang ditangkap oleh sensor (x1 dan x2).
Gambar 1 Jumlahan Sinyal akustik

Tujuan dari algoritma BSS adalah bagaimana mendapatkan sumber s1(t) dan s2(t) dari output pengukuran sensor x(t). Secara matematis, jumlahan sinyal akustik diatas dapat diformulasikan:
xi(t)= A*sn(t)+n(t)..............................................................(1)

diamana x=[x1,x2,...xm]T adalah vektor yang mewakili sinyal terukur xi, s=[s1,s2,...,sn] adalah vektor yang mewakili sumber (m ≥ n). A adalah matriks jumlahan yang menduduki kolom penuh. BSS digunakan untuk menemukan matriks A-1, karena A-1x sama dengan matrik sumber s dengan x terukur (Zhou, 2007).
Bila noise (n(t)) pada persamaan 1 diatas diabaikan (sama dengan nol) maka persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi:
Xi(t)=A*sn(t)...............................................................(2)
Untuk Gb 1, dengan dua sumber, s1 dan s2, dan dua sensor, x1 dan x2, maka bila persamaan (2) tersebut diterapkan akan didapatkan:

Atau bila diuraikan menjadi,

Friday, January 30, 2009

Dia Tahu Yang Terbaik Untuk Kita..

Kita minta pada Allah bunga segar, Allah beri kita kaktus berduri,
Kita minta pada Allah binatang mungil, Allah beri kita ulat berbulu,
Kita sedih.......protes.............dan..........kecewa,
Betapa tidak adilnya ini....
Tapi kaktus itu berbunga indah,
Ulat pun berubah jadi kupu-kupu cantik,
Itulah jalan Allah,
Indah pada waktunya!
Allah tidak memberi apa yang kita harapkan,
Tapi memberi apa yang kita perlukan,
Kadang kita sedih, protes dan kecewa....
Tapi diatas segalanya,
Allah sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita,
Moga kita termasuk golongan orang-orang yang bersyukur,
Amiin.

(Anonym, +62 856xxxxxxxx,sent: 17-Nov-2008 11:41:40)

Sunday, January 18, 2009

Tiga pelajaran berkenaan dengan Warid

Ada tiga pelajaran/tingkatan penting berkenaan dengan warid,
  1. Sesungguhnya Tuhan memberikan kepadamu warid (yaitu ilmu pengetahuan atau perasaan dalam hati, sehingga mengenal dan merasa benar-benar akan kurnia rahmat Allah), hanya semata-mata supaya kau mendekat dan masuk ke hadirat Allah.
  2. Allah memberikanmu warid itu semata-mata untuk menyelamatkan engkau dari cengkeraman benda-benda dan membebaskan dari perbudakan segala sesuatu selain Allah.
  3. Allah memberikanmu (warid karunianya) supaya engkau keluar/terlepas dari kurungan bentuk kejadian dan sifat-sifatmu, ke alam luar yang berupa ma'rifat mengenal kebesaran kekuasaan dan kurnia Tuhanmu
Dalam tiga pelajaran berkenaan dengan warid (kurnia tuhan) yang pertama diberikan kepadamu supaya engkau ringan melakukan ta'at ibadat dan mendekat ke hadirat Allah, tetapi kemungkinan masih kurang ikhlas, maka diturunkan warid yang kedua untuk melepaskan dari tujuan kepada sesuat selain Allah, sedang warid yang ketiga untuk melepaskan dirimu dari sifat-sifat wujud yang sempit kepada alam melihat kebesaran Tuhan yang tidak terbatas sehingga lupa kepada diri dan hanya ingat kepada Allah semata.

Source: Alhikam (hikmat 62-63)

Saturday, January 10, 2009

Prof. Abdus Salam, Harga Diri Seorang Muslim

"Dunia merugi karena Abdus Salam hanya dapat hidup sekali." Kalimat ini ditulis 20 tahun silam, oleh Newa Scientist (edisi 26 Agustus 1976), tiga tahun sebelum Salam memperoleh Nobel. New Scientist adalah majalah bereputasi tinggi yang diabadikan bagi sains dan teknologi, dan pengaruhnya bagi dunia dan kehidupan umat manusia.


Yang membuat pernyataan itu keluar, adalah rasa hormat sekaligus keprihatinan pada Abdus Salam yang mesti pontang-panting bergerak dari satu dunia ke dunia lain yang sama-sama dicintainya. Abdus Salam adalah manusia yang hidup di tiga dunia: dunia fisika teori, dunia Islam, dan dunia kerja-sama internasional. Andai Abdus Salam dapat hidup beberapa kali, dan mengabdikan hidup-hidupnya itu secara total tanpa interupsi masing-masing pada fisika teori, Islam, dan kerja-sama internasional, seluruh dunia jelas akan mendapatkan keuntungan besar.


