Showing posts with label tips and tricks. Show all posts
Showing posts with label tips and tricks. Show all posts

Monday, July 06, 2026

Baju Masuk dan Sholat

Sebelumnya, saya termasuk orang yang jarang memasukkan baju ke dalam celana. Saya lebih suka kasual, mengeluarkan baju, baik shirt (kemeja) maupun t-shirt (kaos), sampai saya menemukan manfaat berikut. Saat sujud dalam sholat, bagian belakang baju (kaos atau kemeja) bisa saja tersingkap dan membuat aurat terlihat. Memasukkan baju ke dalam celana mengurangi potensi itu. Berikut contoh gambarnya (dibuat dengan AI, tidak sepenuhnya akurat, tapi bisa memberikan gambaran).  


posisi sujud


Itulah hubungan baju masuk dan sholat. Selain lebih rapi, memasukkan baju bisa mengurangi potensi baju tersingkap saat sujud dalam sholat.


Tuesday, January 06, 2026

Permasalahan smartwach (The problem with smartwatch)

Saya menyukai memakai jam, dengannya saya bisa tahu waktu. Utamanya waktu untuk sholat dan melakukan aktivitas lainnya. Dengan adanya smartwatch, tidak hanya waktu saja informasi yang saya dapatkan, melainkan lama tidur, detak jantung, dan jumlah langkah (step tracker). Informasi itu sangat bermanfaat. Misalnya, dalam sehari saya menargetkan tidur tujuh jam, jika kurang dari itu (informasi dari smartwatch), saya bisa menambah jam tidur saya. Sebaliknya, jika siang/sore saya sudah tidur 1-2 jam, maka malamnya saya bisa tidur lebih singkat. 

Begitu juga untuk langkah kaki, kalau saya menargetkan tiap harinya harus berjalan 7000 langkah, jika kurang saya bisa menambahnya. Bahkan, saya bisa merangkum data-data itu, seperti yang saya jelaskan di sini: 

https://bagustris.blogspot.com/2021/05/data-jalan-kaki-tidur-dan-detak-jantung.html

Tapi ada satu permasalahan besar pada smartwatch. Apa itu? Sangat tidak masuk akal bagi saya jika saya harus mengisi daya (charge) smartwatch tersebut tiap minggu. Karenanya, dua smartwatch yang saya pakai sebelumnya berdaya tahan lama, Xiaomi Band 4 dan Amazfit Band 7. Keduanya memiliki rentang hidup (lifetime) selama kurang lebih tiga-empat minggu (21-28 hari) untuk sekali isi daya dengan mode power saver. 

Saat ini saya tidak memakai smartwatch lagi, hanya Casio yang memiliki fitur step tracker yang bisa bertahan 10 tahun tanpa diisi daya, cukup mengganti baterainya. Saat itu saya sedang dalam perjalanan selama tiga minggu, dan saya mengandalkan smartwatch untuk bisa bertahan sepanjang waktu itu. Ternyata kapasitasnya menurun, baru dua minggu sudah mati, dan saya tidak membawa kabel pengisian dayanya. Saat itu juga saya beralih ke jam tangan yang tidak perlu diisi daya, tahan lama, memiliki fitur step tracker, dual time, dan fitur-fitur lainnya.  

Saturday, December 20, 2025

Khatam dalam 28 hari

 
Sejak menerapakan One Day One Juz (ODOJ) beberapa tahun terakhir, saya berusaha untuk mencari cara yang lebih efektif. Dengan "lebih efektif" yang saya maksudkan adalah konsistensi dalam beberapa hal, misalnya:

  • Memulai dan mengakhiri (khatam) pada hari tertentu, misalnya mulai pada hari Senin, khatam pada hari Sabtu (bukan dalam seminggu, setikdaknya pada saat ini)
  • Bisa membaca Al-Kahfi dan/atau Yaasin pada hari Jumat, tidak harus tiap Jumat.
Akhirnya, saya menemukan formula seperti gambar di bawah: khatam dalam dua puluh delapan hari (empat minggu pas). Mulai Juz 1 pada hari Sabtu, dan khatam pada hari Jumat di minggu ke empat. Dengan cara ini setidaknya dalam sebulan s(tepatnya empat minggu) saya membaca surah Al-Kahfi dan Yaasin pada hari Jumat setidaknya sekali. Biasanya saya membaca setelah subuh; jadi pada mingu ke dua saya membaca Al-Kahfi dan Yaasin di pagi hari. Terkadang saya membaca dua juz dalam sehari. Satu juz setelah subuh, dan satu juz menjelang tidur. Misalnya pada minggu ke dua di hari kamis, saya membaca juz 13 di pagi hari, dan juz 14 di malam hari. Begitu juga di hari Jumat minggu ke empat. Juz 29 setelah subuh, dan juz 30 sebelum tidur.

Semoga formula ini tidak hanya bermanfaat untuk saya, tapi  bisa diterapkan oleh orang lain.

Khatam 28 hari

Monday, August 30, 2021

Kenapa Harus Berlari...

Saat kerja di Jepang, saya sering dipanggil oleh Pak Bos. Saat awal-awal di panggil, saya mendatanginya dengan berjalan. Pak Bos menyuruh saya berlari. Kalau berjalan saya butuh 1 menit, dengan berlari saya hanya butuh 30 detik. Kalau dalam sehari saya dipanggil 30 kali, maka saya bisa hemat 30 x 30 detik, 900 detik alias 15 menit. Dengan asumsi kerja 20 hari per bulan, saya bisa menghemat 15 x 20 menit alias 300 menit alias 5 jam per bulan. Waktu tsb bisa saya gunakan untuk pekerjaan lainnya. Kenapa harus berlari? Ya karena berlari mempercepat pekerjaan dan menunjukkan semangat kita.

Dalam tulisan saya yang lain: What we can do in 10 minutes, orang lain bisa mentransformasikan ide menjadi "produk" dalam 10 menit. Diberikan waktu 300 menit akan menghasilkan 10 ide  --> 10 produk, untuk orang tersebut.

Ayo berlari...!

Friday, March 12, 2021

Pentingnya mengucapkan "Terima Kasih"

Hari ini saya mendapat komplain dari guru bahasa Jepang saya. Seorang teman, ketika membalas email, tidak mengucapkan terima kasih. Padahal guru saya tersebut sudah mau mengajarinya bahasa Jepang, tanpa dibayar. Sensei berkata, impresinya terhadap teman saya ini kurang baik. Beliau bahkan menanyakan apa dia (teman saya tersebut) orang baik. Saya jawab tidak tahu, hanya kenal saja.

Dari sini saya belajar pentingnya mengucapkan terima kasih. Dalam kultur Jepang, ucapan terima kasih ini sangat penting dan sudah membudaya. Bahkan mereka mengatakannya dua kali untuk hal yang sama. Pertama saat ketika selesai ditolong. Kedua saat bertemu lagi, biasanya keesokan harinya atau di lain waktu.

Saya kemudian mengevaluasi diri, apakah saya sudah cukup mengatakan terima kasih. Kadang saya suka terlambat membalas email dari sensei, sampai sensei mengemail lagi apakah telah menerima email sebelumnya. Meski hanya email singkat, seperti "Terima kasih atas emailnya", hal ini sangat berarti. Untuk keharmonisan hubungan guru-murid dan teman kerja, di Jepang ucapan terima kasih merupakan hal yang dijunjung tinggi dan tidak boleh dilupakan.

Pun ketika kita membayar untuk sebuah jasa. Misal ketika naik angkutan umum, saya biasakan (dan memang itu biasa di Jepang) mengucapkan terima kasih (kepada sopir) saat turun dari angkutan tersebut. Terlebih ketika angkutan tersebut gratis. Juga ketika membeli sesuatu di toko, jangan lupa bilang terima kasih pada kasirnya. Kalau saat ditolong seseorang, ucapan terima kasih ini tak boleh lupa, seperti contoh curhatan sensei (guru) saya di atas. Berterima kasih dua kali juga lebih etis ketika kita mendapatkan pertolongan.

Syariatnya, kita berterima kasih kepada manusia. Hakikatnya, kita berterima kasih pada Tuhan, Allah SWT, Tuhan Semesta Alam.

Wednesday, February 10, 2021

Menghindari Human Error: Pentingnya Pokayoke

Hari ini saya dirugikan oleh keteledoran saya yang menyebabkan JPY 1500 dan waktu tiga jam terbuang sia-sia. Tidak besar memang, tapi bisa jadi di kemudian hari kerugian yang saya derita akan jauh lebih besar hanya karena human error. Tulisan ini untuk mendokumentasikan peristiwa human error dan langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk mencegahnya.