Tentang kontribusi Salam pada fisika teori, tak ada lagi yang perlu diragukan. Hadiah Nobel yang ia bagi bersama dengan Sheldon Lee Glashow dan Steven Wienberg, adalah pengakuan atas kontribusinya dalam menyatukan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah. Penyatuan itu, kini sudah mencapai status 'touchstone' dan disebut sebagai 'model standar' fisika partikel. Yang jarang diketahui orang, beberapa tahun sebelum penyusunan teori medan terpadu di atas, Salam sudah nyaris mendapat hadiah Nobel untuk teori dua komponen neutrino.

Pendirian ICTP (International Cetre for Theoretical Phyusics) di Trieste, Italia, menurut Herwing Schopper, presiden Masyarakat Fisika Eropa, merupakan salah satu pencapaian terbesar abad ini. Bisa dikatakan bahwa pendirian ICTP ini adalah wujud nyata dari obsesi Salam atas pengembangan sains di dunia ke tiga. Sejak lama Abdus Salam menginginkan adanya tempat di mana para fisikawan dunia ketiga dapat terlibat dalam pergulatan sains mutakhir, tanpa harus meninggalkan negerinya sendiri, seperti yang dengan pahit terpaksa harus dialami oleh Salam sendiri..

Thursday, December 25, 2008

Journey in Lumajang

1. Ranu Klakah
2. Ranu Bedali
3. Ranu Pakis
4. Alun-alun + Masjid Jami'
5. Kali Mujur
6. Pantai Bambang
7. Gunung Sawur
8. Hutan bambu (failed)
9. Piket Nol
10. Jembatan Perak
11. Air Terjun + Gua Tetes

Thursday, December 04, 2008

Tiga hari di Tiga Kota

Baru seminggu masuk kuliah ternyata nasib mujur menghampiriku. Aku berkesempatan jalan-jalan ke tiga kota di Jawa Timur (Jatim) dengan kedok ”sosialisasi pmdk kemitraan ITS”. Semua biaya ditanggung, transportasi, akomodasi dll. Sebenarnya kami hanya menemani dosen, karena rumah sdosen tersebut berada di wilayah magetan maka kami menginap di rumahnya. Berangkat dari surabaya minggu sore, malam nyampe madiun langsung mampir ke rumah makan nasi pecel. Begitu kenyang langsung menuju rumah dosenku, istirahat. Paginya kami memulai ”tour” ini ke kota madiun. Setelah pekerjaan di dua SMA selesai kami ke bengkel perut, kali ini menunya prasmanan, terserah selera anda. Setelah itu aku minta ijin untuk pulang ke rumahku barang sehari, dosenku mengantar sampai halte terdekat. Hari kedua kami ke beberapa SMA di magetan, di mulai di SMA terdekat di kawedanan dilanjutkan ke dua SMA di magetan kota. Namun hari kedua ini rasanya hanya di kawedanan yang benar2 sukses. Tidak masalah, siangnya kami makan ikan panggang kalang sebelum menuju pondok pesantren di plaosan, dosenku ternyata salah satu penasehat ponpes itu. Ponpes itu cukup menarik, terletak di lereng gunung lawu, dibangun di atas sungai kecil yang airnya mengalir dengan derasnya. Dengan murid yang hanya sedikit ternyata ponpes itu mampu menunjukkan eksistensinya. Pengasuhnya adalah salah satu alumni ponpes Hidayatul Mubtadien, kediri. Makanya ponpesnya dinamakan sama. Hari ketiga sekaligus terakhir adalah ke Ponorogo, setelah itu langsung balik ke Surabaya. Tak lupa sebelum pulang kami makan sate ayam Ponorogo, khas daerah itu. Puas, benar-benar wisata kuliner gratis yang menyenangkan (apalagi pas pulang dikasih uang saku ama pak dosen ;-D)!!

Penyadapan Suara dengan Sinar Laser

Laser ternyata bisa buat nyadap suara, teknologi ini bahkan sudah lama diuji coba di luar negeri. Di indonesia, saya baru nemu satu itu pun udah lama.

Prinsip mudahnya gini, laser ditembakkan ke kaca ruang yang akan disadap trus pantulannya akan diterima receiver/photodetector. Nah, cahaya yang diterima tadi ternyata udah dimodulasi fasa dengan gelombang suara. Tinggal ngubah dari cahaya ke listrik trus ke suara, jadi deh. ga percaya, liat aja video di bawah ini...


Secara praktis dan ilmiah proses dalam video tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Wednesday, December 03, 2008

My Bike: New Looks

Inilah sepedaku, sepeda yang telah kupakai sejak SD, SMP, SMA (kalau pulang), dan bahkan sampai kuliah sekarang. Sebenarnya Pak Cik Nanang, si empunya asli sepeda ini, tiada pernah secara resmi menyatakan jikalau dia memberikan sepeda ini kepadaku. Namun, secara otomatis sepeda ini sudah menjadi milikku sejak SD. Lihatlah penampilan barunya, gagah nian bukan??


Merek asli sepeda inipun aku juga tidak tahu menahu. Namun kemarin, pas bongkar-bongkar mau di cat, ada ukuran (apa hubungan ukuran dengan merk) sepedanya. Nah 'pinternya' saya nggak mencatat ukuran sepeda (frame), yang selalu saya ingat malahan ukuran ban-nya sakni 27 x 1 1/4. Saya memakaikan ban bridgestone di salah satu rodanya.

Sunday, November 30, 2008

A message from the Custodian of the Two Holy Mosques

The Holy Quran states, "Say thou how would those who know would be equal to those who do not know?" This sound principle exalts the place of knowledge as the ultimate tool for enlightenment and exhorts all human beings to gain knowledge.

The Prophet also said, "The most righteous of people is the one who brings the greater good to the community." Because of this, the most beneficial of all deeds is one that continues to bear fruit for generations to come. Waqf (endowment) has been an essential component in the building of Islamic civilization.

Tuesday, November 25, 2008

Taqwa....

Taqwa itu terdiri atas empat huruf: Ta’, Qof, Wau dan Ya’.

Ta’ dari kata Tawadhu’,
Tawadhu’ artinya nurut, sami’na wa atho’na. Ketika ada perintah langsung dijalankan, tanpa berbasa-basi. Hormat dan selalu menunduk, itulah tanda orang yang tawadhu’.

Qof dari kata Qona’ah,
Qonaah artinya neriman. Menerima apa adanya, mensyukuri apa yang Allah berikan padanya. Tidak menuntut lebih dan menggunakan nikmat itu sebaik-baiknya.

Wau dari kata Wara’.
Wara’ artinya berhati-hati. Berhati hati terhadap sesuatu yang makruh, apalagi haram. Berhati-hati terhadap sesuatu yang tidak jelas. Berhati-hati karena takut keliru.

Ya’ dari kata Yaqin,
Yaqin artinya percaya, tempatnya di hatin.Diucapkan oleh lisan dan diamalkan dengan amal perbuatan. Yakin ada tiga tingkatan: Ainul yakin, ‘ilmul yaqin dan Haqqul yaqin.

Barang siapa belum bisa tawadhu’, qona’ah, wara’ dan yaqin maka belum bisa disebut orang yang bertaqwa.

Dalam suatu khutbah Jumat sorang khotib pernah mengatakan,Orang yang bertakwa itu......:

  1. Menjunjung tinggi sifat-sifat unggul / akhlakul karimah
  2. Bersegera/bercepat-cepat dalam melakukan sesuatu (Bersegeralah...)
  3. Bersaing/berlomba-lomba (iri dalam ilmu dan harta yang bermanfaat..)
  4. Berbuat yang terbaik (liyabluwakum ayyukum akhsanu ’amala)
  5. Terus menerus berbuat kebaikan (mukhsin).

Dan bila hal itu dilakukan maka firman Allah dibawah ini akan menjadi kenyataan:”Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

Sebuah analogi yang mungkin saja benar, ketika kita berdoa maka seperti halnya kita mengambil uang di ATM. Ketika kartu ATM kita masukkan dalam mesin ATM maka kita akan ditanya berpa jumlah uang yang kita ambil. Jika saldo kita memenuhi maka mesin ATM akan mengeluarkan sejumlah uang yang kita minta, namun jika saldo kita tidak memenuhi maka mesin ATM akan memberikan keterangan: ”Maaf, saldo anda tidak memenuhi”. Begitu juga dengan doa kita, apabila perbuatan-perbuatan baik kita memenuhi saldo yang kita inginkan maka uang pasti keluar, doa kita pasti diterima. Seperti firman Allah, Berdoalah kepadaKU, niscaya Aku kabulkan dan Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
 

Wallaua'lam....



Wednesday, November 05, 2008

Sempu Island in Adventure

Sebuah perjalanan yang juga cukup menakjubkan terulang lagi, mengunjungi salah satu sudut bumi ini yang jarang terjamah manusia. Pulau Sempu, pulau eksotik tak berpenghuni di sebelah selatan malang.