Implementasi pokayoke untuk menghindari kesalahan pemasangan simcard HP

Dua tipe kesalahan manusia: dua tipe human error

Manusia itu tempatnya salah dan lupa (hadist). Berdasarkan hadist ini, dan sebuah bacaan di buku Minna no Nihongo Chukyuu I, maka ada dua tipe kesalahan, lebih tepatnya human error. Pertama human error karena kesalahan, lebih spesifik karena tidak sadar atau tidak tahu (carelesness), kedua human error karena lupa (absent-mindedness). Untuk mengetahui tipe mana yang lebih dominan, coba jawab pertanyaan di sini, https://brainfall.com/quizzes/how-absent-minded-are-you.

Singkatnya, karena sudah sifat manusia, maka suatu ketika manusia pasti salah. Semua manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Human error pasti terjadi. Sisi positifnya, human error bisa dihindari, atau lebih spesifik bisa diminimalisir. Teknik untuk menghindari atau meminimalisir human error ini, dalam bahasa Jepang, disebut pokayoke.

Pokayoke

Pokayoke (dari kata ぽか避ける) adalah bagian dari manajemen lean (ditemukan oleh Toyota) untuk menghindari human error. Pokayoke mencegah manusia berbuat salah. Karena manusia pasti (pernah) berbuat salah maka harus dibuat langkah untuk menghindari kesalahan itu. Contoh sederhana, ketika anda bekerja yang mengharuskan tangan kanan, maka tangan kiri harus dipekerjakan juga dengan pekerjaan lainnya, agar tidak ikut mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh tangan kanan. Teknik/prosedur ini banyak diterapkan oleh pabrik-pabrik di Jepang.

Contoh lain sebenarnya pernah kita terapkan. Bila anda ikut pramuka maka anda akan diajari periksa kerapian untuk memeriksa kelengkapan atribut yang anda pakai. Cara tersebut merupakan salah satu aplikasi pokayoke, yakni dengan melafalkan (shouting) apa yang di-cek (pokayoke tipe atensi). Cara ini juga banyak dipakai di Jepang. Contohnya adalah para masinis ketika memeriksa prosedur menjalankan kereta api.

Untuk membangun prosedur pokayoke, diperlukan tujuh langkah berikut:

  1. Identifikasi proses
  2. Analisa dimana kesalahan bisa terjadi
  3. Cari pokayoke yang tepat, shutout (menutup/blok kemungkinan terjadinya kesalahan) atau atensi (highlight persiapan/cek)
  4. Mengambil langkah komprehensif, bisa berupa langkah fisik atau bantuan berupa alat.
  5. Menggunakan salah satu, beberapa, atau semua dari kontak (bisa bentuk [shape], ukuran [size], atau atribut fisik), angka konstan, atau urutan metode.
  6. Evaluasi metode yang diusulkan
  7. Latih pada operator, review performansi, dan ukur kesuksesan metode pokayoke tersebut.

Studi kasus: Keliru membawa paspor anak saat mengganti status residensi di kantor Imigrasi Jepang

Masalah human error yang saya alami tadi sepele, saya keliru membawa paspor anak saya alih-alih paspor saya sendiri. Tujuannya saya ingin mengganti status visa (status residen) saya di Jepang dari pelajar ke peneliti. Dokumen yang dibutuhkan ada di sini: aplikasi, foto, paspor, dan resident card. Sederhana, namun ternyata ada kesalahan yang membawa implikasi kerugian uang dan waktu. Berikut teknik pokayoke yang akan saya terapkan:

  1. Proses: kelengkapan dokumen (foto, pasport, residen card, form aplikasi)
  2. Kesalahan bisa terjadi: keliru paspor, form tidak lengkap
  3. Pokayoke: atensi (sebutkan dan cek ulang)
  4. Langkah komprensif: kumpulkan dokumen dalam satu map
  5. Alat bantu: urutan dokumen
  6. Evaluasi: cek dua kali minimal
  7. Review: apakah ada yang kurang atau belum

Sekian. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Pokayoke adalah teknik untuk meminimalisasi salah dan lupa.

Referensi:

  1. https://kanbanize.com/lean-management/improvement/what-is-poka-yoke

Wednesday, January 20, 2021

Cara Bermain Snowboard: Skill dasar dan Cara Meningkatkannya

Bermain snowboard itu gampang-gampang susah. Bahkan, orang yang hidup/tinggal di daersah salju pun belum tentu bisa. Sebaliknya, orang yang hidup di daerah tropis bisa saja mengendarai snowboard dengan mahir. Secara alami, tentu saja orang yang hidup di daerah bersalju lebih mahir bermain snowboard daripada orang yang hidup di daerah tropis. Berikut dokumentasi saya tentang cara bermain snowboard berdasarkan pengalaman pribadi dan sumber-sumber internet selama tiga tahun ini (2017/2018 - 2020/2021).

Pertama sebelum pertama

Pertama sebelum menjejakkan snowboard di salju adalah mengetahui kaki mana kaki depan anda. Caranya sederhana. Minta tolong teman anda untuk mendorong anda dari belakang. Sebelum anda terjatuh, anda akan memajukan salah satu kaki anda untuk menjaga keseimbangan. Kaki itulah kaki depan. Umumnya orang Indonesia menggunakan kaki kiri sebagai kaki depannya. Ketika turun dari naik bus, hampir semua orang menggunakan kaki kirinya untuk turun menjejak ke tanah. Inilah fakta pendukung argumen sebelumnya.

Sebelum memulai snow board

Sebelum memulai snowboard, anda harus bisa menguasai teknik berikut:
1. Berjalan dengan satu kaki,
2. Meluncur dengan satu kaki terikat dan kaki lainnya bebas,
3. Balik kanan dan balik kiri dengan snowboard (dalam posisi duduk).

Skill dasar:

  1. Bergerak maju ke depan secara horisontal (Heel-side slide)
  2. Bergerak maju ke kanan dan ke kiri (Heel-edge side-to-side)
  3. Bergerak maju dengan menghadap ke belakang (toe-side slide)
  4. Bergerak ke kanan ke kiri menghadap ke belakang (toe-edge side-to-side)

Langkah 1, 2 dan 3 adalah yang paling penting. Jika anda bisa menguasainya, anda bisa bermain snowboard. Lihat video berikut untuk praktek skill dasar di atas (bonus: bergerak lurus ke depan). Ingat, anda masih belum bisa bergerak lurus tanpa menamatkan dua langkah selanjutnya.



Langkah 5 & 6

Setelah menguasai langkah pertama sampai dengan keempat diatas, anda sudah mendapatkan teknik dasar bermain snowboard, tapi itu belum cukup. Dibutuhkan dua langkah lainnya seperti di bawah ini.

Langkah ke-5: Berbelok seperti huruf C
Berbelok seperti huruf C adalah skill dasar baik berbelok ke kiri atau ke kanan. Dengan kaki depan adalah kaki kiri, bergerak ke kanan dilakukan dengan memindahkan tumpuan dari heel edge (tumit) ke toe edge (jari), dan berbelok ke kiri dari toe-edge (jari) ke heel edge (tumit). Ketika berbelok, belokkan juga pinggul anda beserta anggota tubuh yang lainnya. Gunakan tangan belakang sebagai kendali, gerakkan se arah jarum jam belokan anda. Ketika berbelok ke kanan, putar tangan kanan anda yang di belakang ke kanan juga, kanan kiri yang di depan juga mengikuti searah jarum jam ini. Ketika berbelok ke kiri maka gerakkan sebaliknya, tangan kanan yang di belakang bergerak melawan arah jarum jam, tangan kiri yang di depan mengimbanginya seacara searah. Lihat rute (belok) yang ingin anda lalui, dan tunjuk/pandu dengan tangan depan anda. Ini sangat membantu dalam melakukan belokan di tahap-tahap awal.

Kesalahan yang umum ketika berbelok adalah menggerakkan pinggul dan badan ke belakang (dan terlalu cepat), bukan ke depan seperti seharusnya, yamg membuat anda terjatuh. Ingat menggerakkan badan ke depan berarti menambah kecapatan, dan menggerakkan badan ke belakang mengurangi kecepatan. Perpindahan yang terlalu cepat menyebabkan ketidakseimbangan. Latihan berbelok di permukaan yang landai akan lebih mudah daripada yang curam. Kuasai teknik ini. Jika sudah bisa, lakukan dengan kaki kanan sebagai kaki depan dengan cara belok sebaliknya. Meski tidak wajib, merubah kaki depan akan sangat membantu dan pratktis di butuhkan di trek panjang.

Langkah ke-6: Berbelok seperti huruf S
Berbelok seperti huruf S merupakan gabungan dari dua kali berbelok dengan seperti C. Berbelok seperti huruf S adalah berbelok ke kanan yang langsung diikuti berbelok ke kiri, seperti huruf S. Tentunya anda harus menguasai berbelok seperti huruf C dengan baik. Jika anda telah mampu mempraktekkan berbelok seperti huruf S, selamat, anda telah bisa bermain snowboard.

Langkah ke-7

Bergerak lurus, itulah langkah ke-7. Lakukan gerakan ini pada trek landai dan tingkatkan pada trek yang lebih miring. Kontrol dan kombinasikan gerakan lurus dengan gerakan S: lurus-S-lurus-S dst sampai tiba di tempat naik lift dengan presisi. Artinya, kita hanya membutuhkan jalan (dengan snowboard) seminimal mungkin dan tanpa jatuh. Untuk berhenti lihatlah ke bawah, ke sepatu anda, ketika menghadap depan; lihatlah ke puncak gunung ketika menghadap ke belakang.

Meningkatkan permainan snowboard

Jika anda sudah menguasai empat teknik di atas, langkah selanjutnya adalah meningkatkan kemampunan mengendarai snowboard. Video berikut menjelaskan caranya.



Sunday, January 17, 2021

Hiking: Pentingnya Berhenti Ketika Menengok ke Belakang

Tiga minggu yang lalu saya mengalamani cedera terkilir (sprained ankle) ketika turun Gunung Midoyama. Penyebabnya satu: ketika saya menengok ke belakang (untuk melihat teman saya), saya melakukannya sambil berjalan turun (di belokan). Hasilnya, saya terkilir. Butuh waktu 3-4 minggu untuk pulih total, meski, sejenak setelah saya terkilir saya masih bisa berjalan normal seperti biasanya. Tidak ada gangguan berarti kecuali ketidaknyamanan, khususnya ketika duduk di waktu sholat.

Pelajaran pentingnya: berhentilah ketika menengok ke belakang di waktu hiking. Kemungkinan terkilirnya mungkin kecil, 1/100. Tapi, menghindari cedera akan lebih menguntungkan untuk perjalanan selanjutnya. Ketika trail panjang (>30 km), menghindari cedera sangat penting.


Inilah rute perjalanan saya saat terkilir tersebut.
御堂山 / bagusさんの御堂山(石川県)の活動データ | YAMAP / ヤマップ
Update 7 Februari 2021:
Setelah 5 minggu, cedera terkilir pada engkel saya baru "mulai" pulih.

Monday, November 09, 2020

Dibalik Setiap Penolakan Pasti Ada Hikmah!

Tulisan ini bukan berkaitan dengan percintaan (meski bisa juga dihubungkan dan masuk juga), tapi tentang pengalaman saya menulis paper (makalah ilmiah). Setidaknya saya pernah beberapa kali ditolak, tapi justru mendapat ganti yang lebih besar dari penolakan itu. Berikut beberapa contohnya.

1. Ditolak di AVEC 2019 malah diterima di ICASSP 2020

Bagi anda yang bergelut di bidang pengolahan sinyal (signal processing), ICASSP adalah konferensi kasta tertinggi yang hanya bisa dilampaui oleh jurnal berindeks Q1. Pun demikian bagi saya. Setelah dua tahun berturut-turut ditolak di ICASSP 2020, akhirnya pada usaha ketiga di tahun 2020 paper saya diterima. Saya belajar dari hasil review tahun sebelumnya (importance/relevance, novelty, technical correctness, experimental validation, clarity, reference). Awalnya paper yang saya buat saya targetkan untuk dimasukkan di AVEC 2019. Setelah ditolak di AVEC 2019, paper tersebut saya revisi berdasarkan komentar dari reviewer AVEC 2019.  Diterima di ICASSP merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam karir saya. Dan juga mungkin pertama dan terakhir kalinya saya ikut ICASSP karena biaya registrasinya yang sangat besar (USD 800).

2. Ditolak di INTERSPEECH 2020, mendapat best paper award di OCOCOSDA 2020

Bagi anda yang bergelut di bidang sains dan teknologi sinyal wicara, diterima di INTERSPEECH adalah impian, karena konferensi tsb setara dengan ICASSP khusus untuk bidang pengolahan sinyal wicara. Sampai tulisan ini ditulis, saya belum pernah bisa menembus (baca: diterima) di INTERSPEECH. Di tahun 2020 ini (usaha kedua saya selama berturut-turut) saya kembali ditolak di INTERSPEECH. Paper yang sama saya masukkan di OCOCOSDA dan diterima (ketiga reviewer semua menerimanya). Bahkan paper saya mendapat anugerah "best (student) paper award". Alhamdulillah dan mendapatkan insentif sejumlah biaya pendaftaran.


Dari penolakan-penolakan tersebut saya belajar: pasti kita akan mendapat ganti yang lebih baik asal kita sabar dan terus berusaha. Inilah salah satu hikmahnya. Dan penolakan-ganti tersebut akan terus ada, baik ketika ditolak di perusahaan (gaji) kecil malah diterima di perusahaan (gaji) besar atau ditolak si A malah mendapatkan si B!

Friday, October 30, 2020

10 hal pengubah hidup!



Dalam sebuah pidatonya dalam upacara wisuda University of Texas at Austin pada Mei 17, 2014., admiral William H. McRaven (dari US Navy) menjelaskan 10 pelajaran yang bisa dipetik dari sistem pendidikan Navy Seal. Sepuluh pelajaran tersebut dibukukan dalam karyanya, "Make Your Bed: 10 Life Lessons from a Navy SEAL". Berikut daftar sepuluh hal pengubah hidup tersebut.
  1. Merapikan tempat tidur setelah bangun
  2. Memilih teman (hidup) yang seirama
  3. Menghormati semua orang
  4. Teruslah bergerak, apapun yang terjadi
  5. Jangan takut gagal
  6. Berani mengambil resiko
  7. Jangan mundur
  8. Bersiap untuk yang terburuk
  9. Jangan pernah berhenti berharap, teruslah bernyanyi!
  10. Jangan pernah menyerah

Sepuluh hal itu mungkin sepele. Coba dengarkan video di atas. Sepuluh hal tersebut akan menjadi berbeda, dan bisa saja mengubah hidup kita 180 derajat.

Monday, October 19, 2020

Teknik Pendakian Turun: Meghindari Lutut Sakit dan Telapak Kaki Melepuh (blister)

Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan teknik pendakian naik (ascending/uphill). Tulisan ini membahas teknik pendakian turun (descending/downhill). Pada saat turun, potensi sakit dan letih lebih besar karena kita tidak menyadarinya. Umumnya kita mengira turun lebih mudah dan sedikit membutuhkan tenaga (memang begitu nyatanya!). Namun banyak potensi sakit dan cedera di saat turun. Dua hal yang umum adalah lutut sakit dan jempol kaki melepuh (kadang diikuti oleh bagian kaki lainnya).
Dua pendaki berjalan pelan dengan langkah pendek menuruni gunung


Lutut Bebas Sakit (Ankle pain-free downhill)

Selain berolahraga (latihan seperti video di bawah), teknik dibawah ini dapat mencegah lutut sakit saat turun gunung. 
  1. Menggunakan tongkat, gunakan tongkat sebagai tumpuan dan alat bantu (mengontrol) turun. 
  2. Bertumpu pada tumit (heel strike first), bukan pada bagian telapak kaki bagian depan. 
  3. Menyeimbangkan pinggul: saat turun gerakkan pinggul ke bawah untuk mengimbangi pergerakan (bukan malah tegak lurus seperti rest step). Tetap merendah (stay low) dan bengkokkan lutut anda (bent your knee).
  4. Muscle up: memperkuat otot lutut ketika menjejak. Berdasarkan hasil sebuah studi, otot lutut menerima beban 7-8 kali lebih banyak ketika turun daripada ketika naik. Jika tidak dikontrol (ditahan) dengan baik maka akan menyebabkan lutut sakit karena menerima beban/tekanan berlebih. Cara mengontrolnya adalah dengan menguatkan/mengeraskan otot lutut ketika menjejak.
  5. Jangan turun terlalu cepat (jangan lari). Awali dengan gerakan lambat (start slow). Awalnya saya beranggapan kalau turun dengan cepat itu akan mengurangi kelelahan/sakit di kaki (khususnya lutut). Ternyata anggapan ini salah total. Secara fisika jelas, F=ma dan P=F/A. Jadi, naiknya kecepatan (aka percepatan) akan menaikkan gaya (force, F) dan tekanan (pressure, P). Aturan sederhana bagi saya, maksimal waktu untuk turun adalah setengah waktu naik. Jika naik saya butuh satu jam, maka paling cepat saya turun dalam setengah jam, tidak boleh lebih cepat dari itu. Idealnya, mungkin, adalah 3/4 waktu naik.

Perhatikan video berikut untuk lebih detailnya.