Berangkat dari Surabaya jumat malam, aku janjian dengan teman2ku di kota malang. Kami berencana menginap disana (Malang) semalam, baru paginya ke Sendang biru – Sempu.

Perjalanan ke Sendang Biru – Pulau Sempu memakan waktu sekitar 2 jam dari malang kota. Jalannya naik turun, dengan tikungan yang tajam. Harus ekstra hati-hati ketika berkendara, seperti yang dialami temenku. Pengennya niru Valentino Rossi di MotoGP yang berkcecepatan tinggi saat menikung, namun badannya malah lecet-lecet terjatuh saat di tikungan. Meski siapa cepat dia dapat, Tapi biar lambat asal selamat. Silakan pilih dua pepatah yang sesuai. Tergantung sikon, untuk kasus ini aku jelas memilih pepatah kedua.

Memasuki pantai sendang biru, kami ditarik retribusi. Sebagai warga negera yang baik aku membayar 4500 rupiah untuk orang plus kendaraannya. Kami langsung ngetem sebentar, nitipkan sepeda motor, nyari perahu dan ngurus perizinan ke Cagar Alam Pulau Sempu. Perizinan kena 25 ribu sedang perahunya kena 100 ribu.

Dari pantai dimana kami dilabuhkan di pulau Sempu, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menuju segoro anakan. Awalnya kami bergembira ria, namun kelamaan ternyata beban di pundak kami terasa berat. Aku barter dengan temanku, Carrierku kuserahkan padanya dan aku ganti yang membawa galon. Berdasarkan pengalaman teman yang pernah kesini, air tawar merupakan permasalahan utama. Karena belum tentu kami menemukan air tawar, makanya kami beranikan membawa air berlebih, 2 galon, 2 jirigen dan banyak botol air mineral.
Sampai segoro anakan aku tercengang, tempat ini benar-benar mirip The Beach. Dikelilingi oleh perbukitan, tempat tersebut aman dari ombak besar Samudra Hindia. Ombak hanya mampu menerobos karang bolong yang menyebabkan cekungan air seperti membentuk danau atau telaga. So Beautifull...
Nyebrang ke Sempu
Di Pantai Tak Bernama

Pas nyampai di segoro anakan pun tenda kami sudah berdiri karena aku termasuk di akhir rombongan. Kelelahan karena menggotong galon seakan terbayar dengan pemandangan indah ini. Kami langsung berhamburan, mencari sudut terbaik untuk take a photo.

Siang yang terik tak menghalangi teman-temanku untuk segera berenang di segoro anakan. Tidak terlalu dalam memang, Cuma 1 m sampai 1,5 meter, jadi aman-aman aja untuk berenang, sekalipun bagi yang tidak bisa berenang. Tapi hati-hati, ada beberapa bagian yang langsung menjorok dalam dan hati-hati juga menginjakkan kaki karena didasarnya banyak terumbu karangnya.

Di Puncak Bukit

Aku lebih memilih untuk mengalah, menunggu sore. Kulitku sudah hitam, bisa-bisa jadi legam kalau siang yang terik langsung kucelupkan badanku ke air. Setelah sholat ashar baru kuberanikan diri berendam bersama teman-teman. Itupun tidak lama, karena badanku sudah menggigil duluan.

Sepakbola pantai, menjadi acara sore itu. Asyik, dengan pasir putih bersih kami tak segan-segan untuk menjatuhkan diri di pasir memperebutkan bola. Seru, dan tim-ku pun juga menang. Capek setelah sepak bola kami beristirahat.

Saat beristirahat, aku melihat ke arah bukit di sebelah barat yang menjulang tinggi menghadap samudra Hindia. Seolah dia tersenyum, menggodaku untuk mendakinya. Apalagi timingnya pas banget, sekitar jam 16.30, saat yang tepat untuk melihat sunset. Tak berpikir lama, akupun beranjak dari tempat dudukku mengajak yang lain untuk menaiki bukit tersebut, yang lainpun sepakat, kami berangkat.

Aku mendaki bukit tersebut sampai ke puncak. Ternyata langkah kami mengundang pengunjung pulau Sempu yang lain untuk mendaki puncak tersebut. Sebelumnya di puncak bukit ada satu-dua orang, dan bertambah ramai ketika kami sampai di puncak bukit itu.