Menghindari Jempol Melepuh (Anti-blister downhill)

Penyebab blister (melepuh) adalah adanya tekanan yang berlebihan pada bagian tsb, khususnya jempol kaki. Jadi, langkah paling mudah adalah mengurangi tumpuan pada bagian tersebut. Sebaliknya, pada saat turun tumpuan kaki ada pada tumit, bukan pada ujung depan kaki (jari). Perhatikan video di bawah ini.

Teknik kedua agar kaki tidak melepuh saat turun gunung adalah dengan menggunakan sepatu yang pas (benar-benar pas, tidak kekecilan atau kebesaran). Jika anda hendak membeli sepatu (sebaiknya tidak online agar bisa dicoba), cek ukurannya dengan baik. Tanpa kaos kaki harusnya sepatu sudah (sedikit) nyaman; tidak jatuh saat digunakan melangkah. Ukur ukuran telapak kaki anda dengan teliti, caranya: letakkan telapak kaki di atas kertas, dan buat garis mengelilingi telapak kaki anda. Contohnya adalah ukuran kaki saya seperti di bawah ini, ukurannya 24.5 cm (Ukuran sepatu indonesia: 39.5). Tambah 1-1.5 cm, jadi 25.5 - 26.0 (41-42). Ini ukuran sepatu gunung paling pas buat saya (Ingat: hanya untuk sepatu gunung, tidak berlaku untuk pantofel dan sneaker).

Teknik ketiga untuk menghindari blister adalah dengan menggunakan kaos kaki khusus untuk mendaki. Kaos kaki ini biasanya berasal dari bahan wool. Pada kaos jenis tertentu (anti-blister shoes), ada juga yang menyebutkan pada tekanan berapa kaos kaki tersebut mampu menahan tekanan dari telapak kai.

Keempat, kencangkan tali sepatu dan tas anda. Ini biasanya saya lupa. Tahu-tahu, ketika sudah di bawah tali sepatu saya sudah lepas (karena tertutup gaiters maka tidak terlihat). Kalau perlu cek di tengah perjalanan turun.


Perawatan

Jika sudah terlanjur turun gunung dan kaki sakit, baik lutut atau telapak kaki. Satu-satunya perawatan yang ampuh adalah banyak istirahat, banyak minum dan makan. Istirahat bukan berarti bolos kerja/kuliah/sekolah, tapi memperpanjang waktunya, misal menyegerakan tidur. Jika lutut masih sakit, mengompressnya dengan es batu mungkin membantu. Banyak minum juga bisa membantu mengembalikan kondisi tubuh (selain banyak minum). Banyak minum ini harusnya juga dilakukan ketika naik dan turun gunung. Berdasarkan pengalaman pribadi, memakai supporter lutut (knee calf) sangat saya sarankan baik saat naik gunung atau perawatan ketika lutut sakit. Setelah dari Gn. Okushishiku, lutut saya sakit. Sehari memakai knee calf support, besoknya langsung sembuh, alhamdulillah. Knee calf support-nya sendiri saya beli di Watts seharga 100 yen.

Sebagai tambahan, video berikut memperlihatkan teknik sederhana pendakian naik dan turun.
Referensi:
[1] https://www.theoutbound.com/jen-weir/do-your-knees-hurt-when-hiking-downhill-here-s-why

Friday, August 28, 2020

Menulis disertasi: bacaan sebelum tidur bagi mereka yang tidak bisa tidur

Artikel ini merupakan terjemahan bebas saya atas tulisan Douglas E. Comer di website pribadinya [1], sebuah pengantar tidur untuk menulis disertasi. Beberapa batasan tulisan ini yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut.
  • Meski ditujukan untuk disertasi berbahasa Inggris, tips/prinsip di bawah ini bisa saja diaplikasikan pada tulisan ilmiah berbahasa Indonesia (khususnya tugas akhir/tesis/disertasi). 
  • Meski ditujukan untuk disertasi, prinsip-prinsip di bawah ini bisa juga diaplikasikan pada karya tulis jenis lain.
  • Meski ditujukan untuk mahasiswa sains komputer (computer science), prinsip berikut juga bisa diaplikasikan untuk disertasi bidang lain.

Untuk para kandidat:

Jadi anda sedang menyiapkan untuk menulis disertasi doktoral anda di bidang sains komputer (seperti saya saat ini). Kecuali anda telah memiliki pengalaman menulis berbagai dokumen formal sebelumnya, anda akan terkejut: menulis disertasi itu sulit!

Ada dua jalur untuk mencapai kesuksesan menulis disertasi:
  • Perencanaan yang matang
  • Hanya sedikit yang menempuh jalur ini. Sedikit orang tersebut meninggalkan universitasnya dengan sangat cepat sehingga mereka tidak diperhatikan. Jika anda menginginkan impresi lama dan karir panjang sebagai mahasiswa pasca sarjana, jangan memilih jalur ini.
  • Ketekunan
  • Yang perlu anda lakukan adalah bertahan dari komite doktoral anda. Berita baiknya, mereka umumnya lebih tua dari anda, jadi anda bisa menebak siapa yang akan "berakhir" duluan. Berita buruknya, mereka lebih berpengalaman dari anda dalam permainan ini.
Beberapa arahan berikut ini mungkin membantu anda ketika anda telah serius menulis disertasi anda. Daftar tersebut berlaku selamanya, tanpa pengecualian, dan anda mungkin tidak ingin membacanya dalam sekali waktu. Namun, bacalah arahan ini sebelum anda memulai menulis disertasi anda.

Ide dasar:

  1. Sebuah tesis adalah hipotesis atau penerkaan
  2. Sebuah disertasi doktoral adalah dokumen formal, panjang, yang berargumen dalam mempertahankan tesis, pernyataan yang didukung oleh argumen. (Terminologi tesis sendiri digunakan untuk merujuk dokumen, arti ketiga dalam bahasa Inggris).
  3. Dua kata sifat yang penting untuk menggambarkan disertasi adalah: orisinil dan substansial (KBBI: bersifat inti). Penelitian yang dilakukan harus mendukung keduanya dan disertasi yang ditulis juga harus menunjukkan hal tersebut. Secara spesifik, sebuah disertasi menunjukkan kontribusi orisinil.
  4. Metode saintifik berarti memulai dengan hipotesis dan kemudian mengumpulkan untuk mendukung atau menyanggah hipotesis tsb. Sebelum seseorang dapat menulis disertasi untuk mempertahankan sebuah tesis tertentu, dia harus mengumpulkan bukti untuk mendukung hipotesis tersebut. Oleh karenanya, aspek tersulit dari menulis disertasi adalah mengorganisir bukti-bukti (hasil) dan mengasosiasikan diskusi dalam bentuk yang koheren.
  5. Esensi dari disertasi adalah pemikiran kritis, bukan data eksperimen. Analisis dan konsep membentuk inti pekerjaan penelitian.
  6. Sebuah disertasi berkonsentrasi pada prinsip: dia menyatakan apa yang telah dipelajari, bukan hanya fakta dibaliknya.
  7. Secara umum, setiap statemen dalam disertasi harus didukung oleh referensi atau pekerjaan yang dilakukan. Sebuah disertasi tidak mengulang detail dari pemikiran kritis dan analis yang telah dipublikasikan; disertasi menggunakan hasil penelitian sebelumnya sebagai sebuah fakta dan menyarankan pembaca untuk merujuk pada sumber asli untuk detail lebih lanjut.
  8. Setiap kalimat dalam disertasi harus komplet dan benar secara tata bahasa. Sebuah disertasi harus memenuhi persyaratan ketat tata bahasa formal (singkatan, tidak ada bahasa cakapan, tidak jargon yang tidak didefinisikan, tidak ada bahasa slang, tidak ada bahasa alay, dst). Sebaliknya, penulisan dalam disertasi harus sejelas-jelasnya. Ketidakjelasan menyebabkan masalah; terminologi dan prosa harus dapat dibedakan. Setiap kata harus menyampaikan maksudnya secara jelas sesuai yang diniatkan/dimaksudkan, tidak kurang dan tidak lebih.
  9. Setiap pernyataan/statemen dalam disertasi harus benar dan dapat dipertahankan secara logis dan saintifik. Diskusi dalam disertasi harus memenuhi aturan logika yang berlaku dalam sains dan matematika.

Apa yang harus dipelajari dari latihan:

  1. Semua ilmuwan perlu mengkomunikasikan penemuannya; disertasi doktoral adalah latihan untuk berkomunikasi dengan ilmuwan lainnya.
  2. Penulisan disertasi mensyaratkan seorang mahasiswa untuk berpikir secara mendalam, mengumpulkan argumen-argumen untuk meyakinkan ilmuwan lainnya dan mengikuti aturan yang ketat, presentasi formal dari argumen dan diskusi.

Aturan praktis:

Tulisan yang baik penting dalam penulisan disertasi. Bagaimanapun, tulisan yang baik tidak dapat mengkompensasi lemahnya ide atau konsep. Justru sebaliknya, presentasi yang jelas selalu menujukkan kelemahan ide.

Definisi dan terminologi:

  1. Setiap term/istilah yang digunakan dalam disertasi harus didefinisikan dengan mengacu publikasi ilmiah sebelumnya (untuk standardisasi term dengan arti umum) atau didefinisikan dengan presisi, tidak ambigu sebelum istilah tersebut digunakan (untuk istilah baru atau istilah standar yang digunakan tidak pada umumnya) (Lihat teknik ke-6 pada artikel prinsip dasar logika).
  2. Setiap istilah harus digunakan hanya untuk satu makna/arti sepanjang disertasi.
  3. Cara termudah untuk menghindari pendefinisian istilah secara panjang lebar adalah dengan memasukkan pernyataan: "the terminology used throughout this document follows that given in [CITATION].''Kemudian, berikan perbedaannya jika ada.
  4. Bab "introduction" dapat memberikan intuisi dari istilah yang digunakan dan akan didefinisikan lebih presisi kemudian.

Istilah dan frasa yang sebaiknya dihindari (Bahasa Inggris):

  • adverb: kata keterangan, kata jenis ini banyak digunakan secara berlebihan dalam disertasi.
  • jokes or puns: guyon atau humor, tidak seharusnya ada dalam disertasi.
  • ``bad'', ``good'', ``nice'', ``terrible'', ``stupid'': Gunakan kata-kata kuantitatif/kategorikal daripada kualitatif seperti ini, misal: 80%, "benar", "salah".
  • ``true'', ``pure': penghakiman (dalam arti "baik")
  • ``perfect'': tidak ada yang sempurna.
  • ``an ideal solution'': menghakimi lagi.
  • ``today'', ``modern times': Hari ini adalah besoknya kemarin.
  • ``soon': seberapa soon? nanti malam? dekade selanjutnya?
  • ``we were surprised to learn...'': meski memang demikian, mau apa?
  • ``seems'', ``seemingly'',: tidak masalah bagaimana sesuatu muncul.
  • ``would seem to show'': semua permasalahan adalah fakta.
  • ``in terms of'': biasanya tidak jelas.
  • ``based on'', ``X-based'', ``as the basis of'': hati-hati, bisa menyamarkan arti.
  • ``different'': apakah yang dimaksud "various"; berbeda dari apa?
  • ``in light of'': ragam cakapan.
  • ``lots of'': samar dan cakapan.
  • ``kind of'': samar dan cakapan.
  • ``type of'': samar dan cakapan.
  • ``something like'': cakapan.
  • ``just about'': cakapan.
  • ``number of'': samar, pernyataan kuantitatif lebih disukai.
  • ``due to'': cakapan.
  • ``probably'': hanya jika disertai probabilitas statistik.
  • ``obviously, clearly'': hati-hati, apakah jelas kepada pembaca?
  • ``simple'': dapat memiliki konotasi lain, misal "simpleton"
  • ``along with'': gunakan "with" saja.
  • ``actually, really'': definisikan secara presisi untuk mengeliminasi perlunya klarifikasi.
  • ``the fact that'': membuat kalimat meta, gunakan frasa lain.
  • ``this'', ``that'': Seperti pada kalimat "This causes concern." Alasan: "This" dapat merujuk pada subyek dari kalimat sebelumnya, seluruh kalimat, atau seluruh paragraf, seluruh seksi sebelumnya, dll. Lebih penting lagi, "this" juga dapat diinterpretasikan dalam arti konkrit atau meta-konkret. Sebagai contoh: "X does Y. This means ... ." Pembaca dapat mengasumsikan "this" merujuk pada Y atau berdasarkan fakta bahwa X melakukan Y. Meski dalam bentuk restriktif (lebih baik), misal "this computation", frasa tsb sering terlihat lemah dan ambigu.
  • ``You will read about...'': Sudut pandang kedua ("you") tidak memiliki tempat dalam disertasi.
  • ``I will describe...'': Sudut pandang pertama tidak memiliki tempat dalam disertasi. Gunakan self-reference, misal: "Chapter 10 describes... ."
  • ``we'' seperti pada ``we see that'': Jebakan yang sebaiknya dihindari. Alasan: kebanyakan kalimat dapat dimulai dengan "we" karena "we" dapat merujuk pada: pembaca dan penulis, penulis (termasuk pembimbingnya), penulis dan tim riset, ilmuwan eksperimental komputer, seluruh grup komunitas sains, komunitas sain, atau grup lainnya.
  • ``Hopefully, the program...'': program komputer tidak berharap, kecuali diimplementasikan sistem AI. Jika anda menulis disertasi di bidang AI, berkonsultasilah ke ahli lainnya, setiap bidang punya gayanya masing-masing.
  • ``...a famous researcher...'': tidak masalah terkenal atau tidak. Faktanya, pernyataan ini adalah prasangka.
  • ``few, most, all, any, every'' : Hati-hati menggunakan istilah ini. Sebuah disertasi haru presisi. Jika ada kalimat " Most computer systems contain X", anda harus bisa mempertahankan argumen ini. Apakah anda tahu faktnya? Berapa komputer yang terjual kemarin?
  • ``must'', ``always'': Yakin?
  • ``should'': Siapa yang mengatakan demikian?
  • ``proof'', ``prove'': Kecuali dapat dibuktikan secara matematik.
  • ``show'': Jika digunakan dalam arti yang sama dengan "prove", maka "show" harus didukung oleh bukti formal/matematika.
  • ``can/may'': ibu anda mungkin bisa menjelaskan perbedaanya (may: formal, can: ability; You may use can if you wish, and you can use may if it makes you feel better.)

Kalimat aktif vs. pasif:

Gunakan konstruksi kalimat aktif. Sebagai contoh, tulis "the operating system starts the device" daripada "the device is started by the operating system."

Tense:

Tulis dalam bentuk present tense (bentuk sekarang). Sebagai contoh, tulis " The system writes a page to the disk and then uses the frame..." daripada "The system will use the frame after it wrote the page to disk..."

Definisikan negasi di awal:

Contoh: tulis "no data block waits on the output queue" daripada "a data block awaiting output is not on the queue." 

Tata bahasa dan logika:

Berhati-hatilah bahwa subyek setiap kalimat sesuai dengan kata kerja yang dilakukanya. Kalimat "Programs must make procedure calls using the X instruction" tidak sama dengan kalimat "Programs must use the X instructuion when they call a procudere." Kalimat pertama salah. Contoh lainnya, "RPC requires programs to transmit large packets" tidak sama dengan "RPC requires a mechanism that allows programs to transmit large packets."
Semua ilmuwan komputer seharusnya tahu aturan logika. Sayangnya, aturan tersebut lebih sulit diikuti ketika bahasa tulisan adalah Bahasa Inggris, bukan persamaan-persamaan matematika. Sebagai contoh, kalimat "There is a compiler that translatesthe N languages by..." berarti ada satu compiler eksis yang menangani semua bahasa, sedangkan kalimat "For each the N languages, there is a compiler that translates..." berarti ada 1 compiler, 2 compiler, atau N compiler. Ketika menggunakan simbol matematika, perbedaannya sangat jelas karena frase "for all" dan "there exist" adalah berlawanan.

Fokus pada (cara mendapatkan) hasil, bukan orang atau kejadiannya:

"After working eight hours in the lab that night, we realized ..." tidak memiliki tempat dalam disertasi. Tidak masalah bagaimana sulit atau berapa lama anda bekerja untuk mendapatkan hasilnya. Contoh lainnya: "Jim and I arrived at the numbers shown in Table 3 by measuring..". Letakkan ucapan terima kasih pada Jim di bab "Acknowledgement", tetapi jangan memasukkan nama (termasuk nama anda sendiri) pada bagian isi disertasi. Anda mungkin akan berusaha untuk menjelaskan secara detail tahapan mendapatkan hasil penelitian. Hindari hal tersebut secara total. Sebagi tambahan, jangan mendokumentasikan pengaruh mistis, misal: "if that cat had not crawled through the hole in the floor, we might not have discovered the power supply error indicator on the network bridge''. Jangan pernah memberi atribusi pada hal mistis atau keanehan yang mempengaruhi hasil penelitian anda. Secara ringkas: gunakan fakta. Deskripsikan hasil tanpa memasukkan reaksi anda terhadap kejadian, yang mungkin saja membantu, ketika mendapatkan hasil tersebut.

Hindari penilaian/penghakiman pribadi:

Kedua contoh berikut tidaklah tepat: ``The method outlined in Section 2 represents a major breakthrough in the design of distributed systems because...'' ``Although the technique in the next section is not earthshaking,...''