Aku melewatkan sore itu di puncak bukit. Pun ketika teman-turun yang lain sudah turun, aku ingin tetap disitu untuk beberapa saat, sendirian. Ku tatap ke barat, laut yang maha luasnya yang dilingkupi oleh langit gelap sore hari. Matahari jingga tertutup sebagian oleh awan, namun tak mengurangi keindahan lukisan Sang Pencipta sore itu. Bagaimana manusia bisa lupa akan keagungan cipataa illahi ini? Sungguh bodoh orang yang bisa melihat keindahan alam namun tak menyadari siapa penciptanya. Puas menikmati sunset aku beranjak turun, hari sudah gelap.

Tiba di tenda, aku mendapat cerita bahwa sebagian teman-temanku yang lain sudah menemukan sumber air tawar. Tak hanya air tawar, tapi teman-temanku tersebut juga mendapatkan kerang-kerang yang cukup dimakan oleh kami semua. Kami pun merebus kerang-kerang itu, memakannya dengan saus tiram. Sungguh enak, apalagi makannya di tepi pantai segoro anakan, di pergantian sore menuju malam (perhatikanlah pergantian siang dan malam, perhatikan perubahan udaranya...).

Writing my Adventure
Gerimis kecil menyelingi suasana malam itu di pulau sempu. Kami pun bersiap-siap membuat jalan air di sekeliling tenda kami, jaga-jaga kalau nanti malam hujan. Malam itu kami lewatkan dengan makan-makan: nasi dangan mi, snack (pemberian dari tenda sebelah), minum-minum: kopi dan teh. Kami bercerita, ngobrol, bernyanyi, menikmati malam di tepi pantai segoro anakan. Sesekali langit terang benderang, yang jelas itu bukan kilat atau halilintar. Ada juga saat itu bintang jatuh disertai langit yang berubah terang sekilas. Sungguh indah melihat bintang-bintang menghiasi langit malam itu dengan semilir angin pantai.

Aku sempat terlelap malam itu namun terjaga kembali saat mencium aroma gurihnya makanan. Masih ada sisa kerang sore tadi, dan akupun langsung ikut menyantapnya. Sampai sekarangpun aku tidak tahu kenapa saat hawa dingin perut kita bawaannya lapar terus. Tengah malam, aku dan teman-teman kembali masak mi dan kopi untuk mengisi perut. Setelah itu kami menikmati malam sampai subuh. Sempat juga sholat malam di tepi pantai, nuansanya sungguh khusyu’. Seakan seisi pantai ikut beribadah bersama kami.

Paginya, rencana kami adalah menyusuri pulau ini. Pantai panjang, pantai lele dan pantai-pantai lainnya yang kemarin sudah ‘ditemukan’ oleh sebagian teman kami akan kami jejak ulang untuk menambah persedian air tawar. Ternyata memang benar, pantai-pantai tersebut tak kalah eksotiknya dengan segoro anakan. Dan yang lebih penting, di pantai tersebut kami sendirian, seakan kamilah penemu pantai tersebut. Tidak ada sampah, apalagi penjual makanan. Kami seakan menjadi raja di pantai itu.

Our Camp

Jalan menuju sumber air tawar tidak mudah, tidak juga terlalu sulit. Bagi yang sudah biasa naik gunung pasti tidak mengalami kendala, Cuma butuh kehati-hatian karena sebagian jalannya bebatuan cadas. Setelah melewati tiga pantai kami menemukan sumber air tawar tersebut, berupa sumur kecil dengan kedalaman tak lebih dari dua meter. Kami minum, cuci muka, sikat gigi, dan sebagian ada yang keramas di tempat itu. Setelah dirasa cukup, kami pun balik karena siang ini kami sudah harus kembali ke sendang biru. Sampai di segoro anakan-pun ternyata tenda sudah dibongkar oleh teman-teman kami yang tidak ikut mencari air. Barang-barang sebagian juga sudah dipacking. Tingal merapikan dan pulang, tak lupa kami berfoto full team dengan latar segoro anakan. Bukti bahwa kami telah menginjakkan kami di pulau Sempu.

Perjalanan pulang terasa ringan karena sebagian barang sudah terpakai, logistik sisa sedikit dan hanya beberapa botol yang berisi air. Kami puas, kami senang dan ini akan menjadi perjalanan tak terlupakan buat kami. Masih banyak tempat yang belum kami kunjungi, masih ada gunung yang harus didaki. Alam memang bukan untuk ditaklukan, tapi untuk dijadikan sahabat. Sahabat untuk lebih mengenalNya.