Merujuk pada karya tulis, bukan penulisnya:

Penulis disertasi harus menyitasi karya tulis, bukan penulisnya. Oleh karenanya, gunakan kata kerja bentuk tunggal (singular) untuk merujuk larya tulis meski ditulis oleh banyak penulis. Sebagai contoh "Johnson and Smith [J&S90] reports that...''.
Hindari frasa "the authors claim that X." Penggunaan kata "claim" meragukan "X" karena merujuk pada pemikiran penulis, bukan fakta penulisan. Jika anda setuju bahwa "X" adalah benar, maka nyatakan dengan "X" diikuti dengan referensinya. Jika harus merujuk ke karya tulis daripada hasislnya, katakan "the paper states that ..." atau "Johnson and Smith [J&S 90] presents an evidence that ... ".  

Konsep vs. contoh:

Pembaca bisa menjadi bingung ketika batas antara konsep dan contoh tidak jelas. Contoh yang umum termasuk: sebuah algoritma dan program tertentu sebagai implementasinya, bahasa pemrograman dan compiler, abstraksi umum dan implementasi tertentu dari sistem komputer, struktur data dan contoh penggunaan memorinya.

Terminologi untuk konsep dan abstraksi:

Ketika mendefinisikan istilah untuk sebuah konsep, berhati-hatilah untuk memutuskan bagaimana suatu ide diterjemahkan kedalam suatu implementasi. Pertimbangkan contoh berikut ini:
VM systems include a concept known as an address space. The system dynamically creates an address space when a program needs one, and destroys an address space when the program that created the space has finished using it. A VM system uses a small, finite number to identify each address space. Conceptually, one understands that each new address space should have a new identifier. However, if a VM system executes so long that it exhausts all possible address space identifiers, it must reuse a number.
Poin penting contoh di atas adalah diskusi dalam tulisan tersebut hanya masuk akal karena "address space" didefinisikan secara independen dari "address space identifier". Jika penulis mengharapkan diskusi perbedaan antara  konsep dan implementasinya, maka perbedaan antar keduanya harus terlihat jelas. 

Pengetahuan vs. data:

Adalah fakta bahwa hasil eksperimen disebut data. Istilah pengetahuan (knowledge) mengimplikasikan data yang telah dianalisa, dikondensasi, atau dikombinasikan dengan data dari eksperimen lain untuk menghasilkan informasi yang berguna.

Sebab dan akibat:

Sebuah disertasi harus secara hati-hati memisahkan hubungan sebab-akibat dari korelasi statistik sederhana. Sebagai contoh, jika semua program komputer yang ditulis di lab Profressor x membutuhkan memori lebih banyak daripada program komputer yang ditulis di lab Professor Y, bisa jadi tidak ada hubungannnya sama sekali dengan kedua professor ataupun programmernya (misal, mungkin orang-orang di lab Professor X sedang bekerja pada aplikasi yang membutuhkan memori lebih banyak daripada aplikasi yang dikembangkan di lab Professor Y).

Hanya mengambil kesimpulan yang kuat:

Penulis harus berhati-hati untuk hanya mengambil kesimpulan yang didukung bukti-bukti. Sebagai contoh, jika program komputer berjalan lebih lambat di komputer A daripada kompter B, maka tidak dapat disimpulkan bahwa komputer A lebih lambat dari komputer B kecuali penulis membahas perbedaan sistem operasi, divais input-output, ukuran memori, memori cache, atau lebar pita bus internal. Faktanya, penulis juga harus menghindari penilaian antar kedua komputer kecuali telah mendapatkan hasil dari eksperimen kontrol (misal, menjalankan satu set program beberapa kali, setiap kalinya ketika komputer dalam keadaan diam/idle). Bahkan jika penyebabnya sangat jelas, penulis tidak dapat menyimpulkan kecuali dengan bukti yang kuat.

Komersial dan sains:

Dalam disertasi saintifik, penulis tidak boleh mengambil kesimpulan berdasarkan kesuksesan ekonomi atau komersialisasi dari suatu idea/metode, tidak juga berspekulasi pada sejarah pengembangan ide. Seorang ilmuwan harus tetap obyektif tentang keunikan ide secara independen dari kepopuleran komersial. Sebagai tambahan, seorang ilmuan tidak seharusnya mengasumsikan bahwa sukses komersial menjadi ukuran dari bekerjanya suatu ide (banyak produk populer justru tidak didesain dan direkayasa dengan baik). Oleh karenanya, statemen seperti  ``over four hundred vendors make products using technique Y'' tidak relevan dalam disertasi.

Politik dan sains:

Seorang ilmuwan menghindari semua pengaruh politik ketika mengkaji suatu ide. Jelas tidak menjadi masalah ketika organisasi pemerintahan, partai politik, grup keagamaan, atau organisasi lainnya mendukung suatu ide. Lebih penting dan sering terlewatkan, tidak menjadi masalah ketika sebuah ide berasal dari ilmuwan yang telah memenangkan hadiah Nobel ataupun mahasiswa tingkat satu. Penulis harus mengkaji sebuah ide secara independen dari sumbernya.

Struktur disertasi:

Secara umum, setiap disertasi harus mendefinisikan masalah yang memotivasi penelitian, menjelaskan mengapa masalah tersebut penting. memaparkan apa yang telah dilakukan (oleh peneliti lain), dan apa kontribusinya yang baru, mendokumentasikan eksperimen yang memvalidasi kontribusi, dan mengambil kesimpulan. Tidak ada struktur baku untuk sebuah disertasi: setiap struktur adalah unik. Bagaimanapun, penulis baru untuk disertasi dibidang sains komputasi eksperimental akan menemukan contoh berikut sebagai awalan yang baik untuk menulis disertasi.
  • Chapter 1: Introduction
  • Berisi deskripsi umum dari permasalahan; mengapa hal tsb penting; ringkasan dari pencapaian dan pernyataan hipotesis dari pertanyaan spesifik yang akan dieksplorasi. Buat bab ini dapat dipahami oleh semua orang.
  • Chapter 2: Definitions
  • Berisi istilah-istilah baru. Definisikan secara presisi, singkat, dan tidak ambigu.
  • Chapter 3: Conceptual Method
  • Deskripsikan konsep utama yang melatarbelakangi pekerjaan anda. Buat bab ini sebagai theme yang menghubungkan semua argumen anda. Bab ini harus menjawab pertanyan yang diekspose di bab pertama pada level konsep. Jika diperlukan, tambahkan bab tambahan untuk memberikan alasan tambahan tentang permasalahan atau solusinya.
  • Chapter 4: Experimental Measurements
  • Deskripsikan hasil eksperimen yang memberikan bukti untuk mendukung kesimpulan anda. Biasanya eksperimen tersebut menitik beratkan pada proof-of-concept (mendemonstrasikan bekerjanya suatu teknik/metode efisiensi (mendemonstrasikan suatu teknik/metode memberikan hasil yang lebih baik dari metode yang telah ada).
  • Chapter 5: Corollaries and Consequences
  • Deskripsikan variasi, ekstensi, dan aplikasi lain dari ide utama.
  • Chapter 6: Conclusions 
  • Buat ringkasan dari apa yang telah dipelajari dan bagimana hal tsb dapat diimplemtasikan. Sebutkan kemungkinan untuk penelitian selanjutnya.
  • Abstract
  • Sebuah (atau beberapa) paragraf pendek yang berisi ringkasan disertasi. Deskripsikan permasalahan dan pendekatan penelitian. Sebutkan kontribusi utamanya.

Urutan yang direkomendasikan saat menulis:

Cara termudah untuk membangun sebuah disertasi adalah dari luar ke dalam. Mulai menulis dari bab yang menggambarkan penelitian anda (Bab 3, 4, 5 dalam outline di atas). Kumpulkan semua term/istilah ketika muncul dan definisikan tiap istilah tersebut. Definisikan setiap term teknik, meski istilah digunakan dengan cara konvensional.
Organisasikan setiap definisi adalam sebuah bab. Buat definisi secara presisi dan formal. Review bab tersebut untuk memverifikasi penggunaan term teknis melekat pada definisinya. Setelah membaca bab selanjutnya untuk memverifikasi terminologi, tulis kesimpulannya (Bab 6). Tulis pengantarnya (Bab 1) kemudian. Terakhir, lengkapi dengan abstrak. 

Kunci sukses:

Tidak ada kunci sukses selain latihan. Tidak ada yang pernah belajar untuk menulis dengan membaca esai seperti ini. Sebaliknya, anda butuh latihan, latihan, dan latihan. Setiap hari.