Habis Renang, Segerrr

Sunset.. So Beautifull


Friendship... :-)



Foto Sebelum Pulang

Tuesday, November 04, 2008

International Energy Workshop

Teknik Fisika ITS berencana mengadakan Workshop dengan tema "Clean Energy Development", Info lebih lanjut, silakan klik brosur dibawah ini (3 brosur). Berminat, hubungi panitia secepatnya karena tempat terbatas.






info lebih lanjut: www.ep.its.ac.id

Monday, October 27, 2008

Kita Buta...

Kita buta, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, besok dan lusa...
Kitapun tidak tahu kapankah sehelai daun akan jatuh dari tangkainya.
Kita buta.
Kita tidak tahu siapa jodoh kita kelak, dimana kita akan tinggal, apa pekerjaan kita.
Kita tidah tahu kapan kita mati.
Kita hanya merencanakan, merencanakan sesuai dengan keinginan kita.
Tetap DIA jualah yang memutuskan, karena DIA Maha memutuskan.
Kita Buta,
Kita tidak tahu apa yang terjadi esok...
Biarlah esok tetap misteri.
Biarlah esok datang dengan sendirinya.
Biarlah esok tetap menjadi esok.
Janganlah membayangkan,menyangka, menebak dan mereka-reka.
Kita tidak punya bayangan akan itu.
Jauhilah sebagian prasanga.
Karena sebagian prasangka itu bohong, dan sebagian yang lain adalah dosa.
Let’s its flow=biarkan ini mengalir.
Mengalir dengan sendirinya.
Seperti air sungai: terantuk-antuk batu, nanun tetap mengalir.
Let’s the time talk=biarkan waktu bicara....
Bicara apa adanya.
Biarlah waktu yang membuktikan....
Jalani kehidupanmu sekarang.
Kehidupan bersama teman2mu, keluargamu dan sekelilingmu.
Penelitianmu, organisasimu dan aktivitasmu.
’Mereka’ lebih membutuhkanmu,
Daripada seorang nun jauh disana... yang tidak jelas.
Karena kita masih buta.
Dan masih buta.
Blind, U know?

Thursday, October 09, 2008

Bike2Work [chapter suroboyo]

Lihatlah betapa gagah mereka, para pekerja bersepeda yang tergabung dalam komunitas Bike2Work (b2w), khususnya b2w chaper suroboyo ini. Ayo ikuti langkah mereka. Ayo bersepeda ke tempat kerja, ke kampus, ke sekolah dll. Stop polusi, kurangi dampak global warming dengan bersepeda. Kalo tidak kita, siapa lagi ? Kalo tidak sekarang, kapan lagi? Kali ini Biarlah foto-foto yang bercerita. Let's bike to Work...




Thursday, September 18, 2008

Lailatul Qodar

Dalam kesunyian malam bulan Ramadhan......

Asy-Syeikh Abul Abbas ra bersama Abul Hasan berada di negeri Al-Qairawan. Saat itu bertepatan dengan malam kedua puluh tujuh, Asy-syeikh bersamaku pergi ke mesjid Agung, berkata Abul Abbas: "Ketika Abul Hasan masuk dengan berpakaian ihram, aku melihat para wali berjejal menghampiri beliau bagaikan lalai mengerumuni madu, ketika menjelang pagi tatkala keluar dari mesjid Asy-syeikh Abul Hasan berkata kepadaku;

"Tadi malam adalah malam yang Agung, dan itulah malam 'Lailatul Qodar', aku telah melihat Ar-Rasul SAW dan berkata kepadaku:

"Wahai Ali (Rasul memanggil Abul Hasan dengan sebutan Ali, red) sucikan pakaianmu dari kotoran-kotoran, niscaya engkau akan mendapatkan pertolongan Allah SWT., pertolongan yang tiba pada setiap hembusan nafas!"

Kujawab, "Wahai Rasulullah, pakaian apakah itu?" Rasulullah menjawab dengan sabdanya, "Allah akan menganugerahi kepadamu lima macam pakaian:
Pakaian Mahabbah (busana kecintaan);
Pakaian Ma'rifat (busana pengenalan);
Pakaian Tauhid (busana penunggalan);
Pakaian Iman (busana kepercayaan);
Pakaian Islam (busana penyerahan);

Barang siapa mencintai Allah, niscaya ringanlah segala sesuatu;
Siapa yang mengenal Allah, niscaya nampak kecillah segala sesuatu dihadapannya;
Siapa yang menunggalkan Allah, niscaya tidak akan menyekutukan padaNya dengan segala sesuatu;
Siapa yang mengimani Allah, niscaya akan merasa aman dari segala sesuatu;
Dan barang siapa yang menyerahkan diri demi untuk Allah, niscaya berkurang maksiat dirinya, bila tergelincir dalam maksiat dia akan mengajukan uzur kepadaNya, dan bila dia mengajukan uzur, niscaya diterima uzurnya."