Pemikiran terakhir:

Kami meninggalkan anda dengan beberapa ide berikut untuk dipikirkan. Jika ide-ide tersebut tidak berarti untuk anda sekarang, revisi ide-ide ini ketika anda menyelesaikan disertasi anda.
After great pain, a formal feeling comes.
-- Emily Dickinson
A man may write at any time, if he will set himself doggedly to it.
-- Samuel Johnson
Keep right on to the end of the road.
-- Harry Lauder
The average Ph.D. thesis is nothing but the transference of bones from one graveyard to another.
-- Frank J. Dobie


Referensi
[1] https://www.cs.purdue.edu/homes/dec/essay.dissertation.html
[2] https://www.cs.purdue.edu/homes/dec/essay.escape.html

Wednesday, May 06, 2020

10 tips for writing a truly terrible journal article

This post is a summary of tutorial video on research academy at Elsevier:
https://researcheracademy.elsevier.com/writing-research/writing-skills/10-tips-writing-truly-terrible-journal-article.
Visit the link for a more complete explanation. This writing is just a short version of what I heard.

Bear in mind, the following 10 sure-fire ways guarantee your paper won’t be accepted (NOT THE OPPOSITE). So, to make your paper to be accepted, DO THE OPPOSITE WAYS. You already have been warned.

The 10 tips (minute 13:31)

1. Refuse to read the previous literature published in your field.

Every scientific paper should add knowledge to the field. In other words, it should contain novelty. Failure to read previously reported findings means a rejection for you.

2. Take the lazy route and plagiarize (including your previous own article)

Don't make a double submission because of laziness waiting review. Don't plagiarize others including your own. If you submit an article from conference to journal (with a major change of contributions), cite and state your previous works. Plagiarism is a crime no matter how small it is.

3. Omit key article components.

Scientific article follows strict rules and components. One of the well-known is IMRaD model (Intro, Method, Results, and Discussion; conclusions is optional).

4. Disrespect previous publications.

Example of disrespecting previous publications: plagiarism, repeating paper without adding novel contribution, not citing previous papers, etc.

Thursday, April 23, 2020

Dos and Don'ts in Academic Presentation


Before reading this article it is suggested to read the previous article on 201 presentation skills (in Bahasa, right-click in Chrome and click translate, to make it in English).

This article is a resume/summary of the book "Conferencing and Presentation" by Michael Guest, particularly on Part IV (chapter 12-16). The book itself is free and can be downloaded from the Springer  Nature website. The following dos and don'ts focus on a practical manner from opening to closing. Before entering this structure, however, formulae to formulaic academic phrases serve is listed as building blocks of academic discourse. These formulae including,
  1. Occupy a mid-point between ‘general English’ and specialist terminology;
  2. Contain constituents that are flexible (i.e., excluded vs. ruled out, possibilities vs. results);
  3. Have cross-disciplinary academic application;
  4. Are utilized in both written and spoken modes;
  5. Hold long-term (intrinsic) value for academics/professionals;
  6. Mark entry or membership into the academic discourse community.
Having those formulaic phrases, Let's start the practical implementation of those phrases in the academic presentation.

1. Opening
Don'ts:
  • My name is X, and my presentation is entitled Y. (this and next three are too slight)
  • Hello everyone.
  • My topic today is X. (This and below are too much casual)
  • Today I’m going to present about X.
  • I’ll present on X, OK?
  • OK, so, I’ve just changed the title to show... X.
  • I’m gonna talk about something that is very hot ‘n sexy...

Sunday, September 22, 2019

Banyak Tahu itu Tidak Baik

Pada suatu jamuan makan malam (sekitar akhir 2017) setelah konferensi, saya bercakap-cakap dengan orang Jepang. Beliau bertanya tentang riset saya, dan saya menceritakannya. Saya balik bertanya, untuk bidang "ini", dimana yang terbaik di Jepangnya ya? Sambil menyebutkan nama-nama sensei (professor) yang saya ketahui di bidang tersebut. Dia menjawabnya, sambil menimpali: "Kamu banyak tahu ya...".

Di situlah tersadar, banyak tahu itu tidak baik. Orang Jepang, hanya mengurusi yang menjadi urusannya. Mereka hanya mengetahui apa yang digelutinya. Saya perhatikan teman-teman saya orang Jepang, tidak ada satupun yang mentweet tentang politik, pun urusan lainnya. Bisa jadi, nama menteri nya sendiri pun mereka tidak hafal. Bahkan saya pernah bercakap dengan orang Jepang yang nama kaisarnya sendiripun dia tidak ingat.

Kemudian saya mencari (googling) dengan kata kunci: "Know everything is bad", dan menemukan artikel cukup bagus di link ini:
http://davidsearson.com/2015/11/14/why-knowing-everything-is-a-bad-idea/

Di situ dijelaskan juga, banyak tahu itu merupakan ide yang buruk. Kenapa ide yang buruk? Karena tidak ada artinya, tidak ada maknanya (untuk masa depan). Contoh kasus saya diatas, kalaupun saya tahu nama-nama professor di bidang saya tersebut, apa untungnya buat saya? Untuk mencari tempat postdoc? untuk mencari kerjaan/lowongan? Kalau dicari-cari, pembenaran selalu ada. Dalam link artikel bahasa inggris tersebut, sebenarnya bukan pengetahuan yang lebih penting, tapi hikmah (untuk merencanakan masa depan). Jadi urutannya adalah,

Dari diagram alir diatas, yang kita butuhkan adalah tapis, atau filter. Kita menapis banyak (big) data menjadi pengetahuan, dan menggunakannya untuk merencanakan masa depan menjadi hikmah. Jadi kalau ada kebingungan ketika mengambil sebuah keputusan karena banyaknya pilihan atau informasi, sesungguhnya bukan kebanyakan informasi yang salah, tapi kegagalan filter kita untuk menyaring informasi tersebut.

Bukan karena kebanyakan informasi, tapi karena kegagalan filter.


Implementasi

Lalu bagaimana mengimplementasikan "filter" untuk menapis banyaknya informasi/pengetahuan disekitar kita?
Tombol "unfollow", "unsubscribe", "I don't like this (ads)", adalah beberapa yang saya sukai. Bayangkan kalau kita follow/subscribe 1000 akun (youtube, twitter, fb, dll), dan setiap akun memposting 1 tweet/video/status dalam setiap hari, maka dalam sehari kita menerima 1000 posting, diluar iklan. Jika satu jam dari tiap akun tersebut memposting/share video/status/twitter baru, maka kita akan menerima informasi sejumlah:

24000

Setiap jamnya, diluar iklan.

Aturan saya dalam memfollow/subscribe akun cukup sederhana: "Follow/Subscribe" yang bermanfaat, lainnya: abaikan. Sekalipun itu akun orang terkenal, orang berpengaruh ataupun pejabat. Masa depan, kita tentukan sendiri, dari informasi yang kita dapatkan, dan kita filter.

Banyak mencari tahu juga tidak baik

Internet memudahkan kita untuk mencari tahu. Cukup duduk manis di depan laptop, mengetikkan kata kunci dari apa yang ingin kita ketahui dan whoala! apa yang kita cari tahu kita dapatkan. Ini tidak baik. Pencarian terhadap satu kata kunci akan memicu pencarian-pencarian kata kunci lainnya. Begini logikanya. Dari hasil pencarian satu kata kunci, anda mendapatkan informasi tentang kata kunci A dalam suatu halam internet (web page). Di laman tersebut anda kemudian menemukan istilah lain. Bisa juga anda penasaran apa agama si A, siapa istri si A, siapa mantan si A, dimana A dilahirkan, dst. Memiliki pengetahuan atas pencarian tersebut menyenangkan, sebagaimana makan camilan atau memiliki uang. Begitu kata hasil penelitian [1]. Bahkan, kesenangan mendapatkan atas jawaban dari apa yang kita cari tersebut bisa disetarakan dengan uang [1]. Inilah tantangannya: meredam kesenangan kita mencari tahu dari sesuatu yang tak penting.

Terakhir, less is more, dan diam itu emas (tapi sedikit orang yang bisa melakukannya). Sedikit tahu akan menjadikan kita ahli dan pro di bidang kita masing-masing.

Referensi
[1] Kobayashi, Kenji, and Ming Hsu. "Common neural code for reward and information value." Proceedings of the National Academy of Sciences 116, no. 26 (2019): 13061-13066.