Saat itu (tutur Abul Abbas) barulah aku memahami arti firman Allah SWT:
"Dan pakaianmu, hendaklah kamu bersihkan!" (Q.S Al-Mudatsir:4)

Itulah sekelumit cerita di malam Lailalut Qodar yang dialami oleh Abul Hasan Asy-Syadzili bersama muridnya, Abul Abbas Al-Marsy (Abul Abbas juga guru dari Ibnu Athaillah Al-Iskandariy). Kita memang bukan seorang Syeikh atau wali. Namun kita bisa mendapatkan Lailatul Qodar seperti syeikh-syeikh tersebut. Dan sangat mungkin kita dipertemukan dengan Rasulullah seperti juga yang dialami Syeikh Abul Hasan. Semoga kita bisa mendapatkan Malam lailal Qodar tahun ini... Semoga! Amiin.

(sumber cerita: Abul Hasan Asy-Syadzili, Kehidupan Doa dan Hizibnya oleh Dr. Abdul Halim Mahmoud)

Tuesday, September 16, 2008

Sensor Elektrokimia

Salah satu isu besar dalam pengembangan IPTEK dan Industri di berbagai belahan dunia saat ini adalah permasalahan yang berkenaan dengan isu lingkungan hidup. Isu ini menyangkut bagaimana kondisi lingkungan yang ada saat ini dapat terus terkontrol sehingga tidak berbahaya bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya. Permasalahan ini mengemuka ketika para peneliti mendapati bahwa tingkat pencemaran udara akibat berbagai kegiatan industri dan rumah tangga sudah mencapai ambang batas yang membahayakan. Sebuah wacana baru bagaimana membagun dunia yang berkelanjutan pun menjadi bahasan yang sangat penting untuk dirumuskan. Sebuah pertemuan tingkat dunia bahkan digagas untuk membuat kesepakatan terhadap setiap negara di dunia tentang sejauh mana kandungan zat buang yang boleh diproduksi oleh masing masing negara, yang dikenal dengan Kyoto protocol. Dalam protocol yang ditandatangani oleh sekitar 180 negara pada Desember 1997 ini disepakati bahwa negara-negara pemroduksi gas berbahaya (yang dikenal dengan greenhouse gas) diharuskan untuk mengurangi emisinya hingga 5.2% hingga tahun 2012 . Gas berbahaya ini meliputi Karbon Dioksida (CO2), Methane (CH4), Nitrit Oksida (NO2), dan Ozone (O3) ini pada kenyataanya banyak diproduksi oleh industri di negara-negara maju seperti US, negara di Uni Eropa, Jepang, Rusia dan sebagainya.
Dengan semakin meningkatnya isu lingkungan ini, tidak mengherankan jika di negara-negara industri penelitian tentang kesehatan lingkungan menjadi penelitian yang mendapat perhatian utama di samping energi dan jaringan informasi.Lebih jauh, kondisi di atas membuat meningkatnya kepedulian para ilmuwan untuk meneliti alat yang mampu mendeteksi zat-zat (baik gas maupun cairan) yang berbahaya bagi lingkungan. Alat yang mampu melakukan fungsi seperti itu dikenal dengan sebutan sensor. Sensor secara umum didefinisikan sebagai alat yang mampu menangkap fenomena fisika atau kimia kemudian mengubahnya menjadi sinyal elektrik baik arus listrik ataupun tegangan. Sensor kimia adalah alat yang mampu menangkap fenomena berupa zat kimia (baik gas maupun cairan) untuk kemudian diubah menjadi sinyal elektrik. Berdasarkan teknologi yang digunakan untuk mengubah zat kimia yang dideteksi menjadi sinyal elektrik, terdapat beberapa jenis sensor yaitu jenis sensor optik, sensor elektrokimia, sensor elektrik, dan sensor sensiitif berat. Karakteristik sensor ditentukan dari sejauh mana sensor tersebut memiliki kemampuan yang baik dalam mengenali zat yang ingin dideteksinya. Kemampuan mendeteksi zat tersebut ini meliputi: sensitivitas, selektivitas, waktu respon dan recovery, stabilitas dan daya tahan. Pada paper ini akan dibahas sensor elektrokimia khususnya Ion selective electrodes (IES) dan dan Solid-state gas sensor.
1. Ion Selective Electrodes (ISEs)
Ion selective electrodes (ISEs) adalah sensor yang mengukur secara langsung aktivitas atau konsentrasi ion dalam larutan. Misalnya untuk mengukur konsentrasi kandungan timah, sodium atau nitrat dalam air minum. Ketika ISE dicelupkan dalam suatu larutan, akan terjadi reaksi antara jenis kandungan (species) larutan dengan permukaan sensor. Sebuah kesetimbangan kemudian akan terjadi antara kedua spesies tersebut, hal itu sesuai dengan kesetimbangan perbedaan potensial antara sensor dan larutan, yang bergantung pada sebagian namun bukan seluruhnya pada aktivitas ion tunggal. Sinyal output secara luas juga bergantung pada aktivitas ion lain yang ada pada larutan, oleh akarenanya eletroda disebut selektif bukan spesifik.
Contohnya, sinyal output dari elektrode potassium bergantung tidak hanya pada aktivitas ion potassium (K+) dalam larutan, tapi juga beberapa fraksi ion sodium (Na+) yang ada. Persamaan tegangan Thevenin (open cicuit) dari ISEs untuk ion monovalent didapatkan dengan memodifikasi persamaan Nernst:
Dimana:
Eo= Teg. Konstan berdasarkan komposisi elektrode.
R = Universal Gas constant (8.314 JK-1)
Theta = Absolute temperature (K)
F = Faraday numbee (96493 C)
aK = aktivitas ion X dlm larutan
aY = aktivitas ion X dlm larutan
KX/Y = selective coefficient dari elektrode X ke Y (0~1>
Persamaan diatas hanya berlaku untuk ion monovalen, jika n-elecrton direaksikan dalam suatu larutan maka F harus diganti dengan nF.
Pada Gambar 1 ditunjukkan sistem dasar untuk pengukuran aktivitas atau konsentrasi dari ion dalam larutan. Karena ISE hanya single electrode dan hanya satu setengah sel elektrokimia, maka harus digunakan electrode standar referensi yang cocok, dicelupkan dalam larutan yang sama. Elektroda refersesni adalah setengah sel elektrokimia yang tegangannya ditahan pada nilai konstan oleh kesetimbangan kimia yang dijaga didalamnya.
Aplikasi sensor ISE dalam industri khususnya untuk pengukuran pH. Keasaman dan kebasaan suatu larutan perlu dimonitor untuk mengevaluasi proses yang terjadi.
Gb.1 Sistem dasar (a) dan electrode ISE (b)

Untuk mencari tegangan theveninnya dapat digunakan persamaan (1). Karena ion H+ yang akan diukur hanya ion kecil positif untuk dicocokkan dengan silica lattice maka koefisien K dianggap nol sehingga diperoleh persamaan:

Dengan memakai persamaan (2) pada =298 K (25’ C)
Tegangan output sensor ini proportional dengan perubahan pH dengan sensitivitas sebesar – 59.2 mV/pH pada suhu 25’C.
2.Solid state gas sensors
Beberapa material solid-starte memberikan respon elektrokimia untuk beberapa gas tertentu. Misalnya Zirconium Oxide yang sensitive terhadap oxygen pada campuran gas. Sensor gas solid-state terdiri atas kerucut berongga oksida, dijaga pada suhu 640’C. Temperatur ini dicapai dengan heater dan dijaga oleh heater control. Pada bagian dalam dan luar sensor ini dengan porous platinum. Karena crystal lattice lowong/kosong maka zirconium oxide bertindak sebagaim elektrolit konduktor pada temperatur tinggi. Artinya, ada perbedaan tekanan pada bagian dalam dan luar kerucut berongga, maka ion oksigen akan berpindah melalui sensor dan menghasilkan sejumlah tegangan yang melintasi elektroda platinum. Tegangan theveninnya diberikan oleh persamaan Ernst.

<

Dimana,
Pref= partial pressure of oxygen in refference gas (cone inside).
Psam= partial pressure of oxygen in sample gas (cone inside).
Dengan menjaga temperature dan tekanan parsial pada udara di dalam maka sensor akan konstan, ETH akan bergantung hanya pada tekanan parsial oksigen pada bagian luar sensor. Sensitivitas sensor ini berkisar 60 mV/% O2 pada suhu 640’ C.
Jenis sensor gas solid-state yang lain adalah : Bead-type sensor dan Chip-type sensor. Keduanya seperti ditunjukkan oleh gambar 2.
Gb.2 Skema Bead-type dan chip-type sensor.

PUSTAKA:
[1] Anonym. Electrochemical Gas Sensor.
[2] Anonym. Solid-state gas Sensor.
[3] Bentley, John P. Principle of Measurement System. Longman Group, 1995.
[4] Dunn, William C. Fundamental of Instrumentation and Industrial Process Control. Mc Graw Hill, 2005.