Friday, January 18, 2019

Merobohkan penghalang dalam "menulis"

Sebetulnya saya ingin membaca sebuah buku "How to Write a lot: A practical guide to productive academic writing", tapi setelah saya cari cari-cari di perpus tidak ketemu (padahal saya cek di web ada: "borrowable" dan "in place"). Saya baca versi ebooknya, tidak puas. Dari googling, saya menemukan seseorang sudah meresumenya. Berikut adalah terjemahan bebas saya atas resume tersebut.
  1. Penghalang #1: "Saya tidak punya waktu untuk menulis"
  2. Solusi: Alokasikan waktu menulis, sediakan dan jadwalkan waktu tersebut.
  3. Penghalang #2: "Saya butuh membaca lebih banyak, menganalisa tulisan orang lain, dll untuk menulis"
  4. Solusi: Lakukan sekarang juga dan tulislah hasil bacaanmu dan analisamu, langsung setelah itu.
  5. Penghalang #3: "(Kayaknya) Saya butuh laptop baru ..."
  6. Solusi: Tidak, kamu tidak butuh laptop baru. Tulisan ini ditulis dengan laptop produksi 6 tahun yang lalu.
  7. Penghalang #4: "Saya tidak punya inspirasi untuk menulis"
  8. Solusi: Kamu tidak perlu menunggu inspirasi datang, cukup duduk, tulis. Gerakkan tanganmu di atas tuts keyboard, tulis.
  9. Penghalang #5: "Saya tidak punya motivasi (untuk menulis)"
  10. Solusi:


    A post shared by Bagus Tris Atmaja (@bagustris) on
That's all! Penghalang ke #5 di atas bukan dari buku, tapi dari saya sendiri. Selamat menulis!

Wednesday, October 17, 2018

Review Buku: 201 teknik presentasi

Dalam bukunya "Presentation skills 201", William "Bill" Steele (presentation skill trainer) membagikan kecakapan atau teknik presentasi sebagai berikut.

Perencanaan

Perencanaan sangat penting sebelum melakukan presentasi. Presentasi yang baik dipersiapkan dengan rencana yang baik pula. Jangan melakukan presentasi tanpa persiapan, dan jangan percaya pada orang yang bisa melakukan presentasi tanpa persiapan, kecuali dia sudah ahli. Diantara kecakapan atau teknik presentasi pada tahap perencanaan ini meliputi: bersungguh-sungguh melakukan persiapan, mendefinisikan apa yang ingin dicapai, memilih/memiliki tema, tekankan bahwa anda bukan audiens (tapi presenter), keluar dari kebiasaan, jangan abaikan suara kecil, jangan melalukan persiapan yang berlebihan, dan masukkan cerita pada presentasi anda.

Siapkan data dan buat data anda hidup, masukkan humor namun jangan mencoba melucu, bangun pemahaman dengan contoh, gunakan analogi untuk menjelaskan sains dan teknologi, bekerja dengan lawan, sitasi pengarang aslinya, nyatakan dengan jelas, mulai dengan mantap dan akhiri dengan mantap pula, sediakan rangkuman, pancing pertanyaan, pastikan pesan tersampaikan, hindari perubahan di menit-menit terakhir, dan persiapkan penampilan anda di panggung.

Persiapan Slide

Pada tahap persiapan slide kita bisa mencoba teknik brainstorming dulu: pesan apa yang ingin kita sampaikan baru kemudian beralih ke slide. Gunakan visualisasi yang baik, pewarnaan dan tema yang memukau namun tidak norak. Persiapkan juga untuk tampil tanpa slide (mati lampu misalnya, tidak ada LCD dll). Peragakan dan gunakan bahasa tubuh sebanyak mungkin jika ingin menggambarkan secara visual. Beralih dari slide ke slide selanjutnya secara halus. Jangan menjadi korban teknologi, intinya pada anda, bukan pada teknologi yang anda gunakan. 

Slide anda merefleksikan siapa anda. Jika anda menggunakan template milik kantor atau institusi anda, slide tersebut sepenuhnya milik anda. Anda bebas mengeditnya sebaik mungkin.

Latihan

Wednesday, April 04, 2018

University Entrance Speech by Asano-san: Lessons Learned

Today, I got one of the best speech I ever heard directly in university entrance ceremony (入学式). It was delivered by the president of my university, Asano-san. Moreover, the president is known in our university by his "Asano vision",  a vision that he brings to "rule" this university.

First things that I caught from his speech is about the feeling of new student entrancing the university. When entering graduate university, there is two type of students: 1) one who wants to take the challenge, 2) another who worries whether he/she can graduate from the university. No matter which type you are, you should do your best to tackle obstacles in the university. Attend all class, never miss one, submit all homework, focus on your research, make it narrow as much as possible, and you will be graduated.

To support this idea, Prof. Asano shortly described the work of Angela Duckworth of University Pennsylvania. It is not diligent or IQ that makes success in life but GRIT: perseverance and passion for long-term goals. An ability to keep hard work. The rule is called 10000 hours rule. The rule implies that 10000 hours of continues effort is the key to success. However, making effort without aims didn't make any significant result. Set the final aim, and divide it into pieces, everyday goal. Reach goal one by one. Grit nonetheless demonstrated the incremental predictive validity of success measures over and beyond IQ and conscientiousness. Collectively, these findings [1] suggest that the achievement of difficult goals entails not only talent but also the sustained and focused application of talent over time. Our head (read: brain) has the same capability as Einstein's brain. It depends on us to use it or not to use it. The problem is a will, there is or not, not the capability (can or can't).

The second one is about constant work, be persistent. Asano-san does running for 6 km every week on the treadmill. No matter how busy he is, as long as he can run, he will run. No ambition, no target. He just wants to keep persistent although he will get old and older. He also keeps walking around campus every Thursday, after lunch. The other record is he keeps his weight, every day. Another JAIST professor walks about four kilometers every day after completing the class/lab. He takes the route from the university to the nearest station. For your information, there is a free shuttle bus from university to the station. So, money is not the reason.

The last one is about the self-confident. It is the most important thing in a life. If you have self-confident, how big the task is given to you, you can accomplish it. To maintain a strong will, we need physical strength by physical exercise. Of course, you need to develop your skill. In contrast, although you are a skilled student, if you are not self-confident, you will be in trouble.


Additional reference:
  1.  Duckworth, Angela L., Christopher Peterson, Michael D. Matthews, and Dennis R. Kelly. "Grit: perseverance and passion for long-term goals." Journal of personality and social psychology 92, no. 6 (2007): 1087.
---
About this text
I analyzed the text above by using coh-metrix and I got the following result.

Tuesday, December 26, 2017

Kembali ke Jepang: Life at Nomi

Tak terasa, sudah tiga tahun saya meninggalkan Jepang, tepatnya 3 tahun 3 bulan. Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya kembali ke Jepang melalui MEXT. Melalui seorang teman, saya mendapat informasi tentang beasiswa MEXT, kemudian saya apply beasiswa tsb, wawancara dan alhamdulillah diterima. Saat bekerja di Jepang dulu, saya sudah beberapa kali apply beasiswa dan gagal. Saya sendiri bisa ke Jepang saat itu dengan beasiswa Jasso, kemudian bekerja di sebuah perusahaan Jepang di Mie-ken. Pelajaran yang bisa diambil, jangan takut untuk mencoba. Puluhan kali saya mencoba mendaftar beasiswa (Jepang) sejak S1, kemudian setelah lulus S2, kemudian setelah jadi PNS, akhirnya berbuah. Sebelumnya saya diinstruksikan untuk mendaftar beasiswa ke Eropa, namun hati kecil saya ingin kembali je Jepang, lingkungan dimana saya sudah terbiasa. Dan Tuhanpun mengabulkannya, Aamiin.

Saya masih ingat betul email terakhir dari calon supervisor yang mereject aplikasi saya, beliau menulis: "I regret to tell you this bad news, but I am hoping your fruitful stay in Japan", dan alhamdulillah, insyaAllah menjadi kenyataan.

Thursday, November 23, 2017

Menulis persamaan Matematika dengan Latex di Blogger

Ini adalah tips lama, namun setelah saya cek, ternyata banyak skrip latex saya yang error karena server mathjax telah berpindah dari CDN ke CDNJS (as April 2017).

Sederhananya, salin kode berikut ke dalam theme html blogger anda (theme > edit html), persis setelah <head>.

<!-- for latex -->
<script type="text/x-mathjax-config">
 MathJax.Hub.Config({
  tex2jax: {inlineMath: [['$','$'], ['\\(','\\)']]}
 });
</script>
<script async="async" src="https://cdnjs.cloudflare.com/ajax/libs/mathjax/2.7.1/MathJax.js?config=TeX-AMS_CHTML" type="text/javascript">
</script>

Berikut adalah contohnya,
$$ E = mc^2 $$

Persamaan di atas ditulis dengan,
$$ E = mc^2 $$


Selamat mencoba!

Update Juli 2020:
- Ganti skrip yang dicoret di atas dengan skrip berikut:
<script src="http://cdn.mathjax.org/mathjax/latest/MathJax.js?config=TeX-AMS-MML_HTMLorMML" type="text/javascript">

Update Januari 2021:
- Setelan (config) skrip untuk latex yang pakai sekarang seperti terlihat di bawah ini.


Referensi:
  1. Davide Cervone, Casey Stark, Robert Miner, Paul Topping, Frédéri, MathJax Documentation, Release 2.7, Nov 08, 2017.
  2. http://mathjaxtest.blogspot.com/